SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MENGGODA


__ADS_3

Wajah kaget-seketika menyelimuti wajah tampan Aditya, mendapati apa yang dilakukan Ibu tirinya, yang sangat jauh dari apa yang dia pikirkan.


"Apa yang kau lakukan, Karla?! Kau memang benar-benar wanita sakit jiwa!" ucap Aditya, dengan kemarahan yang teramat sangat.


Senyuman penuh kemenanngan menyelimuti wajah cantik Karla, mendapati arah pandang Aditya- yang terus menatap pada dadanya. Dan dia meyakini, kalau usahanya untuk mendapatkan Aditya akan berhasil, dengan menggunakan kemolekan tubuhnya itu.


"Apakah kau tidak tertarik, pada dadaku Adit! Bahkan kau bebas menikmatinya, jika kau mau." Dengan langkah kaki yang terus Karla ayunkan, yang kian membawanya semakin dekat pada pengusaha tampan itu.


Tak bisa dipungkiri, pikiran Aditya sedikit terusik dengan apa yang dia lihat. Bagaimanapun, dia adalah laki-laki normal yang bisa tergoda dengan tubuh seorang wanita. Dan apa yang ditunjukan Karla padanya_mampu membuat tubuh pria itu- seketika membeku, dengan tatapan mata yang terus dia lemparkan pada dua bukit kembar, milik Ibu tirinya.


Karla melukis senyumnya, saat Aditya memandang dadanya, tanpa berkedip sedikit-pun. Jarak dia dan Aditya sudah begitu dekat, mendapati Aditya yang tak menghindar darinya, dengan cepat Karla segera melabuhkan sebuah kecupan lembut, pada bibir anak tirinya. Tidak adanya penolakan dari Aditya, membuat Karla semakin berani, dengan ingin melakukan hal yang lebih.


Dan sekali lagi wanita itu, kembali melabuhkan bibirnya, pada bibir, yang baru saja dia kecup. Kali ini bukan kecupan yang ingin dia lakukan pada bibir Aditya-tapi sebuah ciuman panjang.


Baru saja Karla merasakan manisny bibir Aditya-dengan cepat dua tangan pria itu, mendorong kuat tubuh Karla.


"Kau benar-benar wanita murahan, Karla! Dan kau membuat aku semakin jijik padamu. Apakah kau tidak memiliki cara yang lebih terhormat lagi?! Selain melakukan hal, yang membuat aku semakin muak padamu." Aditya memberi senyuman mencemoohnya pada Ibu tirinya, dan berlalu begitu saja dari taman.


Karla terlihat begitu kesal. Lagi-lagi, usahanya untuk mendapatkan Aditya gagal. Membalikkan tubuh itu seketika, dan berteriak memanggil Aditya, yang terus melangkahkan kakinya menjauh dari taan.


"Aditya....Aditya...." panggil Karla dengan teriakan, tapi sama sekali tidak dihiraukan oleh pria itu


Memerah menyelimuti wajahnya, saat panggilannya sama sekali tidak dihiraukan oleh Aditya, yang terus yang mengayunkan langkah kakinya.


"Dasar menyebalkan! Apa kurangnya aku?! Hingga dia selalu saja menolakku. Kau lihat saja Adit! Aku tidak akan pernah membiarkan wanita mana-pun memilikimu. Tidak akan pernah!" ucap Karla, dengan menekan kata-katanya.


Karla tenggelam dengan apa yang dia inginkan?! Hingga membuat wanita itu sama sekali tidak menyadari, kalau sedari tadi ada sepasang mata, yang menyaksikan apa yang terjadi antara dia, dan Aditya. Kancing baju yang terbuka, segera dia kancing kembali.


Tak sengaja tatapan mata itu berpaling pada arah lain, dan betapa kagetnya dia! Saat mendapati keberadaan salah satu pelayan tua, yang tengah melemparkan pandangan padanya.


Netra matanya yang beradu dengan Karla, membuat wajah wanita tua itu-berubah pucat seketika, dan terlihat ketakutan saat Karla menatapnya dengan tatapan membunuh.


Tak ingin berlama di sana, dengan cepat wanita tua itu segera berlalu pergi dari taman, dengan langkah kaki yang tergea-gesa.

__ADS_1


Seringai rendah membentang di wajah Karla, dan dia meyakini kalau pelayan tua itu, telah menyaksikan semuanya. Tak ingin apa yang sudah dia lakukan sampai ke telinga sang suami?! Membuat Karla memutuskan untuk menghubungi anak buahnya, agar dapat menghabisi pelayan.


"Hallo Jack!" sapa Karla, saat panggilan telepone telah terhubung.


"Ada apa Nyonya?"


"Aku ingin kau membunuh pelayan tua ini. Dia bekerja di rumah anak tiriku. Dan dia menyaksikan apa yang tidak semestinya, dia lihat. Aku tidak ingin berita ini sampai ke telinga suamiku. Jadi aku ingin kau membunuhnya. Aku akan mengirimkan fotonya, sebentar."


"Baik Nyonya!" jawab Jack, dengan langsung memutuskan sambungan telepone itu.


****


Mobil yang dia kendarai, melaju dengan kecepatan sedang saat jalan raya, yang masih nampak ramai dengan keramainan lalu lintasnya. Senyuman terus menghiasi wajah Simon, membayangkan dirinya yang akan segera bertemu dengan buah hati dari Tuan mudanya.


"Aku yakin kedua anak Tuan Aditya, pasti sangat cantik. Aku sangat penasaran, dengan rupa kedua anak perempuan itu," gumam Simon, dengan rona bahagia di wajahnya.


Waktu yang telah berlalu dua puluh menit, akhirnya menghantarkan Simon pada lokasi di mana Aisyah tinggal. Kendaraan yang membawanya- Simon tepikan, dengan memarkirnya di pinggiran yang sedikit jauh dari bibir jalan raya.


Dua kaki yang sudah berpijak di luar tidak langsung Simon hentakan. Dua mata itu mengedar kesegalah arah, memandang area sekitarnya.


"Jadi di sini Aisyah tinggal," gumamnya pelan.


Beberapa menit telah terlewati, barulah pria itu memutuskan untuk melanjutkan langkah kakinya.


Dua kakinya dia ayunkan pelan, dengan sesekali tatapan mata yang dia alihkan pada secari kertas, yang Aisyah tulis yang menandakan lokasi rumahnya.


"Semoga saja, aku tidak salah tempat," gumam Simon, saat dua kaki itu menyusuri sebuah gang sempit.


Melangkah, dan terus melangkahkan kakinya. Langkah kaki itu seketika Simon hentikan, kala dari jauh dia mendapati sebuah hunian kecil yang terdapat di ujung gang. Dan pria itu meyakini, kalau hunia sederhana itu adalah, hunian yang ditempati Aisyah, bersama kedua anaknya.


"Itu pasti rumahnya, Aisyah!' gumam Simon, dengan kembali melanjutkan langkah kaki itu.


****

__ADS_1


Aisyah mengukir senyumnya, mendapati kedua putrinya yang sedang bermainn boneka, sambil berceloteh tidak jelas, pada benda yang tidak dapat berbicara itu.


"Ada saja yang mereka lakukan? Hingga membuat aku dapat tertawa," gumam Aisyah.


Arah tatapan mata yang terfokus pada kedua putrinya, seketika berpindah arah pada arah pintu, saat terdengar suara dari luar.


"Mommy! Sepertinya ada tamu," ucap Bella tiba-tiba.


"Sepertinya begitu. Dan biarkan Mommy, membukanya," jawab Aisyah, dengan langsung mengambil langkah panjangnya, menuju arah pintu.


Jemari itu menggapai gagang pintu, yang kebetulan belum dia kunci. Dengan satu hentakan, daun pintu itu seketika melebar. Kaget! Seketika menyelimuti wajah Ibu muda itu, saat mendapati keberadaan sekretaris Simon di depan matanya.


"Sekretaris Simon, Kau?!"


Tubuhnya yang membelakangi, Simon balikkan menatap pada Aisyah.


Mendapati Aisyah yang terlihat begitu cantik, mampu membuat Simon seperti hanyut dalam dunianya sendiri. Hingga membuat dua mata tak berpaling sedikitpun, dari wajah Ibu muda itu.


"Sekretaris Simon..." panggil Aisyah, kala pria itu sibuk dengan dunianya sendiri.


"I...Iya," jawabnya terbata.


"Ayo masuklah! Mau sampai kapan kau berada di luar. Aku mengirah, kau tidak akan jadi datang."


"Aku pasti akan datang, Aisyah! Karena aku sangat penasaran, dengan rupa anak kau, dan Tuan Aditya."


"Kalau begitu masuklah, mereka ada di dalam. Sedang bermain boneka."


"Baiklah," jawab Simon, dengan melangkahkan dua kakinya ke dalam hunian sederhana itu.


Tubuh itu sudah berpijak di dalam rumah kontrakkan milik Aisyah. Arah pandangnya kembali dia edarkan, menatap dalam rumah itu.


"Hunianku, tentu saja sangat jauh berbeda dengan milik Tuanmu, Sekreyaris Simon!" ucap Aisyah tiba-tiba.

__ADS_1


__ADS_2