
Arah matanya menatap tajam pada layar laptope-nya, saat memeriksa data-data penting, pada perusahaannya. Rangga memegang tenggorokannya, kala dahaga tiba-tiba saja menyerang. Tanpa mengalihkan tatapan matanya dari layar laptope itu, Aditya mengulur panjang tangannya- menggapai gelas kaca itu. Arah pandangnya seketika beralih pada gelas itu, saat merasa gelas itu begitu ringan di tangannya. Wajah tampannya seketika diselimuti amarah, saat tidak terisihnya air putih dalam gelas tranparant itu.
Dengan segera Aditya meraih gagang telepone, dan menghubungi Simon, dan tentu saja, untuk mengduhkan itu pada Simon.
"Hallo, Tuan!" jawab Simon, saat sambungan telepone sudah tersambung.
"Simon! Kenapa pagi ini, tidak ada minuman di ruangan ku? Dan meja kerjaku, nampak juga berdebu. Di mana tenaga bersih-bersih, yang tugas membersikan ruanganku?!"
"Maafkan saya Tuan.. Karena tidak sempat memeriksa ruangan anda. Karena setahu saya, Cleaning Service yang ditugaskan untuk membersikan ruangan anda, selalu masuk. Dan saya akan segera menghubungi Ibu Lidya! Sebagai penanggung jawabnya."
"Kalau begitu cepat hubungi dia! Sebelum kesabaranku hilang." Wajahnya semakin saja memerah, denggan kilatan yang sudah terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Baik Tuan... Saya akan segera menghubungi dia." jawab Simon, dengan langsung mematikan sambungan teleponenya.
****
Menatap intens pada layar laptopenya, dengan pandangan mata yang begitu fokus, dan sesekali arah pandang wanita paruh baya itu- menatap pada lembaran kertas, saat memasukkan data-data penting, dalam komputer itu. Suara telepone pada telepone yang berada di atas meja kerjanya seketika bergetar, hingga tatapan itu seketika beralih, dan menggapai gagang telepone itu.
"Hallo..." sapa Lidya, pada penelpone di seberang sana.
"Hallo Bu Lidya! Di mana Office Boy? Yang khusus membersikan ruangan Tuan Aditya, dan menyediakan minumannya. Beliau baru saja menelpone, dan marah-marah. Karena ruangannya kotor."
Wajah Lidya seketika memucat, akan menyadari kelalaiannya yang baru menyadari- kalau Cleaning Cervise yang khusus membersikan ruangan Presdir, baru saja mengundurkan dirinya pagi tadi.
"Maafkan saya, sekretaris Simon! Ini kelalaian saya, karena lupa kalau OB yang kusus membersikan ruangan Pak Aditya, baru saja mengundurkan dirinya pagi tadi, dengan alasan_ ingin pulang kampung."
"Terus bagaimana ini, Ibu Lidya! Anda sendiri sangat mengetahui pribadi dari Presdir kita. Jadi anda segera mencarikan orang yang menggantikan Pak Hasan, dan minta padnya untuk segera datang, ke ruangan Tuan Aditya agar segera membersikan ruangannya."
"Baik, sekrertaris Simon! Saya akan segera mencari pengganti dari Pak Hasan, dan menyuruhnya untuk ke ruangan Pak Aditya."
"Baiklah, kalau begitu saya tunggu kedatangannya." Dengan mengakhiri, sambungan telepone itu.
__ADS_1
Tubuh itu seketika bersandar pada sandaran kursi. Saat isi kepala wanita paruh baya itu- bekerja, memikirkan siapa yang akan menggantikan tugas Pak Hasan, membersikan ruangan Preasdir.
Lamunan Lidya, seketika terbelah- tak kalah terdengar ketukan pintu, dari luar ruangan.
"Masuk...!" serunya, dengan sedikit terikan.
Pintu ruangan terbuka lebar, dan menampilkan wanita berkulit gelap, yang tak lain adalah Aisyah Maharani- dengan membawa membawa sebuah kantong palstik dalam genggamannya.
Aisyah mengulum senyum kikuknya, dengan ayunan kaki melangkah ke dalam ruangan. Kantong plastik hitam itu-dia letakkan di atas meja kerja Lidya.
"Maaf, Bu.. Karena sedikit lama. Karen tadi saya masih mengantri."
"Saya yang seibenarnya minta maaf, karena sudah merepotkan kamu, dengan meminta kamu untuk membeli makanan buat saya."
"Tidak apa, Bu! Dan kalau begitu, saya permisi dulu." pamit Aisyah, dengan mengayunkan kaki ke luar dari dalam ruangan itu.
Baru saja Aisyah menganyunkan dua kakinya, tiba-tiba saja terdengar suara panggilan dari Lidya, yang menghentikan seketika langkah kaki itu.
"Nisa...."
"Ada apa Bu?"
"Apakah masih ada yang kamu kerjakan setelah ini?"
"Tidak, Bu! Karena mungkin hari ini, hari pertama saya bekerja tadi kerjaan saya, belum banyak."
"Oh... Begitu..."
"Iya Bu.."
"Berhubung karena kamu sudah tidak memiliki kegiatan lagi- sekarang juga saya perintahkan kamu, untuk pergi ke ruangan Presdir. Untuk membersikan ruangannya."
__ADS_1
Wajah yang tadi nampak biasa, seketika nampak begitu kaget- dengan bola mata nyaris menyeruak. Dirinya berusaha mengindar dari Ayah-biologis kedua putrinya, sekarang justru dua diminta, untuk mendatangi pria itu.
"Maksud Ibu? Ibu meminta saya, untuk mendatangi ruangan Presdir sekarang, dan juga membersikan ruangannya." Aisyah kembali bertanya, untuk mempertegas titah Lidya.
Dua alisnya bertaut. Wajahnya diselimuti keheranann, melihat raut wajah Aisyah, yang begitu kaget- mendengar titah darinya.
"Kenapa eksperesimu seperti itu? Bukankah kamu masih berada dalam kerja? Dan kamu di sini, bekerja sebagai tenaga bersih-bersih , jadi salahnya di mana? Jika saya memin;ta kamu, untuk membersikan ruangan Pak Aditya."
Aisyah masih saja memelaskan wajahnya. Diri itu seperti kehilangan kekuatan. Ingin rasanya saat ini dia berteriak di depan Lidya- menolak titah wanita tua itu. Sepasang matanya menatap penuh pada Lidya, dengan tatapan penuh harap.
"Kenapa harus saya, Bu? Kenapa tidak yang lain," pinta Aisyah.
Sorot mata Lidya, menatap dengan sedikit tajam, mendapati penolakan Aisyah. "Jadi kamu menolak perintah saya, sebagai atasanmu!"
Ucapan Lidya, dengan volume suara meninggi, mampu membuat nyali Aisyah menciut. Karena bagaimanapun , dia tidak bisa menolak perintah Lidya, karena memang dirinya masih berada di dalam kerja.
"Mau bagaiamana lagi? Karena memang profesiku, adalah seorang tenaga bersih-bersih." batinnya, pasrah akan keadaan.
"Baiklah Bu.. Saya akan ke ruangan Pak Aditya, untuk membersikan ruangannya."
"Kalau begitu, sekarang juga kamu pergi ke ruangannya."
"Baik Bu.." jawab Aisyah pasrah, dengan kembali membalikkan tubuh itu-berlalu dari ruangan Lidya.
Genggaman tangan itu, membawa beberapa alat-alat bersih- yang akan dia bawah- menuju ruangan Aditya Wirawan.
Tubuh itu bersandar pasrah pada dinding lift, dan melabuh ibu jarinya pada angka dua puluh. Wajahnya terlihat sangat tidak bersemangat, kala rasa takut itu kembali menghinggapinya.
"Tuhan... Aku tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan kehidupanku nanti. Tapi aku minta, iijinkan aku tetap bersama kedua purtriku." gumam Aisyah, dengan arah pandang terus menatap pada angka-angkah yang terus berganti, yang akan meembawanya pada lantai dua puluh.
"Ting.." Pintu lift terbuka lebar. Dua kaki itu tidak langsung, melangkah ke luar. Menghembuskan napas panjangnya, mempersiapakan diri sebaik mungkin.
__ADS_1
"Tuhan... Sekali lagi kumohon, jangan biarkan pria itu mengetahui siapa aku." gumamnya, dan segera mengambil langkah panjangnya berlalu dari dalam lift.
Diri itu kian diselimuti rasa takut, tapi Aisyah tetap melanjutkan langkah kaki itu. Melangkah, dan terus melangkah- yang membawanya semakin dekat dengan ruangan Prsdir. Dari jauh arah pandang itu menangkap sosok pria, yang sedang sibuk dengan berkas-berkas di atas meja kerjanya.