SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
BERBINCANG


__ADS_3

Apa yang baru saja terucap dari bibir Aisyah, sontak membuat raut wajah kedua pria di dalam ruangan itu.


Dan tentunya, dengan ekspresi yang berbeda.


Aditya dengan ekpresi tidak percaya-nya, karena saat dia meminta Aisyah menjadi istrinya, wanita itu menolak mentah-mentah, dan memberikan-nya waktu hingga esok hari.


Tapi semua di luar dugaannya. Aisyah justru cepat memberi jawaban padanya.


Sementara Simon-pria itu, melonjak kegirangan. Sebab usaha untuk menyatuhkan kedua orang yang saling membenci itu, berhasil. Sebab usahanya, ternyata tidak sia-sia.


"Anda serius, Nona? Anda mau menjadi istri Tuan Aditya?!" Simon memastikan kembali, ucapan yang terucap dari bibir Aisyah.


"Iya. Saya mau, menjadi istri Mas Aditya."


Senyuman di wajah, dengan menatap dalam pada Aisyah yang masih setia memijakkan kakinya di sana.


"Aku sangat yakin, kalau kau pasti akan menerimanya."


"Maaf...Kalau masih buatmu, menunggu."


"Tidak masalah! Karena aku sangat yakin, jawabannya pasti iya."


Berada di antara Aisyah, dan Tuannya yang masih nampak canggung, Simon memutuskan untuk membiarkan keduanya sendirian.


"Tuan..Maaf, saya permisi dulu. Ada hal lain, yang harus saya kerjakan," pamit Simon dengan segera beranjak, dari duduknya.


"Kau sudah akan pergi, Sekretaris Simon?!" Aisyah langsung melontarkan pertanyaan, saat mendapati Simon sudah akan beranjak pergi.


"Iya Nona...Masih ada hal lain, yang harus saya kerjakan," jawab Simon, dengan dua kaki yang dia langkahkan menuju arah pintu.


Hening melanda ruangan itu, usai berlalu-nya Simon dari dalam ruangan itu.


Tak ada yang berbicara, kini keduanya sama diam. Membungkam bibir masing-masing, dan bingung harus mengatakan apa.


Situasi sebelumnya, keduanya hanya berstatus orang asing, yang hidup satu atap karena hal yang terduga.


Kini keduanya, bingung karena status merek yang sudah, menjadi pasangan calon suami-istri.

__ADS_1


"Kenapa suasana jadi canggung seperti ini? Bahkan aku seperti pria tolol, dan bodoh! Yang tak tahu harus bicara apa," gumam Aditya dalam hati.


"Sampai kapan dia akan membiarkan aku berdiri terus? Apa dia tidak menyadari? Kalau kakiku, sudah sangat kesemutan," gerutu Aisyah dalam hati.


Hening...Dan saling memandang satu sama lain. Terus melemparkan tatapan pada Aisyah, dalam kebisuan, hingga dia menemukan kata sebagai pembuka obrolan mereka, setelah lama kedua-nya diam membisu.


"Kenapa kau terus berdiri? Apakah kakimu, tidak lelah, dari tadi terus berdiri?!"


Apa yang baru saja terucap dari bibir Aditya, serasa angin segar buat Aisyah. Tanpa mengatakan apa-apa, dua kakinya langsung dia arahkan pada sebuah sofa panjang, dan menjatuhkan tubuhnya di sana.


Saat tubuh itu sudah berlabuh di atasnya, Aisyah langsung memijat-mijat kecil dua kakinya yang terasa pegal, dan hal itu ternyata tak luput dari pandangan Aditya.


"Apa yang sudah ku lakukan? Baru saja menjadi calon suami seharinya, aku sudah seperti terlihat menyiksanya," gumam Aditya dalam hati.


"Kakimu pegal?!" tanya Aditya tiba-tiba.


"Sedikit Mas," jawab Aisyah dengan melemparkan senyuman di wajah.


Hening melanda keduanya, dengan sunyi yang kian menenggelamkan.


"Mas.."


"Kenapa?!" tanya Aditya dengan menatap heran Aisyah.


"Tidak! Aku hanya kaget saja." Aisyah menjawab, seraya memberi senyuman kecilnya.


"Uhuk...Uhuk..." Aditya berpura-pura batuk, untuk mengusir kecanggungan.


"Dua hari lagi, aku akan mengadakan jumpa pres."


Wajah itu seketika berpaling, menatap dengan intens pada Aditya setelah mendengar apa yang pria itu katakan.


"Jumpa pers, dan mengenalkan kau sebagai calon istriku."


"Apakah Mas serius?!" tanya Aisyah, yang semakin dilanda penasaran.


"Apakah aku terlihat seperti sedang bercada?!"

__ADS_1


"Maaf. Aku hanya merasa tidak mungkin saja, dan mustahil pria seperti Mas, mau menikahi wanita sepertiku. Padahal, Mas belum mengetahui siapa aku?"


"Aku sudah mengetahui tentangmu."


Dua alis Aisyah bertaut, mendengar ucapan Aditya yang begitu menarik perhatian-nya.


"Maksud Mas?!"


"Ayah kandungmu, sudah meninggal. Dan kemudian Ibu mu, menikah lagi. Dan kamu hanya tamatan sekolah menengah atas. Tidak seperto adikmu Sarah, yang melanjutkan pendidikan-nya ke perguruan tinggi. Jadi pria yang kau panggil Papa itu, bukan Ayah kandungmu, dan selama ini kau memiliki hubungan yang tidak begitu baik dengannya. Dan kau pernah bekerja di salah satu, toko kue. Benarkan semua yang kukatakan ini? Dan walau pun kalian berasal dari satu rahim, tapi hubungan kau dan adikmu Sarah, tidak berjalan baik."


"Jadi Mas sudah tahu semua tentangku."


"Tentu saja, karena aku adalah Aditya Wirawan."


"Aku tidak tahu, hal apa yang membuat Sarah begitu membenciku. Padahal aku begitu sayang padanya Mas..." Aisyah melukis sedikit senyum, berusaha menutupi kesedihan yang dia rasakan.


"Hei! Kenapa kau menangis?!"


"Aku tidak menangis Mas!" Aisyah memberi senyumnya, berusaha agar tak terlihat kesedihan itu oleh Aditya.


"Sudahlah jangan bersedih. Mendingan yang kau pikirkan adalah, persiapkan mentalmu karena kau pasti akan menghadapi banyak pertanyaan dari para wartawan, dan juga siapkan fisikmu, karena tiga hari lagi kita menikah."


"Apa?! Kenapa begitu cepat Mas?!" Aisyah nampak sangat kaget, dengan apa yang baru saja Aditya katakan.


"Kalau memang kau keberatan, silahkan angkat kaki dari rumah ini, dan aku yakin kau masih tahu pintu ke luarnya."


"Tidak Mas! Tidak. Baiklah, kita menikah tiga hari lagi."


"Mas..." panggil Aisyah pelan.


"Ada apa?"


"Apakah kau tidak ingin mengenal kedua orang tuaku?! Terlebih Mamaku, dia orangnya sangat baik, Mas pasti akan langsung menyukai."


"Tentu saja, tapi setelah kita menikah. Aku pasti sangat ingin berkenalan dengan mertuaku, terutama Mama mertuaku. Tapi kau, tidak perlu berkenalan dengan orang tuaku. Karena aku tidak butuh persetujuan mereka, untuk menikah denganmu."


"Terserah kamu saja Mas...Lagi pula, bukankah hubungan kalian juga tidak baik?!"

__ADS_1


__ADS_2