
Suasana riuh seketika menyelimuti acara pernikahan Aditya, dan Aisyah yang menggema dengan suara sorak sorai, dan juga tepuk tangan yang berdatangan dari para undangan -saat kedua mempelai sudah resmi menjadi sepasang Suami-Istri.
"Cium....Cium.....Cium....." teriak mereka, saat sudah saling berhadapan, Aisyah dan Aditya hanya diam membisu, tanpa menunjukkan suasana romantis di depan mereka.
Aditya, dan Aisyah saling melemparkan pandangan, menatap pada wajah masing-masing, dengan berbagai perasaan yang sulit untuk dilukiskan saat ini. Menikah tanpa cinta, dan mau tidak mau harus belajar untuk saling menerima, karena sekarang mereka sudah resmi menjadi sepasang Suami-Istri.
Aditya begitu mengintenskan dua matanya, saat pandangannya- beradu dengan netra mata Aisyah, yang balik menatap padanya. Dia mengambil dua langkah-nya, yang membawa diri itu semakin mendekat pada Aisyah, saat para tamu undangan terus menyeruhkan kata CIUM, untuk dia, dan Aisyah.
Saling menenggelamkan tatapan itu, dan hanyut dalam dunia mereka masing-masing.
Berbeda dengan Aditya yang nampak masih bisa mengusai suasana, Aisyah justru sebaliknya.
Wajah wanita itu nampak memucat, dan juga gugup dengan pacuan detakan jantung yang melangkah begitu cepat.
"Cium.....Cium.....Cium......" Terdengar kembali teriakan para tamu undangan yang menyapa, saat Aditya dan Aisyah masih belum juga melakukan apa yang mereka pinta.
"Cium...Mana bisa aku melakukan itu?"gumam Aisyah dalam hati, dengan ******* napas beratnya.
Aditya menghela napas tegasnya, saat teriakan para tamu undangan tak juga reda untuk dia, dan Aisyah-dan itu nampak seperti sebuah pekerjaan yang menuntut untuk diri-nya. Sepasang mata elangnya, begitu Aditya hanyutkan pada mata Aisyah.
Beberapa menit berlalu, Aditya mulai memberanikan dirinya. Wajah yang berada dengan jarak sedikit jauh dari Aisyah, perlahan dia dekatkan, agar tidak memberi jarak pada keduanya. Mata mereka sempat beradu, hingga debaran itu semakin tak terkontrol. Beberapa detik keduanya saling menatap, dan perlahan Aditya mulai lebih mendekatkan bibirnya, pada bibir Aisyah.
Bola mata yang tadinya membulat, perlahan Aisyah pejamkan.Sedikit gugup dia rasakan, karena dia, dan Aditya melakukan ciuman di depan banyak orang. Hingga genggaman pada atas gaunnya, semakin dia eratkan, saat sudah merasakan sentuhan bibir Aditya.
Bibir yang sudah berlabuh di atas bibirnya, membuat Aisyah begitu hanyut.
Kecapan-kecapan lembut mulai dia rasakan, saat Aditya sedikit memperdalam ciuman mereka, hingga dia pun membalasnya.
Sorak-sorai, dan juga tepuk tangan memecah untuk para tamu undangan, saat menyaksikan momen manis, yang diciptakan pasangan yang baru resmi menjadi Suami-Istri itu.
Dan tentu saja, hal itu tentu tak luput dari pandangan Karla, yang sangat sulit dilukiskan.
Api amarah yang sudah menyelimuti wajah, dengan kepalan tangan yang begitu membungkus, mewakili emosi yang bersarang dalam diri saat ini.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan kalian bahagia!" gerutu Karla dalam hati, dengan lemparan tatapan membunuhnya.
"Nyonya Karla...Apakah anda tidak foto bersama anak, dan menantu anda?" tanya salah satu tamu undangan tiba-tiba, yang membuyarkan dunia Karla seketika
Wajah itu membentuk senyuman palsu, saat mendapatkan pertanyaan seperti itu dari salah satu pria.
__ADS_1
"Mungkin sebentar lagi, sebab saya tidak suka kalau haru berebutan. Biar saja, para tamu undangan yang terlebih dulu, untuk berfoto bersama pangan pengantinnya," jawab Karla memberi alasan.
Yang seharus dia lakukan saat ini, adalah berada dekat dengan anaknya-atau mungkin saja, mereka melakukan foto bersama, merayakanmoment bahagia saat ini.
Tapi hal itu sangat bertolak belakang dengan Papa Andi. Pria paruh baya itu terlihat nampak tak memusingkan hal itu sama sekali, dan dia lebih hanyut dalam dunianya.
Pandangan itu kemudian dia kembali lemparkan pada pelaminan, tapi dia lebih memfokuskan dua mata-nya pada dua sosok gadis kecil, yang tak lain adalah cucunya.
Senyuman membingkai di wajah tuanya, dan hati itu begitu menghangat saat mendapati tawa lepas Bella, dan Sella.
Sepasang mata Papa Andi, begitu dia hanyutkan dalam suasana hati-nya saat ini, saat lemparan mata terus ter'arah pada Bella, dan Sella yang sedang berhamburan dengan para tamu undangan.
Saat pandangan mata Sella tak sengaja beradu dengan pandangan Kakek-nya, Papa Andi segera melambai-lambaikan tangannya, memanggil gadis kecil itu.
Sella nampak begitu bahagia. Gadis kecil itu, tak sengaja mengalihkan pandangannya, dan tatapan mata itu, beradu dengan seorang pria paruh baya yang tentu saja, tidak dikenal olehnya. Senyuman di wajah Sella memudar seketika, saat pria tua itu memanggil dirinya.
Bola matanya nampak lebih membulat, dengan raut wajah yang terlihat bingung.
"Kakak...Kakak....Opa itu memanggilku," ucap Sella pada Bella, tapi tak diindahkan oleh Saudari perempuannya, yang nampak lebih sibuk dengan para tamu undangan.
Karena tak digubris oleh sang Kakak, dan juga terus mendapatkan panggilan dari orang yang tidak dia kenal, akhirnya dua langkah Sella dia ayunkan pada Papa Andi.
Saat sudah berada dengan jarak yang begitu dekat dengan Papa Andi-gadis kecil itu langsung melontarkan pertanyaan pada pria tua itu! Atas dasar apa? Dia memanggilnya.
"Opa....Buat apa Opa memanggilku? Apakah kita saling mengenal??" Dengan sedikit melengkingkan nada suaranya.
Papa Andi mengukir senyuman di wajahnya. Dua kaki-nya, mengambil dua langkah yang membawa diri itu semakin dekat dengan Sella.
Begitu menghanyutkan dua matanya, saat memberi tatapan pada bocah, yang berada di depan nya.
"Wajahnya begitu mirip dengan Aditya," gumam Papa Andi dalam hati.
"Opa..." panggil Sella tiba-tiba, yang memecahkan lamunan pria tua itu.
"Siapa namamu, gadis kecil??" tanya Papa Andi pelan.
"Namaku Sella, Opa.."
"Nama yang cantik, dan siapa nama Kakakmu?"
__ADS_1
"Apakah aku harus memberitahukan padamu, Opa??"
"Tentu saja, karena aku adalah Opamu." Senyuman kecil, saat tubuh itu telah dia sejajarkan dengan Sella.
"Benarkah??" tanya Sella yang merasa tidak percaya, dengan ucapan Papa Andi.
"Tentu saja, kalau Opa berbohong, kau bisa menanyakan langsung pada Papamu."
Saat sedang asyik sedang berbincang-Papa Andi, dan Sella dikagetkan dengan kedatangan Bella yang tiba-tiba, dengan langsung memegang tangan adiknya
"Sella.. Kau dipanggil oleh Mommy, dan Daddy, katanya- kita foto bersama."
Wajah Bella yang tadi menampakkan mimik seriusnya-saat berujar pada Sella, memudar seketika saat tiba-tiba saja Papa Andi berseru padanya.
"Hallo gadis kecil.." Senyuman hangat Papa Andi-dia lemparkan, saat menyapa pada Bella.
"Hallo Opa..."
"Kakak....Kakak....Opa ini bilang, kalau Daddy kita adalah anaknya. Berarti Opa ini, adalah Opa kita."
"Benarkah itu Opa??" tanya Bella yang merasa tidak percaya.
"Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa menanyakan langsung, pada Daddy kalian," jawab Papa Andi tersenyum.
****
Aisyah mengedarkan pandangannya kesegalah arah. Wanita bermanik hitam itu, nampak kebingungan dan seperti-nya sedang mencari sesuatu.
"Di mana Bella? Tadi dia bilang, akan memanggil adiknya!" gumam Aisyah dengan wajah yang terlihat resah, saat bola mata itu menyapu bersih seluruh tempat acara pesta.
Saat pandangan-nya sedang mengedar, tak sengaja dua mata itu, mendapati kedua putrinya yang sedang berbincang dengan orang asing, dan merekan nampak begitu akrab.
"Siapa pria itu? Dia terlihat begitu akrab dengan Bella, dan Sella," gumam Aisyah penasaran, dengan lemparan pandangan yang terus dia arahkan ke sana.
Dan karena rasa penasaran yang tak dapat dia jawab? Aisyah memutuskan untuk menanyakan pada Aditya, mungkin saja itu adalah Colega, atau-kah rekan kerja Suami-nya, setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Aisyah.
"Mas..." panggilnya pelan, dengan mengguncangkan kecil tangan pria itu.
"Ada apa?" Dengan menghentikan pembicaraannya, dengan salah satu tamu undangan.
__ADS_1
"Siapa pria itu Mas? Dia terlihat begitu akrab dengan Bella, dan Sella?" tanya Aisyah pelan, dengan menunjukkan jari telunjuknya ke arah keberadaan kedua anaknya, dan Papa Andi.