SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MENGUATKAN AISYAH


__ADS_3

Asih mengambil langkahnya panjang, menghampiri pada Aisyah yang sedang berada di teras depan. Cukup lama dia memandang pada Ibu muda itu-membiarkan dia melewati kesedihannya. Hening sesaat, membiarkan beberapa menit telah berlalu. Dan baru dia menyeruhkan nama Aisyah.


"Aisyah..." panggil Asih tiba-tiba.


Mendengar namanya dipanggil, Aisyah segera mengusap cepat air matanya-agar tak ada yang tahu jika dirinya tengah bersedih.


Membalikkan tubuhnya, dengan senyuman yang dia lukis palsu berusaha menunjukkan kalau dia baik-baik saja.


"Ada apa Bibi?"


Tidak langsung menjawab, apa yang ditanyakan Aisyah padanya. Dua mata Asih menelusuri setiap inci wajah Ibu muda itu, dan mendapati kelopak mata Aisyah yang nampak memerah.


"Jangan menyimpannya sendirian, Syah! Katakan pada Bibi. Ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Sampai kau harus menangis."


Aisyah tersenyum miris. Berusaha agar air mata itu tak dapat tumpah kembali. Tapi siapa yang dapat membendungnya? Jika hati itu tak mampu lagi, menahan sakitnya. Hingga air mata yang sudah tertampung penuh di pupil matanya, akihirnya tumpah juga membasahi pipi mulusnya yang sudah kering.


"Dia akan mengambil anakku, Bi! Dia akan mengambil kedua anakku..."


Kerutan di dahi Asih kian menumpuk, dengan sorot mata yang kian dia intenskan, setelah mendengar ucapan Aisyah yang membuatnya begitu terkejut.


"Maksudmu Ayah dari Bella, dan Sella?" tanya Bibi Asih memastikan kebenaran dari kata-kata Aisyah.


"Iya, Bibi! Dia akan benar-benar mengambil anakku. Dia akan benar-benar mengambil anakku, kali ini Bibi! Apa yang harus aku lakukan Bibi?! Apa yang harus aku lakukan?? Aku tidak bisa jauh dari Bella, dan Sella. Mereka berdua adalah hidupku, Bibi! Mereka berdua adalah hidupku..." Air mata semakin meluncur bebas dari dua matanya, kala Aisyah berkeluh kesah.


Asih menghembuskan napas panjangnya. Dua kaki itu mengambil langkah panjangnya- yang membawa kian mendekat pada Aisyah.


Wajah tuanya melukis senyum kecil di sana. Terlihat juga mata tuanya sudah nampak berkaca-kaca, menahan kesedihan yang sudah bergejolak didadanya.


Satu tangannya dia angkat, dan mengusap air mata yang membasahi pipin tirus Aisyah.


"Bibi...Sungguh aku tidak kuat menghadapinya.." Keluh Aisyah lagi.


Asih kembali melukis senyum tipisnya, dengan menerawangkan tatapannya dalam pada Aisyah.

__ADS_1


"Bibi bisa merasakan apa yang kamu rasakan, Syah! Dan menangislah, kalau itu bisa membuatmu jauh lebih tenang." Dengan merengkuh tubuh Aisyah, membenamkan dalam pelukannya guna memberinya kekuatan.


Isak tangis Aisyah kian terdengar, kala tubuh mungilnya terpenjara dalam lingkaran dua tangan Bibi Asih, saat kesedihan kian mendalam dia rasakan.


"Yang kuat ya, Syah! Bibi sangat yakin, kalau kamu bisa melewati semuanya.," ucap Asih kemudian.


****


Kendaraan roda empat perlahan melaju pelan, dan menepi sedikit jauh dari bibi jalan raya.


Resah di wajah, dengan napas yang dia hembus dengan berat. Dua matanya menerawang jauh-menatap pada tempat yang mereka tuju.


Pintu mobil sudah terbuka lebar, tapi Simon masih saja setia berada di tempat duduknya.


"Kita sudah sampai, Sekretaris Simon!' ucap salah satu Bodyguard.


Hening sejenak di dalamnya. Dan kemudian tubuh itu, dia condongkan dari dalam mobil. Ketiganya segera mengambil lanhkah panjangnya, menuju pada kontrakan Aisyah. Berbeda dengan kedua anak buahnya yang melangkah dengan gagahnya-Simon justru mengayunkan langkahnya dengan langkah kaki yang berat. Menyaksikan bagaimana rasa sayangnya Aisyah pada kedua putrinya selama ini, membuat diri itu kian berat melangkah-tapi dia tak punya pilihan lain selain hanya bisa mengiyahkan.


"Maafkan aku, Syah! Maafkan aku," gumamnya dalam hati.


"Iya. Hunian Nona Aisyah, yang berada diujung gang ini. Dan ingat! Jangan coba-coba bertindak kasar padanya, kalau tidak kalian berdua akan berhadapan denganku. Kalian mengerti?!" Simon mempertegas kata-katanya, kala berbicara dengan kedua anak buahnya.


"Kami mengerti, Sekretaris Simon!"


Aisyah masih menumpakkan kesedihannya, kala tubuhnya masih terpenjara dalam pelukan Bibi Asih. Dua wanita beda usia itu sama-sama larut dalam suasana hati mereka masing-masing, hingga sama sekali tidak menyadari kedatangan Simon, dan kedua anak buahnya yang sudah berada di depan rumah.


"Aisyah..." panggil Simon tiba-tiba, yang seketika mengalihkan tatapan mata dua wanita beda usia itu.


Tubuh yang tadinya terpenjara seketika terlepas, kala Asih melepaskan dua tangannya yang melingkar di tubuhnya. Wajah itu dia palingkan pada asal suara, dan mendapati Simon dan kedua pria bertubuh tegap.


"Sekretaris Simon..." gumam Aisyah pelan.


Dua kaki itu Aisyah ayunkan dengan pelan, saat hati itu makin dilanda kesedihan yang sudah sangat mengetahui tujuan kedatangan Simon.

__ADS_1


"Aisyah..." seru Simon, menerawangkan dua matanya pada Aisyah.


Air mata itu kembali tergenang di dalam dua matanya, saat netra matanya dia arahkan pada Simon.


"Sekretaris Simon..Aku tidak mau berpisah dengan kedua anakku. Aku tidak mau berpisah dengan mereka," Air mata yang Aisyah bendung akhirnya tumpah juga, saat kesedihan itu tak mampu dia bendung lagi.


Simon tersenyum getir. Mendapati tangisan Aisyah, hatinya pun ikut menangis. Dua matanya menerawang, dengan jemari membelai lembut rambut Aisyah, guna menguatkan Ibu muda itu dari masalah yang tengah dia hadapi.


"Tenanglah! Semuanya akan baik-baik saja."


Aisyah menerawangkan dua matanya, yang masih berkaca-kaca akibat genangan air mata yang masih menumpuk di iris hitam matanya.


"Bagaimana aku bisa tenang, Sekretaris Simon? Sementara aku akan segera berpisah dengan kedua anakku."


Helaan napasnya terdengar berat. Ingin sekali dirinya membantu, tapi sayang dia tidak bisa berbuat apa-apa. Tenggelam dalam suasana hatinya-hingga tiba-tiba saja panggilan dari Asih, seketika mengalihkan tatapan mata itu.


"Simon..."


"Ada apa Bibi?"


"Apakah kau tidak bisa membantu Aisyah? Agar tetap bersama dengan kedua putrinya."


"Bisa. Bahkan sangat bisa. Aku bisa mengirimkan kau, dan putrimu ke luar negeri, agar Tuan Aditya tidak dapat menemukanmu. Tapi asalkan kau siap! Kalau keluargamu yang harus menanggungnya. Karena aku sangat yakin, Tuan Aditya pasti akan melakukan hal buruk pada keluargamu, begitu tahu kalau kau menghilang bersama dengan kedua anak kalian."


Isak tangis Aisyah kembali terdengar. Dirinya benar-benar dilema saat ini. Antara harus egois, agar tetap bersama dengan kedua putrinya! Atau melihat kehancuran keluarganya. Dan yang bisa dia lakukan adalah, pasrah dengan keadaan.


"Jadi apa yang harus aku lakukan, Sekretaris Simon?"


"Untuk sementara waktu, biarkan mereka bersama dengan Ayahnya. Aku tahu ini sangat sulit untukmu, tapi percayalah padaku. Dan maafkan aku, yang tidak bisa berbuat banyak padamu."


"Tapi apakah ada kemungkinan, aku bisa bersama dengan kedua anakku?"


"Sangat bisa. Kedua putrimu sudah mengetahui siapa Ibunya. Pasti mereka akan memaksa Daddynya, agar kau tinggal di sana juga. Biarnya hatinya sekeras batu, tapi aku yakin akan luluh dengan keinginan kedua anaknya. Jadi aku minta, kau untuk bersabar."

__ADS_1


"Apakah kau yakin, dengan apa yang kau katakan Sekretaris Simon?"


"Yakinlah padaku. Jadi aku minta kau untuk tetap tenang, dan bersabar walaupun ini sangat sulit. Tapi aku yakin, kau pasti bisa melewatinya."


__ADS_2