SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
AKHIR BAHAGIA


__ADS_3

Aisyah tak mampu lagi membendung rasa bahagia, begitu wanita itu mendengar kalau diri-nya, sedang hamil. Air mata sudah luruh begitu saja, membasahi dua pipi mulusnya, dan dia pun terisak kecil di sana, karena terlalu bahagia.


Semua yang berada di dalam sana, pun tak sanggup membendung air mata bahagia mereka, dengan kebahagian yang menghampiri keluarga Wirawan.


Mama Melinda melukis senyuman kecil di wajah, dengan air mata yang dia usap cepat. Langkah kaki dia ambil, yang membawa tubuh wanita paruh baya itu, kearah Aisyah.


Melabuhkan tubuhnya ditepian ranjang, dengan sebuah senyuman hangat, yang dia ukir di wajah.


"Selamat ya Syah,"


Senyuman, dibalik air mata yang masih mengalir. Mengusap cairan bening itu, dan diapun membenamkan dirinya dalam pelukan Mama Melinda.


"Terima kasih Maa..Dan terima kasih, karena sudah begitu baik padaku,"


Mereka semua yang berada di dalam sana berada dalam suasana bahagia. Hingga membela, panggilan Sisi pada Mama Melinda.


"Nyonya...Nyonya Melinda," panggil Sisi. Wajah Pelayan muda itu, menunjukkan kepanikannya, hingga membuat raut wajah mereka yang berada di sana, seketika berubah tegang.


"Ada apa Sisi?" tanya Mama Melinda. Wanita paruh baya itu, seketika bangun dari duduknya.


"Tuan Besar, Nyonya!"


"Kenapa dengan Papa?!" tanya Aditya pula. Wajah wanita itu nampak menunjukkan kepanikan yang teramat sangat, setelah mendengar Sisi menyebutkan Papanya.


"Tuan Besar..." Seru Sisi, dengan belum melanjutkan ucapannya.


"Tenangkan dirimu Sisi! Dan katakan ada apa?" tanya Mama Melinda, dengan nada suara yang pelan.


"Tuan Besar, sudah sadar Nyonya! Tuan Besar, sudah sadar."


Senyum bahagia, menyelimuti semua wajah mereka yang berada. Terutama bagi Mama Melinda, yang terlihat begitu bahagia.


"Mama akan temui Papamu, Adit!" ujar Mama Melinda, dengan langsung berlalu dari dalam kamar, anaknya.


"Mas...Aku ikut," pinta Aisyah, dengan menurunkan dua kakinya, dari atas ranjang.


"Tidak! Kalau kau masih pusing, tidur saja. Aku hanya sebentar, setelah melihat keadaan Papa, aku akan langsung kembali kemari."


"Tidak Mas..Aku ikut!" kekeh Aisyah, yang tetap ngotot ingin tetap ingin, melihat keadaan Papa Mertuanya.


Mendesahkan napas-nya yang panjang, dan mengiyahkan permintaan Istri-nya.


"Baiklah, kalau kau memaksa," jawab Aditya. Tangan itu menggenggam tangan Aisyah, dan beriringan ke luar dari dalam kamar.


****


Langkah kaki yang Mama Melinda ayunkan menuju lantai dua, nampak tergesa-gesa, hingga wanita berusia lima puluh lima tahun itu, sempat mendapat teguran dari Sisi, yang takut jika Ibunda dari Majikanya, akan terjatuh.


"Hati-hati Nyonya!" ujar Sisi, yang melangkah di belakang Mama Melinda, saat keduanya menuruni anak tangga.


Tak mengindahkan. Terlalu bahagia, membuat langkah kaki yang Mama Melinda ayunkan, cepat saat mereka menuruni tangga.


Saat sudah berada di depan kamar, pintu kamar itu segera dia lebarkan, yang membuat seorang suster yang tengah melepas alat-alat dari tubuh pria tua itu, langsung memalingkan wajahnya.


Dua kaki itu perlahan Mama Melinda ayunkan pelan, membawa wanita itu menuju ranjang, yang ditempati Papa Andi.

__ADS_1


"Maa..." panggil Papa Andi dengan suara parau. Terlihat jelas kesedihan yang teramat sangat, kala dua mata itu dia arahkan pada Mama Melinda.


Senyuman kecil, tapi air mata itu sudah menetes membasahi pipinya.


Langkah kaki itu kian mendekat, dan melabuhkan tubuh itu di tepian ranjang.


"Maafkan aku, Maafkan aku Maa..." pinta Papa Andi. Ditengah keadaan-nya yang masih lemah, Papa Andi mengangkatkan dua tangannya, dan meminta maaf.


Senyuman Mama Melinda ukir lagi di wajah, dengan mengusap air mata yang sudah menetes dari sepasang pupil mata Papa Andi.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan Pa, dan aku ingin kita membuka kembali lembaran yang baru, bersama anak, menantu, dan cucu-cucu kita."


Papa Andi tersenyum, dengan air mata yang masih menetes, dan menganguk kecil di sana.


"Papa..." panggil Aditya. Dua kaki pria itu langkahkan, menuju arah ranjang.


"Adit...Maafkan Papa, maafkan Papa yang selama ini sudah lebih percaya pada Karla, dari pada dirimu."


"Aku sudah melupakan semuanya, Paa..Dan kita akan memulai semuanya kembali lagi dari awal."


"Iya Adit..Kita akan memulai semuanya kembali dari awal," jawab Papa Andi, dengan senyuman.


"OPa...Opa..Aku, dan Bella sebentar lagi akan memiliki adik." seru Sella. Wajah gadis kecil itu, nampak sumringah saat mengatakan tentang kehamilan, Bundanya.


"Benarkah itu, Aisyah?" tanya Papa Andi, dengan mengarahkan tatapan matanya, pada Aisyah.


"Iya Paa, aku sedang mengandung." Tersenyum, saat menjawab apa yang ditanyakan Papa Mertuanya.


Suasana bahagia begitu menyelimuti keluarga Wirawan. Dengan sadarnya Papa Andi dari komanya beberapa bulan ini, dan juga kehamilan Aisyah. Tentunya, mereka lewati hanya dengan kebahagian.


****


Bukan pengalaman pertama bagi Aisyah, tapi tentunya bagi seorang Aditya. Karena ini kali pertama bagi pria itu, menemani sang Istri melakukan caesar. Bukan seperti Bella, dan Sella yang tidak adanya dia.


"Aisyah kau baik-baik saja?" Wajah Aditya sudah memucat. Melihat perut Istrinya yang sebentar lagi akan dibedah, membuat pria itu yang ketakutan.


Senyuman kecil, dan mengangguk pelan di sana.


"Aku baik-baik saja Mas, kau tidak perlu khawatir. Karena ini bukan pertama bagiku."


Berusaha untuk menampilkan senyuman, walau nyatanya dia tengah gugup, setengah mati.


"Kau jangan gugup begitu Mas, percayalah semua akan baik-baik saja," seru Aisyah berusaha meyakinkan, suaminya.


"Kau memang harus-harus baik-baik saja, karena aku tidak mau kau meninggalkanku."


"Kita akan melakukan operasinya sekarang Nyoya Aisyah," seru seorang Dokter wanita, yang akan memimpin operasi.


"Iya Dokter saya, siap!"


Lampu operasi telah menyala. Jujur Aditya begitu takut, hingga menatap ke sana pun, dia tak berani. Wajah itu dia telungkupkan, dengan buliran keringat yang mebasahi sedikit dahinya.


Tiba-tiba saja wajah itu segera dia angkat, setelah mendengar tangisan bayi.


Wajah yang nampak begitu antusias, dengan air mata yang sudah menetes tanpa dia sadari.

__ADS_1


"Anak kita sudah lahir Syah!" lirih Aditya di telinga sang Istri.


"Iya Mas," jawab Aisyah tersenyum, dan air mata-nya pun juga sudah luruh.


"Terima kasih sayang," seru Aditya. Sebuah kecupan dia labuhkan di pipi Aisyah, karena begitu bahagia dengan kelahiran putranya.


****


Aisyah kini sudah dipindahkan ke ruang rawat. Suasana sedikit gaduh, dengan celotehan Bella, dan Sella yang terus menanyakan adik-nya, yang belum juga dibawa datang.


"Daddy...Daddy di mana adikku? Kenapa belum datang juga?" tanya Sella. Wajah gadis kecil itu nampak jutek, karena adiknya yang belum juga diantar.


"Iya Daddy, kapan adik kami diantar?" tanya Bella pula, dengan menunjukkan wajah tidak sabarannya.


"Sebentar lagi," jawab Aditya, yang berusaha menenangkan kedua anaknya.


"Perasaan sebentarnya, sudah lama sekali Daddy!" Sella menunjukkan wajah juteknya, dengan jawaban sang Ayah yang selalu mengatakan kata, SEBENTAR.


Suara pintu terbuka, dan menampilkan sosok seorang Dokter, dan dua orang suster dengan menggendong bayi.


"Dokter...Dokter...Apakah itu adik bayi kami?" tanya Sella dengan wajah antusiasnya.


"Iya gadis manis, ini adik bayi kalian," jawab Dokter wanita itu tersenyum.


"Bagaimana keadaanmu Nyonya Aisyah?"


"Yang jelas nyeri di perut saya, Dok!"


"Ini bayi anda Nyonya!" ucap Suster itu, dengan menyerahkan bayi mungil itu, yang langsung diraih Aisyah dengan kedua tangannya.


"Kalau begitu kami permisi dulu, dan kalau ada apa-apa, beritahu kami,"


"Iya Dokter," jawab Aditya.


Mereka semua yang berada di dalam sana, nampak sangat antusias. Terutama Bella, dan Sella yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan adiknya.


"Aditya..Siapa nama anak kalian?" tanya Papa Andi.


"Iya Kak Adit..Siapa nama anak Kakak, dan Kak Aisyah?" tanya Lila pula.


"Nama-nya, LEON PRAYOGA WIRAWAN."


"Apakah nama panggilan-nya, Leon Daddy?" tanya Sella di dengan wajah, antusiasnya.


"Iya Sayang...Nama panggilan adik kalian, Leon."


Aisyah tersenyum, mendengar nama yang diberikan Aditya, pada putra mereka. Wajah itu berpaling, mengarah pada bayi Leon, yang terlihat begitu nyenyak dalam tidurnya. Senyuman dia lukis lagi, dengan menyentuh lembut kulit bayi Leon yang nampak memerah, hingga membuat bayi kecil itu sedikit bergerak, karena terusik.


"Mommy...Ayo bangunkan adik, aku ingin main dengannya," ucap Bella.


"Tidak bisa Bella, adikmu masih sangat kecil, dan belum tahu apa-apa, nanti beberapa bulan lagi," celah Aditya.


"Baiklah," jawab Bella dengan wajah memelas.


Tiba-tiba tangis bayi Leon menggema di dalam ruangan itu, yang membuat Aisyah dan Aditya sedikit panik. Aisyah langsung memberikan asihnya, pada putranya. Sedikit kesusahan di awal, namun baby Leon mampun menyusui Asih Bundanya.

__ADS_1


Semuanya begitu bahagia, dengan kelahiran baby Leon, yang membawa sukacita bagi keluarga Wirawan, yang kembali merengkuh kebahagian, setelah badai panjang menerpa keluarga mereka. Dan tentu juga bagi Aisyah, yang dengan mengalami musibah ini, justru membawa wanita itu pada cinta sejatinya.


TAMAT.


__ADS_2