
Mendapati sikap mencurigakan Aisyah-tadi, membuat Simon meyakinkan diri-nya, kalau wanita yang bertugas membersikan ruangan Tuan-nya itu, adalah Aisyah Maharani-wanita yang selama ini dicari oleh Tuan-nya.
"Apakah kau yakin, kau sedang tidak berbohong padaku?" tanya Simon sekali lagi, dengan menatap penuh selidik pada wanita di depan-nya.
"Buat apa, aku berbohong. Dan memang kebohongan apa yang aku lakukan?" tanya Aisyah balik, yang berusaha meyakinkan Simon dari keraguan-nya.
Walaupun meyakini, tapi diri-nya sama sekali tidak memiliki bukti yang cukup kuat. Hingga membuat pria itu, menyudahi apa yang dia lakukan pada Aisyah.
Dua tangan-nya yang memenjarakan wanita itu, seketika dia tarik kembali dengan menampilkan wajah tenangnya, yang tadi terlihat tegang, saat bertanya pada wanita itu.
"Maafkan aku, yang sudah bersikap tidak sopan padamu." ucap-nya, dan berlalu begitu saja.
Arah pandang itu ikut berpaling, mengikuti kepergian pria itu. Dan ketika memastikan Simon sudah berlalu jauh- Aisyah langsung menghembuskan napas lega-nya, yang sedari tadi tidak bisa benapas dengan baik saat terpenjara dalam dua tangan pria itu.
"Aku sangat yakin, kalau sekretaris Simon sedang mencurigaiku. saat ini. Oh... Tuhan.. Aku mohon, lindunglah aku, lindungilah aku Tuhan.." gumam Aisyah, penuh harap.
****
"TING!" Pintu lift yang sudah terbuka lebar, membuat Aisyah sadar dari lamunan-nya, yang sedari tadi hanyut dengan apa yang tengah menjaadi beban pikiran-nya.
Bisa dijabarkan bagaimana suasana hati, Aisyah saat ini. Tentu hati-nya terselimuti kecemasan, jika saja identitas-nya suatu saat akan terbongkar, dan sudah bisa dipastikan dia akan kehilangan kedua putri-nya. Ingin rasa-nya wanita itu kabur saja, dan menyembunyikan dirinya, tidak akan pernah bertemu lagi dengan Aditya- tapi memikirkan dia, yang sudah terikat kotrak kerja dengan Company Group, membuat-nya mau tidak mau, harus bertahan tetap bertahan di perusahaan itu.
Ayunan kaki itu terasa berat bagi Aisyah- akan suasana hati, yang sedang tidak baik-baik saja. Melewati lorong yang panjang, guna meletakkan kembali alat-alat yang dia pakai, untuk membersikan ruangan Presdir tadi.
"Sangat sial hidupku. Aku mengirah-setelah berkerja di sini, hidupku akan jauh lebih baik. Tapi ternyata, justru jauh lebih buruk dari sebelum-nya." gumam-nya pelan.
Langkah kaki itu-seketika Aisyah hentikan-saat rekan seprofesi-nya Lili, bersama geng-nya, menghalangi jalan yang akan dia lewati.
Menghembuskan napas panjang-nya, memilih untuk tidak melayani apa yang mereka lakukan pada-nya.
__ADS_1
"Maaf, aku harus pergi." Aisyh berusaha meneroboskan diri lewat barisan teman-teman wanita itu, tapi yang dilakukan mereka, malah merapatkan diri agar dia tidak dapat melewati-nya.
"Tidak akan semudah itu, kau akan bebas dari kami Anisa! Dan aku ingin menanyakan satu hal padamu. Apa yang sudah kau lakukan untuk Presdir kita? Hingga membuat kau yang baru saja bekerja di sini, langsung ditempatkan khusus di ruangan-nya. Padahal kami yang sudah lama bekerja di sini, masih menempati posisi yang biasa. Apakah tanpa sepengatahuan orang, kau sudah menjual dirimu pada Pak Aditya? Atau kau memberikan dirimu secara cuma-cuma." Dengan menampilkan senyum mencemooh-nya, pada wanita itu.
Sepasang bola mata Aisyah- seketika lebih membelalak, setelah mendengar apa yang dituduhkan oleh rekan seprofesi-nya yang sangat jauh dari kenyataan.
"Menjual diri?"
"Iya menjual diri. Karena mana bisa kau langsung ditempatkan di ruangan Presdir, sementara kau baru saja bekerja di sini."
"Aku tidak serendah yang kau tuduhkan. Dan jika kau mau, aku dengan suka rella, akan memberi posisiku. Tapi sebelum-nya kau tanyakan dulu pada Pak Aditya-apakah dia mau? Kalau kau menggantikan posisku, untuk membersikan ruangan-nya." Aisyah menampilkan senyuman mencemooh-nya-pada Lili, yang membuat gadis itu begitu merasa terhina, dengan kata-kata yang baru saja dilontarkan Aisyah pada-nya.
Amarah yang sudah tak dapat dibendung lagi oleh Lili. Wanita itu- segera memberi kode pada teman-teman-nya, untuk membawa Aisyah ke kamar mandi, guna memberi pelajaran pada wanita itu.
Dan Aisyah begitu terkejut, saat Lili, dan rekan-rekan-nya, mencengkram dua tangan-nya begitu kuat, dan membawanya dengan paksa ke kamar mandi, yang tidak berada jauh dari situ.
"Hei.. Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan aku! Lepaskan..!" Aisyah memberontakkan dua tangan-nya, saat diri itu di bawah paksa oleh Lili, dan teman-teman-nya. ke kamar mandi.
Saat berada di dalam kamar mandi, dengan kasar Lili mendorong kuat tubuh Aisyah-yang membuat wanita itu seketika tersungkur ke sudut tembok.
"Berikan selangnya padaku. Kita harus memberi pelajaran pada wanita ini." titah Lili pada salah satu teman-nya.
"Apa yang akan kau lakukan padaku, Lili?!" tanya Aisyah yang mulai terselimuti kepanikan.
"Aku akan memberimu pelajaran." Lili menyeringai rendah, dengan tatapan tajam-nya, pada Aisyah.
"Nyalahkan air-nya!" pinta-nya lagi.
Putaran air yang full, membuat air ke luar dengan begitu deras dari dalam selang itu, yang meluncur bebas ke arah Aisyah yang Lili arahkan tepat ke wajah wanita itu.
__ADS_1
"Ha...Ha...Ha...Ha... Rasakan itu Culun..." Lili nampak begitu puas, dengan apa yang sudah dia lakukan pada Aisyah.
Air yang mengarah dengan begitu deras-tepat di wajah-nya, perlahan memudarkan sedikit-demi sedikit cream hitam, yang menempel di wajah Aisyah. Hingga kulit asli-nya, perlahan mulai terlihat, saat air berjatuhan berwarna hitam. Dan itu membuat Aisyah hanya bisa menangis, karena takut mereka akan mengetahui siapa dia?
"Aku mohon, jangan lakukan ini padaku.. Jangan lakukan ini padaku," pinta Aisyah-dengan berlinang air mata.
Lili, dan teman-teman-nya sama sekali tidak mengindahkan keinginan Aisyah. Iri hati wanita itu pada Aisyah, sudah membutakan mata hatinya. Hingga membuatnya terus melakukan hal itu, tanpa memperdulikan tangisan Aisyah.
Mendengar suara keramaian dalam kamar mandi, membuat Rati seketika dilanda rasa penasaran, hingga membuat wanita itu memutuskan untuk menghampiri-nya, guna mengetahui apa yang terjadi di dalam sana?
"Apa yang terjadi di sana? Kenapa ramai sekali?" Bertanya pada diri sendiri, saat dua kaki itu membawa tubuh-nya ke arah kamar mandi.
Bola mata Rati lebih membulat, akibat terkejut dengan apa yang dilakukan Lili, dan geng-nya pada teman baiknya itu.
"Apa yang kau lakukan Lili?!" Segera menyambangi pada wanita itu, dan mendorong kuat tubuh-nya, hingga membuat Lili seketika tersungkur ke lantai.
Dengan kedatangan Rati, membuat Lili dan teman-teman-nya segera berlalu dari tempat itu, dengan meninggalkan Aisyah begitu saja. Karena dia sangat tahu, bagaiman sikap Rati yang sama sekali tidak takut pada-nya.
Rati segera menghampiri pada teman baik-nya, yang berada di sudut ruangan.
Raut wajah gadis berambut sebahu itu, terlihat sangat begitu khawatir, pada keadaan sahabat-nya yang sudah basah kuyup.
"Nisa! Kamu baik-baik saja?"
Aisyah hanya bisa menangis. Wanita malang itu menyilangkan dua tangannya, menutupi wajah-nya agar tidak terlihat oleh Rati, yang sudah menampilkan kulit asli-nya.
"Nisa!" panggil Rati sekali lagi, saat Aisyah yang masih menyembunyikan wajah-nya, di balik silangan tangan-nya.
Tak ingin Rati mengetahui siapa dirinya? Dengan cepat wanita itu berlalu ke dalam toilet, guna menyembunyikan diri-nya di sana.
__ADS_1
"Nisa...Nisa..." panggil Rati, seraya menggedor-gedor pintu toilet itu.