SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
KESALNYA SARAH


__ADS_3

Aisyah memelaskan wajahnya, memberi tatapan nanar yang mengandung berjuta makna di dalamnya. Tidak berdaya, itu-lah yang tengah di hadapi wanita saat ini, yaitu menjatuhkan pilihan yang sulit.


"Bahkan dia tahu kelemahanku! Mana bisa aku meninggalkan Bella, dan Sella? Baru beberapa hari berpisah, sudah membuatku gila!" gumam Aisyah dalam hati.


"Mas..." panggil Aisyah pelan.


"Bukankah aku sudah memberimu waktu, jadi semua keputusan ada di tanganmu!" sahut Aditya kesal.


Suara Bella, dan Sella memecahkan keheningan yang melanda Dua bocah itu berlari kecil menghampiri Ayahnya, dengan wajah penuh kepanikan.


"Daddy....Daddy...."panggil keduanya bersamaan.


"Ada apa?!"


"Daddy, di depan gerbang rumah kita ada banyak orang," seru Sella, dengan nada suara yang begitu ber'api-api.


"Banyak orang?" Aditya mengintenskan tatapan matanya, pada putri keduanya saat mendengar apa yang dia katakan.


"Bisa saja itu wartawan, Tuan!" celah Simon.


Larut dalam suasana tiba-tiba saja membela, dengan datangnya secuiriti rumahnya.


"Maaf Tuan, di depan ada banyak wartawan, mereka memaksa ingin bertemu dengan anda."


Aditya mendesahkan napasnya berat, membuang sesak yang sudah mengepung sedari tadi di dalam dadan pria itu.


"Aisyah!"


"Iya Mas.."


"Tetaplah di dalam rumah bersama anak-anak, aku dan Simon akan menemui wartawan."


"Baik Mas.."


Dan arah pandang itu berpindah pada Simon. "Ayo Simon! Kita temui mereka."


"Baik Tuan," jawab Simon dengan melangkahkan kakinya menyusul pada Aditya, yang sudah terlebih dahulu melangkah.


Simon mengayunkan langkahnya tepat di belakang tubuh Tuan-nya, saat keduanya melangkah beriringan menuju pintu utama. Berbagi rasa menyelimuti pria itu, saat ini. Ada bahagia, dan juga rasa bersalah. Karena akibat ulahnya, Tuan mudanya begitu frustasi hari ini.

__ADS_1


"Maafkan saya Tuan! Tapi hanya Nona Aisyah saja-lah, yang pantas mendampingi anda. Dan juga saya melakukan ini, demi sikembar agar bisa tumbuh diantara kedua orang tua, yang saling mencintai," bathin Simon.


Memastikan Tuan muda mereka sudah berlalu jauh dari ruang itu, Sisi, dan Paula segera menyambangi pada Aisyah-yang sedang duduk melamun.


Keduanya mengapit tubuh mungilnya, dan melemparkan candaan pada Aisyah.


"Cie! Yang sebentar lagi, mau nikah!" seru Sisi sambil tersenyum ceria.


"Kalian apa, an sih?! Kan aku belum menjawab, iya!" jawab Aisyah dengan wajah kesalnya.


"Nona Aisyah anda harus menerimanya. Tuan Aditya adalah laki-laki yang baik. Asal Nona tahu, banyak wanita di luar sana yang menginginkan posisi anda, tapi Nona justru langsung diminta oleh Tuan Aditya sendiri, untuk menjadi istrinya."


"Apa?! Jadi Mommy, dan Daddy ku akan menikah?!" tanya Sella tiba-tiba, dengan wajah kagetnya.


"Mommy, dan Daddy akan menikah?!" tanya Bella pula, yang tak kalah terkejutnya.


"Nona...Apa yang anda pikirkan?! Tuan Aditya adalah laki-laki yang baik!" seru Sisi, yang masih mendapati wajah muram Aisyah sedari tadi.


"Bagaimana aku tidak memikirkan? Ini kami akan menikah, bukan pacaran atau pun bertunangan. Dan mana mungkin aku tidak mikir?! Mengingat sikapnya waktu itu," jawab Aisyah, dengan memelaskan wajahnya.


"Mommy! Kau harus menikah dengan Daddy kami. Biar nanti aku, dan Kakak yang akan menjadi pengiring pengantinnya. Iya kan Kakak?!" Sella terlihat anusias, saat meminta pendapat pada sang Kakak, Bella.


Bibi Ani melukis senyum tipisnya, dua kaki itu dia ayunkan pada Aisyah, yang masih belum menampilkan wajah cerianya. Dua tangannya menyentuh lembut jemari wanita itu, yang memalingkan wajah menatapnya.


"Nona belum mengenal sepenuhnya, sosok Tuan Aditya-jadi kau berpikir negatif tentangnya. Tapi jika Nona menjadi istrinya, Bibi hanya bilang, KAU ADALAH WANITA YANG BERUNTUNG. Dan mungkin saja Tuhan mengrimkanmu jodoh, dengan cara seperti ini pada Nona."


Aisyah memberi senyum tipisnya, mendengar kata-kata yang baru saja terucap dari bibir, Bibi Ani. Dia begitu hanyut, tenggelam dengan apa tengah dia pikirkan. Pupil matanya mengedar, memantau setiap wajah yang berharap dia memberi jawaban, IYA.


"Kenapa sesulit ini? Kenapa Tuhan harus memberi takdir jodohku, tanpa harus ada cinta dulu? Apakah mungkin? Aku bisa menjalaninya," bathin Aisyah, yang begitu resah.


****


Menjadi seorang pengusaha terkenal, tentu bukan hal baru bagi seorang Aditya Wirawan jika menghadapi bidikan kamera, atau pun pemberitaan tentang diri-nya. Tapi selama ini, media selalu meliput berita yang positif tentang pria itu. Tapi kali ini, dia harus menghadapi hal sebaliknya. Dan mungkin saja dia harus siap, menghadapi setiap pertanyaan yang mungkin saja akan memancing emosinya.


"Tuan Aditya.... Tuan Aditya...." panggil para wartawan, saat mendapati kedatangan pengusaha tampan itu. Dan tentu saja, ada yang langsung memotret dirinya.


"Maaf! Demi keamanan, aku tidak bisa membuka gerbang rumahku."


"Tuan...Apakah benar anda sudah memiliki anak?! Dan juga beredar berita, kalau anda sudah tinggal satu atap dengan wanita itu? Sejak kandasnya hubungan anda, dan Nona Citra. Bahkan beredar isu, kalau wanita itu adalah pemicu keretakan hubungan anda, dan Nona Citra."

__ADS_1


"Itu sama sekali tidak benar, karena kami berkenalan usai hubungan-ku, dan Citra kandas. Dan berita mengenai anak, itu benar. Dan maaf, aku hanya bisa menjawab pertanyaan kalian sampai di sini saja. Dua hari lagi aku akan mengadakan konfrensi pers, sekaligus memperkenalkan dia pada kalian."


"Baik Tuan..Dan di mana anda akan melakukan konfrensi pers? Untuk menjawab pertanyaan media."


"Di Hotel Sanggrila."


.****


SURABAYA


Sarah melangkahkan kakinya santai, yang membawa tubuhnya ke ruang nonton. Satu tangannya meraih toples kaca-membukanya, dan meraih makanan kecil di dalamnya. Duduk santai di ruang nonton, dengan memindahkan siaran dari satu chanel TV, ke saluran TV yang lain. Gerakan jemari Sarah-pada remot dia hentikan, saat dua mata itu menangkap sesuatu, yang begitu menarik perhatiannya.


Pupil matanya memandang dengan intens pada layar televisi, mendalami berita yang mereka siarkan. Mulut itu langsung saja bersuara, memanggil Ayah, dan Ibu-nya.


"Papa....Mama...." panggilnya dengan teriakan.


"Ada apa Sarah?" Papa Handoko langsung melontarkan pertanyaan, begitu dua kakinya sudah berpijak di sana.


"Ada apa Sarah?! Kenapa kamu teriak-teriak?!" tanya Mama Anita kesal.


"Tuh Maa! Lihat anak kesayangamu! Belum menikah, tapi sudah tinggal satu atap sama laki-laki yang bukan suaminya. Bikin malu keluarga saja!" jawab Sarah kesal.


Mama Anita langsung melemparkan pandangannya pada layar televisi, dan di sana memuat berita tentang putrinya, yang sudah hidup satu atap dengan pengusaha kaya, Aditya Wirawan.


"Mama akan menelpone Aisyah, Mama sangat yakin kalau dia punya alasan untuk itu. Karena Mama sangat yakin, Kakakmu tidak mungkin tega melakukan hal yang dilarang oleh agama."


"Mama....Mama....Mau sampai kapan Mama percaya, pada anak perempuanmu itu?! Kak Aisyah tidak sepolos yang kita kira ."


"Cukup Sarah! Berhenti menjelekkan Kakakmu. Apakah kamu lupa, kalau Aisyah turut membantu, membiayai kuliahmu!" Dengan intonasi suara meninggi, dan berlalu begitu dari ruangan itu.


Papa Handoko segera melabuhkan tubuhnya disamping putrinya. Berbeda dengan raut wajah anak, dan istrinya yang nampak kaget! Papa Handoko justru bahagia karena bisa saja dia, akan memiliki menantu orang kaya.


"Bukankah Aditya Wirawan itu sangat kaya?! Bukannya bagus jika Kakakmu sampai menikah dengannya?! Jadi Papa tidak perlu susah-susah cari uang lagi!"


"Papa...Apa-apa'an sih?! Kenapa jadi membela Kak Aisyah?! "


"Kenapa kau begitu bodoh Sarah! Jika Aisyah menikah dengan Aditya Wirawan, bukannya kamu bisa menyombongkan diri pada teman-temanmu?!"


"Apa Papa pikir?! Tuan Aditya itu mau menikah dengan Kak Aisyah. Cantik, tidak! Kampungan, iya. Paling dijadikan budak napsunya, terus di buang seperti sampah!" seru Sarah, dengan berlalu begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2