SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
KEDATANGAN MAMA MELINDA


__ADS_3

Bulan, dan bintang kembali hadir menyinari awan yang tertutup oleh gelap, saat matahari sudah kembali menyembunyikan senyum indahnya, dibalik gunung yang menjulang.


Dia begitu gelisah, itu-lah gambaran yang terlihat jelas, dari wajah cantik Aisyah saat ini. Belum juganya kembali Aditya dari Surabaya, mampu membuat dua mata itu masih setia terjaga sampai saat ini.


"Ini sudah jam sepuluh malam, tapi kenapa Mas Aditya belum pulang juga? Padahal tadi dia mengatakan, kalau mereka sudah akan kembali pulang," gumam Aisyah dalam hati, dengan melangkah ke sana kemari, karena gelisah memikirkan sang Suami yang belum juga pulang.


Usai membersikan dapur, Sisi melangkahkan dua kakinya, menuju arah sebuah kontak lampu, guna mematikan lampu di dapur. Usai mematikan lampu, tak sengaja tatapan mata itu dia lemparkan pada arah lain, dan sedikit kaget saat mendapati Istri-Tuannya, yang belum juga tidur diwaktu yang sudah akan menghantarkan pada penghujung tengah malam.


Langkah kaki itu Sisi ambil, yang membawa tubuh itu, menghampiri pada Aisyah, yang sedang berada di ruang tamu.


"Nona..." panggil Sisi pelan.


Aisyah langsung memalingkan wajahnya pada asal suara, begitu mendengar nama-nya dipanggil. Wanita bersutra hitam itu, nampak sedikit kaget, ketika mendapati keberadaan Sisi, yang tengah menghampiri pada-nya.


"Apa yang anda lakukan, Nona? Kenapa anda belum tidur dijam begini? Apakah anda sedang menunggu seseorang?" tanya Sisi yang terlihat begitu penasaran.


Aisyah tidak langsung menjawab, apa yang Sisi tanyakan pada-nya. Wanita itu hanya membungkam-kan bibirnya, larut dengan apa yang dia pikirkan mengenai Pelayan di depannya ini.


"Nona..." panggil Sisi lagi, saat sang Nona Muda tak kunjung menjawab apa yang dia tanyakan.


"Ke..Kenapa Sisi?" jawab Aisyah terbata, saat Sisi berhasil membela dunia lamunannya.


"Anda baik-baik saja?" tanya Sisi dengan menatap penuh selidik, pada Tuannya.


"Saya baik-baik saja, Sisi!" jawab Aisyah, dengan memberi senyum palsunya pada Sisi.


"Nona belum tidur? Dan seperti-nya, Nona sedang menunggu seseorang."


"Saya..." Belum selesai, Aisyah menyelesaikan kalimat yang akan dia ucapkan pada Sisi, terdengar suara mesin mobil yang baru saja, memasuki area rumah mewah itu.


Tanpa memperdulikan Sisi yang menatapnya dengan aneh, Aisyah langsung melangkahkan dua kakinya, menghampiri pada pintu utama, yang jarak-nya hampir sekita dua meter, dari kaki yang dia pijak tadi.


Sekitar dua langkah kaki lagi, kaki Aisyah sudah akan memijak pada pintu utama, tapi tak jadi dia lanjutkan, karena pintu utama sudah terbuka.


"Mas..." Rona bahagia terpampang nyata di wajah Aisyah, dengan segera mengambil langkah kakinya cepat menghampri pada Aditya, yang baru saja memijakkan dua kakinya di dalam rumah.


Tanpa memikirkan adanya orang selain dirinya, dan Aditya, Aisyah langsung menghamburkan tubuhnya ke dalam pelukan Aditya, yang tersenyum padanya.


"Aku sangat mengkhawatirkanmu, Mas..Sangat mengkhawatirkanmu!" seru Aisyah, dengan memeluk erat tubuh pria itu.

__ADS_1


Senyuman menyelimuti wajah tampan Aditya, seraya mengusap lembut rambut indah yang tergerai, menyalurkan rasa yang ada dalam diri.


"Aku pasti akan cepat pulang, Aisyah! Karena aku begitu, khawatir pada kalian."


Bisa dibayangkan bagaimana raut wajah Sisi saat ini. Pelayan muda itu, nampak kaget, dan juga dilanda berbagai pertanyaan dalam diri, seputar Tuan-Mudanya. Bukankah tadi pagi Tuan-nya berpamitan akan pergi ke Malaysia? Karena ada urusan kerjaan. Tapi kenapa sekarang sudah ada? Bahkan tadi Istri, dari Tuan Besarnya Karla menanyakan di mana Tuan-nya? Dan dengan sangat yakin, dia mengatakan kalau Tuan Majikan pria-nya pergi ke Malaysia.


"Bukankah Tuan Aditya bilang, dia akan pergi ke Malaysia? Dan bukankah Malaysia itu jauh? Tapi! Kok dia sudah berada di rumah?" gumam Sisi pelan, dengan terus melemparkan pandangan pada Aisyah, dan Aditya yang masih berpelukan.


Terus memandang, hingga arah pandang itu berpindah, saat dia mendapati sosok wanita paruh baya dengan pakaian sederhananya. Dan dia begitu terkejut, bahkan sangat-sangat terkejut, saat mendapati Mama Melinda yang baru saja masuk, karena yang dia tahu kalau wanita paruh baya itu, sudah meninggal. Syok, dan kagetnya itu! Membuat dua kakinya, tak mampu menopang tubuh itu sendiri, dan membuat tubuhnya goyang. Dan saat akan menyentuh lantai, dengan cepat Bibi ijah yang baru saja datang, menahannya.


"Nyo...Nyonya Besar..." gumam Sisi, dengan buliran keringat yang sudah membaahi dahinya, akibat kaget yang teramat sangat itu.


Bibi Ijah mengalihkan tatapan matanya pada arah pandang Sisi, dan dia pun juga sama kaget-nya, saat mendapati Ibunda, dari Majikan pria-nya, yang selama ini diketahui nya sudahtelah meninggal.


"Nyonya Besar..." gumam Ijah pula, dan menduduki Sisi yang masih nampak syok disalahsatu sofa.


"Ijah.." gumam Mama Melinda pula.


Memastikan itu benar-benar adalah Ibunda dari Majikan prianya, Ijah segera mengambil langkah kakinya yang panjang, menghampiri pada Mama Melinda yang terus tersenyum padanya.


Sepasang pupil mata Ijah nampak sudah berkabut, saat kesedihan itu, tak sanggup lagi dia bendung.


Mama Melinda melukis senyum di wajah, seraya mengangguk kecil saat memberi sebuah jawaban.


"Iya, Ijah! Ini aku."


Tak sanggup membendung lagi rasa bahagia nya, wanita berusia senja itu, langsung berhambur memeluk Mama Melinda, melepaskan rasa rindunya pada wanita yang begitu baik pada-nya.


"Nyonya... Aku pikir anda sudah meninggal, Aku mengirah anda sudah benar-benar tiada, Nyonya!" seru Bibi Ijah, dengan terus memeluk tubuh Mama Melinda.


Air matapun ikut luruh , dari sepasang pupil mata Mama Melinda, dengan membalas pelukan Bibi-Ijah, pelayan rumah-anaknya yang sebelumnya mengambdikan diri padanya.


Tersenyum, dan mengusap cepat air mata itu dengan mengurai pelukan mereka.


"Aku juga sangat bahagia, Ijah! Terima kasih, karena saat aku tidak ada, kau selalu setia bersama putraku."


"Saat anda di-nyatakan meninggal, aku langsung memutuskan untuk bekerja pada Tuan Muda Aditya, Nyonya!"


"Dan sekali lagi terima kasih, karena disaat aku tidak ada, kau setia menjaga putraku," jawab Mama Melinda tersenyum.

__ADS_1


Aisyah pun turut meneteskan air matanya, melihat pemandangan mengharukan di depan matanya. Dan mendapati sosok wanita paruh baya, yang begitu mirip dengan Suami-nya Aditya, Aisyah meyakini kalau wanita itu adalah Ibunda dari sang Suami.


"Mas... Jadi ini, Mamamu?" tanya Aisyah dengan berbisik pelan di telinga Suami-nya.


"Iya. Dia adalah Mamaku, jadi dia adalah Ibu Mertuamu. Apakah kau tidak akan menyapanya, Syah?!"


"Aku takut, kalau dia tidak akan menerimaku, Mas!" jawab Aisyah yang mulai terlihat resah, takut jika saja Mama Melinda akan bersikap sama seperti sikap awal Ayah Mertuanya, dulu.


"Mamaku, adalah wanita yang baik, jadi kau tidak perlu khawatir, kalau dia akan menolakmu."


Aditya seketika berpura-pura batuk, sengaja untuk mengalihkan perhatian Bibi Ijah, dan juga sang Bunda, yang masih belum selesai lepas kangennya.


"UHUUK....UHUUk....!" Batuk pura-pura itu berhasil mengalihkan tatapan mata Mama Melinda, yang langsung melempar pandangan pada Aditya, putranya.


Senyuman dia lukis di wajah, dengan dua kaki yang melangkah menghampiri pada sang Putra, dan juga Aisyah yang terus menatap padanya.


"Apakah kau yang bernama Aisyah?" tanya Mama Melinda ramah.


"I..Iya!" jawab Aisyah yang terlihat sedikit gugup.


Mama Melinda tersenyum, mendapati sikap Aisyah yang sepertinya, sungkan padanya.


"Tidak perlu sungkan, pada Mama. Mana bisa kita berdua menjadi teman? Kalau kau bersikap seperti ini pada Mama. Aditya sudah banyak menceritakan tentangmu saat kami dalam perjalanan kemari, dan juga kedua putri kalian."


Aisyah menampilkan senyum hangat di wajah. Mendapati sambutan baik dari sang Ibu Mertua, membuat rasa ragu, gugup, dan juga takut berlalu pergi seketika.


"Tentu saja kita bisa menjadi teman, Maa! Dan terima kasih sudah menerimaku" ucap Aisyah sumringah.


"Apakah kedua Cucu-ku, sudah tidur?"


"Sudah, Maa.. Mereka sudah tidur. Dan aku yakin, mereka pasti akan sangat bahagia, saat mengetahui kalau Oma-nya ada di rumah ini."


Mama Melinda tersenyum. Lemparan pandangan itu dia alihkan pada Sisi, yang terus menatap padanya, dengan tatapan mata tak berkedip sedikit pun.


"Apakah kau tidak akan menyapaku, Sisi?"


"Nyonya.. Apakah ini benar anda? Bukankah anda sudah meninggal?"


"Ini benar, aku Sisi! Dan aku sama sekali tidak meniggal, karena sesungguhnya aku diculik dan dijadikan budak oleh seseorang."

__ADS_1


Sisi, dan Ijah yang sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, sangat begitu terkejut saat mendengar apa yang baru saja Mama Melinda katakan.


__ADS_2