
Wajahnya seketika memucat. Rasa takut menyelemuti dirinya seketika, mendapati sosok pria yang selama ini dia hindari. Tak ingin Aditya mengetahui keberadaannya, Aisyah langsung menepi agar Aditya tidak mengetahui dirinya.
Aisyah langsung membelakangi, dengan menunduk agar wajahnya tak dapat dilihat oleh Aditya yang mengayunkan langkahnya, menuju dalam perusahaan.
Perlahan kepalanya berbalik, melemparkan tatapannya jauh, menatap pada Aditya yang sudah menghilang dari pandangannya.
Penasaran, yang dipenuhi tanda tanya seketika menyelimuti diri Aisyah- mendapati keberadaan Aisyah di perusahaan itu.
"Apa yang dia lakukan di sini? Tidak mungkinkan, dia adalah pimpinan dari perusahaan ini? Karena yang aku tahu, perusahaannya berlogo AW. Yaitu Aditya Wirawan."
Aisyah berusaha meyakinkan dirinya dari keraguan-kalau bukan Aditya-lah pimpinan dari Company Group. Dua kakinya kembali melangkah, memasuki perusahaan itu.
Wajahya sedikit memucat, dengan berbalut senyuman kikuk, bagaimana banyak pasang mata, yang menatapnya dengan aneh. Dan Aisyah tahu, mereka memandang dirinya bukan karena dia cantik, tapi karena rupanya yang begitu buruk. Dan walaupun ada rasa minder, dan ketidak percayaan diri, tapi wanita itu memilih untuk tidak memusingkannya.
"Kalau aku menanggapi tatapan mereka yang memandang karena rupa burukku, yang adanya aku akan terus menjadi pengangguran. Dan nanti mau dikasih makan apa?! Kedua anakku. Jadi Aisyah...! Ayo semangat. Demi Bella, dan Sella." Aisyah bergumam dalam hati, menyemangati diri sendiri yang sempat hilang kepercayaan dirinya.
Aisyah meng'ayunkan langkahnya, dengan terus menampilkan senyuman di wajahnya. Dan sangat besar harapan wanita itu, agar dirinya diterima bekerja di Company Group.
"Selamat siang, Mba!" sapa Aisyah ramah, saat menyapa pada resepsionis itu.
"Selamat siang juga. Ada yang bisa saya bantu?" jawab wanita itu, seraya membalas senyuman Aisyah.
"Saya ingin melamar pekerjaan di sini, Mba!"
__ADS_1
Raut wajah wanita muda itu seketika berubah serius. Sepasang matanya menatap Aisyah dengan intens- dari atas hingga bawah, yang membuat Aisyah seketika tersenyum seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, akibat ketidaknyamanan.
"Maaf kalau boleh saya tahu, sebagai apa? Karena kami ada membuka dua lowongan. Satu, sebagai marketing di bagian pemasaran, dan yang kedua sebagai Cleaning Servise."
Aisyah seketika menjawab cepat, setelah mendengar resepsionis itu menyebut Cleaning Service.
"Itu, Mba! Cleaning Cervise, saya ingin melamar kerja dibagian, tenaga bersih-bersih."
"Oh..Itu! Kalau Mba-nya mau melamar di bagian Cleaning Service, silahkan berjalan terus melewati arah lorong, dan nanti dipertengahan anda menjumpai sebuah ruangan, dan itu adalah ruangan penanggung jawab di bagian Cleaning Cervise."
"Terima kasih, Mba!" Melukis senyum kecilnya, dan kembali melanjutkan langkah kaki itu, pada arah kiri perusahaan.
Wajahnya nampak berseri-seri, saat dua kakinya membawa tubuh Aisyah menuju arah kiri perusahaan. Ayunan kaki itu seketika dia hentikan, saat mendapati keberadaan Aditya yang baru saja ke luar dari dalam lift bersama beberapa anak buahnya, dan melangkah menuju arahnya.
Berharap pria itu segera pergi, tapi yang diharapkan wanita itu, sungguh di luar dugaannya. Bahkan membuat dirinya- rasanya ingin mati saja, saat Aditya berhenti tepat di belakangnya.
"Ya Tuhan...Kenapa dia haris berhenti di belakangku? Oh..Tuhan...Aku mohon lindungilah aku, jangan buat dia tahu, kalau ini aku.." Wajah Aisyah kian memucat. Kakinya sedikit bergetar, bagaimana selama ini dia berusaha bersembunyi dari Ayah dari kedua putrinya, tapi kini jarak mereka hanya sekitas satu meter lebih.
Saat diri itu dilanda ketakutan yang luar biasa, tiba-tiba saja Aisyah memalingkan sedikit wajahnya, setelah terdengar suara memohon seseorang. Kaget menyelimuti diri, hingga rasa takut itu terlupakan setelah mendapati seorang pria paruh baya, bersimpuh di depan Aditya, seraya memohon maaf pada pengusaha tampan itu.
"Saya mohon, Tuan..Tolong pertimbangkan lagi keputusan anda. Saya minta, jangan jebloskan saya ke penjara. Saya janji akan mengganti semua kerugian, yang sudah disebabkan karena ulah saya. Karena jika saya masuk penjara, bagaimana nasip anak dan istri saya.." Lelaki tua itu mengatupkan kedua tangannya- saat memohon pada Aditya-yang nampak sama sekali tidak perduli, dengan kata-kata yang diucapkan pria itu.
Aditya terkekeh pelan, berbalut seringai jahat di wajah tampanya-yang membuat jiwa Aisyah serasa berpisah dari raganya, melihat bagaimana sikap dari seorang Aditya Wirawan.
__ADS_1
"Saya sudah menaruh kepercayaan anda, tapi anda malah menghianatinya. Dan saya tetap pada keputusan saya. Saya tidak perduli dengan nasip istri, dan anak anda-karena itu bukan urusan saya. Dan seharusnya anda harus berpikir dua kali, sebelum melakukan hal itu." Wajahnya sama sekali enggan menatap pada pria itu itu. Kemarahan, karena rasa kecewa sudah mengusai diri Aditya, hingga rasa kemanusian tak lagi ada dalam dirinya. Dua matanya berpaling pada dua anak buahnya, dengan pakaian serba hitamnya, dan tubuh atletis.
"Seret pria tua ini! Dan pastikan dia membusuk di dalam penjara, karena sudah berani menggelapkan uang perusahaan." Kilatan mata Aditya begitu berkobar, saat amarah semakin mengusai pria berusia 28 tahun itu.
"Baik Tuan..." jawab kedua anak buah itu bersamaan, dan segera menghampiri pada lelaki paruh baya itu- dan mencengkram kuat tangannya, di sisi kiri dan kanan.
Terus memberontakkan dirinya, agar terlepas dari cengkraman anak buah Aditya-kala tubuhnya di seret ke luar dari dalam perusahaan.
"Tuan....Tuan Aditya....Maafkan saya. Maafkan saya Tuan...." teriaknya saat tuanya, semakin menjauh dari pengusaha kaya itu.
Aditya menampilkan smirk iblisnya. Wajah tersenyum penuh kemenangan, saat berhasil menjebloskan orang yang sudah berhianat padanya.
Menghembuskan napas tegasnya, dan kembali menampilkan kharismanya saat dua kaki itu kembali melanjutkan langkahnya.
"Itulah, hukumannya kalau kau berani bermain denganku." Dan arah pandang itu berpaling pada sekretarisnya, yang setia berada di sampingnya.
"Ayo Simon.." Dengan kembali melanjutkan langkahnya, tanpa memperdulikan tatapan karyawan-karyawannya yang menyaksikan itu semua.
Tubuhnya berbalik pelan, dengan lemparan pandangan jauh di sana, mengikuti kepergian Aditya yang sudah berlalu pergi.
Wajahnya kian memucat. Takut, akan kehilangan kedua putrinya semakin mengusai diri Aisyah, di mana dirinya melihat kebengisan seorang Aditya.
"Ya Tuhan...Ini kah Ayah dari kedua putriku? Dia begitu tegas, dan tak akan memberi ampun sedikitpun pada seseorang yang sudah berhianat padanya. Dan aku semakin yakin, jika dia menemukan aku! Pasti dia tidak akan membiarkan aku bersama Bella, dan Sella karena selama ini aku sudah bersembunyi darinya. Dan aku rasa, kesalahanku di matanya, jauh lebih besar dari pria tua itu. Dan membuatku sangat yakin, untuk selamanya hidup sebagai Anisa Mahardika. Ya hanya sebagai Anisa Mahardika, dan bukan sebagai Aisyah Maharani lagi." gumam Aisyah pelan.
__ADS_1