SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
KECUPAN


__ADS_3

Saat ini, dirinya tengah terbius dengan kecantikan wanita di depannya. Hingga tatapan mata itu-tak berpaling sedikit pun dari wajah cantik Aisyah.


Diri yang tengah tenggelam dalam pesona seorang Aditya-seketika tersentak keget saat tubuh itu sedikit guncang denga kedua putrinya.


"Daddy..." Bola mata Bella, dan Sella nampak berbinar, dengan memeluk tubuh Ayah mereka.


Mencuri pandang sekilas pada Aisyah, yang tengah melangkahkan kakinya, mendekat pada mereka. Tapi seketika arah pandang itu dia alihkan pada kedua putrinya, saat kedapatan mencuri pandang oleh wanita itu.


"Anak-anak Daddy sudah wangi.." Aditya memberi senyum tipis di wajahnya, tapi diam-diam sudut matanya terus dia lemparkan pada Aisyah yang kian mendekat padanya.


"Kami baru saja mandi, Daddy! Begitu pun juga dengan Mommy!" seru Bella.


"Benarkah?" tanya Aditya, dengan wajah berpura-pura kaget.


"Tentu saja, Daddy! Coba kau cium, bukankah biasa kalau baru saja mandi maka akan sangat wangi?" hardik Sella.


"Benar, dan kalian sangat cantik."


Tubuh yang dia sejajarkan dengan kedua putrinya, Aditya angkat kala pupil matanya-menangkap sepasang kaki yang berdiri di depannya.


"Selamat sore, Mas.." Aisyah melukis di wajah, saat menyapa pada Aditya.


"Se..Selamat sore!" jawabnya dingin, saat detak jantung itu kembali melaju dengan cepat yang membuatnya tidak mampu berucap dengan benar.


"Mommy.. Cepat ambil tas Daddy!" pinta Bella tiba-tiba.


Tidak ingin melakukan, tapi Aisyah sangat tahu kalau kedua putrinya pasti akan tetap memaksa, sekali pun dia menolaknya. Dua kaki itu dia ayunkan, yang semakin membawa tubuh itu mendekat dengan Aditya.


Senyuman dia lukis lagi, pada Aditya yang tengah menatapnya dengan penuh arti.


"Biar tasnya aku bawa!" Dengan langsung meraih, dari genggaman Aditya.


"Daddy..Tadi Daddy mencium kami. Apakah kau tidak akan mencium Mommy?" tanya Sella tiba-tiba.


Aditya, dan Aisyah terperanjat kaget, mendengar apa yang baru saja dikatakan putri mereka.


"Mencium??" tanya Aditya dengan tatapan tak percayanya.


"Me..Mencium?" tanya Aisyah lagi, dengan wajah yang sudah berubah pucat.

__ADS_1


"Iya Mommy..Daddy..."


Aisyah nampak kebingungan. Apa yang harus dia lakukan saat ini? Haruskah dia mengatakan, kalau dia sakit perut lagi? Dan tentu saja tidak, akan dia lakukan. Sebab itu bisa membongkar kebohongannya tadi pagi. Cemas kian melanda, yang terlihat jari-jarinya yang saling melilit dengan erat. Dan sekali pun Aditya sangat tampan, tapi Aisyah sama sekali tidak pernah menginginkan kalau Aditya menciumnya.


"Daddy...Kenapa kau diam saja? Apakah kau tidak mau mencium Mommy?!" tanya Sella tiba-tiba, yang membela lamunan pria itu.


"Baiklah..." Pasrah, dan tidak mungkin dia menolak keinginan putrinya. Melangkah kian mendekat. Tapi hati itu, semakin kacau dibuatnya, kala detakan jantungnya tak mampu terkontrol.


"Ada apa denganku? Kenapa detakan jantung itu, semakin berpacu cepat? Dan kenapa dia begitu cantik sore ini?" gerutu Aditya dalam hati.


"Tuhan.. Semoga saja dia hanya mencium dahiku. Karena aku sama sekali tidak mau, kalau pria ini sampai menciumku di pipi," bathin Aisyah penuh harap.


Dua tubuh itu sudah berhadapan, dengan jarak yang begitu dekat. Netra mata mereka saling beradu. Aditya mengintenskan matanya, melelusuri setiap jengkal wajah Ibu dari kedua putrinya. Cantik! Walau pun dengan penampilan yang sederhana.


Dia begitu hanyut akan suasana hatinya saat ini, seolah terbuyai dengan pesona seorang Aisyah saat inu. Tanpa memikirkan tidak adanya status diantara keduanya, Aditya langsung melabuhkan bibirnya, di bibir Aisyah dengan sedikit lamatanpa mengecapnya.


Bola matanya membulat lebar, akibat terkejut dengan apa yang dilakukan Aditya, padanya. Ingin menarik diri, tapi situasi membuatnya tak bisa berbuat apa-apa, mengingat adanya Bella, dan Sella.


Dan apa yang terjadi di depan mata, membuat Simon dan sikembar begitu kaget.


Simon membulatkan matanya penuh, dengan raut wajah tidak percayanya, mendapati Tuan muda-nya begitu berani mencium Aisyah di bibir.


"Wah...Daddy...Kau sangat manis..." Mata Sella nampak mega-megap, dengan senyum menggodanya. Tapi dengan cepat sang Kakak-Bella menutupnya matanya dengan kedua tangan, agar tak dapat melihat kecupan manis kedua orang tua mereka.


Bibir yang saling bersentuhan, sudah Aditya lepaskan setelah beberapa menit terbenam di sana.


"Apa yang anda lakukan, Tuan?! Kenapa anda mencium bibirku?!" tanya Aisyah pelan, tapi nadanya yang terdengar kesal.


Aditya mengukir senyum nakalnya, dengan memberi tatapan yang menggodanya-pada Aisyah, yang balik menatapnya dengan kesal. Wajah itu Aditya dekatkan pada telinga Aisyah, dan berbisik pelan di sana.


"Apakah kau tega membuat kedua putri kita kecewa, Aisyah?!" gumamnya tersenyum, dan langsung menarik diri.


"Dasar menyebalkan!" rutuk Aisyah dalam hati.


Aditya kembali menyambangi kedua putrinya. Keningnya mengkerut, dengan raut wajah berubah heran kala mendapati kedua putrinya memejamkan matanya.


"Kenapa kalian menutup mata?"


"Apakah sudah selesai Daddy?" tanya Bella, dengan setengah membuka matanya, seperti seseorang yang sedang mengintip.

__ADS_1


"Kalian harus terbiasa, karena sesuai keinginan kalian Daddy akan selalu mencium, Mommy."


Aisyah begitu kaget, mendengar kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir Aditya. Bagaimana bisa pria itu dengan muda menciumnya? Bukankah mereka tidak saling mencintai.


"Ada apa dengannya? Kenapa tiba-tiba saja dia jadi aneh begini? Dan lihat tadi, dia mengatakan hal itu! Sepertinya dia sudah terbiasa mencium wanita, tanpa adanya cinta," gumam Aisyah dalam hati, dengan menggeleng-gelengkan wajahnya menatap aneh pada Aditya.


Aditya sudah melangangkan kedua kakinya, di mana Bella dan Sella yang mengapit tubuhnya, dengan berpegangan tangan, di sisi kiri, dan kanan-dan Aisyah yang berjalan sedikit belakang mereka. . Simon tak melangkah dua kakinya, tubuh itu masih setia dia pijakkan disana. Melihat apa yang baru saja terjadi di depan matanya, membuat tiba-tiba dia mengukir senyuman.


"Aku sangat yakin, kalau Tuan Aditya sudah mulai tertarik dengan Nona Aisyah. Dan aku akan membuat, agar mereka cepat menikah," gumamnya pelan.


****


Gelap telah sempurna menutupi bumi, yang ditemani bintang dan bulan yang bersinar terang di atas sana-yang tengah memancarkan cahaya dengan indahnya.


Mata itu tak mampu dia pejamkan, terus saja bayangan saat Aditya menciumnya terlintas.


"Gila! Kenapa aku terus membayangkan kecupan tadi?! Hihiihh bikin geli aja!" Dengan bergindik ngerri,


Rasa haus mendera seketika. Tubuh yang sudah terbaring di atas ranjang, memutuskan untuk beranjak bangun. Dua kaki itu Aisyah langkahkan menuju sebuah teko kaca, guna mengambil minum.


"Air-nya habis!" gumam Aisyah, dan memutuskan untuk pergi ke dapur.


Dua kaki itu Aisyh ayunkan pelan, menuruni setiap barisan anak tangga-yang menghantarkannya pada lantai bawa. Remang-remang suasana rumah menyambut, yang ada sedikit cahaya menyinari.


Usai menghilangkan rasa hausnya, Aisyah memutuskan untuk kembali ke kamarnya. Dua kaki yang tengah melangkah, dan tak sengaja wajah itu dia palingkan. Penasaran dengan cahaya yang menerobos masuk ke dalam rumah, membuat langkah kaki itu berbelok arah. Mengayunkan langkah menuju pada arah pintu, dan mendapati pandangan yang menghantarkan pada taman, dan mendapati Aditya yang tengah menikmati kesendiriannya. Tak sengaja tubuh itu tersenggol akan sesuatu, yang membuat sebuah furniture dengan bahan kayu terjatuh.


"PRAAAK!" Dan menimbulkan sedikit keributan, hingga memalingkan wajah itu seketika.


"Ma...Maafkan saya Tuan..Eh! Maksud saya Mas!" ucap Aisyah dengan wajah gugup, dan segera mengangkat miniatur kecil itu dari lantai.


"Apa yang kau lakukan di sini?"


"Saya sedang mengambil minum, tapi tak sengaja saya melihat anda tadi! Dan kalau begitu saya permisi dulu!" pamit Aisyah dengan langsung melangkankan kakinya cepat. Tapi baru saja kakinya mengambil dua langkah, Aditya tiba-tiba bersuara. .


"Jangan pergi! Temani aku di sini!" pintanya tegas.


Berbalik, dan menatap dalam pada pria itu,


"Menemanimu, Mas?"

__ADS_1


"Iya, kemarilah!"


Melukis senyum, dan Aisyah pun melangkahkan kakinya mendekat pada AdiTya.


__ADS_2