SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MASUK DALAM JEBAKAN


__ADS_3

Niat Simon yang semula akan memberikan benda pipih itu pada Aditya-segera dia urungkan ketika mendapati pria itu sedang melakukan panggilan telepone. Dan sekretaris itu meyakini, kalau Sarah pasti memiliki informasi tentang Kakak perempuannya lagi, hingga membuat gadis itu menghubunginya.


Ibu jarinya segera Simon daratkan pada labang hijau itu, untuk menjawab panggilan telepone dari gadis itu.


"Hallo.."


"Hallo sekretris Simon! Ini aku Sarah."


"Iya aku tahu. Ada apa kau menelopone?"


"Bisakah aku berbicara lagi dengan Tuan Aditya?! Karena aku memiliki informasi lagi, tentang kakakku Aisyah."


"Tuan Aditya sedang sibuk. Dan jika itu informasi tentang kakakmu, beritahukan saja padaku."


"Tapi jIka aku memberitahukan padamu! Apakah kau akan tetap membayarku?"


"Aku akan tetap membayarmu, Nona Sarah! Sesuai dengan perjanjian awal kita."


"Baiklah. Semalam tanpa sengaja aku mendengar Kakakku Aisyah menelpone. Dan dari perbincangan yang aku dengar antara dia dan Ibuku, kalau di Jakarta dia bekeRja diperusahaan."


Raut wajah Simon seketika berubah serius, mendengar apa yang baru saja dikatakan Sarah, yang sangat menarik perhatian pria itu.


"Apakah kau yakin, dengan apa yang kau katakan Nona Sarah?" tanya Simon memastikan.


"Tentu saja. Kalau tidak! Buat apa aku menelponemu."


"Baiklah. Dan terima kasih untuk informasi yang kau berikan. Segera kirimkan nomor rekeningmu, aku akan mentransfer uangnya sekarang."


"Terima kasih, Sekretaris Simon! Dan aku tunggu transferan uang, darimu. " Dengan langsung memutuskan sambungan teleponenya.


Apa yang baru saja dikatakan Sarah, begitu mengusik pikiran pria itu. Mengingat dua kata, yang dia dapati tentang keberadaan Aisyah. Dan hal itu dia kaitkan dengan salah satu salah satu Clening Servise, yang dia curigai sebagai Aisyah Maharani.


"Siapa yang menelponemu, Simon?" tanya Aditya tiba-tiba, yang membela lamunan pria itu.


"Bukan siapa-siapa, Tuan!" jawab Simon, yang memutuskan untuk merahasiakan tentang Sarah yang menelponenya tadi.


Ayunan kaki yang semula mereka hentikan, kembali kedua pria itu lanjutkan memasuki gedung bertingkat itu.


Saat lift sudah bersiap-siap akan membawanya ke lantai dua puluh kembali gagal, kala ada tangan yang menelusup ke dalamnya. Dan itu adalah Aisyah.

__ADS_1


Pintu lift kembali terbuka lebar, hingga dapat menampilkan siapa saja yang berada di dalamnya.


Saat tatapan mata itu dia arahkan pada dalam lift, wajah kaget seketika menyelimuti wajah Aisyah mendapati keberadaan Aditya, dan sekretarisnya.


Dengan menyimpulkan senyuman palsunya, dua kaki itu melangkah panjang ke dalam sana, dan tentu saja tak lupa dengan sapaan hangat.


"Selamat pagi, Pak! Selamat pagi, Sekretaris Simon!" sapanya, dengan mengambil posisi di belakang keduanya, dan tentu saja memberi jarak.


"Selamat pagi juga, Anisa!" Seperti biasanya, Simon selalu membalas sapaan Aisyah yang masih menunjukkan sikap canggungnya.


Hening melanda dalam lift. Saat masing-masing tenggelam dalam suasana hati mereka. Dan memecah, kala tiba-tiba saja Aditya menyeruhkan nama Aisyah.


"Culun.."


"Iya Pak!"


"Apakah kemari kau membersikan ruanganku?"


"Kemarin saya tetap melakukan tugas, saya Pak!"


"Bagus. Karena aku memang sama sekali tidak menyukai, kalau ruang kerjaku kotor, sekalipun aku tidak masuk kantor."


Hening kembali melanda dalam lift, setelah usainya perbincangan kecil antara Aditya, dan Aisyah.


Simon sedari tadi terus memperhatikan gerak-gerik dari Anisa, yang dia yakini sebagai Aisyah. Dan dia mengamati, kalau wanita itu akan terlihat sungkan, dan raut wajah nampak memucat, yang menunjukkan ketakutan, jika bersama dengan Tuannya. Dan memory itu teringat akan dua kata yang dikatakan Sarah mengenai Kakaknya. Yaitu, Perusahaan dan Jakarta.


"Aku sangat yakin, kalau Anisa Mahardika ini adalah Aisyah. Wanita yang selama ini dicari, oleh Tuan Aditya." bathin Simon yang sesekali menatap pada Aisyah, yang menampilkan senyum kikuknya kala tatapan mata mereka beradu.


"Kenapa dia menatapku seperti ini? Apakah dia tahu, kalau aku ini adalah wanita yang selama ini dicari Tuannya? Apakah kepergian mereka kemarin keSurabaya, karena ada informasi yang terkait dengan diriku? Oh.. Tuhan, aku mohon biarkan aku hidup tenang dengan kedua anakku." bathin Aisyah penuh harap.


****


Ketiganya sudah berada di dalam ruang kerja Aditya! Dan masing-masing sibuk dengan kegiatan mereka.


Aisyah nampak gelisah. Rasa ingin tahunya begitu tinggi, saat mendapati Aditya, dan Simon yang sepertinya terlibat perbincangan serius.


"Apa yang mereka bicarakan? Apakah mereka sedang membahas diriku?" bathin Aisyah, yang berusaha menajamkan telinganya agar dapat mendengar perbincangan Aditya, dan Sekretarisnya.


Dan akibat kecemasannya itu, membuat Aisyah sama sekali tidak menyadari kalau sedari tadi, Simon terus memperhatikan dirinya. Dan untuk memastikan yang dia kira! Pria itu sengaja melontarkan pertanyaan pada Tuannya-agar dapat melihat reaksi dari wanita itu, agar membuatnya semakin yakin. "Tuan! Apakah kita akan kembali keSurabaya untuk mencari keberadaan Aisyah?" Saat bertanya sudut mata itu Simon dia lemparkan pada Aisyah, agar dapat memantau perubahan sikap wanita itu ketika mendengar namanya.

__ADS_1


"Tentu saja, Simon! Kenapa kau begitu bodoh!" jawab Aditya kesal.


Dan ternyata jebakan yang dibuat Simon berhasil. Raut wajah wanita itu seketika memucat. Dengan masih melakukan kegiatannya yaitu membersikan dinding kaca, Aisyan semakin mendekatkan dirinya pada kedua pria itu, agar dapat mendengar perbincangan mereka.


Simon sudah selesai dengan kegiatannya. Pria itu memutuskan untuk segera berlalu dari ruang kerjanya Tuannya, setelah berpamitan dengan Aditya.


"Maaf Tuan! Kalau begitu saya kembali ke ruangan saya. Ada hal yang perlu saya bereskan."


"Bailklah,"


Beberapa menit berlalu, Aisyah pun nampak juga telah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya.


Setelah mengumpulkan alat-alat bersih itu, dan sudah berada di dalam genggamannya- wanita itu segera berpamitan pada Aditya.


"Pak! Kerjaan saya sudah selesai. Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Pergilah, dan kembalilah besok."


"Iya Pak!" jawab Aisyah, yang masih memijakkan kakinya di sana.


Mendapati keberadaan Aisyah di sana, membuat tatapan mata yang tadi ter-arah pada lembaran kertas di atas meja, seketika Aditya alihkan pada Aisyah yang masih berada di dalam ruangannya.


"Apakah kau berniat menggodaku Culun?! Jadi kau masih saja berada di sini."


"Ma..Maafkan saya, Pak! Kalau begitu saya permisi dulu."


"Pergilah! Karena melihat kau terlalu lama di ruanganku, membuat mataku sakit." Nada itu terdengar kesal, kala berucap pada Aisyah.


Langkah kaki yang belum terlampau jauh, membuat pendengaran itu mampu mendengar hinaan Bosnya. Hingga membuat Aisyah berusaha menahan kekesalan pada pria itu, saat berada di dalam ruangannya.


Daun pintu sudah dia rapatkan. Sesak yang sedari tadi dia tahan, segera Aisyah luapkan saat dirinya sudah berada di luar ruangan.


"Dasar laki-laki brengsek! Semoga saja, anak-anakku tidak mewarisi sifat Papanya yang sangat buruk itu!" seru Aisyah yang sedari tadi, menahan kekesalannya pada Aditya. Dan sayangnya, dirinya sama sekali tidak menyadari adanya keberadaan Simon, yang sedari tadi sudah menunggunya untuk ke luar.


"Apakah maksudmu, Pak Aditya!" tanyanya tiba-tiba.


Kaget dengan suara itu, membuat arah pandang Ibu muda itu seketika berpaling. Dan betapa kagetnya Aisyah! Saat mendapati Simon di sana.


"Sekretaris Simon..." seru Aisyah, dengan sudah memucat wajah itu.

__ADS_1


Seringai di wajah tampannya, dengan tatapan begitu tajam pada Aisyah. Dan tanpa meminta persetujuan dari wanita itu, Simon segera menggapai tangan wanita itu, dan membawanya dengan paksa ke tempat yang sedikit tersembunyi.


__ADS_2