
Senja telah kembali terbenam, setelah gelap kembali menyapa dengan hadirnya bulan, dan bintang yang sudah bersinar terang di awan gelap yang membentang di atas sana.
Aditya terlihat bahagia. Wajah tampannya terus menampilkan senyuman, dengan celotehan Sella yang tak kunjung berhenti.
Dingin, dan kaku yang selama ini sangat melekat di wajah lelaki tampan itu kini tak terlihat sama sekali. Hanya ada kehangatan, yang terlohat di wajahnya dengan tatapan penuh cinta pada sang putri.
"Jadi kau memiliki boneka, yang kau beri nama Momlly?" tanya Aditya pada putri bungsunya, dengan wajah yang berpura-pura kagum dengan ucapan anaknya.
"Iya Daddy! Dan aku sangat sayang padanya," jawab Sella dengan raut wajah yang terlihat antusiasnya.
Tak sengaja wajah itu Aditya palingkan. Senyum yang menggambar di wajah pengusaha tampan itu, memudar seketika saat mendapati wajah putri sulungnya-Bella terlihat murung.
"Kau tunggu di sini, Daddy akan menghampiri Kakakmu," ucap Aditya, dengan melangkahkan dua kakiny pada Bella yang sedang menyendiri.
Ayunan kakinya pelan. Senyuman dia lukis di wajah, saat dua mata itu beradu dengan tatapan sang putri, namun dibalas dengan tatapan sayunya pada sang Ayah.
Tubuh itu Aditya labuhkan disisi putrinya, yang masih masih tenggelam dalam suasana hatinya.
"Kau tidak ingin bermain bersama Daddy, dan adikmu?"
Bella hanya menggelengkan kepalanya pelan, untuk mewakili jawabannya, yang sama sekali tidak ingin melakukan apapun d saat ini.
"Katakan pada Daddy. Apa yang kau pikirkan?"
Monelankan wajah itu, dengan tatapan sayunya.
"Daddy..." panggilnya pelan.
"Ya.."
"Aku sangat merindukan Mommy. Kenapa kita tidak menjemputnya? Bukankah ini sudah malam?"
Hangat pada wajah tampan Aditya memudar seketika, setelah mengetahui apa yang membuat putrinya menjadi tidak bersemangat.
Tubuh itu dia bangkitkan dari duduknya, dengan melemparkan pandangannya lurus, tanpa berbalik menatap pada Bella yang tengah melemparkan pandangan padanya.
" Mintalah yang lain. Tapi untuk tidak bertemu dengan Mommymu. karena sampai kapan-pun, kalian tidak akan bertemu lagi dengannya." Aditya menekan kata-katanya, saat memberi peringatan pada putrinya itu.
__ADS_1
Dua mata Bella dengan intens menatap pada sang Daddy, setelah mendengar apa yang dia katakan-yang tentunya membuatnya begitu terkejut, dan tentunya sangatlah sedih.
"Tapi kenapa tidak bisa Daddy? Bukankah dia adalah Mommy, kami?!" Nada suara Bella setengah berteriak, kala mengajukan keberatannya.
Aditya membalikkan tubuhnya, dengan memberi tatapan penuhnya pada sang putri yang masih menantikan jawaban darinya.
"Bukankah sebelumnya Daddy sudah bilang padamu, kalau beberapa hal yang membuat Daddy, dan Mommymu tidak dapat hidup bersama. Jadi Daddy minta, kau mengerti."
Mata Bella sudah nampak berkaca-kaca, dengan kata-kata tegas yang terucap dari bibir sang Ayah. Tak dapat membendung kesedihan itu, membuat tangisan kecil-pun ke luar dari mulut gadis kecil itu.
"Daddy jahat! Bukankah Daddy sudah bilang, kalau kita akan menjemput Mommy... Pokoknya aku tidak mau tahu, aku ingin menemui Mommy, aku ingin menemui Mommyku..." racau Bella dengan banjiran air mata, yang sudah membasahi dua pipinya.
Mendengar suara tangisan saudara kembarnya-membuat aktifiitas mainnya Sella hentikan seketika.
Dua kaki itu dia ayukan panjang, menghampiri pada sang Kakak yang masih menumpakkan kesedihannya.
"Daddy! Kenapa kau marah pada Kakak?!"
Dengan sesegukan, dan air mata yang masih membanjiri dua pipinya-Bella menjawab apa yang ditanyakan oleh adiknya Sella.
"Sella! Aku ingin menemui Mommy, dan Daddy melarangnya."
Sella nampak terlihat kesal, dengan kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir sang Ayah.
Dua matanya menatap nyalang pada Ayahnya, dan tak ada rasa takut sedikipun dalam diri gadis kecil.
"Ingat Daddy! Jika kau tidak membiarkan kami bertemu dengan Mommy! Makan aku, dan Kakak akan kabur dari rumah ini."
"Dan sekali lagi Daddy tegaskan, sampai kapanpun Daddy tidak akan mengijinkan kalian bertemu dengan Mommy kalian." Aditya mempertegas kata-katanya, agar kedua putrinya dapat mengikuti keinginannya.
Sella terlihat semakin murka. Kilatan api amarah terlihat jelas di mata gadis kecil itu, dengan wajah yang kian memerah akibat kesalnya.
Dua kakinya melangkah maju mendekat pada sang Ayah, yang masih berpijak di sana. Saat diri itu sudah berada dengan jarak yang begitu dekat- Sella segera menginjakkan kaki dengan sangat kuat pada barisan jari kaki Aditya, yang membuat Daddynya meringis kesakitan.
"Kau memang Daddy yang jahat!" umpatnya kesal, dan langsung meraih tangan Bella berlalu menuju arah tangga.
"Sella.. Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau menginjak kaki Daddy?!" Aditya memegang ujung jarinya, yang terasa begitu nyeri.
__ADS_1
"Karena kau Daddy yang sangat menyebalkan!" jawabnya, dengan kembali melanjutkan langkah kaki itu, bersama sang Kakak.
Aditya terlihat murka. Pria tampan itu tak menyangkah akan mendapatkan perlakuan seperti ini, dari kedua putrinya.
"Bella.... Sella... Tunggu Daddy ingin bicara dengan kalian."
"Kami tidak mau bicara denganmu!" Sella balik menatap kesal pada Ayahnya, dan kembali melanjutkan langkah kakinya.
"Sial! Kenapa aku bisa punya anak pembangkang seperti ini?!" gerutu Aditya.
Dada yang naik turun akan emosi yang begitu besar, perlahan mulai nampak tenang. Aditya mengusap kasar wajahnya, seolah tak percaya dengan apa yang dia hadapi saat ini.
Wajah itu tak sengajja berpaling, dan dari jauh dua matanya menangkap sosok Simon yang seperti tengah menertawakan dirinya.
"Kau puas! Melihat kedua anakku, membangkang padaku. Ini-kan yang kau harapkan? Agar bisa membawa Aisyah kemari. Dan kemudian, kau meminta aku menikah dengannya." Dengan nada yang terdengar kesal, akan emosi yang masih teresa.
Senyuman kecil Simon lukis di wajah-dengan langkah kaki yang dia ayunkan agar lebih dekat dengan sang Tuan, yang tengah memberi tatapan tajam padanya.
"Sekeras apa-pun anda berusaha! Tidak akan pernah bisa, karena Nona Bella, dan Sella sudah mengetahui siapa Ibu mereka."
"Jadi maksudmu aku harus segera membawa wanita itu ke mari?"
"Iya Tuan... Karena hanya itu jalan satu-satu-nya, agar Nona Bella, dan Sella dapat terus bersama anda."
"Apa kau sudah gila Simon?! Mana mungkin aku membawa Aisyah tinggal di rumah ini. Bukankah kaupun juga sudah tahu, kalau yang aku inginkan hanya anakku, hanya anakku."
"Terserah anda, Tuan! Saya hanya menyarankan saja. Karena dalam hal ini, anda harus memikirkan perasaan Nona Bella, dan Sella. Jadi saya minta anda tidak boleh egois, pikirkan perasaan mereka."
"Sudahlah! Nanti baru kita bicarakan hal itu lagi. Aku ingin kembali ke kamarku," ucap Aditya, dengan segera mengayunkan langkahnya, menuju arah tangga.
Ayunan kakinya terasa berat, bagi Aditya. Terus terngiang dalam pikiran pria itu, dengan kata-kata yang tadi Simon ucapkan untuknya.
Bagaimana bisa dia membawa Aisyah ke rumah ini? Kalau dia sama sekali tidak bisa hidup seatap dengan wanita itu. Tapi bagaimana dengan kedua putrinya? Dan memikirkan hal itu membuatnya pusing sendiri.
Langkah kaki itu Aditya hentikan seketika, dengan mengalihkan dua matanya pada pintu kamar kedua putrinya yang tertutup rapat.
Langkah kaki itu Aditya arahkan pada arah kamar itu. Satu tangannya dia angkat, bermaksud memberi ketukan pada badan pintu. Baru saja akan menyentuhnya-ragu melanda hingga membuatnya mengurungkan niat itu.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan? Ini semua di luar dugaanku. Bagaimana bisa aku harus hidup satu atap dengan seorang Aisyah? Sementara aku sama sekali tidak mencintainya," gumam dengan wajah frustasi.