
Dua matanya melempar begitu jauh, menatap keindahan alam sekitar yang masih dipenuhi kabut, lewat jendela kecil dari kamar milik nya.
Suara ketokan menyapa pada badan pintu kamar, yang membuat arah pandang Mama Melinda, beralih seketika.
Pintu kamar terbuka, dan tampaklah Siti di sana.
"Ada apa Siti?" tanya Mama Melinda, saat mendapati keberadaan pelayan muda itu.
Sedikit resah wajah itu, dan dia pun langsung menutup pintu kamar itu segera.
"Apakah Nyonya, sudah menyiapkan semua pakaian Nyonya?" tanya Siti, seraya melangkahkan dua kakinya mendekat pada Mama Melinda.
"Sudah!" jawab Mama Melinda, dengan menunjukkan sudut ekor mata-nya pada kolong tempat tidur, di mana sebuah tas hitam tersimpan di bawah sana.
"Baguslah, setidaknya kalau rencana ini berhasil, anda tinggal langsung pergi saja!"
Suara gedoran menyapa begitu kuat pada pintu kamar Mama Melinda, yang langsung mengalihkan pandangan kedua wanita, beda usia itu.
"Itu pasti Baron!" Dan Siti segera lebih memasukkan tas hitam milik Mama Melinda, lebih ke dalam, agar tidak terlihat oleh Baron.
Memastikan tas Mama Melinda tidak terlihat, baru pelayan muda itu membuka pintu kamar.
"Ada apa Baron?!"
Tak langsung dia jawab. Tatapan mata bodyguard itu melempar pada Mama Melinda, yang tengah balik menatapnya.
"Aku akan pergi ke kota selama dua hari. Kau bantu awasi wanita tua itu, jangan sampai dia kabur! Karena sekitar satu minggu lagi, Nyonya Karla akan datang ke vila ini. Kau mengerti?!"
Memucat wajah Siti, tapi dia berusaha samarkan dengan sebuah tawa di wajah.
"Ha...Ha...Ha...Baron, kau tenang saja Melinda pasti tidak akan kabur. Jadi kau bisa serahkan semua padaku."
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu."
"Baiklah," jawab Siti tersenyum, dan segera menutup cepat kembali pintu kamar itu.
"Aku takut Siti...Aku takut, jika Karla, atau pun Baron akan menyakiti kalian, setelah aku pergi dari vila ini," seru Mama Melinda pelan.
"Jangan pikirkan kami, Nyonya! Sekarang yang harus anda pikirkan adalah diri anda. Dan aku sudah tahu, harus melakukan apa agar Baron tidak curiga, dan aku akan mengantar anda menemui tukang ojek-temanku, dan dia yang akan mengantarkan anda sampai kota."
"Baiklah, dan sekali lagi terima kasih Siti!"
Tersenyum, dan berucap pada Mama Melinda.
"Kalau begitu saya permisi dulu, saya yakin Baron sudah pergi. Saya, dan Bibi Ima akan segera membuatkan minuman yang enak untuk para pekerja, dan juga bodyguard yang berjaga di depan, dan jika semua-nya sudah beres saya akan langsung menjemput anda, Nyonya!"
"Baiklah Siti, aku tunggu."
****
__ADS_1
Hal ini sangat gila! Setidak-nya hal itu-lah, yang ada dipikiran Siti saat ini. Karena dia harus memberi minuman pada sesama Pelayan, yang berpihak pada Karla, dan juga bodyguard.
Dengan memegang sebuah nampan, yang berisi minuman, yang sudah dia campurkan dengan obat tidur, Siti melangkahkan dua kakinya, menuju sebuah taman dan menyeruhkan mereka yang berada di sana.
"Hallo semuanya....Ayo minum...Enak lho minuman-nya, mumpung masih hangat..." seru Siti dengan teriakan, agar mereka yang berada sedikit jauh dapat mendengarkan suara itu.
Suara Siti yang begitu menggelegar, mampu mengalihkan banyak pasang mata, yang sedang berada di sekitar sana. Dan begitu tertarik, mereka langsung menghampiri pelayan muda itu, saat melihat penanpakan minuman yang sudah dia sajikan di atas meja.
"Minuman apa ini, Siti?" tanya salah satu Bodyguard, seraya meraih gelas minuman itu dari atas meja.
"Yang jelas bukan racun Bang! Minum deh, pasti kamu suka," jawab Siti, dengan melemparkan senyum manisnya, pada pria itu.
Tanpa berbas basi, pria bertubuh kekar itu langsung meneguk sedikit minuman yang Sisi sajikan. Udara dingin sekitar vila, membuat minuman itu semakin pas di lida, yang dapat membantu menghangatkan tubuh-mereka, dari dinginnya udara.
"Bagaimana Bang? Enakkan?"
"Sangat enak Siti!" Dan dia pun, meminum hingga tandas.
Dan yang lain pun langsung menyambar, sebab minuman yang di buat Bibi Ima, benar-benar nikmat.
Usai memastikan mereka yang berada disekitar situ meminum-minuman yang Bibi Ima buat, Siti langsung berlalu pergi dari sana, guna memantau situasi.
"Bagaimana Siti? Apakah sudah berhasil?"
"Sudah Bibi! Kita tunggu, beberapa menit lagi!" jawab Siti pada Bibi Ima.
Menunggu...Dan menunggu, dengan raut wajah yang begitu cemas, yang terlihat dari dua wajah Bibi Ima, dan juga Siti.
"Sudah berhasil Bibi!" seru Siti, yang sedari tadi setia memandang dari balik dinding.
"Kalau begitu, cepatlah kau bawa Nyonya Melinda ke luar, dari vila ini! Dan cepat kembali, karena kita juga harus berpura-pura tidur seperti mereka, agar tidak ada yang curiga."
"Baiklah!" jawab Siti, dan berlalu dari dapur itu.
****
"Ayo cepat Nyonya!" Siti menarik tangan Melinda, saat melewati taman, di mana para Pekerja, dan juga Bodyguard dalam kondisi tertidur.
"Mereka tidak mati-kan Siti?"
"Tidak Nyonya! Saya tidak sejahat itu!"
Pintu gerbang besar yang semula terkunci, kini sudah di buka oleh Siti, setelah dia mengambil kunci, dari saku salah satu bodyguard.
Saat sudah berada di luar-Pelayan muda itu, langsung menarik tangan Mama Melinda, agar melangkah dengan cepat, setidaknya dia harus segera kembali ke vila sebelum mereka semua sadar.
Dan nampak di ujung jalan sana, sudah ada seorang tukang ojek, yang menunggu.
"Dimas! Ingat kamu harus hati-hati! Karena aku sudah membayarmu banyak!" seru Siti, saat sudah berada dekat dengan pria itu.
__ADS_1
"Pasti Siti!" Dan tatapan mata pria itu, beralih pada Mama Melinda.
"Ayo Nyonya, anda harus segera naik! Agar kita cepat pergi dari daerah ini!"
"Terima kasih Siti! Aku akan menghubungimu nanti!" ucap Melinda, dan seraya memeluk singkat Siti.
"Cepat pergi Nyonya!"
Kendaraan roda dua, yang membawa Mama Melinda sudah berlalu pergi, dari tempat itu. Tetesan bening yang sedari tadi Siti tahan- akhirnya luruh juga. Dia melemparkan tatapan mata-nya jauh, pada Mama Melinda yang sudah tak jelas terlihat.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu, Nyonya! Dan semoga saja kau cepat bertemu dengan putramu," seru Siti, dan berlalu pergi kembali ke vila.
****
Matahari kian memancarkan cahayanya, kala waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Mama Melinda kini sudah berada di pusat kota, dan tentu saja wanita itu tetap ber-hati-hati, karena takut jika saja dia dapat bertemu dengan Baron.
"Aku harus menghubungi Aditya! Tapi bagaimana bisa? Sementara HP saja tidak aku punya," gumam Mama Melinda, dengan menewarangkan dua mata-nya jauh.
Melemparkan pandangan ke lawan arah, dan Mama Melinda mendapati seorang wanita muda sedang memainkan HPnya, dan berjalan ke arahnya.
Sedikit ragu, tapi memikirkan tidak ada-nya jalan lain, mau tidak mau Mama Melinda memberanikan diri untuk meminta pinjam ponsel pada wanita muda itu.
"Mba....Mba...." panggilnya dengan setengah teriakan.
"Saya Buu!" tanya gadis muda itu, dengan menunjuk diri sendiri.
"Iya."
Gadis muda yang diperkirakan berusia dua puluh tahun itu, langsung menyambangi pada Melinda yang sedang duduk di sebuah kursi panjang.
"Ada apa Buu?"
"Bolehkan Ibu meminjam HPmu? Ibu ingin menelpone anak Ibu."
"Tentu saja boleh Buu!" jawab-nya tersenyum, dengan langsung memberi ponsel milik-nya, pada Mama Melinda.
Saat ponsel gadis itu sudah berada dalam genggaman, Melinda langsung menarikan jarinya di atas angka-angka yang berbaris rapi.
Wajah itu berubah mendung, saat nomor putranya yang sangat dia hafal, sudah tak dapat dia hubungi lagi.
"Ya Tuhan...Nomor putraku sudah tidak aktif lagi," gumam Mama Melinda dengan mata berkaca-kaca, sebab merasa putus asa.
"Coba hubungi lagi Buu!" pinta gadis muda itu.
"Iya. Saya akan menghubungi nomor yang lain!" jawab Mama Melinda, dan langsung mengetik nomor HP Simon di atas layar datar itu.
Dan sambungan telepone itu, dapat tersambung.
"Hallo..."
__ADS_1
Mama Melinda langsung meneteskan air mata, saat dia mendengar suara Sekretaris anak-nya diseberang sana.
"Hallo Simon! Ini aku, Mama Melinda Ibu dari Tuan-mu Aditya."