SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
PERGI KE RUMAH SAKIT


__ADS_3

Wajah tampan Simon seketika berubah pucat, mendengar apa yang ditanyakan Tuannya.


"Maksud anda apa, Tuan?"


"Aku yakin kau menyukainya. Tadi kau pamit padaku, akan ke ruang kerjamu. Tapi nyatanya, kau datang kau menemui siCulun itu. Bukankah itu namanya, kalau kau menyukainya?"


Simon tersenyum lepas, mendengar pertanyaan dari terucap dari bibir Tuan mudanya. Ada rasa lega dalam diri pria itu, saat dia mengirah kalau Tuannya menaruh curiganya.


"Anda salah pahan Tuan! Ini tidak seperti yang anda kira. Saya hanya menganggap Aisyah seperti saudara saya sendiri, mungkin karena saya tidak memiliki suadara perempuan."


Terlibat perbincangan yang membahas tentang Aisyah, dengan Tuannya- sedikit terganggu dengan suara telepone, yang tiba-tiba terdengar pada ponsel milik Simon. Jemarinya menelusup ke dalam saku jasnya, dan mendapati nama Brigadir Anto pada layar HP miliknya.


" Siapa yang menghubungi, Simon?"tanya Aditya, dengan tatapan mata yang begitu intens pada Simon.


"Dari Brigadir Anto, Tuan!"


"Terima saja. Mungkin saja dia akan memberi kabar informasi perkembangan kabar, tentang kematian Ibuku."


"Baik Tuan.." jawab Simon, dengan langsung melanbuhkan jemarinya pada icon hIjau.


"Hallo Brigadir Anto!" sapa Simon pada penelpone diseberang sana.


"Hallo juga Sekretaris Simon! Apakah Tuan Aditya ada?"


"Beliau ada, dan sedang bersama saya."


"Kalau begitu tolong berikan padanya. Sebab ada hal penting, yang ingin aku bicarakan dengan Tuan Aditya."


"Baiklah," jawab Simon, dengan langsung memberikan ponselnya pada pengusaha kaya itu.


"Hallo, Brgadir Anto!" sapa Aditya saat ponsel itu, sudah menempel pada daun telinganya.


"Hallo juga, Tuan Aditya! Dan maaf sebelumnya, karena saya sudah mengganggu waktu anda."


"Tidak apa-apa. Kebetulan aku memang sedang tidak lagi sibuk. Katakan apakah ada perkembanga informasi apa, tentang kematian Ibuku? Hingga anda menelponeku."


"Maaf Tuan! Kali ini bukan. Apakah benar? Kalau wanita bernama Jumina, dengan usia lima puluh delapan tahun, warga kelurahan XXX, adalah pembantu anda?"


Wajah serius, seketika menyelimuti wajah tampan Aditya, setelah mendengar apa yang dikatakan anggota Polisi itu, yang membuat pria itu seketka dilanda rasa penasaran.


"Benar sekali. Dia adalah Pelayan saya. Tapi dia memilih untuk tidak tinggal di hunian saya. Dia bekerja sebagai tukang cuci. Dan kalau boleh tahu? Kenapa tiba-tiba anda menanyakan dia pada saya?"

__ADS_1


"Pelayan anda Jumina, ditemukan meninggal di depan kosnya."


"Apa?! Meninggal??" Iris hitam Aditya nyaris menyeruak, setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Anto.


"Benar sekali Tuan!"


"Baiklah, kalau begitu saya akan ke sana sekarang." Dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya.


Mendapati ekperesi wajah memucat Tuannya, membuat Simon segera melontarkan pertanyaan pada Tuannya. Apalagi setelah dia mendengar kata MENINGGAL, yang diucapkan Tuannya.


"Maafkan saya, Tuan! Sebenarnya ada apa? Dan siapa yang meninggal?" Simon menatap dengan intens pada Tuannya, akibat rasa penasaran yang teramat sangat.


"Jumina, pelayan yang bertugas untuk mencuci pakaian di rumahku, ditemukan meninggal di depan kosnya. Dan aku yakin, dia pasti dibunuh."


"Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang Tuan!"


"Ayo..." jawab Aditya, dengan segera mengambil langkah panjangnya, bersama Simon.


****


Resah yang menyelimutinya sedari tadi-akan rasa khawatirnya pada Rati, membuat Aisyah memutuskan untuk menemui teman baiknya itu, di rumah sakit.


Dua kakinya, sudah Aisyah pijakkan pada halaman rumah sakit. Tidak sabar ingin segera mengetahui kondisi dari sahabat Ibunya-Rati, membuat langkah yang Aisyah langkahkan nampak tergesa-gesa.


Baru saja langkah kaki itu, akan Aisyah hentakan, ayunan kaki itu seketika Aisyah urungkan, saat mendapati sosok yang sangat tidak asing baginya, yaitu Rati.


Meyakini kalau itu adalah sahabat baiknya, dengan segera Aisyah melenggankan dua kakinya mendekat pada Rati, yang sama sekali tidak menyadri akan kedatangannya.


"Rati..." panggil Aisyah yang masih sedikt jauh, dengan langkah kaki yang kian membawanya semakin dekat dengan Rati.


Rati. Gadis berambut sebahu itu-segera melemparkan pandangannya pada asal suara. Kaget menyelimuti wajah gadis muda itu, ketika mendapati keberadaan Aisyah yang tengah melangkah padanya.


"Aisyah..." gumamnya pelan, dengan melemparkan pandangannya terus pada Aisyah.


"Aisyah! Kamu?"


Wajah itu menampilkan mimik cemberutnya, dengan berpura-pura marah pada Rati, saat sudah berada dekat dengan gadis muda itu.


"Kamu ternyata bukan sahabatku. Kenapa kamu tidak memberitahukan, kalau Ibumu masuk rumah sakit."


Rati tersenyum miris, dengan pertanyaan yang dilontarkan Rati padanya.

__ADS_1


"Maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk merasahasiakan ini."


"Baiklah...Baiklah, kali ini aku memaafkanmu. Dan di mana kamar rawat Mamamu. Aku ingin sekali menjenguknya."


"Ayo! Kamar Mamaku, berada di lantai dua." Rati segera mengambil langkahnya, beriringan dengan Aisyah.


****


Pintu lift terbuka lebar. Dua wanita itu segera mengambil langkahnya panjangnya, melewati sebuah lorong yang tidak terlalu panjang, yang akan membawa keduanya pada kamar- di mana Ibunda dari Rati dirawat.


Ayunan langkah kaki keduanya seketika mereka hentikan, saat sudah tba di depan kamar rawat Ibunda Rati.


"Apakah ini kamar Mamamu, Rati?"


"Iya. Ini kamar Mamaku."


Perlahan satu tangan Rati meraih gagang pintu kamar, dan membukanya. Langkah kaki itu segera Rati ayunkan, masuk ke kamar rawat Ibunya.


"Ayo masuk! Bukankah kamu ingin menjenguk Mamaku?" tanya Rati, saat Aisyah masih setia memijakkan dua kakinya di depan kamar rawat.


"I..Iya," jawab Aisyah terbata, dengan langkah kaki yang kembali dia ayunkan.


Perlahan seketika langkah kaki itu, dengan tatapan mata yang Aisyah luruskan pada tubuh yang terbaring lemah di atas bed-hospital. Nanar tatapannya, yang penuh dengan rasa iba. Melihat tubuh kurus yang terbaringg lemah di sana, dengan beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya, untuk membuatnya agar dapat bertahan hidup.


"Apakah kamu anak tunggal Rati?" tanya Aisyah tiba-tiba, yang membela kesunyian itu.


Melihat kondisi Ibunya yang tak berdaya, membuat Rati kembali meneteskan air matanya. Pada siapa dia akan mengadu, atau bersandar dengan mengkeluh kesah apa yang beban dalam hidupnya. Genangan air mata yang sudah tertampung di matanya, dia usap cepat saat Aisyah tiba-tiba melontarkan pertanyaan padanya.


"Iya, Syah! Aku anak tunggal. Tanpa ayah, dan adik. Aku hanya berdua dengan Mamaku."


Aisyah tersenyum miris. Memikirkan kondisi Rati, yang sangat jauh berbeda dengannya. Walaupun keluargnya telah membuangnya saat mengetahui dirinya hamil, tapi setidaknya dia masih memilki keluarga yang lengkap. Yaitu ayah, Ibu, dan juga adiknya,Sarah. Apalagi dengan kehadiran Sikembar Bella, dan Sella dalam hidupnya, yang makin melengkapi kebahagiannya.


Aisyah segera mengambil langkahnya mendekat pada Rati, ketika mendapati sahabatnya sudah hampir menangis. Satu tangan itu Aisyah layangkan, merangkul penuh pundak Rati guna memberinya kekuatan.


"Jangan bersedih, walaupun kamu tidak memiliki adik maupun ayah untuk berbagi, setidaknya kamu memiliki aku."


Rati seketika melukis senyum kecilnya, bercampur dengan air mata yang sudah menetes didua pipinya. Rasa hangat seketika menjalar dalam diri gadis itu, mendengar kata-kata Aisyah yang seperti angin segar untuknya.


"Terima kasih, Aisyah! Kamu memang sahabat terbaikku."


Aisyah kembali melemparkan tatapan matanya, menatap pada Ibunda dari Rati, yang masih tertidur. Tidak ingin mengganggu waktu istirahat Ibunda dari Rati-Aisyah memutuskan untuk mengajak Rati mengobrol taman rumah sakit.

__ADS_1


"Kita ngobrol saja di luar. Agar tidak mengganggu waktu istirahat Mamamu."


"Baiklah, ayo!" Dengan melangkahkan dua kakinya ke luar dari dalam kamar, bersama Aisyah.


__ADS_2