SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MEMBUNTUTI AISYAH


__ADS_3

Tubuh ramping itu! Sudah Aisyah daratkan pada kursi kendaraan roda duaa, yang akan segera membawanya dari area Company Group.


"Rati, aku dahulu ya.. Sampai ketemu besok..." Aisyah melukis senyum tipisnya, saat berpamitan pada sahabat baiknya itu.


" Sampai ketemu besok juga, Nisa! Dan hati-hati di jalan."


"Tentu,"


Kendaran yang ditumpangi, Aisyah! Telah dilajukan, oleh sang pemilik kendaraan. Rati yang sudah mengambil ancang-ancang akan membuntuti Aisyah! Ikut melemparkan pandangan jauh, mengikuti arah lajuan kendaraan, yang ditumpangi sahabatnya itu.


Memastikan lajuan kendaraan sudah sedikit jauh, dengan segera Rati melambaikan tangannya ke udara, guna memberhentikan tukang ojek yang kebetulan melintas di depannya.


"Mas! Ikut motor berwarna marun, yang di depan itu ya!" Dengan sedikit tergesa-gesa, dan terselimuti kepanikan, Rati berucap pada tukang ojek itu, karena tidak mau kehilangan jejak dari Aisyah.


"Baik Mba!" jawab pria muda itu, dengan segera melajukan kendaraan roda duanya, mengikuti jejak kendaraan yang diminta sang penumpang.


****


Rati mengedarkan pandangannya kesegalah arah, menatap area sekitar, ketika dua kakinya sudah berpijak di lokasi yang dituruni Aisyah.


Dan tentu saja gadis muda itu berusaha sebisa mungkin, agar sahabatanya sama sekali tidak menyadari kehadirannya, yang tengah membuntutinya.


Berjalan dengan pelan, dan mengendap-ngendap bak seorang maling. Dan ketika wajah Aisyah berpaling, dengan cepat Rati berlari bersembunyi di balik tembok, yang berada disekitarnya.


"Hah! Hampir saja." Dia bernapas lega, seraya memegang dadanya. Mengangkat sedikit kepala dari balik tembok, memastikan Aisyah sama sekali tidak menyadari kehadirannya.


Saat memastikan situasi aman, dengan segera Rati segera ke luar dari persembunyianya.


Langkah kaki itu mengayun dengan pelan, dan memberi jarak yang sedikit jauh, agar tak disadari kehadirannya oleh Aisyah. Melangkah, dan melangkah menyusuri sebuah gang sempit, yang dilewati teman baiknya, itu.


Ayunan kaki itu seketika Rati hentikan, dan segera bersembunyi di balik rimbunan bunga, ketika mendapati Aisyah menghentikan langkahnya disebuah hunian sederhana.


"Jadi, itu rumahnya Anisa?!" Rati bergumam pelan, dengan arah pandang yang terus dia lemparkan pada sebuah rumah, dengan bangunan yang begitu sederhana.


Kaget, menyelimuti wajah gadis muda itu-setelah mendapati keberadaan kedua gadis kecil, yang berlari menuju sahabat baiknya, dan menyerukan dengan nama Mommy.

__ADS_1


"Jadi Anisa, ternyata sudah punya anak?" Rati bergumam pelan, dengan raut wajah sedikit kaget, sebab sangat tidak menyangkah kalau ternyata wanita itu, adalah seorang Ibu.


"Mommy! Kau sudah datang?" Bella, dan Sella menampilkan rona bahagia di wajahnya, ketika mendapati keberadaan sang Bunda.


Menghembus napas panjangnya, saat menghirup wangi bayi pada tubuh kedua putrinya-seraya menyimpulkan senyuman hangat pada kedua gadis kecil itu.


"Kalian berdua sangat wangi!"


"Tentu saja kami sudah wangi, Mommy! Karena kami baru saja mandi." Sella berkata dengan mimik cemberutnya, menjawab apa yang dikatakan sang Bunda.


"Dan Mama sangat menyukai wangi kalian." Melukis senyum kecilnya, dan melabukan kecupan kecil pada pipi kedua putrinya.


"Kamu sudah pulang, Aisyah?" Wajah Aisyah seketika berpaling pada asal suara, di mana sosok wanita paruh baya-yang tak lain adalah Bibi, Asih! Yang tengah melangkah padanya.


Tubuh yang dia sejajarkan dengan kedua putrinya, segera Aisyah tegakkan kembali- dengan memberi senyum tipisnya, pada Asih yang tengah mendekat padanya.


"Hari ini, kerjaan gak terlalu banyak Bibi!"


Kaget yang teramat sangat, itu-lah yang terlihat jelas dari wajah Rati, mendengar wanita yang selama ini dia kenal bernama Anisa, ternyata memiliki nama lain-yaitu Aisyah.


Untuk menjawab rasa ingin tahu-nya, terhadap siapa sosok Anisa atau Aisyah itu? Rati memutuskan untuk tetap melakukan penyelidikannya, walau-pun merasa sangat tidak nyaman berada di balik rimbunan bunga, dan tentu saja tak luput dari gigitan Nyamuk.


Tatapan mata yang masih melempar jauh, menatap dengan penuh pada hunian sederhana, memastikan kegiatan di rumah itu, yang tak boleh terlewati olehnya. Menunggu, dan menunggu- hingga tak lama kemudian, Rati mendapati Aisyah yang berjalan masuk ke dalam rumah.


Menunggu, dan terus menunggu, hanya untuk menjawab rasa penasaran itu, akibat rasa ingin tahu yang semakin menyerang.


"Apa yang Aisyah lakukan di dalam? Kenapa dia lama sekali?" gumam Rati, yang sudah terlihat sudah tidak sabaran.


Baru saja bibir itu bergumam dengan rasa penasarannya, tiba-tiba saja sepasang matanya, menyaksikan sosok wanita cantik berkulit putih, yang melangkah ke luar dari dalam rumah.


Iris matanya membulat penuh, menatap intens pada sosok cantik yang baru saja menampakkan batang hidungnya di teras rumah itu.


"Apakah ini sosok Anisa yang sebenarnya?" Wajah Rati terselimuti kaget, yang menduga kalau wanita yang baru saja ke luar dari dalam hunian sederhana itu, adalah sahabatnya Anisa.


Belum mendapati apa yang menjadi pertanyaan pada diri sendiri, Rati membiarkan diri itu masih menunggu, hanya untuk memastikan apa yang dia kira. Dan rasa penasaran yang beberapa hari ini terpendam tentang sosok Anisa, kini tejawab sudah, setelah dia mendengar panggilan "Mommy!" yang ditujukan pada sosok cantik itu.

__ADS_1


"Aku sama sekali tidak menyangkah, wanita yang selama ini menurutku sangat jelek! Ternyata memiliki wajah yang begitu cantik. Dan ternyata sudah memiliki dua orang putri. Tapi aku sangat penasaran! Dari tadi aku berada di sini, aku sama sekali tidak mendapati sosok pria mana-pun. Di mana suaminya? Atau mungkinkah Aisyah ini seorang janda?"


****


SURABAYA


Satu hari kemudian


Pintu mobil sudah terbuka lebar. TerlIhat sosok tampan berbalut stelan jas hitam, yang mencondongkan tubuhnya ke luar dari dalam mobil mewah, yang membawanya ke tempat yang dia tuju. Iris hitamnya begitu tajam, menatap pada bangunan berlantai dua, di mana di dalamnya terdengar musik DJ yang begitu menggema, dan suara-suara para penikmat dunia malam.


"Selamat malam, Tuan!" Tatapan pria itu seketika beralih, ketika terdengar suara menyapanya.


"Malam. Apakah wanita itu sudah menunggu, di dalam?"


"Nona Sarah sudah menunggu anda dari tadi, Tuan! Dia sedang menunggu di ruang privat."


"Baiklah. Aku akan menemuinya sekarang." jawab Aditya. Dan tatapan mata itu beralih pada Simon. " Ayo Simon! Sebab aku sudah sangat penasaran, seperti apa sosok adik dari Aisyah itu!" Langkah kaki itu segera dia ayunkan, yang diikuti oleh Simon, dan beberapa anak buahnya.


****


Cantik, dan seksi. Itulah gambaran yang tepat diberikan, oleh adik dari Aisyah, itu. Ketika dia tahu, kalau Aditya Wirawan menyetujui untuk bertemu dengannya, Sarah begitu mempersiapkan penampilannya, yang ingin terlihat cantik di depan pengusaha kaya itu.


Menggelombangkan ujung rambutnya, dengan balutan gaun seksi berwarna marun, yang mampu memperlihatkan setiap lekuk wanita muda itu.


"Kenapa dia lama sekali? Aku sangat penasaran, seperti apa rupa Aditya Wirawan itu. Yang aku lihat di televisi dia begitu tampan, dan aku sangat yakin- pasti sangat jauh lebih tampan, jika dilihat secara langsung." Rati bergumam, dengan rasa penasaran yang berbalut gelisah, karena Aditya belum juga menampakkan batang hidungnya.


Pintu ruangan seketika terbuka. Gelisah, akibat gugup melanda wajah cantik itu seketika, yang meyakini kalau itu pasti kedatagan pria yang sudah membuatnya menunggu dari tadi.


Lampu luar yang terlihat suram, tak mampu memperjelas ketampanan seorang Aditya. Kaki yang semakin membawa pria itu ke dalam ruangan, lambat laun akhirya memperjelas wajah lelaki kaya itu, yang membuat sarah begitu terpana, ketika sudah bertatap muka.


"Tidak hanya kaya, tapi dia juga sangat tampan. Kenapa bukan aku saja, yang mengandung anaknya? Kenapa harus Kak Aisyah?" gerutu Sarah dalam hati.


Aditya melengkung sudut bibirnya- membentuk senuah senyuman kecil, mendapati Sarah yang menatapnya dengan tatapan mata berkedip sedikit-pun.


"Malam.." Sengaja melemparkan sapaan pada gadis di depannya, yang seketika memecahkan lamunan itu.

__ADS_1


__ADS_2