SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
KESEDIHAN ANITA


__ADS_3

Tamparan yang Karla layangkan pada Melinda, sangat kuat hingga membuat tubuh wanita paruh baya itu, seketika terjatuh.


Siti begitu terkejut, sebab tidak menyangkah Karla- akan melakukan ini pada Melinda. Hingga rumput yang berada di dalam genggamannya, segera dia jatuhkan.


"Nyonya! Apa yang anda lakukan? Kenapa anda tega menampar Nyonya Melinda?!" tanya Siti, dengan langsung menghampiri Melinda.


"Kau memanggil wanita tua ini, Nyonya! Ingat Siti! Akulah adalah, Nyonyamu. Bukan wanita tua itu.." Amarah masih saja membakar diri Karla, wanita itu sepertinya masih tidak puas dengan siksaan yang dia berikan pada istri tua suaminya itu.


"Mereka sendiri yang ingin memanggilku seperti itu. Padahal, aku sama sekali tidak pernah meminta mereka memanggilku dengan sebutan Nyonya. Tapi mungkin saja, menurut mereka akulah yang lebih pantas mereka panggil seperti itu, dari pada kau- yang merupakan wanita perebut suami orang."


Apa yang dikatakan Melinda, semakin meluapkan amarah dalam diri Karla. Kilatan api amarah terlihat jelas di mata wanita muda itu. Mengambil langkah panjangnya- menghampiri pada Melinda. Dan baru saja- dia akan kembali memberi tamparan pada wanita tua itu-tiba-tiba saja, ada seseorang yang memeluknya dari belakang.


"Lepaskan...! Lepaskan aku...Aku akan membunuh wanita ini... Aku akan membunuhnya..." Karla terus saja memberontakkan tubuhnya, kala pelukan itu begitu kuat memenjarakan dirinya.


"Jangan Nonya! Aku minta, jangan lakukan ini. Jangan melakukan hal bodoh ini, Nyonya!" Baron berucap, kala pelukan itua dia kuatkan.


"Tidak Baron.. Aku harus memberi wanita tua ini, pelarajan. Wanita ini, sudah sangat keterlaluan, karena sudah berani mengataiku." Karla yang sudah terkabar akan api amarah, masih saja berusaha melepaskan pelukan anak buahnya, yang memeluknya dengan begitu erat.


"Tidak! Aku tIdak akan membiarkan anda, melakukan hal bodoh itu." Dan tatapan mata itu beralih pada Siti, yang masih berada di sana.


"Siti! Cepat kau bawah Melinda ke dalam, aku tidak mau hal buruk lagi terjadi."


"Baik..." Dan menghampiri pada Melinda. Menggandeng tangan wanita tua itu. "Ayo Nyonya! Kita pergi dari sini, sebelum hal buruk terjadi." Ajaknya, yang dibalas oleh Melinda hanya dengan sebuah anggukan kecil.


Karla semakin saja menggila. Melihat Melinda yang sdah berlalu pergi, membuat wanita itu, semakin memberontakkan tubuhnya agar Baron dapat melepaskannya.


"Lepaskan aku Baron...Lepaskan..."

__ADS_1


"Tidak Nyonya... Tidak..." Dengan semakin mempererat pelukan itu, saat tubuh Karla memberontak dalam pelukannya.


Beberapa menit telah berlalu, setelah kembalinya Melinda, Baron langsung melepaskan pelukan itu.


Sepasang mata itu begitu tajam, kala sorot mata itu melempar pada anak buahnya, Baron.


"Kenapa kau mencegahku untuk memberi pelajaran pada wanita tua itu! Apakah kau tidak mendengar bagaimana dia mengataiku?" Nada penuh penekanan, akibat kekesalannya yang teramat sangat pada lelaki bertubuh atletis itu.


"Aku hanya tidak mau, anda bertindak ceroboh Nyonya! Karena tIdak ada gunanya, anda membunuhnya."


Mendecak kesal, saat sorot mata itu semakin Karla tajamkan pada pria di depannya.


Keheningan seketika keduanya, kala sama-sama tidak ada yang berbicra antara Karla, dan anak buahnya.


Baron hanya memilih diam. Pria itu sengaja membiarkan Nyonya-nya larut dalam suasana hatinya sendiri, karena dia tahu kalau Karla masih kesal, dengan dirinya.


"Kau dari mana saja, Baron? Karena aku baru mendapatimu hari ini." tanya Karla tiba-tiba, yang memecahkan kesunyian yang menyelimuti keduanya.


Baron menyeringai kecil. Dan dia sudah tahu, kalau kedatangan Karla ke vila ini, semata-mata hanya, karena menginginkan dirinya.


"Apakah kau sedang menginginkanku, Nyonya!" Tatapan liar Baron, kala dua mata itu menatap pada Karla dengan tatapan penuh arti.


Karla menampilkan senyum menggodanya. Mendapati sambutan hangat dari Baron, membuat wanita itu dilanda bahagia. Dua kakinya mengambil langkah kecilnya, yang semakin membawanya pada Baron-hingga tIdak ada jarak yang memisahkan keduanya lagi. Jemarinya menari di dada bidang pria itu, mengukir indah di sana. Tatapan mata itu-begitu menggoda, kala dua pasang mata itu saling beradu.


"Aku selalu saja merindukan kehangatanmu, Baron.. Dan hal itulah, yang membuat aku selalu datang menemuimu di vila ini."


****

__ADS_1


SURABAYA


Dari balik tirai, sepasang mata Sarah! Menatap ke luar rumah, di depan rumahnya. Sudah bebarap tahun, sejak kepergian Aisyah- rumah mereka tak pernah sepi dari pantauan pria-pria asing, yang selalu saja mengawasi rumah mereka.


Mimik cemberut, dan kembali merapatkan tirai tranparat itu menatap pada Ibunya, yang duduk di sana.


"Dasar menyebalkan! Ini sudah melewati beberapa tahun, tapi mereka sepertinya tidak cape, untuk mengintai disekitar rumah kita terus. Padahal Kak Aisyah, sudah tidak tinggal bersama kita lagi."


Seketikan buliran bening membasahi kedua pipi- Anita, kala rasa penyesalan teramat sangat kembali menghampiri, yang saat itu tidak mempercyai ucapan putrinya.


" Ini bahkan sudah hampir enam tahun lebih, tapi Kakakmu Aisyah tidak pernah menghubungi kita. Padahal selama ini, Mama sengaja tidak menggantikan nomor Hp-Mama, karena Mama sangat mengharapkan dia dapat menghubungi kIta, suatu hari ini."


Sarah menampilkan wajahnya kesalnya, mendengar ucapan Ibunya, yang begitu membela Kakak perempuannya Aisyah.


"Kenapa sih?! Dari dulu, Mama selalu saja membelanya. Dan kenapa juga Mama begitu polos? Sampai bisa mempercayai kebohongan, yang dikatakan oleh Kakak Aisyah. Bisa saja dia membohongi kita, dengan mengatakan kalau dia adalah Korban salah inseminasi. Karena mungkin saja, tanpa sepengatuhuan kita, dia sudah menjual dirinya pada Tuan Aditya Wirawan, hingga membuatnya hamil."


"Tutup mulutmu, Sarah! Dari dulu kamu selalu saja berpikiran buruk tentang Kakakmu. Dan Mama sangat yakin, kalau Kakakmu Aisyah! Adalah korban salah inseminasi." Dengan langsung beranjak dari duduknya, dan berlalu begitu saja meninggalkan Sarah, yang terlihat sangat marah.


"Dari dulu, selalu saja Mama membela Kak Aisyah. Selalu saja, dia. Dan kenapa juga?! Harus dia yang mengandung anak Tuan Aditya! Kenapa bukan aku?!"


JAKARTA


Matahari telah kembali menenggelamkan dirinya, kala gelap perhalan mulai menyelimuti bumi, dengan hadirnya jutaan bintang, dan bulan yang menyinari awan yang sudah tertutup gelap.


Satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya, Aisyah tanggalkan, hingga tubuh polos itu ter,ekspos. Sorot matanya beralih pada cermin, yang menampilkan tubuh polosnya di sana. Dia tersenyum miris, saat lelah melanda diri yang harus terus hidup dalam penyamaran.


"Sangat melelahkan harus terus hidup seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi! Jika keadaan memaksaku, untuk harus terus seperti ini. Dan selamanya akan terus seperti ini, karena hanya ini jalan satu-satunya, agar aku bisa terus dapat bersama kedua putriku."

__ADS_1


Tangan itu mengulur, menghidupkan kran air. Jatuhan air yang ke luar membasahi sekujur tubuh polos Aisyah-dan perlahan memudarkan hitam kulit itu, kala gesekan tangan menyapu cream yang menutup kulit aslinya.


__ADS_2