
Satu persatu anak tangga Aisyah, dan Aditya lewati saat dua pasang kaki itu akan menuju lantai bawa.
Saat kedua-nya sudah memijak di lantai dasar, pasangan suami-istri itu langsung disambut anak kembar mereka, Bella dan Sella yang sedang bermain petak umpet.
"Daddy...Mommy...." panggil kedua gadis kecil itu, dengan mengayunkan langkah-nya cepat, saat mendapati kedatangan kedua orang tua mereka.
"Daddy, Daddy sudah terlihat rapi. Apakah Daddy akan ke pergi?" Sella mendongakkan kepala-nya pada sang Ayah, saat melontarkan pertanyaan itu.
"Daddy akan ke luar negeri!" jawab Aisyah cepat.
"Benarkah itu, Daddy? Tapi kenapa Daddy tidak mengajak serta Mommy, aku, dan juga Kakak?"
"Daddy hanya pergi sebentar, lagi pula ini urusan kerjaan." Dan arah pandang itu, beralih pada Sekretaris-nya Somon. "Simon, apakah semua-nya sudah siap?"
"Sudah Tuan! Semuanya sudah siap."
"Bagus."
Saat sedang berbincang-bincang membahas keberangkatan Aditya, tiba-tiba saja mereka dihampiri oleh Sisi
"Maaf Tuan, Nona.."
"Ada apa Sisi?" tanya Aditya, pada pelayan muda itu.
"Nyonya Karla baru saja menelpone, dia mengatakan kalau Tuan Besar, meminta malam ini anda, Nona, dan Sikembar makan malam di rumah mereka."
"Ia Mas, tadi Papa juga mengajakku."
"Bilang saja pada Tuan Besar, kalau aku tidak bisa! Karena aku akan ke Malaysia sekarang."
"Baik Tuan, saya akan kembali menghubungi Nyonya Karla, dan mengatakan kalau malam ini anda, dan keluarga tidak bisa makan malam di rumah mereka."
"Tuan, ayo kita berangkat sekarang! Karena baru saja Pilot Edvan menghubungi saya."
Aditya membalikkan tubuhnya, menghanyutkan dua mata-nya pada Aisyah.
Dua tangan itu melebar, dan menenggelamkan tubuh ramping istri-nya di dalam sana.
Memeluk sedikit lama, menyalurkan rasa yang ada di dalam diri.
"Aku akan segera kembali, dan ingat! Jangan ini katakan pada siapa pun, terutama pada para Pelayan, karena mereka begitu dekat dengan Karla!" seru Aditya berbisik.
"Aku mengerti Mas...Dan cepat kembali!" jawab Aisyah, dengan membalas pelukan erat Aditya.
"Daddy....Daddy...." panggil Sella tiba-tiba, seraya menarik kecil jacket yang dipakai Ayah-nya.
Aditya mengurai pelukan itu, dan melemparkan tatapan matanya pada Sella.
"Apakah Daddy, hanya memeluk Mommy saja? Dan tidak memeluk aku dan Kakak?!" tanya Sella, dengan menampilkan wajah cemberutnya.
Tubuh tinggi-nya Aditya rendakan, mensejajarkan dengan tinggi Bella, dan Sella.
Melebarkan dua tangan itu, membawa tubuh kedua anak perempuan nya, ke dalam pelukan.
__ADS_1
"Jangan nakal, selama Daddy tidak ada. Daddy akan cepat pulang."
"Baik Daddy! Kami janji tidak akan nakal."
" Simon! Ayo, kita berangkat sekarang!"
"Baik Tuan.."
****
Kendaraan roda empat yang membaw Aditya, dan rombongan-melaju dengan kecepatan sedang saat melewati jalan raya, yang dipadati oleh kendaraan roda dua, dan juga empat. Resah, dan juga gelisah terlihat jelas di wajah tampan pria itu, memikirkan nasip Ibu-nya yang saat ini berada di kota Semarang.
Suara telepone menyapa gawai milik Aditya tiba-tiba, yang membela lamunan pria tampan itu seketika.
Dua alis-nya bertaut, dengan sorot mata jauh lebih tajam, saat mendapati nama BRIGADIR ANTO, di layar HP-nya.
Tanpa berbasa-basi, Aditya akan langsung melabuhkan ibu jarinya, pada logo berwarna hijau itu.
"Hallo Pak Anto! Ada apa anda menghubungi saya?"
"Maaf Tuan Aditya, kalau saya mengganggu waktu anda. Saya harus menyampaikan ini pada anda, kalau kami sudah menangkap orang yang membunuh, pembantu rumah anda."
Wajah biasa Aditya seketika berubah tegang, dengan posisi duduk yang sudah dia tegakkan, saat mendengar apa yang Polidi itu katakan.
"Siapa pria itu? Apakah dia melakukan pembunuhan karena dendam, atau karena ada motif lain?"
"Pria itu bernama Jack. Dan motif ini, karena bukan dendam."
"Kalau bukan karena faktor itu, apakah ada yang meminta-nya untuk melakukan pembunuhan ini?"
Aditya mengusap kasar wajahnya, lelaki itu nampak begitu syok, mengetahui kejahatan lain yang dilakukan oleh Ibu tiri-nya, Karla.
"Bisakah kalian menunda penangkapan wanita itu?"
"Maksud anda?"
"Karena aku ingin membongkar kejahatan wanita itu, di depan Ayahku!"
"Baik Tuan! Saya akan menunggu sampai anda datang!" jawab Anto, dengan langsung mengakhiri sambungan telepone itu.
"Karla...Karla...Kau benar-benar Iblis!" gumam Aditya dalam hati, dengan mengepalkan kuat genggaman tangan-nya, saat menyalurkan kobaran api dalam diri.
****
Aditya, dan Simon kini sudah memijakkan kaki mereka di kota Semarang, di mana selama bertahun-tahun lamanya Mama Melinda disembunyikan, di kota ini.
Aditya terus melemparkan pandangannya, pada sebuah hunian sederhana di depannya, saat sudah menemukan alamat yang dikirim wanita muda itu.
"Apakah kau yakin, ini rumah-nya, Simon?"
"Iya Tuan, ini rumah-nya, dan saya sangat yakin."
"Kalau begitu, ayo!" ajak Aditya, dengan langsung melangkah-kan dua kaki-nya menuju hunian kecil itu.
__ADS_1
Suara ketukan beberapa kali menyapa, pintu rumah itu.
Lila, gadis yang berusia sekitar dua puluh tahun itu, langsung bangkit dari duduk-nya, yang seketika mengalihkan tatapan Mama Melinda, yang tengah gelisah.
"Kau mau ke mana Lila?"
"Mau membuka pintu, mungkin saja itu anak Ibu!"
"Jangan sampai itu Baron, dan anak buah-nya!"
"Buu..Kalau itu Penjahat, tidak mungkin suara ketukan seperti itu!" jawab Lila, dengan kembali melanjutkan langkah kaki nya.
Saat pintu rumah akan dia buka, Lila masih sempat mengintip dari balik tirai, dan mendapati beberapa orang pria bertubuh kekar, dan sosok laki-laki tampan, yang wajah-nya begitu mirip, dengan wanita yang dia tolong.
"Tidak salah lagi, ini pasti anak Nyonya Melinda, yang bernama Aditya itu!" gumam Lila, meyakinkan diri sendiri.
Pintu rumah Lila lebarkan, dan menampilkan sosok Aditya, dan beberapa pria lain-nya.
"Apakah, kamu yang bernama Lila?"
"Iya Tuan, saya sendiri."
"Aditya....." Dari jarak yang sedikit jauh, Mama Melinda langsung menyeruhkan nama putra-nya, begitu dia mendengar suara anaknya, Aditya.
"Mama..."
Mama Melinda langsung mengambil langkah panjang-nya, menghampiri pada anak yang begitu sangat dia rindukan. Saat sudah berada dalam jarak yang begitu dekat, wanita paruh baya itu langsung menenggelamkan diri-nya dalam pelukan sang Putra, dan menangis di sana.
"Adit...Mama mengirah kita tidak akan bertemu lagi Nak...Mama begitu merindukanmu Adit..Mama sangat merindukanmu," seru Mama Melinda, dengan air mata yang terus mengalir
Mata Aditya sudah berkaca-kaca. Pria itu nampak tak sanggup membendung kesedihan-nya lagi. Bertahun-tahun dia mengirah sang Bunda sudah meninggal, hingga pria itu hanya bisa membendung kesedihan, dan rindu sebab mengirah tubuh Ibu-nya telah terseret arus air.
Pelukan pada tubuh sang Bunda, begitu Aditya erat-kan, menyalurkan semua rasa yang dia pendam selama ini.
"Aku juga sangat merindukanmu, Maa...Sangat merindukanmu, aku tidak menyangkah Mama masih ada," seru Aditya dengan linangan air mata.
"Maaf Nyonya, Jika saya lancang!'
"Ada Simon?" tanya Aditya dengan mengurai pelukan mereka.
"Apakah kalung ini milik anda?"
"Bukan Simon! Karla yang meminta anak buah-nya, untuk memasangkan ini di leherku, dan melarang aku untuk melepaskan nya."
Tanpa pikir panjang, Simon langsung menarik kalung itu, hingga terlepas dari leher Mama Melinda.
"Mereka sedang lengah! Di kalung ini ada GPS, untuk melacak di mana anda berada Nyonya! Berhubung Nona Aisyah, Si kembar, dan Tuan Andi berada dekat dengan Nyonya Karla, bakar rumah ini, agar mereka mengirah kalau Nyonya Melinda, dan Nona ini sudah meninggal. Karena sekarang yang kita khawtir-kan mereka yang berada di Jakarta."
"Tapi cuma ini, tempat tinggal saya Tuan!"
"Tapi bisa saja, keselamatan anda juga terancam," jawab Simon cepat.
"Saya akan mengganti rugi berapa pun itu, dan segera kosongkan rumah ini, dan bakar saja, agar mereka mengirah Mama, dan kau sudah meninggal, Nona!"
__ADS_1
"Baik-lah, kalau itu jalan-jalan satu-satu-nya," jawab Lila.