
Aditya, dan Sekretarisnya masih terlibat perbincangan serius. Simon masih berusaha untuk mengorek hati Tuan mudanya, dengan sosok wanita siapa? Yang dia cintai saat ini.
"Jadi! Untuk saat ini, tidak ada wanita yang menempati isi hati anda, Tuan?"
Aditya menghela napas panjang, mendengar pertanyaan sang Skretaris yang mengandung makna yang begtu dalam.
"Tidak untuk saat ini. Tapi aku yaki, suatu saat ada wanita yang menempati hatiku. Dan aku akan menjadikan dia ratu dalam hidupku, dan begitu mencintainya-sama seperti aku mencintai Ibuku."
Simon melukis senyum palsunya, kala pikiran itu teringat pada Aisyah- Ibu biologis dari kedua anak Tuan mudanya. Besar harapannya, kalau Aisyah-lah, wanita yang suatu saat nanti akan menjadi ratu buat Tuannya.
"Dan semoga saja, wanita itu adalah Nona Aisyah," bathin Simon penuh harap.
Larut dalam perbincangan serius, membuat Aditya baru menyadari kalau Sekretarisnnya ternyata sudah terlihat rapi, dan juga tampan dengan pakaian casualnya.
"Kau akan ke mana Simon? Dari tadi berbincang denganmu membuat aku tidak menyadai, kalau kau sudah terlihat rapi. Dan sepertinya, akan bepergian."
Simon mengulum senyum di wajah, mendengar apa yang ditanyakan Tuan mudanya.
"Memang saya akan ke luar, Tuan!"
Memicingkan dua matanya, dengan sorot mata semakin Aditya intenskan, setelah mendengar apa yang Simon katakan.
"Aku sangat yakin kalau kau sudah memiliki kekasih, dan kau tidak memberitahukan padaku."
Simon melepaskan tawanya, begitu mendengar apa yang diucapkan oleh Tuannya, yang tentu saja sangat jauh dari kenyataan.
" Seandainya saja kalau saya sudah memiliki kekasih, andalah orang pertama yang akan saya beritahu, Tuan!"
"Terus kau akan ke mana? Kalau bukan menemui kekasihmu." Seketika Aditya menatap penuh selidik pada Simon, begitu mendengar ucapannya.
"Saya hanya akan pergi berjalan-jalan sebentar, Tuan! Mungkin saja saya akan menemui wanita, yang mungkin akan jadi istri saya nantinya."
"Baguslah, aku sangat mendukung jika kau berpikir seperti itu. Keluarlah! Mungkin saja kau akan bertemu dengannnya, dan cepat bawa ke mari, dan kenalkan padaku."
"Tentu Tuan! Dan kalau begitu, saya permisi dulu."
"Pergilah!"
****
Rati terlihat gelisah, dengan arah pandang yang terus dia lemparkan ke arah luar kaca mobil. saat taksi yang membawanya belum juga ditempat yang dia tuju.
"Apakah masih jauh Pak?"
"Sedikit lagi Nona!" jawab sopir taksi itu.
Tubuh yang ditegakkan, seketika Rati sandarkan kembali pada kursi penumpang, dengan kembali menerawangkan dua mata itu menatap keindahan kota Jakarta.
Beberapa menit telah berlalu, akhirnya taksi yang tumpangi Rati- memasuki sebuah kawasan elit, di mana terdapat hunian-hunian mewah para kalangan atas.
Melewatu satu per-satu rumah kaum jet-set, hingga kendaraan roda empat itu terparkir disebiah hunian mewah berlantai tiga.
" Sudah sampai Mba!" ucap sopir taksi itu.
"Ini bayarannya, Pak!"
__ADS_1
"Terima kasih,"
Setelah membayar ongkos taksi, Rati segera membuka pintu mobil, dan mencondongkan tubuhnya ke luar dari dalam taksi.
Dua kaki itu dia ayunkan dengan pelan, yang membawanya kian mendekat pada gerbang yang menjulang.
Cukup lama dia memdiamkan dirinya di depan gerbang besi itu, kala perasaan berat tiba-tiba melanda.
"Tidak! Aku tahu yang aku lakukan ini salah. Tapi tidak ada cara lain, selain mengatakan kebenaran ini. Maafkan aku, Syah! Maafkan aku," gumam Rati, yang berusaha membuang perasaan berat itu.
Dengan perlahan, salah satu jarinya Rati daratkan pada bel gerbang besi, agar dia dapat masuk ke dalam rumah itu.
Menekan sebanyak tiga kali, sambil menunggu pintu itu untuk terbuka.
Beberapa menit Rati menunggu-akhirnya gerbang itu terbuka oleh seorang laki-laki paruh baya, dengan seragam secuiritinya.
"Selamat malam, Pak!" Rati menjawab, dengan memberi senyum kikuknya.
"Malam juga, Mba! Dan maaf, kalau boleh tahu anda siapa?" Tatapan mata pria tua itu nampak begitu intens, saat mendapati sosok yang baru saja bertandang ke rumah Tuannya.
"Saya salah satu karyawan, dari Company Group. Dan apakah Pak Aditya berada di rumah?"
"Pak Aditya sedang berada di rumah. Dan boleh tahu, apakah ada hal penting? Hingga anda ingin bertemu dengannya."
"Iya Pak! Ada hal penting, yang ingin saya bicarakan dengannya. Bahkan sangat penting. Jadi saya mohon tolong ijinkan, saya bertemu dengan Pak aditya,." Rati menampilkan wajah memohonnya, seraya mengatupkan dua tangan itu, saat mengatakan keinginannnya untuk bertemu dengan Aditya Wirawan.
"Baiklah, kalau begitu masuklah, Mba!"
"Terima kasih, Pak!"
****
"Anda tunggu di sini, Nona! Saya akan memanggil Tuan Aditya," ucap pria tua itu, tiba-tiba.
"Baiklah,"
Setelah berucap pada Rati, lelaki berusia senja itu segera melenggangkan dua kakinya menuju taman samping rumah, di mana Aditya selalu menghabiskan waktunya senggangnya, dengan menikmati keindahan taman.
Dari jauh tatapan pria tua itu-mendapati Aditya sedang duduk di kursi taman, dengan memainkan ponsel miliknya.
"Malam Tuan..."
"Malam..."
"Maaf Tuan, ada yang ingin bertemu dengan anda."
Wajah Aditya seketika menampilkan mimik seriusnya, begitu mendengar apa yang dikatakan oleh securiti rumahnya itu.
"Bertemu denganku? Siapa?"
"Seorang wanita muda, dan dia mengaku sebagai karyawan di Company Group. Dan katanya ada hal yang sangat penting, yang ingin dia bicarakan dengan anda."
Mendengarkan ucapan panjang lebar dari penjaga rumahnya, Aditya segera bangun dari duduknya, berlalu dari taman itu.
Langkah kaki itu nampak tergesa-gesa, akibat rasa tidak sabarannya yang ingin segera mengetahui siapa wanita itu?
__ADS_1
Melangkah, dan terus melangkah yang kian membawa pria tampan itu- semakin mendekat ke ruang tamu. Dari jauh netra matanya sudah menangkap sosok wanita muda, yang duduk membelakangi.
Saat diri itu sudah semakin mendekat, Aditya berpura-pura batuk, hanya untuk memberitahukan kedatangannya pada Rati.
"Uhuuk...Uhuuk!"
Mendengar suara batuk, Rati seketika memalingkan wajahnya, dan mendapati Presdir-nya, yang sudah berada di ruang tamu itu.
"Malam Pak..." sapa Rati, dengan langsung beranjak dari duduknya.
"Malam. Dan duduklah."
Suasana nampak tegang, dan tentu saja itu bagi seorang Rati saat mendapati tatapan mata Aditya, yang menatapnya dengan begitu intens. Beberapa menit berlalu, Aditya langsung melontarkan pertanyaan, akan ada informasi penting apa? Yang wanta itu ingin kakatakan padanya.
"Katakan. Kau berkerja di bagian mana? Karena aku sama sekali, tidak pernah melihatmu. Dan kalau boleh tahu, hal penting apa? Yang ingin kau bicarakan denganku." Aditya berucap dengan menekan kata-katanya.
"Saya berkerja dibagian Cleaning Service, Pak! Dan hal penting yang ingin saya bicarakan dengan anda adalah, tentang wanita yang selama ini anda cari."
Sorot mata Aditya seketika intens, dan juga menampilkan wajah seriusnya, begitu mendengar apa yang Rati katakan.
"Dari mana kamu tahu?! Kalau selama ini, saya mencari keberadaan seorang wanita."
"Dari wanita itu sendiri."
Aditya menyeringai rendah, dengan memberi tatapan tajamnya, saat menganggap ucapana Rati hanya bualan saja.
"Kamu sadar atau tidak! Kalau sekarang, kamu sedang berhadapan dengan siapa?!"
"Saya sangat sadar, Pak! Dan sebagai imbalan dari informasi yang akan saya berikan pada anda ini, saya ingin Bapak memberi saya uang seratus juta."
Aditya terkekeh pelan, begitu mendengarkan syarat yang dikatakan gadis di depannya itu, dan itu sudah dia duga sebelumnya.
"Aku akan memberimu dua kali lipa! Jika wanita itu, benar-benar wanita yang aku cari selama ini. Dan jika salah! Maka kau akan tahu akibatnya, Nona!"
"Saya berani menjaminya, Pak! Dan saya tidak berbohong pada anda."
"Kalau begitu, katakan padaku siapa wanita itu?"
"Anisa Mahaerdika. Tenaga CS yang ditugaskan khusus untuk membersikan ruangan anda."
Menurutnya sangat mustahil, membuat seorang Aditya segera melepaskan tawanya. Mana mungkin? Wanita yang begiu buruk, adalah wanita yang dia cari selama ini.
"Apakah kamu sedang mau mengerjaiku, Nona?! Dengan mengatakan kalau SiCulun itu, adalah wanita yang saya cari selama ini."
"Memang ini sangat sulit untuk dipercaya, tapi itu adalah kenyataan. Nama Anisa Mahardika, hanyalah nama samaran saja, Pak! Dan kulit hitam, dan juga tahi lalat yang dia pakai, hanya untuk menyembunyikan identisanya, agar anda tidak dapat menemukannya."
Aditya menghembuskan napas kasarnya, yang seketika terasa begitu sesak, setelah dengan kenyataan yang sungguh mengejutkan untuk pria itu.
Mengusap kasar wajahnya, merutuki diri sendiri karena merasa begitu bodoh, bisa diperdayai oleh seorang wanita.
"Bagaimana bisa? Aku sebodoh ini. Sampai tidak menyadari, kalau siCulun itu! Adalah wanita yang selama ini aku cari. Ternyata, takdir yang membawanya padaku. Dan aku akan mengambil anakku!" bathin Aditya, dengan nada sorot mata tajamnya.
"Terima kasih, dengan informasi yang kau berikan. Dan sesuai janjiku tadi, aku akan memberimu uang dua kali lipat. Tinggalkan nomor rekeningmu, dan aku akan mentransfer uangnya sekarang."
"Baik Pak!"
__ADS_1