SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
JALAN KE LUAR ADALAH MENIKAH


__ADS_3

Mentari telah kembali bersinar terang, setelah gelap perlahan menghilang bersama bulan dan bintang- dengan kembali hadirnya hari yang baru. Cerahnya mentari, dan indahnya pagi ini-tepat menggambarkan suasana hati-sosok tampan, yang sedang merapikan penampilannya berdiri di depan cermin. Seketika wajah itu tak berlukis senyuman lagi, saat beberapa kali dirinya memasang dasi, dan selalu saja salah.


"Haahh!" Mendesahkan napas tegasnya, seraya menarik kasar simpulan dasi yang melilit di kra kemeja miliknya.


"Apa aku minta bantuan pada Aisyah, saja? Untuk membantu memasang dasi ini," gumam Aditya.


Arah pandang itu seketika berpaling pada arah pintu, saat terdengar suara ketukan beberapa kali pada pintu kamarnya, yang dilakukan oleh seorang Aisyah Maharani.


"Mas Aditya... Mas buka pintunya...Buka pintunya Mas..." Nada panggilan Aisysh terdengar panik, saat menyeruhkan nama pria itu di dalam kamar.


"Ada apa?!" jawab Aditya dengan nada kesal, tanpa membuka pintu kamarnya.


"Mas...Buka pintunya! Ada hal penting, yang harus kamu tahu!" Dengan setengah teriakan, Aisyah menjawab apa yang ditanyakan Aditya, dan dia sangat berharap-agar pria itu segera membuka pintu kamarnya.


Terlihat jelas di wajah tampannya, kalau Aditya saat ini tengah berusaha menahan kesalnya-pada Aisyah. Ayunan kaki itu segera dia ambil, yang membawa tubuhnya pada pintu kamar.


"Ada apa?!" tanya-nya kesal, dengan sorot mata tajam.


Bukan-nya menjawab apa yang ditanyakan Aditya? Aisyah justru menarik tangan pria itu, untuk menuruni anak tangga. Kaget! Dan tentunya juga heran. Karena tiba-tiba saja tangannya-ditarik oleh Aisyah, tanpa dia tahu apa alasannya.


"Hei! Apa yang kau lakukan padaku?! Lepaskan tanganku?" pinta Aditya, tapi langkah kakinya tetap mengikuti langkah kaki Aisyah- yang menuruni satu persatu anak tangga.


Tak mengindahkan apa yang dipinta Aditya-Aisyah justru terus menarik tangan pria itu, agar mengikuti langkah kakinya.


Kesabaran seorang Aditya, akhirnya habis juga pada seorang Aisyah. Saat dua pasang kaki mereka sudah berpijak pada lantai dua, pria itu langsung menghempaskan tangan Aisyah yang menggenggamnya, hingga membuat langkah kaki itu wanita itu dia hentikan juga.


"Kamu apa,an Aisyah?! Apakah kamu tidak melihat kalau saya, sedang akan bersiap-siap untuk ke kantor?!" Intonasi suara Aditya sudah meninggi akan amarahnya, dengan apa yang Aisyah lakukan padanya.


Panik yang masih menyelimutinya, membuat kemarahan seorang Aditya Wirawan- sama sekali tidak berpengaruh pada wanita itu. Hingga jemari pria itu, kembali dia gapai.

__ADS_1


"Mas..Nanti saja marahnya! Pokoknya kamu harus melihat ini!" ucap Aisyah, dan kembali melangkahkan dua kakinya, menuju lantai bawa.


Tarikan Aisyah yang tiba-tiba, membuat tubuh Aditya akhirnya terhuyung, dan mengikuti langkah kaki Aisyah.


Saat tubuh keduanya sudah berpijak pada lantai bawa, Aisyah langsung menyeretkan langkah kakinya menuju ruang nonton, yang membuat Aditya seketika terselimuti rasa penasaran, sebenarnya untuk apa wanita itu, membawanya ke ruang nonton?


"Untuk apa kamu membawa aku ke ruang nonton?" Aditya nampak sudah terlihat tenang. Emosi yang tadi meluap-luap dalam dirinya, kini sudah tak nampak lagi.


"Mas..Akan tahu nanti," jawab Aisyah, dengan alunan kaki yang terus dia ayunkan.


Saat kedua sudah tiba di ruang nonton, genggaman tangan itu, Aisyah urai. Aditya semakin dilanda rasa penasaran, saat tiba di ruangan itu-dia menemui sudah adanya beberapa pelayan rumahnya, dan juga Simon di sana.


"Selamat pagi Tuan!" sapa mereka, saat mendapati keberadaan Tuan muda mereka, di ruangan itu.


"Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi kalian sudah kumpul di ruang nonton ini? Memang berita apa yang kalian nonton?" tanya Aditya penasaran.


Tak menjawab apa yang menjawab apa yang ditanyakan, oleh Tuan mereka! Tubuh yang menghalangi penglihatan Aditya pada layar televisi, mereka tepikan agar tak menghalangi penglihatan Tuannya, yang dapat menyaksikan sendiri berita tentang dirinya.


Syok! Hingga tubuh itu langsung terduduk lemas di atas sofa panjang, dengan raut wajah yang begitu frustasi.


"Bagaimana berita ini, bisa menyebar?" gumam Aditya dengan tatapan nanarnya.


"Mas...Apa yang harus kita lakukan?! Bahkan mereka menuduhku, kalau aku sudah menjebakmu, agar bisa memilikimu dan juga hartamu," aduh Aisyah, dengan wajah yang tak kalah frustasinya dengan Aditya.


"Cepat atau lambat, berita ini pasti akan tersebar Tuan! Sekali pun anda berusaha menuntupinya dari dunia luar, tentang Nona Aisyah. Apa lagi kalian berdua tinggal satu atap, dengan putri kalian. Jadi wajar saja kalau publik menaruh pikiran negatif tentang anda, dan Nona Aisyah walau pun itu nyatanya sangat tidak benar."


Aditya mengusap kasar wajahnya. Sesak begitu dia rasakan saat ini, dan dia membenarkan apa yang baru saja dikatakan sekretarisnya itu. Tentu saja orang akan berpikir negatif tentangnya, karena tiba-tiba saja dia sudah memiliki anak, dan juga tinggal satu atap dengan seorang wanita- walau pun kenyataan nya mereka tidak pernah melakukan hal, yang dilarang oleh agama. Cukup lama Aditya tenggelam dengan apa yang menjadi beban pikirannya, dan kembali bersuara.


"Jadi menurutmu, solusi apa yang harus aku lakukan, Simon? Agar bisa ke luar dari masalah ini."

__ADS_1


"Iya. Aku juga tidak mau nama baikku tercemar, pasti pria-pria di luar sana akan menganggapku wanita murahan, dan gila harta," timpal Aisyah dengan nada memelas, memikirkan opini publik yang buruk tentangnya saat ini.


"Aku rasa hanya dengan menikah!" celah Sisi tiba-tiba.


"Menikah?!" Mata Aditya membelalak lebar, mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir pelayannya, yang membuat pria itu nampak terkejut.


"Saya rasa apa yang dikatakan Sisi sangat-lah benar. Nama anda, dan Nona Aisyah saat ini sudah tercemar. Dan saya yakin, orang di luar sana pasti sedang bergosip tentang kedua anak anda, kalau Nona Bella, dan Sella anak yang terlahir karena hubungan gelap anda, dan Nona."


"Jika aku sampai mendengarnya! Aku pastikan mulut mereka , akan ku robek!" geram Aditya, dengan wajahnya yang memerah.


"Jadi bagaimana dengan masukan dari saya tadi, Tuan, Nona Aisyah?!"


"Apakah itu hanya jalan satu-satunya Simon?!" tanya Aditya pelan.


"Iya Tuan, hanya itu jalan satu-satunya."


Aditya menimang. Pria itu begitu hanyut dalam pikirannya, memikirkan keputusan yang cukup berat, yang harus dia ambil saat ini juga, untuk memulihkan nama baiknya. Dua matanya menatap dalam pada Aisyah, yang begitu menenggelamkan. Memandang, dan terus memandang dengan apa yang tengah dia pikirkan, saat ini.


"Baiklah. Kalau memang hanya itu jalan satu-satunya, agar dapat memulihkan nama baik-ku, Aisyah dan juga anak-anak-aku mau. Aisyah! Ayo kita menikah!"


"Apa?? Menikah?! Saya tidak mau menikah dengan kamu, Mas! Bagaimana saya bisa saya menikah dengan pria, yang tidak saya cinta sama sekali," celah Aisyah cepat, yang sangat keberatan dengan permintaan Aditya.


Aditya nampak begitu geram. Harga dirinya sebagai seorang pria merasa terinjak, dengan penolakan dari Ibu kedua anaknya itu. Dan untuk menutupi rasa malunya, dan menunjukkan tetap harga dirinya-Aditya melontarkan Aisyah dengan kata-kata yang tak kalah pedas-nya.


"Hei bodoh! Kau pikir aku juga sudi menikah, denganmu?! Kalau kau tidak mau menuruti jalan ke luarnya! Ya sudah aku tidak perduli. Tapi cepat kau angkat kaki, dari rumah ini! Dan juga lupakan Bella, dan Sella selamanya!" seru Aditya, dengan menekan kata-katanya.


Nyali Aisyah menciut seketika, kata-kata yang baru saja Aditya lontarkan padanya, mampu membuat diri wanita itu tak berkutik.


"Ma...Maafkan saya Mas..Tapi bisakah Mas memberikan waktu satu hari saja untuk saya? Agar dapat mempertimbangkannya matang-matang."

__ADS_1


"Saya akan memberi kamu waktu sampai besok. Tapi seperti yang tadi saya bilang. Lupakan Bella, dan Sella juga, silahkan angkat kaki dari rumah ini, jika kamu tidak mau menikah dengan saya!" seru Aditya tegas, yang membuat Aisyah hanya bisa memelaskan wajahnya pasrah.


__ADS_2