SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
BERDANDAN UNTUK ADITYA


__ADS_3

Mendapatkan kecupan bertubi-tubi dari sang Bunda, membuat kedua bocah itu hanya terkikik geli. Tawa lepas yang menyelimuti wajah Sella, seketika musna saat mengingat janji sang Bunda, yang akan membawakan mereka susu.


"Mommy..."


"Ya.."


"Apakah kau membawakan kami susu?" tanya Sella, dengan menatap penuh pada sang Bunda.


Silangan tangan pada tubuh kedua putrinya, Aisyah lepaskan. Jemarinya menggapai sebuah kantong plastik, dan menyerahkan pada sisulung, Bella.


"Mommy sudah berjanji. Tentu saja, Mommy tidak akan melupakannya. Dan kali ini, Mommy membeli susunya dua dos. Satu untuk Kakak, yang satunya untuk Sella."


Bella, dan Sella saling melemparkan pandangannya dengan melukis senyum bahagianya. Dan arah pandang itu kemudian berpaling pada sang Mommy, dengan tatapan tak percaya.


"Apakah kau serius, Mommy?" tanya Sella memastikan, dengan dua mata menatap penuh selidik pada Ibunya.


"Coba kalian lihat sendiri, jika memang Mommy berbohong."


Kedua pasang mata itu, seketika berlombah-lombah menelusup ke dalam kantong plastik hitam itu. Rona bahagia seketika menyelimuti wajah Bella, dan Sella! Mendapati dua dos susu dalam plastik hitam itu.


"Terima kasih, Mommy! Terima kasih. Kami kira kau tidak akan membawakan susu. Dan kali ini, kau membawakan aku, dan Kakak masing-masing satu dos susu." Wajah Sella nampak berseri-seri, saat mengungkapkan suka citanya pada Mommynya.


"Apakah kalian berdua senang?"


"Tentu, Mommy!" jawab Bella, dan Sella bersamaan.


"Kalau begitu cepat cium, Mommy!" Aisyah membungkukkan sedikit tubuhnya, agar kedua putrinya memberi kecupan di pipinya.


"Muaahh!" Bella


"Muaahh!"


"Mommy! Aku dan Kakak, akan ke dalam."


"Baiklah..." jawab Aisyah tersenyum, dengan memandang kedua putrinya yang telah berlalu ke dalam kontrakkannya.


Senyum yang sedari tadi merekah di wajah, perlahan memudar- berganti dengan wajah muram, yang syarat akan kesedihan yang mendalam.


"Syah...." panggil Bibi Asih, saat tatapan mata itu menatap dalam pada Aisyah.

__ADS_1


Wajahnya berpaling pada Bibi Asih, yang sedang duduk di sebuah kursi kayu. Jemarinya menelusup ke dalam tote bagnya, menggapai sesuatu di sana.


Meraih amplop putih itu, dan menghampiri pada wanita tua itu.


"Bibi, ini gajimu. Maaf, karena aku baru bisa membayar setengahnya saja."


"Kamu sudah gajian, Syah! Bukankah ini baru tanggal, 28?"


Aisyah tersenyum getir. Mendapat pertanyaan dari Bibi, Asih! Membuat sakit hati kian menyelimuti Ibu muda itu.


"Aku tidak gajian, Bibi! Ini uang pesangonku. Dan aku sudah dipecat dari pekerjaanku."


Warna terkuras dari wajah Asih, mendengar ucapan Aisyah, yang membuat wanita berusia senja itu-begitu terkejut.


"Apakah kamu serius, dengan apa yang kamu katakan, Syah?! Kalau kamu sudah dipecat?"


"Aku sangat serius. Aku benar-benar sudah dipecat." jawab Aisyah, dengan melukis senyum palsunya.


"Apakah kamu sudah melakukan kesalahan? Hingga membuat kamu dipecat!"


"Aku sama sekali tidak melakukan kesalahan. Aku dipecat, karena rupa burukku. Karena aku bekulit hitam, dan tidak secantik, rekan-rekan kerjaku."


Jemarinya menggapai tangan Aisyah, guna memberi semangat pada Ibu muda itu.


"Syah! Banyak orang di luar sana, berlombah-lombah mempercantik diri mereka, agar lebih muda mendapatkan pekerjaan. Kamu pun tahu, Syah! Kecantikan itu, kadang merupakan salah satu kunci, agar seseorang lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Dan mau sampai kapan, kamu hidup sebagai Anisa Mahardika?"


Aisyah tersenyum getir. Melepaskan genggaman tangan itu, dengan melangkah menghampiri pada pinggirin teras, kontrakkannya. Dua matanya melempar jauh ke atas, menatap taburan bintang yang menyinari awan yang sudah tertutup gelap malam.


"Aku lebih memilih untuk menjadi pengangguran, dari pada harus kehilangan kedua anakku. Karena hanya mereka yang aku punya, di dunia ini."


****


KEDIAMAN ANDI WIRAWAN


Ingin tampil sempurna, itulah yang diinginkan Karla malam ini. Selalu ingin tampil cantik, di depan pria pujaannya, siapa lagi kalau bukan Aditya Wirawan! anak dari suaminya, Andi Wirawan. Saat masuk dalam kehidupan Andi Wirawan, tidak disangkah! Karla justru akan jatuh cinta pada pesona yang ditawarkan anak tirinya.


Karla melukis senyum tipisnya, melihat dirinya yang sudah terlihat cantik, dalam balutan gaun berwarna marun, yang membalut sempurna di balik tubuh indahnya.


"Kau benar-benar memiliki hatiku, Aditya! Bahkan aku berdandan secantik ini, bukan untuk Ayahmu, tapi untukmu. Karena sesungguhnya, kau-lah pemilik hati ini."

__ADS_1


Karla menduduki tubuhnya pada sebuah kursi, dan melabuhkan gincu! Yang berwarna senada dengan gaunnya. Kaget menyelimuti wajah cantik Karla, saat mendapati penampakkan wajah suaminya di dalam cermin riasnya.


Andi mengukir senyuman, dan melabuhkan kecupan singkat pada pucuk kepala istrinya.


"Kau memang sangat cantik, Sayang! Pantas saja aku selalu tidak bisa jauh darimu."


Karla tersenyum palsu, mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan suaminya. Beranjak dari duduknya, dan berbalik menatap pada sang suami.


"Terima kasih, Sayang! Karena kau sudah begitu mencintaiku. Dan aku begitu beruntung, karena memiliki suami seperti dirimu."


Andi menyimpulkan senyuman di wajah, tuanya. Pria berusia senja itu- nampak begitu bahagia mendengar kata-kata, yang baru saja ke luar dari bibir istri mudanya. Meraih tubuh Karla, dan membenamkan dalam pelukan.


"Terima kasih, Karla! Karena kau sudah mencintai laki-laki tua ini. Aku sangat beruntung, dicintai oleh wanita sepertimu, yang begitu mengerti diriku."


Karla melebarkan tangannya, saat membalas pelukan suaminya itu. Seringai jahat di wajah cantiknya, karena bertahun-tahun hidup dalam kemunafikan, saat dia jatuh cinta pada anak tirinya.


"Kau memang pria bodoh! Bahkan kau tidak tahu, kalau aku begitu mencintai anakmu." bathin Karla.


Andi melepaskan pelukan itu. Dua matanya menatap penuh pada sang istri, dengan tatapan herannya, mendapati Karla yang sudah terlihat begitu cantik.


"Ini hanya makan malam biasa. Lagi pula yang datang, hanya Aditya dan sekretarisnya, Simon. Kenapa kau berdandan, begitu cantik malam ini?"


Wajah Karla memucat, dengan pertanyaan suaminya. Untuk menutupi itu semua, wanita cantik itu, segera melepaskan tawanya agar menutup rasa gugupnya.


"Ha...ha..ha...Sayang! Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku berdandan seperti ini, tentu saja untuk menjaga nama baikmu. Agar semua orang tahu, kalau istri dari pengusaha Andi Wirawan, selalu berpampilan modis, dan juga anggun."


Andi tersenyum kecil, mendengar ucapan sang istri."Terima kasih, Sayang! Kalau kau melakukan ini semua untukku. Dan itu membuat aku, semakin memcintaimu."


Tiba-tiba saja isi pikiran itu, teringat akan anak tirinya, Aditya! Yang akan makan malam, di kediaman mereka.


"Sayang! Apakah putramu Aditya, sudah datang?"


"Belum. Sikeras kepala itu, belum juga menampkkan batang hidungnya, sampai saat ini."


"Sayang...Kenapa kau berbicara seperti itu? Karena bagaimanapun, dia adalah anakmu. Darah dagingmu! Dan satu-satunya penerusmu."


Andi menyimpulkan senyuman di wajah. Dua manik matanya menatap dalam pada Karla, dengan jemarinya bermain lambat pada pucuk kepala istrinya.


"Itulah yang aku suka darimu. Kau masih sangat muda, tapi pikiranmu begitu dewasa. Dan kau sangat menyayangi putraku, seperti putramu, sendiri.Padahal sikeras kepala itu,sering tidak bersikap sopan padamu."

__ADS_1


__ADS_2