
Gelap kembali menyambut, kala sang surya mulai meredupkan sinarnya dengan perlahan, di balik bukit. Suara hewan kecil mulai terdengar, bersama desiran angin yang berhembus kencang, menyapa pada malam hari. Arah pandang itu sangat menghanyutkan, ketika sepasang matanya menatap dengan dalam sebuah figura besar, yang tertancap sempurna di dinding rumahnya. Kabut mulai menyelimuti iris mata elang itu-saat rindu mulai mengusainya.
"Aku sangat merindukanmu, Maa! sangat merindukanmu." Kalimat pendek yang terucap dari bibir Aditya! Tepat menggambarkan suasana hatinya saat ini.
Stelan jas yang biasa selalu membalut tubuh atletisnya, kini tergantikan dengan pakaian kasual. Kaos hitam, dan celana jeans lengkap dengan sneaker, yang menutup sepasang kaki itu.
Hentakan kaki menggema menggema dalam rumah mewah itu, ketika dua kakinya melewati setiap barisan anak tangga.
Mengedarkan pandangan itu, mencari keberadaan sang Tuan muda. Langkah kaki itu Simon ayunkan, saat arah pandang itu menangkap sosok yang dia cari sedang memandang figura yang berisi gambar, Ibunya.
"Tuan..." panggil Simon pelan, ketika sudah berada di belakang tubuh pria itu.
Membalikkan badannya pada asal suara. Sorot mata itu seketika intens pada Simon, mendapati pria itu sudah terlihat tampan, dan Aditya meyakini kalau Sekretarisnya itu-pasti akan pergi.
"Apakah kau punya acara malam ini, Simon?" tanya Aditya, dengan mata selidiknya.
Simon melukis senyum tipisnya, akan pertanyaan yang diajukan sang Tuan.
"Iya, Tuan! Dan hanya sebentar."
Wajah itu kian dilanda rasa ingin tahu, dengan jawaban yang terlontar dari bibir Simon.
"jangan katakan, kalau kau sudah memiliki kekasih! Dan aku sama sekali tidak tahu."
Simon terkekeh pelan, dengan pertanyaan Tuannya yang sangat jauh dari kata benar.
"Jika saya sampai memiliki kekasih, pasti anda adalah orang pertama yang saya beritahu, Tuan!"
"Terus kau akan ke mana? Karena tidak biasanya kau pergi sendirian, tanpa bersamaku."
" Saya merasa bosan di rumah, dan saya ingin mencari angin segar. Mungkin saja saya akan bertemu dengan jodoh saya nanti. Dan sepertinya Tuan juga harus begitu. Siapa tahu Tuan akan bertemu dengan wanita yang menjadi istri anda, dari pada anda menikah karena dijodohkan oleh Tuan besar.
"Pergilah, karena aku sama sekali tidak tertarik. Aku lebih tertarik mencari keberadaan Aisyah, bersama anakkku -dari pada mencari wanita." Aditya berucap dengan nada tegas.
Simon memicingkan dua matanya, menatap intens pada sang Tuan mendengar akan kata-kata yang membuat dia begitu membuatnya tertarik.
"Apakah anda masih mencintai Nona Citra, Tuan?"
__ADS_1
Aditya menarik sudut bibirnya, danmembentuk senyuman sinis di sana- akan pertanyaan dari Simon, yang menyinggung wanita di masa lalunya.
"Buat apa kau menyebut nama wanita itu. Mendengar namanya saja, sudah membuatku muak."
Simon menghela napas panjangnya. Hening sesaat, kala tak ada yang berbicara antara kedua pria itu. Dua kaki itu dia ayunkan, yang membawanya semakin dekat pada sang Tuan. Ingatakan kembali pada anak Tuannya, yang sudah dia tahu keberadaannya, membuat Simon seketika bertanya, berusaha mencari tahu apa yang dilakukan pria itu? Jika sampai bertemu dengan darah dagingnya.
"Tuan..." panggil Simon, dengan raut wajah tiba-tiba serius.
"Ada apa?"
"Apa yang anda lakukan, jika suatu saat nanti anda bertemu dengan anak anda?"
"Tentu saja aku akan mengambilnya. Memang apa lagi?!"
"Kenapa anda tidak berpikir untuk menikahi Nona Aisyah, Saja?! Jika sampai bertemu dengannya. Ini sudah hampir berjalan enam tahun, dan tentu saja anak anda, sudah mengetahui siapa Ibunya."
Masukan dari Sekretarisnya, sangat menggelitik untuk pria itu. Bagaimana bisa dia menikahi wanita itu?! Sementara sama sekali tidak ada rasa cinta.
"Ha...Ha....Ha... Simon... Simon. Kau meminta aku menikah, dengan wanita itu?!"
"Apa kau sudah gila! Bagaimana aku bisa menikahi wanita itu?! Sementara aku sama sekali tidak mencintainya." Aditya menekan kata-katanya, saat menjawab apa yang ditanyakan Simon.
"Jadi jika anda sampai bertemu dengan anak anda-anda, akan tetap mengambil anak anda?"
"Ya. Karena aku hanya menginginkan anakku, bukan wanita itu. Seperti rencana awalku, saat melakukan inseminasi. Mempunyai anak, tanpa harus menikah."
Raut wajah itu-nampak hanyut dengan kata-kata yang diucapkan Tuan mudanya. Ingatan itu membawanya pada Aisyah-membayangkan bagaimana nasip wanita itu? Jika sampai Tuannya, mengambil kedua putrinya.
"Kalau permisi dulu, Tuan! Dan maafkan saya, karena sudah terlalu banyak bertanya." ucap Simon, dengan langsung mengayunkan langkahnya, menjauh dari pria itu.
Aditya memalingkan wajahnya, menatap Simon yang sudah berlalu pergi. Pria itu kembali terkekeh, saat kembali mengingat saran dari Sekretarisnya itu, untuk menikah dengan Aisyah.
"Yang benar saja, aku harus menikah dengan wanita itu. Itu tidak akan pernah terjadi, karena aku hanya menginkan anakku, bukan wanita itu."
Sunyi yang melanda-setelah perginya Simon-terbelah terbelah terdengar nada panjang pada ponsel miliknya. Tangannya merogoh masuk dalam saku celana, guna menggapai benda pipih itu.
Kesal seketika menyelimuti Aditya, saat pada layar HPnya pria itu menemukan, nama Karla di sana.
__ADS_1
Sudah tahu apa yang diiginkan wanita itu?! Aditya segera memutuskan, panggilan teleponenya.
Beberapa detik berlalu, nada panjang kembali menyapa pada ponselnya. Benda pipih ittu dia arahkan tepat di depan matanya, dan sekali lagi menemui nama yang sama.
Menghembuskan napas kasarnya, berusaha membunuh amaraha itu. Dan mendaratkan ibu jarinya, pada icon hijau.
"Untuk apa kau menelponeku?!" Tanpa berbasa-basi Aditya langsung melontarkan pertanyaan pada intinya, dengan nada kasar.
"Tidak bisakah, kau bersikap sedikit ramah padaku, Adit?!"
"Dengan menerimaku, sebagai Ibu tiriku, dan juga tidak memberitahukan bagaimana kelakuanmu di belakang Papaku, bukankah itu aku sudah bersikap baik padamu!"
"Kalau begitu terima kasih. Dan hal itu-lah, yang membuat aku sangat mencintaimu. Aku baru saja kembali dari luar negeri, dan sudah lama tidak melihatmu, membuat aku sangat merindukanmu, Adit! Dan sekarang, aku dalam perjalanan ke rumahmu."
Kaget seketika menyelimuti wajah Aditya, mendengar kalau wanita itu sedang dalam perjalanan ke rumahnya.
"Apa kau sudah gila, Karla?! Bagaimana kalau Papaku, mengetahuinya?"
"Ayolah, Adit! Apa kau sudah lupa? Kalau statusku adalah Ibu tirimu! Jadi mana mungkin, para pelayan di sana akan curiga dengan kedatanganku." Dengan memutuskan, sambungan telepone itu.
"Hallo....Hallo...Hallo Karla!" Aditya sedikit berteriak, tapi sayangnya sambungan telepone itu sudah diputuskan, oleh Karla.
"Sial!! Wanita ini, benar-benar semakin berani."
****
Karla melajukan pelan mobilnya, saat gerbang terbuka oleh sang petugas keamanan, dari pengusaha kaya itu.
Senyuman tak pernah luntur dari wajahnya, ketika dua kaki itu sudah berpijak di depan rumah pria yang dia cintai.
Karla menengadakan kepalanya-menatap kediaman milik Aditya. Cukup lama dia memandang, membayangkan jika dirinya suatu saat akan menjadi Nyonya di rumah ini, dan hidup bersama dengan Aditya dan anak-anak mereka.
"Hah...! Kapan-yah, keinginan itu bisa terwujud? Karena aku sangat mencintainya?" gumamnya, dengan mendesah pelan napas itu.
"Selamat malam, Nyonya!" Sapaan sang secuiriti rumah, membuyarkan fanatasi Karla seketika.
"
__ADS_1