SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MENGATAKAN


__ADS_3

WG GROUP


Hening menyapa pada ruang kerja Aditya. Saat kedua pria itu, disibukkan dengan kegiatan mereka masing-masing. Aditya nampak begitu fokus menatap layar laptopenya, saat memasukkan data-data penting di sana- sementara Simon, pria itu sedang disibukan, memeriksa beberapa berkas penting.


Dentingan pesan pendek, menyapa pada ponsel milik Aditya, yang dia simpan di atas meja.


Menghentikan kegiatan-nya sejenak, dan menjangkau benda pipih itu.


Sorot mata biasa kini nampak lebih fokus, juga kaget, saat dia mendapati sebuah video yang dikirim oleh-Ani kepala Pelayan rumahnya, di aplikasi WA.


Tubuh yang duduk dengan tegak, kini bersandar malas dengan mengukir senyuman bahagia di wajah, bagaimana Aditya melihat suasana hangat yang tercipta antara Ayah, dengan Aisyah dan kedua anak-nya, saat menikmati makan siang mereka.


"Aku tidak menyangkah, kalau Aisyah mampu meluluhkan hati Ayah-ku, dengan begitu cepat. Padahal selama ini, dia selalu saja mendesak, agar aku menikah dengan wanita pilihan-nya, dan juga yang sederajat. Setidak-nya aku lega, kalau dia sudah menerima Aisyah menjadi menantu-nya."


"Anda baik-baik saja Tuan?" Lontaran pertanyaan yang Simon berikan tiba-tiba, membuat arah pandang Aditya berpindah pasa Sekretarisnya.


"Kau pasti tidak akan percaya, dengan apa yang kukatakan ini Simon-sebab aku pun, merasa sangat mustahil."


"Apa itu Tuan?" tanya Simon, yang semakin terlihat penasarannya.


"Papa ku saat ini sedang berada di rumah. Dan dia sedang melewatkan makan siang-nya bersama Aisyah, dan kedua anak kami."


"Saya turut bahagia mendengarnya, Tuan! Kalau memang Tuan Besar sudah menerima Nona Aisyah, sebagai menantu-nya."


"Ya. Hanya mungkin dia saja, terlalu gengsi untuk mengatakannya."


"Tuan..Apakah saya boleh menanyakan sesuatu pada anda? Tapi maaf, jika saya terlalu ingin tahu."


"Apa yang ingin kau tanyakan, Simon?" Raut wajah Aditya kini sudah berubah penasaran, saat mendengar ucapan Sekretarisnya yang begitu serius.


"Apakah anda serius dengan pernikahan ini? Dan akan-kah, anda belajar mencintai Nona Aisyah? jika anda ingin Nona Bella, dan Sella tumbuh diantara kedua orang tua yang lengkap."


Napas itu Aditya desahkan dengan berat, setelah dia dilontarkan pertanyaan seperti itu, oleh Simon.


"Aku serius dengan pernikahan ini, karena aku yakin, Aisyah adalah wanita yang ditakdirkan Tuhan, untukku. Dan tanpa mengakuinya, aku yakin kau sudah tahu perasaanku."


Rona bahagia menyelimuti wajah Simon, mendengar kata-kata, yang baru saja Tuan muda-nya ucapkan.


"Saya sangat bahagia, kalau memang perasaan itu, sudah ada untuk Nona Aisyah. Karena memang hanya dia, wanita yang tepat menjadi istri anda."


Aditya mengukir senyum kecilnya, dan melanjutkan kegiatan itu kembali. Hening kembali melanda, setelah mereka menyudahi obrolan singkat itu.


Nada panjang menyapa gawai milik Simon, saat pria itu sedang sibuk dengan kegiatan-nya. Dua mata itu, langsung dia alihkan pada HP miliknya, yang berada dekat dengan tumpukan berkas.


Satu alisnya dia angkat, saat pada layar ponsel itu, Simon mendapati nomor asing di sana. Dan karena penasaran, pria itu memutuskan untuk menerimanya.


"Hallo!" Satu kata Simon ucapankan pada penelpone asing itu, saat HP sudah menempel pada daun telinga-nya.


Dan Simon sangat terkejut! Usai dia mendengar, ucapan wanita itu, yang mengakui kalau dia adalah Ibunda dari Tuan-nya.

__ADS_1


Sudah sangat lama menghilang, dan dipastikan sudah meninggal, tentu saja Simon sudah melupakan suara dari Mama Melinda, dan dia tidak mungkin gampang percaya, dengan ucapan wanita itu.


"Anda jangan berbohong! Nyonya Besar, sudah lama meninggal!"


Suara Simon yang menggema, dan penuh akan amarah mengalihkan tatapan Aditya seketika, hingga pria itu langsung bangkit dari duduknya, dan menghampiri pada Simon.


"Siapa tadi?!"


"Ada seseorang yang menelpone, dan mengaku sebagai Mama anda, Tuan!"


"Lakukan panggilan VC sekarang! Agar kita bisa, memastikan."


"Apakah anda yakin, Tuan?!"


"Yaa!" jawab Aditya tegas.


Simon kembali melakukan panggilan pada nomor asing tadi, sesuai permintaan Aditya.


Panggilan yang terjawab, langsung menampakan wajah seorang wanita paruh baya, dengan pakaian yang begitu sederhana.


"Aditya...." Saat wajah mereka saling berhadapan, Mama Melinda langsung menyeruhkan nama anaknya, dan menangis kecil di sana.


"Mama!" seru Aditya yang sangat begitu kaget, saat melihat Ibunya yang ternyata masih hidup selama ini.


"Nyonya Besar..." seru Simon yang tak kalah terkejutnya.


"Siapa yang melakukan ini pada anda, Nyonya?!" tanya Simon cepat.


"Karla, Karla yang melakukan ini padaku Simon.. Karla yang melalukannya."


Aditya mengusap kasar wajahnya, terlihat jelas amarah yang sudah menyelimuti wajah tampan pria itu, hingga urat-urat di lehernya, sangat jelas terlihat.


"Wanita itu, benar mencari masalah dengaku!" gumam Aditya, seraya mengepal erat tangannya.


"Katakan padaku, di mana Mama berada sekarang? Biar aku, akan menjemputmu hari ini juga!"


"Mama berada di jawa tengah, Adit! Tapi Mama tidak tahu, di daerah mana ini."


"Hallo Tuan!" Tiba-tiba saja, wajah asing sudah muncul di layar ponsel itu.


"Apakah kau bersama Mamaku?" tanya Aditya, pada wanita muda itu.


"Iya Tuan.."


"Aku minta alamatmu, dan aku juga minta padamu, kau bawa Mama-ku ke tempat yang aman, karena hari ini juga aku akan menjemputnya."


"Baik Tuan.." jawab wanita muda itu, dengan langsung memutuskan sambungan telepone nya.


Aditya langsung bangkit dari duduknya, yang diikuti pulah oleh Simon.

__ADS_1


"Kita ke rumah, karena bagaiaman pun aku harus berpamitan pada Aisyah, dan juga kedua anakku."


"Baik Tuan.."


****


Asyah berjalan ke sana-kemari, saat wanita itu sibuk meletakkan barang-barang miliknya, yang baru saja dia ambil dari kamar Bella, dan Sella.


"Sepertinya foto bayi Bella, dan Sella sangat cocok di simpan di sini." Aisyah mengukir senyum kecilnya, saat meletakkan foto bayi Bella dan Sella, disamping vas bunga yang berada atas meja.


Suara pintu terbuka, mengalihkan tatapan itu seketika. Senyuman menyapa di wajah Aisyah, mendapati kedatangan sang Suami.


"Mas..Kau sudah pulang?" tanya Aisyah seraya melangkahkan dua kakinya, mendekat pada Aditya.


"Syah..Aku akan berangkat ke Jawa tengah hari ini juga!" seru Aditya dengan langkah kaki yang tergesa-gesa, saat menuju ruang ganti.


Aisyah nampak kaget, setelah mendengar apa yang baru saja, Aditya katakan. Dan saat tiba di ruang ganti, wanita itu mendapati Aditya hanya menggunakan dalaman saja, dan akan akan menggunakan beberapa fashion, yang tak lain adalah, celana jeans, baju kaos, dan juga jacket.


"Untuk apa kau ke sana Mas? Bukankah kita baru saja, menikah? Apakah Mas memiliki wanita lain di sana? Atau mungkin-kah, Mas akan bertemu dengan Mantan kekasih, Mas? Karena mungkin saja, Mas sudah janjian dengan Mantan kekasih Mas, yang bernama Citra itu!" Beruntun pertanyaan Aisyah lemparkan pada Aditya, karena tidak puas saat mengetahui Aditya akan pergi ke Jawa tengah.


Aditya menghentikan kegiatan-nya sejenak, dengan lemparan senyuman pada Aisyah.


"Kau jangan tersenyum, Mas! Aku tidak akan membiarkan kau pergi, dan akan mengadukan ini pada Bella, dan Sella!" serunya tegas.


"Aku tidak serendah yang kau kira, Aisyah!" ucap Aditya dengan bangkit dari duduknya, dan melangkah menuju Aisyah.


"Terus untuk apa kau ke sana, Mas? Kalau ini untuk perjalanan bisnis, aku ikut!" Aisyah menenggelamkan dua matanya, menatap penuh harap pada Aditya.


Senyuman hangat melukis di wajah tampan Aditya. Rasa hangat menjalar dalam dirinya, bagaimana dia mendapati sikap Aisyah, yang begitu posesif padanya.


"Hanya kau, wanita dalam hatiku Aisyah! Aku tidak mungkin melakukan hal itu padamu, jika tidak ada cinta."


"Mas..." Mata Aisyah sudah berkaca-kaca, saat mendengar ucapan suami-nya barusan.


"Iya. Semalam yang kau dengar itu tidaklah salah. Aku memang telah jatuh cinta padamu, Aisyah! Dan itu, adalah faktanya."


"Kalau begitu katakan padaku, untuk apa Mas pergi ke Jawa tengah?"


"Aku ingin menjemput Mamaku, Syah!"


"Bu..Bukan-kah dia sudah.." Aisyah nampak begitu terkejut, hingga kalimat itu tak mampu dia selesaikan.


"Karla menculik nya selama ini, aku tidak menyangkah wanita itu begitu jahat. Jadi aku minta, jangan beritahukan ini pada siapa pun, setidaknya sampai aku kembali. Karena aku tidak mau, dia melakukan hal buruk pada kalian, selama aku tidak ada. Karena wanita itu, sangatlah licik! Kau mengerti?!"


"Iya, Mas! Aku mengerti!"


"Ya sudah! Ayo kita ke bawa sekarang, Simon sudah menungguku."


"Iya Mas," jawab Aisyah dengan menggandeng mesrah Aditya, melangkah ke luar dari dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2