
Dunia serasa sepi bagi Aisyah, saat diri itu di landa kegalauan. Bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa-karena bagaimanapun ada dua nyawa yang menggantungkan hidupnya. Hening...Hening...larut dalam dunianya sendiri. Hingga lalu lalangnya orang-orang di depannya, serasa tak terlihat bagi Aisyah. Diri itu sedang berpikir keras saat ini, memikirkan apa yang harus dia lakukan.
Wajah itu seketika nampak antusias, saat menemukan apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Ya aku, harus membatalkan pekerjaan itu. Hanya itu jalan satu-satunya, agar aku bersama kedua anakku." Aisyah bergumam mantap. Tubuh itu segera bangun dari duduknya, melanjutkan langkahnya menuju dalam perusahaan.
****
Ragu bagi Aisyah, saat akan memberi ketukan pada badan pintu.
Hening sejenak, membiarkan diri itu menyiapkan mentalnya. Beberapa menit dirinya berada di depan pintu ruangan, akhirnya Aisyah memberanikan diri untuk memberi ketukan pada badan pintu.
"Masuk..." Terdengar suara Lidya, dari dalam ruangan.
Perlahan tangan itu terangkat, meraih gagang pintu berwarna keemasan. Dengan satu tekanan, pintu itu melebar, dan menampilkan sosok Lidya yang menatap Aisyah intens, dari balik kaca matanya.
"Selamat pagi, Bu!" Aisyah menampilkan senyum kikuknya. Wajahnya sedikit memucat, mengingat tujuannya datang, yang untuk membatalkan pekerjaan.
"Pagi. Dan silahkan masuk."
Ayunan kaki Aisyah-ayunkan dengan pelan. Perlahan tubuh itu dia daratkan pada sebuah kursi tunggal, yang berada di depan meja kerja Lidya.
__ADS_1
"Oh..iya, Anisa! Sedikit lagi, karyawan wanita akan mengantarkan baju seragammu." seru Lidya tiba-tiba.
Aisyah tersenyum getir, mendengar ucapan Lidya yang membuat dia merasa tidak enak hati. Menghembuskan napas beratnya, saat akan mengutarakan tujuannya datang kemari.
"Maafkan saya Bu!" seru Aisyah pelan.
Kening Lidya mengkerut. Dua matanya seketika menatap intens pada Aisyah, dengan tatapan yang sudah diselimuti rasa penasaran.
"Maaf? Memang kesalahan apa yang kamu lakukan pada saya? Hingga kamu meminta maaf."
Wajah yang sedikit menunduk, perlahan Aisyah tegakkan, dengan berani dia menatap pada Lidya, yang menatapnya dengan penasaran.
"Maafkan saya, Bu! Karena saya ingin membatalkan kontrak kerjanya, sebab saya betul-betul tidak bisa bekerja di sini."
"Apakah saya tidak salah dengar, dengan apa yang kamu katakan? Kamu bilang kamu ingin membatalkan kontrak kerjanya, karena tidak bisa bekerja di sini."
"Maafkan saya, Bu! Tapi saya benar-benar tidak bisa bekerja di sini." Aisyah menampilkan wajah memelasnya, agar Lidya yang selaku penanggung jawab di bagian Cleaning Cervise, dapat memenuhi keinginannya.
Lidya tersenyum palsu. Wanita paruh baya itu tidak berbicara lagi. Jemarinya menggapai gagang laci, dan menggapai lembaran kertas-yang tak lain adalah surat kontrak kerja, yang sudah ditandangani Aisyah.
"Coba kamu baca surat ini. Kemarin kamu menandatanganinya, tapi kamu sama sekali tidak membacanya."
__ADS_1
Raut wajah Aisyah, seketika berubah serius. Dua mata itu begitu intens menatap Lidya, yang menyimpulkan senyum kecilnya.
"
"Bacalah.." pinta Lidya-pada Aisyah, yang hanya diam membisu.
Perlahan jemari Aisyah menggapai ujung lembaran surat itu, dengan wajah bingungnya. Dua matanya mulai menelusuri setiap barisan, yang tertulis dalam lembaran surat itu.
Arah pandang yang tadi begitu intens pada lembaran surat itu, seketika intens pada Lidya-di mana Aisyah membasa sebuah kalimat, jika dia membatalkan kontrak kerjanya, maka Aisyah harus mengganti rugi sebanyak seratus juta.
"Jadi kalau saya membatalkan kontrak kerjanya, saya harus membatalkan kontrak kerjanya?"
"Iya. Itulah kenapa saya meminta kamu, untuk membaca suratnya terlebih dahulu- sebelum kamu membacanya. Tapi kamu mengabaikannya, karena bilang sudah merasa yakin."
Aisyah seketika diam membisu. Wajah memucat, dan tubuh itu serasa tak bertenaga-akibat syok mengetahui, dia harus membayar ganti rugi sebanyak seratus juta, jika ingin membatalkan kontrak kerjanya.
"Bu..Apakah Ibu tidak bisa membantu saya? Karena saya, benar-benar tidak bisa bekerja di sini." Aisyah menampilkan memelaskan wajahnya, agar wanita paruh baya itu dapat membantunya, untuk tidak jadi bekerja di perusahaan itu.
"Maafkan saya, Nisa! Tapi peraturan, tetaplah peraturan. Karena kamu sudah menandatangani suratnya, mau tidak mau kamu harus bekerja di sini."
Ucapan tegas Lidya, membuat mulut Aisyah seketika terkatup. Wanita cantik itu hanya bisa diam, dan pasrah dengan keadaan. Karena semua ini terjadi karena kecerobohannya sendiri, yang tidak membaca terlebih dahulu surat kontrak kerjanya.
__ADS_1
"Nasi sudah menjadi bubur. Semua terjadi karena kebodohanku, yang tidak membaca surat itu terlebih dahulu-sebelum menandatangani surat kontrak kerjanya. Dan mau tidak mau, aku harus tetap bekerja di sini." bathin Aisyah.