SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
BERDEBAT


__ADS_3

Kesal yang dia rasakan saat ini. Bukan karena tak dapat mencium Aisyah, tapi karena merasa dirinya begitu direndahkan oleh wanita itu. Selama ini semua wanita selalu saja memujanya. Tapi Apa yang dilakukan Aisyah, tadi? Membuat harga dirinya sebagai seorang Aditya Wirawan merasa begitu terinjak.


Dasi yang menyimpul sempurna di kra bajunya, dia longgarkan dengan sedikit kasar karena merasa sesak di dada yang teramat sangat, akibat amarah itu.


"Apakah anda merasa gerah, Tuan? Padahal ini masih pagi. " tanya Simon pura-pura, dengan menampilkan senyum tipisnya.


Pandangan itu dia lemparkan pada Simon-yang tengah menatapnya lewat kaca spion mobil.


"Bahkan aku merasa tubuhku saat ini, sedang terbakar Simon!"


"Apakah ada masalah Tuan? Bukankah semuanya baik-baik saja?" tanya Simon lagi. Dan dia sangat tahu, apa yang membuat suasana hati Tuannya buruk saat ini.


"Kau lihat wanita itu!" Dengan nada yang terdengar kesal.


"Siapa ya Tuan?" tanya Simon pura-pura tidak tahu, pada~hal sesungguhnya dia sudah tahu, kalau yang dimaksud Tuannya adalah Aisyah.


"Kenapa kau begitu bodoh, Simon?! Jelas saja siAisyah Maharani itu!"


"Ooohhh...." jawabnya pelan.


"Kok oh?! Apakah kau membelanya?"


"Tidak Tuan! Saya tidak membela dia sama sekali. Memang kesalahan apa yang sudah Nona Aisyah lakukan? Hingga membuat anda kesal."


"Aku tahu, kalau tadi itu dia berpura-pura sakit perut. Apakah dia pikir aku juga tertarik padanya, apa?! Kalau bukan karena kedua putriku, mungkin saat ini aku sudah mengusirnya dari rumah."


Simon melukis senyum kecilnya, mendengar uneg-uneg Tuan muda-nya, yang merasa tersinggung dengan sikap Aisyah tadi.


Memutar haluan setir, berbelok arah menuju arah Perusahaan yang masih beberapa kilo meter lagi.


"Nona Aisyah sangat berbeda Tuan.. Selama ini banyak wanita yang menginkan anda, tapi yang saya lihat Nona Aisyah sama sekali tidak tertarik pada anda. Ternyata bukan anda saja yang tidak menginginkannya, tapi dia juga."


"Kau selalu saja membelanya, Simon! Mungkin saja di dalam hatinya dia begitu menyukaiku, hanya dia saja yang gengsi. Tapi sayangnya-dia sama sekali bukan tipeku,"


"Awas Tuan!"


Keningnya mengkerut, dengan sorot mata bak pisau begitu mendengar ucapan Simon, yang sama sekali tidak dia pahami.


"Maksudmu?"


"Saya hanya takut, kalau suatu saat anda yang akan jatuh cinta terlebih dahulu pada Nona Aisyah. Dan itu jika sampai terjadi, anggap saja anda sudah menjilat luda anda sendiri. Karena anda pernah mengatakan dengan tegas padanya, kalau anda hanya menginkan anak saja."

__ADS_1


Tawa lebar menyelimuti wajah Aditya seketika-begitu dia mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Sekretarisnya, yang begitu menggelitik untuknya.


"Tentu saja aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya."


"Bagus-lah!"


"Maksudmu?" Aditya mengangkat satu alisnya, lagi-lagi dia mendengar ucapan Simon yang tidak dia pahami.


"Setidaknya mungkin saja, saya punya kesempatan untuk mendapati Nona Aisyah!"


"Awas saja jika kau melakukannya! Aku pasti akan membunuhmu. Karena sampai kapan pun, aku tidak sudi anakku mempunyai Ayah sambung."


"Apakah anda tidak rella kalau Nona Aisyah dimiliki pria lain?"


"Kau terlalu banyak bertanya Simon!"


"Sepertinya bibit cinta sudah mulai tumbuh Tuan.."


"Kau terlalu sok tahu!"


"Saya tidak sok tahu, Tuan! Tapi coba anda tanyakan pada hati anda," jawab Simon dengan melukis senyum kecilnya.


Suasana sepi melanda. Saat tak ada yang berbicara antara Aditya, dan Sekretarisnya. Tubuh itu dia sandarkan pada sandaran kursi, dengan lemparan pandangan menatap ke luar jendela kaca mobil- menikmati udara kota Jakarta yang begitu sejuk, dan mampu menghapus sedikit gejolak dalam dirinya.


****


Angka dua puluh yang berjejer rapi dengan angka lainnya berwarna merah, saat sudah tiba pada lantai dua puluh. Pintu lift sudah terbuka lebar, Aditya dan Simon-segera mengambil langkah panjangnya, menuju ruang Presdir.


Langkah kaki yang beriringan seketika Aditya, dan Simon hentikan, saat terdengar suara salah satu karyawan wanita yang menyeruhkan nama Presdir mereka.


"Pak.." panggil wanita itu, dengan ayunan kaki yang membawanya pada Aditya.


"Ada apa?"


"Maaf Pak! Di dalam ada seorang wanita yang tengah menunggu anda."


"Siapa?" tanya Aditya dengan raut wajah sudah berubah penasaran.


" Saya tidak tahu jelas siapa dia, Pak! Tapi dia mengaku sebagai kekasih anda."


"Kekasih? Memangnya sejak kapan aku punya kekasih!" Dan dua mata itu dia alihkan pada Simon, yang masih setia berdiri disampingnya. "Ayo Simon! Aku sudah tidak sabar bertemu dengan wanita itu," ucap Aditya, dengan kembali melanjutkan langkah kakinya.

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka. Dan mengalihkan arah pandang sang wanita yang tengah duduk santai, sembari membaca majalah VOGUE di sofa set.


"Ternyata Nona Jeni Tuan," ucap Simon berbisik pelan ditelinga Tuannya.


"Aku hanya menganggapnya teman, tapi dia malah mengirah kalau aku menganggapnya lebih dari itu," gumam Aditya pelan.


Jeni langsung beranjak dari duduknya. Gadis berambut pirang itu memberi senyum manisnya seketika, begitu mendapati keberadan Aditya, dan Sekretarisnya.


"Aditya kau..." Dengan baru mengambil dua langkah kakinya ingin memberi pelukan pada Aditya-tapi tiba-tiba pria itu bersuara.


"Duduk-lah!" pintanya dengan dua kaki, yang melangkah menuju meja kerjanya.


Jeni menampilkan mimik cemberutnya, dan melabuhkan tubuhnya dengan sedikit kasar, akibat kesal dengan sikap Aditya tadi.


"Katakan padaku. Ada apa kau datang menemuiku?"


"Memangnya salah jika aku datang menemuimu. Bahkan hubungan kita berdua, sudah direstui oleh kedua orang tua kita."


Aditya terkekeh pelan, begitu mendengar penuturan dari Jeni dengan ucapan HUBUNGAN MEREKA.


"Jeni...Jeni..." ucapnya pelan, dengan berusaha meredam tawa itu.


"Memangnya ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Jeni dengan raut wajah herannya.


"Asal kau tahu. Aku hanya menganggapmu sebagai teman, dan tidak lebih dari itu.


"Tapi Aditya..." seru Jeni yang tidak terima dengan apa yang Aditya, tapi langsung dicelah cepat oleh pria itu.


"Aku sama sekali tidak tertarik dengan yang namanya perjodohan. Dan jika Ayahku menginginkan kau menjadi menantunya, aku rasa dia salah! Bahkan sangat-sangat salah.


Dan kalau kau tetap memaksa, lebih baik kau menikah saja dengan Ayahku. Mungkin saja, kau berminat menjadi istri keduanya," ucap Aditya, dengan menampilkan senyuman mencemoohnya.


"Kau memang brengsek Aditya! Kau bahkan mempermainkanku!" Wajah Jeni sudah nampak memerah, hingga kerutan disudut matanya tertumpuk seketika, akibat amarahnya yang teramat sangat pada seorang Aditya Wirawan.


"Sejak kapan aku mempermainkan-mu? Bahkan kita tidak pernah pacaran sama sekali. Dan sekali lagi kutegaskan! Aku sama sekali tidak pernah menyetujui perjodohan ini. Dan ancaman Ayahku, sama sekali tidak akan berpengaruh padaku. Jadi lebih baik kau pergilah! Dan sampaikan pada Ayahmu, kalau Aditya Wirawan sama sekali tidak pernah menyetujui perjohan ini," seru Aditya tegas.


Jeni seketika bangun dari duduknya, dengan melemparkan tatapan matanya yang begitu menghunus pada Aditya. Tapi seketika dia menampilkan senyuman mencemoohnya, sebelum mengatakan sesuatu yang membuat Aditya begitu kaget.


"Aku rasa berita di luar sana benar." Dengan terus menampilkan senyuman liciknya di wajah.


"Apa maksudmu?"

__ADS_1


"Kalau kau itu seorang gay, dan itu terjadi karena kau frustasi dengan kekasihmu yang pergi meninggalkanmu, tanpa alasan yang jelas. Dan berita yang aku dengar, selama ini Ayahmu selalu berusaha menjodohkan kau dengan seorang wanita, tapi kau selalu menolaknya. Dan hari ini, aku membuktikannya sendiri berita itu. Dan kalau begitu aku permisi dulu Tuan Aditya!" ujar Jeni dengan mengayunkan langkah kaki-nya, ke luar dari ruangan itu.


__ADS_2