
Perlahan Aisyah bangun dari jatuhnya- berusaha menahan sakit, pada bokongnya yang tertimpah dihalaman. Merasa tidak ada yang menghalangi penglihatannya, Aisyah segera mengedarkan dua matanya, ke segelah arah mencari keberadaan kaca mata, miliknya. Sibuk mencari kaca matanyanya, membuat Aisyah sama sekali tidak memikirkan, siapa yang dia tabrak barusan. Suara teriakan, yang begitu memekikkan telinganya, dengan menyebut culun-membuat wajah wanita itu, seketika berpaling pada asal suara.
Baru sedikit saja menoleh, Aisyah segera memalingkan kembali wajahnya, berusaha menyembunyikannya, saat baru mendapati-kalau orang yang dia tabrak- ternyata orang yang sudah membuat dia bersembunyi selama ini.
Wajahnya memucat. Ludah yang tertelan- serasa tercekat di tenggorokan, kala ketakutan sudah mengusai dirinya.
"Ya Tuhan...Bagaimana aku sama sekali tidak menyadari, kalau yang aku tabrak adalah, dia? Bagaimana ini? Bagaimana kalau dia mengenalku? Tuhan...Aku mohon, lindungilah aku, jangan sampai pria ini mengetahui siapa diriku!" bathin Aisyah, penuh harapm
"Hei... Gadis bodoh! Apakah kau tidak melihatku?!" Kesal semakin saja menyelimuti diri Aditya, kala wanita yang sudah membuatnya terjatuh, sama sekali tidak menghiraukan keberadaan dirinya.
Suara teriakan yang berbalut dengan amarah, membuat Aisyah seketika menolehkan wajahnya, dan tentu saja-dengan wajah yang masih bersembunyi di balik tote bag.
"Maafkan saya, Tuan! Maafkan saya," jawab Aisyah, dan kembali mengedarkan dua matanya, mencari kaca mata.
Menghembuskan napas kasarnya. Saat kesal itu berusaha dia redam, mendapati kebodohan wanita di depannya.
"Kalau kau mencari kaca matamu! Kaca matamu, ada di sini bodoh! Apakah benda ini kurang besar? Jadi kamu tidak bisa melihatnya?"
Aisyah memalingkan wajahnya seketika, pads Aditya. Pucat pasih kian menyelimuti dirinya, mendapati letak kaca matanya yang berada di depan mata kaki pria itu.
"Kenapa kau masih diam saja?! Bukankah dari tadi, kau mencari kaca matamu?! Dan kenapa kau menutup wajahmu?! Apakah karena wajahmu, begitu buruk?! Jadi kau malu menunjukkan!" Seringai renda di wajah Aditya, menatap tajam pada Aisyah.
Tentu saja hinaaan Aditya, sama sekali tidak berpengaruh bagi Aisyah. Baginya yang terpenting saat ini, agar dirinya bisa segera berlalu pergi- dari tempat itu- sebelum Aditya mengetahui siapa dirinya.
Segera mengambil langkah panjangnya, dengan wajah tetap bersembunyi di balik tote bag, agar tak terlihat wajah itu. Tangannya mengulur panjang, dengan memberi sedikit jarak, menggapai benda itu.
Saat berada dalam genggamannya, Aisyah segera berlalu pergi-sebelum meminta maaf pada pria itu.
"Maafkan saya Tuan...Maafkan saya." Mengambil langkahnya sepanjang mungkin, dengan langkah kaki yang begitu tergesa-gesa.
__ADS_1
Aditya melempar pandangannya sejauh mungkin, mengikuti sosok wanita, yang menurutnya sangat aneh! Yang baru saja ditemuinya. Dua alisnya bertaut- kala penasaran, seketika menyelimuti diri.
"Sebenarnya yang takut, itu aku! Karena wajahnya begitu buruk. Tapi kenapa justru wanita itu, yang sepertinya enggan melihatku? Apakah hari ini wajahku terlihat kurang tampan? Sebab selama ini, tak pernah ada wanita yang dapat mengalihkan pandangannya, jika melihatku." gumam Aditya.
"Simon..."
"Iya Tuan!"
"Siapa wanita itu? Karena sepertinya dia sama sekali tidak mengenalku. Apakah dia karyawan baru di sini?"
"Sepertinya begitu, Tuan!"
"Mungkin saja dia bekerja di bagian tenaga bersih-bersih. Karena itu sesuai dengan standar wajahnya, yang pantas menjadi seorang Cleaning Ceevise."
"Saya juga, meyakini seperti itu Tuan! Kalau wanita itu, bekerja dibagian tenaga bersih-bersih."
Ntah kenapa, Aditya seketika dilanda rasa penasaran- akan sosok wanita tadi, yang sudah mengacuhkan dirinya, yang selama ini begitu digilai banyak wanita.
"Ayo Simon..!" ajak Aditya kemudian, dengan kembali meng-ayunkan langkah kakinya menuju dalam perusahaan.
Aisyah meng-ayunkan dua kakinya secepat mungkin, agar tak terpandang lagi dari tatapan Aditya, yang mungkin saja bisa mengenal dirinya. Dua kaki itu menghampiri pada balik tembok, untuk bersembunyi di sana. Napasnya begitu memburu, hingga dada itu nampak naik turun, saat rasa takut itu kian menyelimutinya.
"Ya Tuhan...Semoga saja, dia tidak mengenalku? Dan kenapa dia bisa ada di sini lagi? Tidak mungkinkan dia..." Mendeja kalimatnya. Matanya membelalak, dan bibir itu dia katupkan seketika- saat baru menyadari, mungkin saja Aditya adalah pemilik dari Company Group.
"Aku harus bertanya. Dan jika dia pimpinan di sini? Aku lebih memilih untuk kembali menjadi pengangguran, dari pada harus kehilangan Bella, dan Sella."seru Aisyah mantap.
Memajukan dua langkah kakinya, pada pinggiran tembok yang sedari tadi menghalangi tubuh itu. Mengeluarkan sedikit kepalanya dari persembunyiannya, memastikan sudah tidak adanya Aditya, di luar perusahaan. Wajah yang sudah sedikit ke luar dari balik tembok, mendapati langkah kaki Aditya- yang baru akan menyentuh bibir perusahaan. Mata yang menatap intens pada pria itu, tak sengaja beradu dengan Simon yang ternyata sedari tadi menyimpan rasa penasaran pada dirinya. Segera menarik dirinya, kala sepasang matanya beradu dengan Simon, yang melemparkan pandangan padanya.
"Kenapa aku begitu bodoh?! Kenapa juga? Aku harus mengintip segala, Bagaimana jika pria itu? Mengenal dirik," gumam Aisyah, merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1
N'tah kenapa diri Simon, seketika dilanda rasa penasaran-mendapati wajah wanita yang terlibat insiden dengan Tuan mudanya tadi, begitu mirip dengan wanita yang selama ini dicari oleh Tuannya.
"Wajah wanita tadi, begitu mirip dengan Nona Aisyah-wanita yang selama ini dicari Tuan Aditya. Dan hanya yang membuat mereka berbeda adalah, wanita tadi berkulit gelap, dan juga memiliki tahi lalat. Tapi dilihat dari bentuk tubuh, dan rambutnya, begitu mereka sangat mirip dengan Nona Aisyah." bathin Simon.
Aisyah begitu menghimpitkan tubuhnya di balik tembok, agar membiarkan dirinya aman dari seorang Aditya Wirawan. Membiarkan beberapa menit berlalu, untuk memastikan- Ayah dari kedua putrinya itu, sudah benar-benar berada tidak berada di luar perusahaan. Aisyah sekali lagi- mencoba untuk mengeluarkan sedikit wajahnya, guna memastikan situasi sudah aman.
"Hah....Syukurlah, dia sudah tidak ada." Aisyah menghembuskan napas leganya. Oksigen yang sedari tadi- serasa tertumpuk di tenggorokannya, kini kembali mengalir dengan lancar, setelah Aditya sudah benar-benar, sudah tidak berada di luar gedung. Mengingat kembali pertemuannya dengan Aditya, yang terjadi hari ini dan kemarin, membuat Aisyah langsung menghentikan langkah kaki salah satu karyawan wanita, yang kebetulan melintas di depannya.
"Mba...." panggil Aisyah tiba-tiba, pada salah satu wanita muda.
"Ada apa?" Ayunan kaki dia hentikan, dengan membalikkan tubuhnya menghadap pada Aisyah.
"Saya baru- akan bekerja di perusahaan ini, hari ini. Dan saya tidak tahu, siapa pimpinan dari Company Group."
"Ohh..Pimpinan dari Company Group, namanya Pak Aditya."
Wajah Aisyah seketika berubah serius. Kala perasaan was-was, menghampirinya diri wanita itu, yang sudah dilanda kecemasan. Da mendapati jawaban nama yang tidak lengkap, membuat Aisyah kembali bertanya, untuk menjawab rasa ingin penasarannya itu.
"Maksud Mba? Pak Aditya Wirawan?" Bola mata Aisyah lebih membulat penuh, memastikan jawaban wanita di depannya.
"Ia, Mba! Namanya lengkapnya, adalah Aditya Wirawan."
Aisyah menampilkan senyum kikuknya, berusaha menutupi pucat pasih, yang sudah membingkai penuh di wajahnya cantiknya itu, mengetahui Aditya Wirawan adalah pimpinan dari Company Group.
"Kalau begitu, terima kasih Mba! Dan maaf sudah mengganggu waktu Mba!"
"Tidak masalah," jawab wanita itu, dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
Wajah memucat. Tubuh itu serasa tak bertenaga, mengetahui kenyataan kalau pria yang selama ini dia hindari, adalah pimpinan dari perusahaan tempatnya akan mengais rejeki. Aisyah segera mendaratkan tubuh pada sebuah kursi panjang, dan dia terlihat seperti orang bodoh saat ini, dengan pandangan sejauh mungkin.
__ADS_1
"Bodoh! Bodoh! Bodoh...! Bagaimana bisa aku seceroboh ini?! Sebenarnya aku harus mencari tahu dulu, siapa pimpinannya?" Sebelum aku melamar pekerjaan di sini."