
Setelah berucap pada Aisyah! Arah pandang itu dia alihkan pada Simon, yang berada disamping wanita itu.
"Simon..."
"Iya Tuan!"
"Pecat wanita ini! Ambil anakku, dan bawa padaku. Beri sejumblah uang padanya, dan pastikan tidak ada siapa-pun yang mengetahui, kalau dia adalah Ibu biologis dari anakku." Dengan langsung melenggangkan dua kakinya.
Kaget seketika menyelimuti diri Aisyah! Setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Aditya.
Dua kaki itu segera Aditya ayunkan dengan langkah panjangnya. Dua kaki yang baru mengambil dua langkah, seketika terhenti saat tiba-tiba saja Aisyah memeluk dua kakinya.
Pak... Aku mohon, jangan lakukan ini padaku, jangan lakukan ini padaku Pak..." pinta Aisyah, dengan air mata yang terus saja memebasahi dua pipinya.
Aditya memberontakkan dua kakinya, yang terpenjara begitu kuat dalam lingkaran tangan Aisyah, agar wanita itu dapat melepaskan pelukannya.
"Lepaskan kakiku! Lepaskan...!"
"Tidak! Aku tidak akan melepaskan. Aku mohon jangan lakukan ini padaku, Pak! Jangan lakukan ini padaku. Aku mohon, biarkan aku tetap bersama anakku, biarkan aku tetap bersama anakku Pak.."
Seringai jahat membentuk di wajah tampan Aditya-mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir Aisyah.
"Membiarkan kau hidup bersama anakku! Maaf aku tidak bisa. Aku akan memberi sejumblah uang padamu, dan pergilah sejauh mungkin dari kehidupan anakku, dan jangan pernah menampakkan batang hidungmu lagi, di depanku." Dengan menekan kata-katanya.
Setelah mengatakan apa saja pada Aisyah, Aditya segera melepaskan dua tangan Aisyah, dan berlalu begitu saja setelah pelukan dua tangan itu terlepas dari dua kakinya.
"Pak...Pak...Pak Aditya...." panggilnya dengan begitu kuat.
Tangis Aisyah seketika pecah setelah perginya Aditya. Ibu muda itu nampak sangat terpukul, mendengar kata-kata yang terlontar dari bibir pengusaha tampan itu.
"Aku tidak mau berpisah dengan anakku, aku tidak mau berpisah dengan anakku.." ucap Aisyah disela tangisnya.
__ADS_1
Tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa diam, dan memberi tatapan iba-nya pada Aisyah, yang terus menangis dalam ketidak-berdayaannya.
Dua kaki itu kemudian Simon langkahkan, yang membawa tubuhnya semakin dekat pada Aisyah masih masih terduduk dilantai.
Tubuh itu dia bungkukkan, mensejajarkan tingginya dengan Aisyah.
"Syah..." panggilnya pelan.
Arah pandang itu Aisyah alihkan pada Simon, yang berada disampingnya.
"Aku tidak mau berpisah dengan kedua anakku, Simon... Aku tidak mau berpisah dengan mereka.." Air mata yang sudah mulai reda, kala dia mengeluhkan apa yang dia inginkan.
Simon menghembuskan napas panjangnya, menghempaskan sesak di dada yang dia rasakan, akan dihadapkan dalam situasi ini.
Dan yang bisa dia lakukan untuk wanita itu, hanya-lah memberinya kekuatan.
"Aku minta kau bersabarlah, aku akan mencoba membicarakan ini dengan Tuan Aditya. Dan bangunlah."
"Aku tidak bisa memastikan. Tapi tidak ada salahnya kalau aku mencoba."
"Sekretaris Simon.. Aku tidak mau berpisah dengan anakku, aku tidak mau berpisah dengan mereka,"
"Bersabarlah, dan aku kau harus kuat. Dan bangunlah!"
Air mata itu Aisyah ucap cepat, saat bangun dari duduknya. Sangat rapu diri itu saat ini-bagaiman dia harus dipisahkan dengan sebagian jiwanya.
****
Aditya begitu murka, setelah mengetahui kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau Sekertarisnya ternyata dua sudah mengetahui kalau Anisa itu-ternyata adalah Aisyah. Hingga tanpa dia sadari, tangan itu sudah dia layangkan dengan sangat keras pada pipi Simon.
"PLAAK!!" Tamparan yang sangat kuat, hingga membuat wajah itu berpaling seketika.
__ADS_1
"Kau benar-benar brengsek Simon! Ternyata selama ini kau sudah mengetahui, kalau Anisa itu adalah Aisyah. Tapi kau tega tidak memberitahukannya, padaku."
"Maafkan saya Tuan... Maafkan saya. Saya tahu, kalau yang saya lakukan ini sangat salah. Tapi saya lakukan ini-semata-mata, hanya karena saya kasian dengan Nona Aisyah. Dia begitu menyayangi kedua putri anda Tuan!"
Raut wajah yang tadi nampak begitu murka, seketika terlihat begitu serius, setelah mendengar kalimat yang sangat menarik perhatianya. Yaitu: kedua putri.
"Tadi kau bilang kedua putri. Apa maksudmu, Simon? " tanya Aditya, kala netra mata itu dia intenskan pada sang Sekretaris.
"Dari salah inseminasi itu, Nona Aisyah melahirkan bayi kembar. Dan mereka berjenis kelamin perempuan."
Rona bahagia memenuhi wajah tampan Aisyah-mendengar kenyataan yang baru saja dia tahu, kalau ternyata dia bukan memiliki satu anak saja, tapi dua. Dan ini sangat luar biasa baginya.
"Ini sangat luar biasa. Bukan satu anak yang aku dapat dari proses inseminasi itu, tapi dua sekaligus. Dan aku sangat bahagia," bathin Aditya.
Dua mata itu kembali Aditya lemparkan pada Simon-setelah beberapa menit dia hanyut suasana bahagianya.
"Aku memaafkanmu, karena aku sedang bahagia saat ini. Dan sebagai hukuman untukmu, aku minta kau jemput kedua anakku sekarang."
Wajah itu terlihat tegang, setelah mendengar apa yang baru saja dititahkan oleh Tuannya.
"Apakah harus sekarang Tuan?" tanya Simon memastikan, sebab tidak menyangkah, akan mengambil Bella, dan sella dengan begitu cepat.
Dua alisnya bertaut, dengan sorot mata yang Aditya tajamkan mendengar ucapan Simon yang terdengar sangat aneh untuknya.
"Apakah yang aku katakan kurang jelas, Simon?! Aku ingin kau menjemput kedua anakku, dan itu sekarang!" Dengan menekan kata-katanya, yang membuat Simon tak berdaya untuk menolak untuk menolak titah Tuannya.
"Baiklah Tuan... Saya akan menjemput mereka sekarang." jawabnya pasrah.
Tubuh itu berbalik, menghadap pada kedua bodyguard yang berada di situ. Berat rasanya, saat dua kaki itu harus dia ayunkan, saat mengambil Bella, dan Sella tapi dia tak kuasa untuk menolakknya.
"Dion... Jordan...! Ayo kita pergi.." panggil Simon, pada kedua pria bertubuh tegap itu.
__ADS_1