
Senyuman tak luntur dari wajah Aisyah, mendapati keakraban kedua putrinya, dengan Rati padahal ketiganya baru saja bertemu. Bercanda, tertawa cekikikan kala Rati menceritakan hal yang lucu, yang membuat Bella dan Sella terbahak-bahak.
Asih turut melukis senyum tipisnya. Ntah kenapa? Rasa khawatir menyerang wanita berusia senja itu-mengingat selama ini hanya dia seorang-lah, mengetahui identitas Aisyah. Dua kaki melangkah pada Aisyah, untuk memberitahukan rasa khawatirnya.
" Syah..." panggil Asih tiba-tiba, yang membuat tatapan mata itu seketika Aisyah palingkan pada wanita tua itu.
"Ada apa , Bibi?"
Menghembuskan napas beratnya, sebelum bibirnya berucap dengan apa yang tengah membebani pikirannya.
"Apakah kau tidak khawatir? Jika suatu saat nanti, teman baikmu ini membocorkan rahasiamu pada Pak Aditya. Karena ntah kenapa? Bibi mempunyai firasat yang buruk tentang sahabat baikmu ini."
Aisyah melepaskan senyumnya, mendengar apa yang baru saja dikatakan Asih. Tatapan mata itu seketika menatap dalam pada Aisyah, dan dia dapat melihat kekhawatiran wanita itu.
"Aku sangat mengerti dengan kekhatiranmu, Bibi! Tapi sahabatku ini, dia adalah orang yang baik. Dan aku sangat yakin, kalau dia tidak mungkin akan mengatakan ini pada siapa-pun. Terutama pada Pak Aditya. Apalagi, dia sudah berjani padaku."
Asih melukis senyum di wajah. Walau-pun ragu pada Rati, tapi mendengarkan yang ke luar dari bibir Aisyah-membuat mau idak mau, wanita tua itu hanya bisa mengiyakan saja. Karena hubungannya dengan Aisyah, hanya karena dia adalah pengasuh dari kedua putrinya.
" Semoga saja, Syah! Semoga dia dapat menyembunyikan siapa kamu sebenarnya, dari Tuan Adutya Wirawan selamanya." jawabnya pasrah.
Senja telah menghilang, kala malam kembali menyapa bumi. Bulan bintang sudah kembali muncul, yang bersinar di atas awan yang sudah tertutup gelap.
Rati memutuskan untuk kembali pulang, setelah menghabiskan waktu sedikit lama di kontrakkan sahabatnya. Keduanya mengayunkan langkah dengan pelan, menyusuri gang sempit dengan perbincangan kecil.
"Jadi kamu akan kembali memakai riasan ini, setelah saat kamu ke luar dari dalam rumah?" tanya Rati, dengan kala alunan kaki itu dia ayunkan dengan santainya.
"Iya. Aku akan kembali memakai riasan ini, setelah aku ke luar dari dalam rumah. Karena aku tidak mau, ada yang mengetahui siapa aku sebenarnya."
"Sejak kapan, kamu berdandan seperti ini?" tanyanya lagi.
"Sejak aku tahu, kalau Pak Aditya akan mengambil kedua anakku-setelah aku melahirkan nanti, Rati!"
Rati membungkam bibirnya. Gadis berambut pendek itu, seperti tenggelam dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sahabat baiknya. Hening melanda keduanya, saat keduanya sama-sama tak ada yang berbicara. Rati yang masih menyimpan rasa penasarannya dengan kehidupan Aisyah, kembali bersuara yang memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Apakah kamu tidak merindukan keluargamu Syah? Karena selama ini, kamu selalu saja bersembunyi." tanya Rati tiba-tiba.
Aisyah tersenyum getir, setelah sekilas tatapan mata itu dia tatapkan pada Rati dengan alunan kaki tetap melangkah.
"Jika kau menanyakan aku merindukan keluargaku atau, tidak! Maka aku akan menjawab sebaliknya. Aku sangat merindukan mereka. Bahkan sangat merindukan mereka. Tapi aku juga sangat menyayangi kedua anakku. Dan aku ingin tetap terus bersama mereka. Dan aku melakukan semua ini, karena aku sangat menyanyangi Bella, dan Sella dan selalu ingin bersama itumereka."
Rati melukis senyum palsunya. Senyuman itu begitu dalam, dan terasa hambar untuknya. Kata-kata yang baru saja dilontarkan Aisayah, membuat gadis itu seketika teringat akan sosok Ibunya yang sedang menderita sakit.
"Apa yang kamu katakan itu benar, Syah! Seperti yang aku alami. Aku harus merelakan masa kanak-kanakku, dengan membantu Mamaku mencari uang-hanya demi kelangsungan hidup kami. Apalagi setelah Mamaku jatuh sakit, mau tidak mau aku-lah yang harus memenuhi kebutuhan kami. Aku sangat menyayangi Mamaku, dan aku akan melakukan apa-pun demi dia."
"Aku minta, kamu yang kuat. Karena Tuhan tidak mungkin memberi ujian pada umatnya, melebihi batas kemampuan kita. Karena aku yakin di balik semua ini pasti akan ada kebahagian, yang sudah menanti kita di ujung sana."
****
SURABAYA
Lelah yang menghinggapi tubuhnya, tak memudarkan senyuman di wiajah Sarah. Satu hari ini- gadis manis itu menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang, dan berbelanja.
Tubuhnya bersandar malas pada kursi penumpang, dengan beberapa paper bag yang menggelinginya.
Hanyut dalam suasana hati yang tengah bahagia, membuat Sarah sama sekali tidak menyadari-kalau taksi yang membawanya sudah terparkir di depan hunian miliknya.
"Kita sudah sampai Mba!" seru sopir taksi itu, yang memecahkan lamunan gadis itu.
Sarah seketika menegakkan posisi duduknya, dengan wajah berpaling ke arah luar memastikan ucapan sopir taksi itu.
Jemarinya menelusup ke dalam tas, menggapai uang seratus ribuan di sana.
"Ini ongkosnya, Pak! Dan ambil saja kembaliannya."
"Terima kasih, Mba!" Senyum bahagia menyelimuti wajah sopir itu, dengan bayaran lebih dari Sarah.
Dengan sedikit kesusahan, Sarah melangkah kedua kakinya memasuki rumahnya. Pintu rumah yang tidak terkunci, memudahkan gadis itu untuk dapat masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Saat diri itu sudah berada di dalam rumahnya, gadis manis itu mendapati rumah dalam keadaan sepi. Tak ada suara Ayah, mau-pun Ibunya. Hingga membuat dua kaki itu terus dia ayunkan, mencari sosok kedua orang tuanya.
"Papa....Mama...." Dengan dua tangan yang masih memegang barang belanjaannya, Sarah menyeruhkan nama kedua orang tuanya.
Samar-samar pendengarannya, menangkap suara sang Bunda yang sepertinya tengah melakukan panggilan telepone. Dengan memelankan langkah kakinya, dan bibir yang seketika dia bungkam Sarah semakin mendekat dirinya ada asal suara sang Bunda. Daun itu dia tajamkan dari balik tembok dan dia mendengar Ibunya, menyebut nama saudara perempuannya Aisyah. Daun itu semakin dua tajamkan, agar dapat mendengar apa yang saja yang menjadi perbincangan sang Bunda, dengan Kakaknya Aisyah.
"Jadi kamu sekarang bekerja, di salah satu perusahaan yang berada di Jakarta?" tanya Mama Anita, pada putrinya di seberang sana.
Mendengar itu, hati Sarah melonjak kegirangan. Dengan segeranya gadis muda itu berlalu dari persembunyiannya, setelah mendapatkan informasi tentang saudara perempuannya.
"Aku akan menghubungi Pak Aditya kembali. Bukankah dia bilang, kalau akan memberi aku uang yang jauh lebih banyak, jika aku mendapatkan informasi lagi tentang Kak Aisyah."
****
JAKARTA
Mentari kembali memberi senyumanya, menyapa pada hari baru yang sudah menyapa. Kicauan burung bernyanyi merdu, memberi irama selamat pagi pada dunia.
Dari kejahuan nampak sebuah mobil mewah, melaju pelan kala berbelok arah memasuki area Company Group.
Posisi yang bersandar, dia tegakkan. Membenahi sekilas dasi yang sedikit terkoyak, dan segera mencondongkan tubuhnya ke luar dari dalam, setelah daun pintu mobil terbuka lebar.
Memijakkan dua kakinya sesaat, seraya pendangannya menyapu bersih sekitarnya. Beberapa detik berlalu, Aditya mengayunkan dua kakinya.
Sapaan selamat pagi, terus menyambut kedatangan seorang Aditya Wirawan, saat dua kaki itu membawa tubuh pria itu ke dalam gedung pencakar langit miliknya.
"Selamat pagi, Pak!"
"Pagi Pak.." Begitulah sapaan-sapaan yang menyambut, kala datangnya pimpinan dari Company Group.
Simon setia berada di belakang Tuannya, ketika dua kaki itu membawa tubuhnya memasuki gedung Company Group.
Langkah kaki itu seketika dia hentikan, ketika terdengar suara telepone pada ponsel miliknya.
__ADS_1
Jemari itu dia telusupkan ke dalam saku celana, saat iris mata hitamnya sudah beradu dengan layar datar miliknya, dia mendapati nama Sarah di sana.
"Untuk apa gadis ini menelpone? Apakah dia memiliki informasi lagi, tentang Kakaknya Aisyah?" gumam Simon penasaran. Dan saat benda pipih itu akan dia berikan pada Tuannya- Simon mendapati Aditya tengah menerima telepone.