
Cemas yang teramat sangat Aisyah rasakan, saat dua kaki-nya sudah dia pijakkan memijak di depan halaman rumah sakit.
Segera langkah kaki itu dia ayunkan panjang, yang akan membawa tubuhnya ke dalam rumah sakit.
"Cepat Simon! Kenapa kau begitu lambat?!' Langkah kaki itu Aisyah hentikan sejenak, ketika diri itu sudah melangkah sedikit jauh dari Aisyah.
"Tapi tidak harus-harus lari-lari Nona! Apakah anda tidak takut, akan jatuh?" Simon nampak masih bisa megusai dirinya, dari kepanikan, walau pun dia tahu kalau Ayah dari Tuan-nya, tertembak oleh Istri mudanya sendiri.
"Apakah kau tidak khawatir, pada Papa Mertua-ku?!"
"Tentu saja, aku khawatir Nona!"
"Kau sangat lambat Simon!" Mimik kesal Aisyah dia tampilkan di wajah, dan berlalu begitu saja meninggalkan Simon, yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, dengan sikap Aisyah yang panik.
Wajah itu masih sama, yaitu cemas. Aisyah melangkahkan dua kakinya dengan langkah kaki yang cepat, melewati sebuah lorong yang akan membawa wanita itu, pada ruang ICU. Dari jauh sepasang pupil matanya, sudah menangkap dua sosok, yang tak lain adalah Suami-dan Ibu mertuanya.
"Mas..." Sedikit jarak yang masih jauh, Aisyah sudah menyeruhkan nama suaminya, yang membuat Aditya memalingkan wajahnya seketika.
"Aisyah..." gumam Aditya pelan, saat mendapati keberadaan sang Istri.
"Mas...Bagaimana keadaan Papa?!" Rasa cemas yang teramat sangat Ibu muda itu raskan, membuat Aisyah langsung bertanya pada Aditya bagaimana kondisi Ayah Mertuanya.
"Papa masih sedang dioperasi. Ada tiga peluru yang bersarang dalam tubuhnya, jadi membutuhkan waktu sedikit lama."
"Tiga peluru??" Aisyah sangat begitu kaget, setelah mendengar penuturan suaminya Aditya, kalau ada tiga peluru yang bersarang dalam tubuh Papa Andi.
"Iya. Dan katakan, dengan siapa kai datang?"
"Aku bersama Simon, Mas! Dan kenapa kau tidak menelponeku? Bahkan aku mengetahui keadaan Papa dari Sisi, yang mendapatkan kabar dari salah satu Pelayan yang bekerja di rumah Papa."
"Maafkan aku. Karena terlalu panik, membuat membuat aku tidak berikir untuk memberimu kabar."
Tatapan mata Aisyah tak sengaja dia palingkan. Wajah antusias wanita muda itu luntur seketika, kala mendapati wajah murung sang Ibu Mertua. Bahkan wanita itu, sama sekali tidak menegur, atau menghiraukan kedatangannya. Dua kaki itu Aisyah langkahkan, dan melabuhkan tubuhnya disamping Ibu Mertua.
"Maa...." serunya pelan, dengan jemari menyentuh lembut tangan Mama Melinda.
Membela dunia lamunannya, dengan wajah yang dia palingkan pada Aisyah.
"Syah.." Senyuman kecil, dan Aisyah tahu kalau senyuman itu hanya untuk menutupi kesedihan hatinya.
"Bella, dan Sella terus menanyakan pada aku, di mana Oma-nya. Dan mereka bilang, agar Oma-nya cepat pulang, karena mereka ingin main bersama." Aisyah yang tahu Ibu Mertuanya tengah bersedih, sengaja membicarakan kedua anaknya, agar bisa sedikit menghibur Mama Melinda.
Mama Melinda tersenyum. Mendengar berita tentang kedua Cucu-nya, membuat sedih di hati dapat terobati walaupun itu hanya sedikit saja.
"Katakan pada mereka, Mama pasti akan segera pulang, dan bermain bersama mereka."
Mama Melinda, dan Aisyah tak lagi berbicara. Keduanya sama-sama kembali diam, dan larut dalam suasana hati masing-masing. Hanya Aditya saja, yang berbincang dengan Simon saat kedatangan Sekretarisnya.
Lampu operasi sudah menyala, tanda operasi telah selesai. Pintu ruangan tiba-tiba saja terbuka, mengalihkan tatapan mereka semua.
__ADS_1
Mama Melinda, dan juga Aditya langsung menghampiri pada Dokter pria itu, untuk menanyakan bagaimana keadaan Papa Andi.
"Bagaimana keadaan Suami saya, Dokter?"
"Iya, Dokter! Bagaimana keadaan Papa saya?"
Layangan pertanyaan dari pasangan Ibu, dan anak itu tak langsung dijawab, oleh Dokter muda itu. Berat bagi dirinya, karena harus mengatakan kalau Papa Andi tiba-tiba saja koma, akibat kehilangan banyak darah.
Mendesahkan napas-nya yang berat. Dua mata itu menatap bergantian pada Aditya, dan Mama Melinda yang begitu menunjukkan rasa khawatirnya.
"Maaf Nyonya, Tuan Aditya! Akibat terkena tembakan tadi, Tuan Andi kehilangan banyak darah. Peluru sudah berhasil kami keluarkan, tapi sayangnya.." Dengan menjeda kalimatnya sejenak, hingga membuat Mama Melinda kian penasaran, wanita paruh baya itu segera melontarkan lagi pertanyaan pada sang Dokter.
"Kenapa Dok? Kenapa dengan Suami saya?!"
"Suami anda, mengalami koma, Nyonya!"
Mama Melinda nampak begiti syok! Saat mengetahui, kalau Papa Andi mengalami koma. Wajah itu sudah berubah pucat. Tatapan matanya nampak, sudah buram. Tubuh itu kehilangan keseimbangan, kala gelap yang dia lihat, dan akhirnya dia pun terjatuh.
"Mama..." Aditya yang berada dekat dengan sang Bunda, langsung memegang tubuh Ibu-nya, saat tubuh Mama Melinda akan menyentuh lantai.
"Maa.. Bangun Maa...Bangun..." pinta Aditya yang begitu cemas, dengan keadaan Ibunya.
"Nyonya Melinda pingsan, ayo kita bawa ke ruang rawat!" pinta Dokter muda itu.
****
Senja sudah kembali menyapa, kala mentari sudah memberikan sedikit sinarnya, untuk menerangi bumi.
Pintu ruangan yang setia tertutup, sedikit terbuka dan menampilkan sosok Aisyah, yang keluar dengan sebuah jubah, yang membalut tubuhnya. Mendesahkan napas itu, mendapati Aditya yang murung.
"Apakah kau ingin menjenguk Papa?" Pertanyaan dari Aisyah, sontak membuat Aditya terjaga dari lamunan.
"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Aditya cepat.
"Masih sama, seperti tadi."
Senyuman palsu dia bingkai di wajah, dan kembali wajah sedih itu yang sudah nampak kembali di wajah Aditya.
"Kau harus kuat Mas! Kalau kau bersedih, pada siapa Mama akan bersandar kalau bukan padamu."
"Aku memang tidak memiliki hubungan yang baik dengan Papa. Tapi itu berarti aku tidak menyayanginya. Jujur aku takut kehilangan dia, Syah! Apalagi dengan keadaan Mama saat ini."
"Ingat Mas..Kau sudah tidak sendiri lagi. Ingat ada aku, dan anak-anak
****
Sudah tepatnya satu minggu, Andi Wirawan belum sadar dari komanya. Pria itu masih setia memejamkan matanya. Sang Istri, Mama Melinda tetap setia menemani sang Suami, dan selalu berganti jaga dengan Aditya.
Bulan, dan bintang sudah kembali bersinar terang di atas awan yang sudah tertutup gelap, kala mentari sudah kembali bersembunyi saat malam kembali menyapa.
__ADS_1
Duduk di atas raanjang, dengam jemari yang menari-nari di atas layar HP-nya.
Ponsel yang berada di dalam genggaman, seketika Aisyah simpan di atas meja, begitu dia mendapati keberadaan sang Suami.
Terus menatap pada Aditya, di mana terlihat kantung mata membentu di dua mata pria itu, dan wajah yang terlihat lelah.
"Mas..."
"Yaa!"
"Kenapa Papa tidak dipindahkan ke rumah saja. Agar kau, dan Mama tidak usah harus mondar-mandir ke rumah sakit. Mas pasti mampu, membeli alat-alat kesehatan itu."
"Aku sudah memikirkan itu Syah! Usai balik dari Semarang, aku akan langsung meminta pada Dokter, agar Papa bawa pulang saja. Dan aku akan menyewa Suster, agar selalu mengontrol kesehatan Papa. Agar Mama juga tidak harus bolak-balik ke rumah sakit, kasian! Dia juga lelah karena harus mengurus Papa."
"Kau jadi ke Semarang , Mas?"
"Iya, besok. Untuk menangkap Baron, dan anak-anak buahnya."
Diam, dan tidak lagi berbicara. Raut wajah Aisyah seketika berubah murung, usai mendengar kalau Suaminya akan pergi ke vila, di mana selama ini Mama Melinda dikucilkan.
Tersenyum, dan tubuh itu dia labuhkan disamping Aisyah.
"Apa yang kau pikirkan?" Sebuah pertanyaan dengan nada suara yang berat, kala mendapati sang istri yang nampak murung.
"Berjanjlah, kalau kau akan pulang dalam keadaan baik-baik saja. Karena menurutku, ini terlalu berbahaya Mas!"
Aditya mendesahkan napasnya yang berat. Dan dia sangat memahami rasa khawatir Istrinya itu.
"Aku janji, akan pulang dalam keadaan baik-baik saja. Setelah semua urusan beres, termasuk Papa sudah dipindahkan kemari, kau harus bersiap!"
Murungnya wajah itu, seketika langsung berubah serius, dengan wajah yang seketika dia palingkan Aditya.
"Bersiap untuk apa, Mas?" Tatapan yang begitu, menunjukkan rasa penasarannya.
"Karena jadwal tidurmu, akan berkurang Aisyah! Aku ingin segera kau hamil lagi, tentunya lewat proses alami, dan bukan inseminasi, seperti kehadiran Bella, dan Sella."
Memukul pelan dada bidang itu, dengan wajah sudah bersemu merah.
"Dasar mesum! Mas masih saja bisa bercanda, padahal aku sedang khawatir padamu."
"Aku serius, Syah! Aku ingin segera memiliki anak darimu."
Senyuman kecil mengukir di wajah Aisyah, dan dia pun menganggukkan kepala itu.
"Kau serius?"
"Iya Mas..Aku juga, ingin memiliki anak lagi darimu!" Dengan sebuah senyuman kecil di wajah .
Tanpa berkata, atau pun meminta ijin dari Aisyah terlebih dahulu, Aditya langsung mendorong pelan tubuh Aisyah, dan melabuhkan dengan sebuah ciuman panjang.
__ADS_1