
Gelap kian menyelimuti bumi, kala waktu terus melangkah yang membawa para penghuninya, hanyut dalam mimpi indahnya.
Aisyah mendesah napas panjangnya, saat memorynya kembali teringat akan keinginan Aditya yang mengajaknya untuk bertemu.
Iris hitamnya Aisyah lemparkan pada jam dinding, yang tertancap di dinding kamar itu-dan mendapati waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Dia meminta kalau Bella dan Sella sudah tidur, untuk aku menemuinya di ruang kerja," gumam Aisyah. Tubuh itu seketika beranjak dari duduknya, dengan melangkah menghampiri pada Bella, dan juga Sella yang sudah terlelap dalam tidurnya.
Selimut tebal yang terkoyak, Aisyah bentangkan kembali menutup sempurna hingga mencapai lehernya.
"Mimpi yang indah, anak-anak Mommy," gumam Aisyah dengan melabuhkan kecupan singkat pada kedua pipi putrinya, dan berlalu dari dalam kamar.
Pintu kamar, Aisyah rapatkan dengan pelan, kala dua kakinya sudah menghantarkan diri itu di depan kamar kedua putrinya. Temaram suasana menyambutnya, saat dua kakinya mulai menjelajahi setiap barisan anak tangga, yang menghantarkan dirinya pada lantai bawa.
Mengedarkan pandangannya kesegalah arah, guna mencari di mana letaknya ruang kerja seorang Aditya. Bola mata yang berputar, seketika terhenti, ketika diri-nya mendapati satu ruangan yang masih terlihat terang, olehcahaya lampu,
"Itu pasti ruang kerjanya," gumam Aisyah dengan melangkahkan dua kakinya, menuju ruangan yang dia yakini sebagai ruang kerja Aditya.
Aisyah langsung melabuhkan ketukan pada badan pintu-begiu dirinya sudah berada di depan ruangan itu. Hingga terdengar suara Aditya dari dalam, yang memintanya untuk masuk.
"Masuk.."
Jemarinya menggapai gagang pintu, dan melebarkannya. Pintu yang sudah melebar, tak membuat dua kaki itu langsung mengambil langkahnya. Netra matanya memandang jauh ke depaan, pada Aditya yang sedang duduk di kursi kerjanya.
"Kenapa kau diam saja? Ayo masuklah!" pinta Aditya, dengan lemparan lurus pandangannya pada Aisyah.
Dua kaki itu segera Aisyah ayun-kan, begitu mendengar titah Aditya yang membawa tubuh itu kian ke dalam ruangan.
"Maaf saya baru datang, karena saya masih menunggu Sella dan Bella tidur."
"Tidak masalah, dan duduklah."
"Baiklah," jawab Aisyah dengan langsung melabuhkan tubuhnya, pada sebuah sofa panjang, yang berada di dalam ruangan itu.
Hening melanda. Diam, dan tidak tahu harus berbicara apa? Suasana akrab yang dulu menyelimuti keduanya saat masih di tempat kerja, kini musnah semuanya dengan sudah terbongkarnya kenyataan.
Suasana hening kian menyelimuti dalam ruangan, saat dua-dua-nya masih sama-sama bungkam. Untuk menghilangkan kecanggungan, Aditya berpura-pura batuk.
"UHUUk...UHUUK!" Batuk
"Sebelumnya aku mengucapkan selamat datang di rumahku."
Aisyah melukis senyum kikuknya, dengan jemari yang saling menggenggam kala rasa gugup tiba-tiba muncul, setelah Aditya bersuara padanya.
"Te...terima kasih Tuan..Karena anda sudah mengijinkan saya untuk tinggal di rumah ini."
__ADS_1
Aditya menghela napas beratnya, mendengar apa yang baru saja dikatakan Aisyah. Sebab nyatanya, pria itu sama sekali tidak menginkan wanita berambut panjang itu, untuk tinggal satu atap.
"Dan aku yakin kau pasti sudah tahu, kalau bukan aku yang menginginkan kau tinggal di rumah ini. Tapi kedua putriku."
Mendengar apa yang baru saja Aditya katakan, membuat dua matanya berpaling cepat pada Aditya, dengan ucapannya yang menyebut kedua putriku.
"Bukan putri anda, Tuan! Tapi putri kita. Karena aku yang mengandung, dan melahirkan," ucap Aisyah tegas.
Tegukan luda serasa berat, setelah mendengar ultimatum dari Aisyah. Sorot mata itu seketika tajam, memandang tidak suka pada Aisyah. Tapi kemudian berusaha dia tepis, untuk menyeimbangi Aisyah.
"Maaf! Maksudku putri kita."
Hening kembali menyelimuti ruangan itu, setelah keduanya sama-sama bungkam setelah melewati perdebatan kecil tadi.
Untuk mengusir kecanggungan antara keduanya Aisyah berpura-pura memutar bola matanya, menyapu bersih seisi ruangan memandang setiap benda, atau pun figura yang menghiasi ruang kerja Aditya.
"Ada satu hal yang harus kau patuhi, dan itu peraturan yang aku buat."
Sepasang matanya seketika menatap penuh pada Aditya, dengan raut wajah penuh tanda setelah mendengar ucapan pria itu yang sangat menarik perhatiannya.
"Apa itu Tuan?! Katakan padaku."
"Aku sangat yakin, kalau kau sudah tahu tujuanku melakukan inseminas.
Mendesahkan napas panjangnya, mendengar lagi-lagi Aditya mengungkit soal inseminasi itu.
"Baguslah kalau kau sudah tahu."
"Jadi apa yang anda ingin saya lakukan?"
Menyeringai rendah, dengan dua mata menukik tajam melemapar pada Aisyah. Dan dalam dirinya, dia mengagumi sikap Aisyah, yang sepertinya tidak ada rasa takut sedikit pun padanya.
"Nikmati hidupmu, dan saya tidak akan membatasinya. Tapi yang harus kamu lakukan, kalau saya tidak mau orang di luar tahu kalau kamu itu adalah Ibu biologis dari Bella, dan Sella."
Bak petir disiang hari, mendengar apa yang Aditya katakan. Bagaiman bisa dia menyembunyikan identitasnya, kalau dia itu adalah Ibu dari kedua putri kandungnya. Tapi saat ini Aisyah sadar, dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang hanya bIsa dia lakukan adalah mengikuti permainan Aditya, agar dapat terus bersama kedua anaknya.
"Kenapa kau diam saja?! Apakah kamu keberatan dengan apa yang saya katakan?" tanya Aditya tiba-iba, yang membela lamunan Aisyah seketika.
"Tidak Tuan... Saya sama sekali tidak keberatan," jawab Aisyah tegas.
"Baguslah, kalau kau tidak keberatan."
Hening kembali melanda, kala dua-duanya sama-sama tenggelam dalam suasana hati mereka masing-masing.
Membiarkan suasana sepi semakin menghanyutkan, hingga tiba-tiba saja Aisyah kembali bersuara.
__ADS_1
"Tuan.."
"Ada apa?"
"Aku hanya ingin menempati kamar bersama kedua anakku."
"Terserah aku tidak perduli, dan bukan anakmu tapi anak kita."
"Ya...Ya... Anak kita," seru Aisyah kesal.
"Apakah kau sedang marah padaku?!" tanya Aditya dengan intonasi suara memulai meninggi dari sebelumnya.
"Tidak Tuan! Saya sedang tidak kesal dengan anda."
"Terus kenapa tadi wajahmu, terlihat kesal begitu?"
"Itu mungkin hanya perasaan anda saja, Tuan!" jawab Aisyah dengan memberi senyuman palsunya, agar Aditya dapat percaya.
"Tuan.."
"Ada apa?"
"Apakah anda memiliki kekasih?"
Kening Aditya mengkerut, dengan dua mata yang lebih dia intenskan pada Aisyah kala wanita itu karena wanita itu menanyakan kehidupan pribadinya.
"Kau itu bukan siapa-siapaku! Kenapa aku harus menjawabnya?!" Dengan nada yang terdengar tidak suka.
"Apakah anda lupa, kalau saya adalah Ibu dari anak anda?!"
"Kau...!!" Aditya nampak geram dengan tingkah Aisyah yang begitu berani padanya.
"Saya hanya minta, anda tidak boleh membawa teman wanita, atau kekasih anda ke rumah ini kalau anda tidak mau Bella, dan Sella membenci anda. Karena saat ini mereka tidak tahu, hal apa yang membuat mereka ada di dunia ini. Anda sudah mengertikan maksud saya?!"
Aditya mendesahkan napasnya panjang-saat harus menjawab mengiyahkan permintaan yang sangat sulit itu. Dan memang benar apa yang dikatakan Aisyah, kalau kedua putri mereka pasti mengirah kalau mereka berdua lahir dari kedua orang tua yang saling mencintai.
"Baiklah, dan kau juga harus seperti itu. Bila kau dekat dengan pria mana pun, aku akan mematakan kakimu."
"Apaa???" hardik Aisyah yang begitu terkejut, dengan ucapan Aditya.
Aditya melukis senyuman tipisnya, menatap dalam pada Aisyah yang kaget dengan apa yang baru saja dia katakan.
"Ternyata dia lebih cantik, kalau dilihat secara langsung," bathin Aditya tanpa dia sadari.
Seketika kepala itu dia hempaskan kekiri, dan kanan berusaha menghilangkan kekaguman itu.
__ADS_1
"Apa yang aku pikirkan?! Memang siapa dia? Ingat Aditya kamu hanya menginkan anakmu, bukan sibodoh ini!" gumamnya dalam hati.