
Aisyah berusaha sebisa mungkin, berusaha menyembunyikan kecemasan yang sudah menyelimutinya, dengan kehadiran seorang Aditya. Tapi sayangnya dia tak mampu, tak menutup dengan sempurna. Hingga Simon yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriknya, bisa mengetahui kalau Aisyah tengah merada tidak nyaman, dengan kehadiran mereka. Dan hal itu, membuat Simon semakin dilanda rasa curiga pada wanita berambut hitam itu.
"Kamu baik-baik saja, Nisa? Karen sepertinya, wajahmu nampak memucat."
Ludah yang akan tertelan, terasa berat bagi Aisyah- ketika tiba-tiba saja, Simon menanyakan wajahnya yang terlihat memucat. Dan itu membuat Aisyah semakin dilanda kegugupan, karena takut jika saja Simon sudah mengetahui siapa dia?"
"Aku baik-baik saja Sekretaris Simon, dan sama sekali tidak sakiit." jawabnya yang berusaha meyakinkan Sekretaris itu, dari rasa curiganya.
"Meem... Begitu! Aku mengirah kamu sedang tIdak sehat. Karena yang aku lihat, wajahmu nampak begitu pucat. Dan tidak seperti biasanya." Simon menyimpulkan senyum kecilnya, kala pandangan itu melempar pada Aisyah yang hanya menampilkan senyum kikuknya.
"Culun..." panggil Aditya tiba-tiba, yang seketika mengalihkan arah pandang Simon, dan juga Aisyah pada pria itu.
"Ada apa, Pak?"
"Pastikan bersikan ruanganku hari ini, dengan bersih. Dan jangan coba-coba cari alasan, untuk kamu dapat ke luar dari ruanganku." Dengan menekan kata-katanya, saat memberi peringatan pada wanita itu.
"Kemarin itu, saya tidak cari alasan Pak! Dan saya berani bersumpah."
"Sudahlah, jangan banyak bicara. Yang jelas, kamu harus bersikan ruanganku sampai bersih. Kamu mengerti?!"
"Saya mengerti, Pak...: jawabnya Aisyah pasrah.
Pintu lift terbuka lebar. Ketiga pasang kaki itu-segera mengambil langkah panjangnya, yang akan membawa ketiganya ke tempat tujuan mereka. Ayunan kaki yang telah melangkah seketika terhenti, saat ada seorang karyawan wanita yang menghalangi jalannya Aditya.
"Selamat pagi Pak," sapanya.
"Pagi. Ada apa?"
"Maaf, Pak! Di Ruangan anda, sudah ada Tuan besar yang anda."
Ekspresinya mengeras, karena rasa tidak sukanya dengan kedatangan sang Ayah, yang sangat sudah dihafal Aditya- akan selalu berbuntut, pertengkaran.
"Untuk apa situa itu, datang kemari? Apakah istrimudanya, sedang berada di luar negeri? Jadi dia datang mengunjungiku!" bathinnya.
"Baiklah.. Aku akan menemuinya sekarang." Dan kembali melanjutkan langkah kaki itu, ber,iringan bersama Aisyah, dan juga Simon yang berada di belakangnya.
__ADS_1
Walaupun tidak menyukai kedatangan sang Ayah-tapi pengusaha tampan itu, tidak punya pilihan lain, selain harus bertemu dengan Ayahnya. Dengan berat hati, tangannya mengarah pada badan pintu, dan mendorong pelan di sana. Pintu yang sudah terbuka lebar, seketika menampakkan sosok pria paruh baya, yang tak lain adalah Papa Andi yang tengah duduk santai, seraya membaca majalah.
Mendapati kedatangan sang putra- Papa Andi segera meletakkan majalah itu kembali di atas meja. Arah pandang yang tadi tertuju pada putranya, seketika berpindah arah saat mendapati sosok wanita yang berada dibelakang putranya.
"Apakah dia tenaga bersih-bersihmu yang baru, Aditya?" tanya Andi tiba-tiba.
"Ya. Dan untuk apa Papa datang ke perusahaanku?" Nada datar, kala bertanya pada sang Ayah, dengan ayunan kaki menuju pada kursi kebesarannya.
Andi menarik sudut bibir. Dan dari sikap yang ditunjukkan putranya, dia meyakini kalau putra tungggalnya itu-sangat tidak menyukai kedatangannya.
"Apakah salah? Jika seorang Ayah, datang menemui putranya."
"Kau adalah Papaku, dan aku sangat mengenalmu. Kau tidak akan mungkin datang kemari, kalau tidak punya tujuan."
"Papa ingin kau menemani Papa, untuk mengikuti acara amal malam ini, yang diselenggarakan teman Papa."
Aditya menyeringai rendah, mendengar jawaban Ayahnya yang sangat sudah bisa dia tebak. Dan apa lagi kalau ber,akhir dengan mengenalkannya, dengan anak perempuan rekan bisnisnya.
"Dan apakah di sana sudah ada putri dari rekan bisnismu, yang yang akan kau kenalkan denganku?" Senyuman mencemooh, kala tatapan mata itu menatap pada Papanya yang tengah fokus menatap padanya.
Wajah Andi seketika memerah. Tatapan matanya begitu tajam, kala sepasang matanya menatap pada sang putra, dengan gayanya yang angkuh.
Wajah Aisyah semakin pucat pasih, hingga diri itu serasa tak bertenaga, kala mendengar apa yang baru saja ditanyakan Ayah, dari Aditya Wirawan. Dan dia sangat meyakini, kalau yang dimaksud dengan wanita itu, adalah diri-nya sendiri.
Wajahnya mengeras, dengan sorot mata yang lebih tajam-kala amarah sudah mulai menyelimuti diri pria itu. Tapi memikirkan yang dia hadapi saat ini adalah Ayahnya, membuat-nya berusaha meredam emosi itu.
"Itu bukun urusanmu, Papa! Karena saat kau menikahi sekretarimu-pun, aku sama sekali tidak mencegah-nya padahal aku sama sekali tidak menyukai wanita itu. Dan aku yakin istrimu, pasti sedang pergi berlibur ke luar negeri lagi. Dan sebenarnya apa yang dilakukannya di sana? Karena yang aku perhatikan, wanita kesayangan-mu itu, selalu saja pergi berlibur."
"Cukup Aditya! Cukup...." Volume suara Ani sudah meninggi. Kilatan api terlihat jelas di wajahnya, akan amarah yang sudah berada di puncak.
"Kau memang anak yang sangat keras kepala. Apakah salah?! Jika Papa ingin kau segera menikah."
"Maaf, aku sama sekali tidak tertarik. Dan sekali lagi kutegaskan, jangan pernah mencampuri urusan pribadiku." Dengan menekan kata-katanya, kala menjawab apa yang ditanyakan Ayah-nya.
Segera bangkit dari duduknya. Dan menatap tajam pada putra-nya, dengan sikap-nya yang tenang.
__ADS_1
"Papa akan datang kemari lagi. Dan Papa akan mencarikan wanita utukmu, dan tentu saja yang sepadan dengan kita." ucapnya, dan segera mengambil langkah panjang-nya ke luar dari ruangan itu.
Aditya menghembuskan napas panjangnya. Wajahnya terlihat lelah, akibat kekesalan-nya yang teramat sangat pada sang Ayah. Bersandar pada sandaran kursi, seraya memijat pelan pelipisnya yang terasa berdenyut. Tak sengaja wajahnya berpaling, dan mendapati Aisyah yang hanya diam terpaku, tanpa melakukan tugas-nya.
"Apakah kau diam saja?! Tahi lalat besar! Apakah kau mau aku pecat?!" Nada kesal, saat melontarkan pertanyaan pada Aisyah.
****
SURABAYA
Rona bahagia terus menyelimuti wajah cantik Sarah! Saat dua kaki itu membawa tubuhnya, menyusuri bibir jalan raya.
Dua kaki yang tadi akan berbelok arah, seketika memutar haluan menuju dua orang pria yang sedang berjaga disekitar rumahnya.
"Selamat pagi, Tuan-Tuan..." Dengan senyuma menggoda, saat dia memberi sapaan pada kedua pria itu.
"Pagi." jawab salah satu dari mereka.
"Percuma kalian berjaga di sini. Karena Kakakku, sama sekali tidak tinggal di sini."
"Itu bukan urusanmu, Nona!"
Sarah mengukir senyum kecil, mendengar jawaban pria itu yang terdengar tidak suka, dengan ucapannya.
"Aku tahu, kalian tidak suka dengan apa yang aku katakan tadi. Tapi aku yakin, kalian pasti akan tertarik dengan apa yang kukatakan ini."
Kedua pria itu sekilas saling menatap, mendengar ucapan Sarah-yang begitu menarik perhatian mereka.
"Apa itu?!" tanya salah satu dari mereka.
"Aku hanya akan mengatakan berita penting ini, pada Tuan Aditya saja. Dan aku sangat ingin bertemu dengannya."
"Tapi Tuan Aditya, sedang tidak berada di Surabaya Nona.."
"Baiklah, kalau memang dia sedang tidak ada di sini. Kalau begitu biar kapan-kapan saja, padahal berita ini sangat penting." Dan kembali melanjutkan langkah kaki itu. Baru dua langkah kaki, salah satu dari pria-pria itu- memanggil-nya, hingga membuat langkah kaki Sarah, seketika dia hentikan.
__ADS_1
"Nona..."
"Ada apa?" Dengan membalikkan badannya pura-pura malas, padahal dalam hatinya dia begitu bahagia.