SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
TIDAK AKAN MENGATAKAN


__ADS_3

Pucat pasih, bercampur dengan rasa takut yang teramat sangat yang sudah menyelimuti diri Ibu muda itu, ketika satu tangannya di tarik paksa oleh Simon.


"Apa yang akan kau lakukan, Skretaris Simon?! Lepaskan aku! Lepaskan..!" Dengan nada yang sedikit tinggi, kala tangan itu berusaha dia lepaskan dari cengkraman tangan Simon, yang begitu kuat.


Tidak mengindahkan apa yang diminta Aisyah, dua kaki Simon terus dia ayunkan-membawa Ibu muda itu ke tempat yang sepi. Dan saat memastikan tidak ada siapa-pun di sana, cengkraman tangan itu segera Simon lepaskan.


"Kenapa kau membawaku ke sini?! Sebenarnya apa yang kau inginkan?!"


Seringai rendah membingkai di wajah Simon, mendengar apa yang baru saja ditanyakan oleh Aisyah, padanya.


"Kau masih saja bertanya. Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?!" Simon mempertegas kata-katanya, dengan tatapan yang begitu tajam pada Aisyah.


Wajah memucat, bercampur rasa gugup akibat takut yang dia rasakan saat ini, setelah mendengar pertanyaan dari mulut pria itu.


"Tentu saja aku, Anisa. Kau bisa melihat di kartu tanda pengenalku, tertulis nama Anisa Mahardika."


"Dan kau pikir, aku percaya dengan apa yang kau katakan itu!" Simon menekan kata-katanya. Dan tanpa meminta ijin dari wanita itu, tangan itu segera menggapai tahi lalat Aisyah, dan melepaskan dengan paksa.


" Kau adalah Aisyah, dan aku akan mengatakan ini pada Tuan Aditya." Dua kaki itu segera mengambil langkah panjangnya. Baru saja mengambil Simon mengambil dua langkah laki- untuk meninggalkan tempat itu, ayunan kaki itu seketika tak dapat dia lanjutkan, saat Aisyah memeluknya dengan erat.


"Aku mohon padamu, jangan katakan ini pada Pak Aditya! Sekretaris Simon.. Aku mohon jangan katakan ini, padanya.." Tumpahan air mata, sudah membanjiri kedua pipinya, saat mengucapkan keinginannya pada pria itu.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku... Aku harus mengatakan ini, pada Tuan Aditya." Dengan sekuat tenaga Simon berusaha melepaskan pelukan Aisyah di kakinya, yang memeluknya dengan erat.


Tidak ingin Simon mengatakan kebenaran tentangnya, membuat Aisyah semakin mempererat pelukannya di kaki pria itu. Wanita itu terus saja memohon pada Simon, agar tidak mengatakan kebenarannya pada Aditya, yang merupakan Ayah dari kedua anaknya.


"Tidak! Aku tidak mau. Aku tidak sanggup berpisah dengan anakku. Aku tidak mau, berpisah dengan mereka..."


" Tuan Aditya juga menderita. Dia sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun, untuk mencari keberadaanmu."


"Aku tahu itu. Tapi bagaimanapun aku adalah seorang Ibu. Ibu mana yang sanggup berpisah, dengan anaknya. Aku tidak memiliki siapa-pun. keluargaku, sudah membuangku sejak mengetahu, kalau aku hamil. Aku tidak memiliki siapapun di dunia ini. Hanya anakku yang aku miliki, hanya mereka yang aku punya. Aku mohon, tolong jangan katakan pada Pak Aditya. Aku tidak sanggup harus kehilangan mereka, aku tidak sanggup..." ucap Aisyah dengan terus saja menumpaka air mata itu, kala berkeluh kesah pada Simon yang masih berusaha melepaskan dua kakinya.


Diam. Berontakkan kaki itu, tak lagi terlihat. Wajah yang tadi menunjukkan kemarahan yang teramat sangat, kini tak ada lagi. Hembusan napas panjangnya terdengar jelas, kala Simon mengghelanya, dengan berusaha meredam amarah yang tadi membakar dirinya.


"Bangulah.." pinta Simon, dengan nada suara pelannya.


Mendengar apa yang baru saja dikatakan pria itu, membuat Aisyah tak langsung beranjak dari lantai. Wanita itu masih saja setia memeluk kedua kaki Simon, agar tak dapat melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Tidak! Aku tidak mau. Kau pasti akan mengatakan ini, pada Pak Aditya." seru Aisyah, dengan keras kepalanya.


"Aku janji, tidak akan mengatakan ini padanya. Jadi aku mohon, bangunlah." pinta Simon sekali lagi, dengan memelankan nada suaranya.


Tangisan itu seketika mereda, dengan tatapan yang sulit diartikan, mendengar apa yang baru saja Simon katakan yang dapat menghentikan tangisan itu.


"Apakah kau serius, dengan apa yang kau katakan Sekretaris Simon?" tanya Aisyah, yang memastikan ucapan pria itu.


"Iya, aku serius. Aku janji, tidak akan mengatakan kebenaran ini pada Pak Aditya."


Pelukan kaki itu segera Aisyah lepaskan, saat baru yakin dengan apa yang dikatakan Simon. Mata yang masih meneteskan air mata, dia usap cepat bercampur dengan senyuman bahagianya. Beranjak dari lantai itu, menatap Simon dengan dalam.


"Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa berpisah dengan anakku. Dan terima kasih, karena kau tidak akan mengatakan kebenaran ini, pada Pak Aditya."


"Ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Apakah boleh?"


"Tentu saja, boleh. kenapa tidak?!"


****


Simon melemparkan tatapannya sejauh mungkin, menatap pada keindahan taman yang ditumbuhi berbagai macam bunga. Masih sulit dijabarkan suasana hati pria itu. Wanita yang selama ini dicari Tuan mudanya selama bertahun-tahun, sekarang berada disampingnya.


Bimbang. Ada rasa bersalah dalam diri pria itu, karena secara tak langsung sudah menghianati Tuan mudanya. Tapi melihat tangisan memohon Aisyah tadi! Membuat ada rasa tidak tega, dalam pria itu, dan dia sangat memahami posisi Aisyah sebagai seorang Ibu.


"Maafkan aku," ucapnya tiba-tiba, saat keheningan panjang melanda keduanya.


Aisyah melukis senyum kecilnya, dengan sekilas tatapan mata dia arahkan pada Simon, dan kembali menatap jauh ke depan, menikmati keindahan taman itu.


"Tidak apa-apa. Seandainya aku berada di posisimu, pasti aku akan melakukan hal yang sama. Dan sekali lagi, terima kasih karena kau tidak mengatakan hal ini pada Pak Aditya."


"Katakan padaku. Apakah setelah kau mengetahui kalau Tuan Aditya akan mengambil anakmu, kau segera pindah ke kota Jakarta?"


"Iya. Saat aku tahu Pak Aditya akan mengambil anak-anakku, aku segera pergi dari kota Surabaya. Dan memutuskan untuk memulai hidup yang baru di kota Jakarta."


Ucapan Aisyah seketika menarik perhatian Simon! Saat mendengar wanita itu, mengucapkan kata anak-anak. Hingga sorot mata itu semakin dia tajamkan, kala tatapan mata itu dia alihkan pada Aisyah.


"Anak-anak?"

__ADS_1


Aisyah tersenyum kecil, dengan raut wajah penasaran yang ditunjukkan Simon padanya.


"Iya Sekretaris Simon! Dari salah insemminasi itu, aku melahirkan bayi kembar."


"Bayi kembar?" Kaget, dengan bola mata nyaris menyeruak, dengan kenyataan yang baru dia dengar, kalau Tuan mudanya ternyata memiliki anak kembar, dari inseminasi itu.


"Iya. Aku melahirkan bayi kembar, dan mereka berjenis kelamin perempuan."


" Siapa namanya? tanya Simon, yang semakin menunjukkan rasa penasarannya.


"Nama kedua putriku adalah, Bella dan Sella."


Simon tak lagi berbicara. Pria itu kembali melemparkan tatapannya jauh ke depan, saat pikiran itu kembali teringat akan Aditya, yang hanya mengetahui kalau dia hanya memiliki satu anak dari inseminasi itu.


"Ini sangat di luar dugaan. Tuan Aditya ternyata memiliki dua anak sekaligus, dari inseminasi itu. Dan aku yakin dia pasti akan sangat bahagia, jika mengetahuinya kalau ternyata dia memiliki dua orang putri."


"Sekretaris Simon.." panggil Aisyah tiba-tiba.


"Ada apa?"


"Apakah kau janji, tidak akan mengatakan ini pada Pak Aditya?" tanya Aisyah, untuk memastikan ucapan pria itu.


"Ntahlah, aku-pun bingung." dengan tatapan hampa.


Mendengar itu, Aisyah segera menghadapkan posisi duduknya pada Simon, dengan raut wajah yang sudah berubah khawatir.


"Aku mohon, jangan katakan ini padanya. Aku mohon padamu..." Dua tangan itu Aisyah katupkan, dan juga tatapan penuh harap pada Simon.


"Baiklah, aku janji tidak akan mengatakan ini padanya. Dan apakah aku boleh, aku bertemu dengan kedua anakmu?"


"Tentu. Tentu saja boleh. Aku akan memberi alamat rumahku padamu, agar kau dapat bertemu dengan kedua anakku."


INFO


Novel ini aku terinspirasi sebagian, dari kehidupan Cristiano Ronaldo, yang melakukan proses surogasi, hanya untuk memiliki keturunan.


Dan di bab yang sudah aku tulis, kalian bisa tahu dari mana nanti Aditya akan mengetahui kebenaran tentang Aisyah.

__ADS_1


__ADS_2