SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
TAHI LALAT TERJATUH


__ADS_3

Ketegangan yang sedari tadi menyelimuti diri Aisyah, seketika sirna-setelah perginya Simon. Menghembuskan napas legahnya, dengan arah pandang yang masih mengikuti Simon yang telah berlalu pergi.


"Hampir, saja! Setidaknya Tuhan masih melindungiku hari ini." gumam Aisyah, dan kembali melanjutkan langkah kaki itu.


Diri itu seperti mendapatkan pasokan oksigen, saat sudah berada di dalam kurungan lift. Sedari tadi bersama Aditya, membuat dirinya seperti tak bisa bernapas dengan benar, akibat rasa takut- jika saja identitasnya terbongkar. Tubuh itu- Aisyah sandarkan pada dinding lift, dengan jemari menelusup ke dalam saku bajunya- guna menjangkau cermin kecil, yang berada di dalam sana. Menampilkan wajah itu lewat pantulan cermin, dan mendapati kulit aslinya yang sudah terlihat, akibat usapan itu.


"Cremnya sedikit luntur, saat tadi aku mengusap dahi tadi. Dan untung saja, aku memiliki pony, jadi bisa menutupnya." gumam Aisyah.


Kembali membenahi barisan pony yang berserakan, agar dapat menutup kembali kulit asilnya, yang sudah terlihat. Tiba-tiba saja Aisyah- bersin, saat debu yang tersisa pada sapu yang dia bawah, mengenai hidungnya.


"HACIH..!"


Merasa gatal area hidungnya, membuat wanita itu, seketika menggesekkan punggungnya tangannya menggosok hidungnya, dan itu membuat tahi lalatnya terjatuh, karena terkena gesekan tangan.


"TING!" Pintu lift telah terbuka lebar. dua kaki itu segera mengambil langkah panjangnya, tanpa menyadari tahi lalat palsunya yang sudah terjatuh.


Ayunan kakinya melangkah dengan santai, tanpa menyadari keadaan. Melewati sebuah lorong panjang dengan keramian, tanpa dia sadari, saat tatapan orang-orang yang nampak biasa padanya. Setelah meletakkan alat-alat bersih-bersih, yang dia bawah tadi- Aisyah kembali melanjutkan langkah kaki itu-menuju ruangan loker, untuk membenahi penampilannya.


"Nisa...." Ayunan kaki yang tengah melangkah, seketika Aisyah hentikan- kala mendengar suara seseorang memanggilnya.


Membalikkan tubuhnya pada asal suara, dan dari jauh arah pandang itu, mendapati Rati yang tengah menghampirinya.


Saat sudah berada dekat dengan Aisyah- Rati segera melontarkan pertanyaan pada Ibu muda itu, setelah sedari tadi dia tidak mendapati keberadaan wanita itu.


"Kamu dari mana saja, Aisyah? Dari tadi aku mencarimu, tapi kamu tidak ada."


"Dari tadi aku berada di ruangan Presdir- untuk membersikan ruangannya."


Raut wajah Rati seketika berubah serius, saat mendapati keanehan pada wajah Aisyah, saat tidak menemukan tahi lalat pada wajah wanita itu.


"Nisa.. Di mana tahi lalatmu?" tanya Rati tiba-tiba, dengan wajah bingungnya.


Aisyah tersentak kaget, wajahnya berubah tegang, menfengar apa yang baru saja ditanyakan Rati barusan. "Tahi lalat?"

__ADS_1


"Iya, tahi lalat. Bukankah kamu memiliki tahi lalat- dibagian bibir kiri atas bibir,mu?"


Untuk memastikan kebenaran-nya, akan apa yang baru saja ditanyakan oleh Rati, Aisyah segera mendaratkan tangannya, di atas bibirnya.


Dan betapa kagetnya wanita itu! Bahkan diri itu, sudah diselimuti kepanikan, saat tidak mendapati sesuatu yang mengganjal di sana, yaitu tahi lalatnya.


"Ya Tuhan...Di mana tahi lalat palsuku? Bagaimana aku bisa seceroboh ini? Dan sama sekali tidak menyadari, kalau tahi lalat palsu itu- sudah terjatuh." Aisyah bergumam dalam hatinya, dengan kepanikan yang sudah menyelimutinya.


"Nisa! Kamu kenapa? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Rati tiba-tiba, seraya melabukan jemarinya pada pundak Aisyah- yang membuat wanita itu sadar dari dunianya.


Aisyah mengukir senyum palsunya, berusaha menutupi wajahnya yang sudah berbalut gugup. Tidak ingin berlama lama di sana, yang akan membuat kemungkinan identitas aslinya terkuak- karena tahi lalatnya- yang terjatuh, Aisyah segera memutuskan untuk pergi dari sahabatnya.


"Maaf Rati, aku harus ke kamar mandi. Soalnya pengen pipis." Dengan langsung mengayunkan langkah kaki itu, tanpa memperdulikan sahabatnya.


Arah pandang Rati, masih ter,arah pada Aisyah akibat keanehan yang baru saja dia temui dari temannya, hingga sosok Aisyah benar-benar menghilang dari pandangannya. Dan membuat diri gadis berambut sebahu itu, seketika dilanda penasaran akan sosok wanita yang baru saja dia kenal.


"Aku sangat yakin, Aisyah memiliki tahi lalat di atas bibir kirinya. Dan kenapa wajahnya jadi pucat begitu? Saat aku menanakan tentang tahi lalatnya. Dan dia terihat sangat aneh." gumam Rati, dengan rasa penasaran yang teramat sangat.


"Hah..! Syukurlah, tidak ada orang." Menghembuskan napas panjangnya, dan segera membuka lemari loker itu.


Tangan itu mengulur panjang menjangkau tote bag, miliknya- yang berada di dalam lemari. Untuk berjaga-jaga akan kemungkinan buruk yang mungkin saja terjadi- Aisyah selalu membawa cadangan dari tahi lalat palsu, dan juga crem hitam ke manapun dirinya akan pergi.


Membuka tutupan bundaran kecil- di mana tersimpan crem hitam miliknya. Dengan cepat Aisyah olesi crem hitam itu- pada kulit yang sudah terlihat, dan kembali memasang tahi lalat palsu, di atas bibir bagian kiri.


"Hah... Sudah beres." gumamnya dengan bernapas lega.


Wajah leganya- seketika berubah tegang, saat tiba-tiba saja- ada tangan- yang memegang pundaknya, hingga diri itu seketika diselimuti was-was, mungkin saja orang itu, sudah melihat semuanya.


Pasrah dengan keadaan, dan dengan memberanikan diri-Aisyah membalikkan tubuhnya, menatap pada orang yang berada di belakangnya.


Dan diri itu begitu kaget, saat mendapati keberadaan Rati.


"Rati.." gumamnya.

__ADS_1


Rati yang baru saja datang di ruangan itu, kembali disuguhi hal yang membuatnya kembali dilanda kebingungan, ketika sudah mendapati adanya kembali tahi lalat, di bibir kiri atas Aisyah.


"Nisa... Tahi lalat kamu, kok sudah ada? Bukannya tadi, tidak ada?"


Wajah Aisyah memucat, sekali dia membalut dengan senyuman palsunya, berusaha menutupi wajah gugup itu, agar tidak menampakkan kebohongannya. Tidak ingin Rati, terus menanyakan tentang hal itu- yang memungikinan akan ber,imbas pada identitasnya yang bisa terbongkar. Sengaja mengalihkan pembicaraan, agar bisa mengalihkan perhatian gadis berambut sebahu itu.


Menggandeng manja Rati, dengan menampilkan senyuman manisnya.


"Rati.. Aku lapar. Bagaiman kalau kita ke kantin? Dan aku yang akan mentraktirmu."


"Tapi aku..." Belum selesai Rati menyelesaikan kalimatnya, Aisyah sudah menarik dirinya, ke luar dari ruangan itu.


"Ayolah.." Ajaknya, hingga membuat Rati- mau tidak mau mengikuti langkah sahabat, berlalu dari ke luar dari ruangan itu.


Walaupun diri itu mengikuti langkah kaki Aisyah, tapi hati itu terus bertanya- tentang siapa sebenarnya Anisa, wanita yang baru saja dia kenal.


"Sebenarnya siapa Anisa ini? Aku sangat yakin, kalau ada yang dia sembunyikan. Tapi kenapa dia harus melakukan hal ini?" Rati membatin.


****


Saat sudah berada di dalam ruang kerja, Tuannya! Simon, langsung dihadapkan beberapa pertanyaan dari seorang Aditya Wirawan, mengetanai wanita yang selama ini dia cari.


"Apakah kamu sudah mengarahkan lebih banyaknya anak buah, untuk mencari keberadaan Aisyah? Dan apakah kamu sudah mendapatkan informasi tentang wanita itu, dari anak buah kita yang berada di Surabaya?"


"Maafkan saya, Tuan.. Tidak ada perkembangan berita tentang keberadaan Nona Aisyah sampai saat ini."


Menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi, dengan arah pandang yang masih, menatap pada Simon.


Membiarkan beberapa menit berlalu, sebelum mengajukan pertanyaan lagi pada sekretarisnya itu.


"Dan bagaimana dengan orang tuanya? Apakah mereka benar-benar sama sekali tidak mengetahui di mana anak perempuan mereka?"


"Saya sangat yakin, kalau mereka memang benar-benar tidak mengetahui, keberadaan anaknya. Karena saat mengetahui Nona Aisyah hamil, kedua orang tuanya langsung mengusirnya dari rumah."

__ADS_1


__ADS_2