
Gelap telah kembali membenamkan wajahnya-kala mentari sudah kembali menampilkan senyumnya pada hari yang baru.
Kicauan burung bernyanyi merdu, bersama dedaunan yang ikut menari mengikuti tiupan angin.
Aditya menyibakkan sedikit rambutnya masih sedikit basah, dengan aroma shampo yang kuat. Netara elangnya menatap dengan dalam diri itu lewat pantulan cermin, memastikan dirinya sudah terlihat sempurna atau tidak dengan penampilan paginya.
Lama dia menatap dirinya kembali, kala memikirkan keinginan kedua putrinya, yang sangat ingin bertemu dengan Ibu mereka. Hembusan napasnya Aditya tarik panjang- kala sesak kembali dia rasakan memikirkan keinginan kedua anaknya, yang sangat mustahil untuk dia penuhi.
"Apa yang harus aku lakukan? Sangat tidak mungkin bagiku, membawa Aisyah ke mari. Mana mungkin aku hidup satu atap, bersama dengan wanita yang sama sekali tidak kucintai. Karena hanya kebetulan saja, dia wanita yang mengandung anakku," gumamnya.
Tenggelam dalam suasana hati, memastikan dirinya tetap pada prinsipnya untuk tidak akan membawa Aisyah, tinggal di hunian pribadinya.
Tangannya mengulur panjang-mengagapi parfum yang berada di atas meja, dan menyemprotkan ke tubuhnya. Dua kaki segera mengambil langkah panjangnya ke luar dari dalam kamar, setelah menyambar tas kerjanya.
Ayunan kakinya melangkah dengan pelan-menyusuri setiap barisan anak tangga, yang akan membawanya ke lantai bawa.
Dua kaki yang suda berpijak di lantai dua- seketia Aditya hentikan dengan lemparan pandangan yang dia arahkan pada kamar kedua putrinya. Beberapa menit Aditya biarkan berlalu, tenggelam dengan apa yang dia pikirkan.
Saat dua kaki itu sudah menyentuh lantai bawa, Aditya segera menghentakkan kakinya melangkah menuju ruang makan.
Senyuman kecil dia ukir di wajah, saat mendapati putri bungsunya Sella tengah menikmati sarapan paginya.
"Selamat pagi putri, Daddy!" Kecupan singkat Aditya labuhkan di pucuk kepala sang putri, namun sang pemilik tetap menikmati sarapan paginya seolah tidak menganggap sama sekali kehadiran sang Daddy.
Aditya hanya bisa menghembuskan napas panjangnya, berusaha menahan sesak di dada, dengan sikap acuh putrinya.
Tubuh itu segera Aditya labuhkan pada salah satu kursi makan, dengan arah pandang yang terus dia arahkan pada sang putri.
"Minumlah susunya, itu sangat baik untuk pertumbuhanmu," seru Aditya tiba-tiba.
"Aku tidak mau!" Dengan nada yang terdengar kesal, dan menatap dengan tidak suka pada sang Ayah.
Sesak yang dirasakan, tak mampu Aditya tahan. Apa lagi putri-nya itu, sama sekali tidak berlaku sopan padanya sejak semalam.
Hingga membuat dia berkata dengan intonasi suara sudah meninggi, dari sebelumnya.
"Aku ini adalah Daddy kalian. Jadi Daddy minta, kalian harus bersikap sopan pada Daddy!" Dengan nada yang terdengar tegas.
"Kalau begitu, bawa Mommy ke mari. Aku ingin Mommy tinggal di rumah ini!" hardik Sella.
"Bukankah Daddy sudah bilang! Kalau sampai kapan-pun, kalian tidak akan bertemu dengan Mommy kalian lagi."
Genggaman tangan yang sedang memegang sendok, dilepaskan dengan kasar hingga mampu membuat suara di ruang makan itu. Tubuh itu segera Sella angkat, dengan memberi tatapan tajamnya pada sang Ayah.
__ADS_1
"Daddy minta duduk! Dan lanjutkan makanmu." Dengan menekan kata-katanya, saat memberi titah pada Sella.
"Aku tidak akan mau makan, kalau Daddy tidak membawa Mommy ke mari!" ucap Sella kesal, dan segera berlalu pergi.
Aditya melemparkan pandangannya-seraya menyeruhkan nama sang putri agar kembali melanjutkan sarapan paginya.
"Sella... Sella...." panggil Aditya, namun tidak dihiraukan oleh gadis kecil itu.
Lelah bercampur rasa kesal, dengan tubuh yang seketika dia sandarkan pada sandaran kursi itu.
"Mereka benar-benar membuatku gila!"
"Maafkan saya Tuan! Tapi saat ini tidak ada cara lain, selain dengan membawa Nona Aisyah ke mari."
"Benar apa yang dikatakan Simon, Tuan! Kalau anda ingin Nona Bella, dan Sella tetap bersama anda-bawalah Nona Aisyah ke mari. Sebab Nona Bella, dan Sella sudah mengetahui siapa Ibu mereka," timpal Ani pula.
Aditya kembali mendesah panjang-tenggelam dalam apa yang dikatakan Simon, dan juga kepala pelayan rumahnya. Haruskah dia memikirkan keegoisannya? Atau memikirkan keinginan kedua anaknya. Dan ini sangat sulit, karena sama sekali tidak sesuai dengan rencana awalnya, yang hanya menginginkan anak saja.
****
Bulan, dan bintang telah kembali bersinar di atas awan yang sudah tertutup gelap, kala malam telah kembali menyambut setelah perginya sang surya.
Tubuhnya terbaring lemah, dengan selang infus yang menancap pada pungung tangannya.
"Aku ingin menemui Mommyku... Aku ingin menemui Mommyku.." Bella terus meracau, dengan linangan air mata yang hentinya menetes.
"Makan-lah sedikit Nona Bella! Nanti kau akan tambah sakit," bujuk Ani, dengan mengarahkan sendok makan, pada mulut gadis kecil itu, tapi langsung dipalingkan wajah itu.
"Aku tidak mau makan! Aku ingin bertemu dengan Mommyku!" Dengan teriakan, dan tangisan yang kembali pecah.
Wati! Yang merupakan Dokter keluarga dari Aditya Wirawan hanya bisa menghembuskan napas panjangnya, saat lagi-lagi dia mendengar pinta pasiennya.
"Bawalah Ibu-nya ke mari. Kalau tidak anak ini , kondisinya akan semakin lemah, " pinta Dokter Wati.
"Tapi kami harus minta ijin dulu pada Tuan Aditya, Dokter! Kami tidak bisa melakukannya, tanpa ijin darinya."
"Kalau begitu cepat hubungi Tuan Aditya! Agar membawa Ibu-nya kemari."
****
Suara klakson mobil, terus terdengar dari luar. Secuiriti rumah yang tengah bertugas segera menghampiri gerbang utama, yang sudah mengetahui siapa yang datang.
Tubuh itu segera Aditya condongkan ke luar dari dalam mobil, setelah pintu mobil telah terbuka oleh Simon.
__ADS_1
Wajah itu tak sengaja dia palingkan. Dua alisnya bertaut, dengan wajah yang sedikit kaget setelah mendapati mobil milik Dokter keluarganya.
"Apakah Dokter Wati sedang berada di rumah? Dan siapa yang sakit?"
"Maaf Tuan! Non Bella sedang sakit, dan kami meminta Dokter Wati untuk memeriksanya, karena kondisinya semakin lemah, karena tidak mau makan."
"Kenapa kalian tidak memberitahukan padaku?! Kalau putriku sedang sakit!" Dengan langsung melangkahkan kakinya ke dalam rumah, dengan ayunan kaki yang cepat.
****
Pintu kamar yang tidak terkunci, langsung Aditya lebarkan. Wajah itu menunjukkan rasa cemas yang teramat sangat, dengan dua kaki yang dia ayunkan cepat menghampiri pada putrinya Bella, yang terbaring di dalam mobil.
"Bella... Katakan pada Daddy mana yang sakit?!" Dengan menyentuh lembut jemari putrinya, dan pandangan yang menenggelamkan.
Linangan air mata kembali tumpah membanjiri pipi gadis kecil itu, dengan tatapan penuh pada sang Daddy.
"Daddy... Aku ingin menemui Mommy... Aku ingin Mommy datang ke mari!"
Sella mengambil langkah kecilnya-dengan wajah sendu yang menyelimuti.
"Daddy... Bawalah Mommy ke sini, aku ingin Mommy tinggal bersama kita, aku ingin Mommy kemari Daddy!"
Wati ikut menimpali, saat lagi-lagi dia mendengar permintaan yang sama lagi dari bibirBella.
"Maafkan saya Tuan, kalau sudah mencampuri urusan anda. Tapi alangkah lebih baiknya, bawalah Ibu mereka kemari. Kalau memang anda tidak mau, putri tertua anda keadaannya kian memburuk, jadi saya minta saat ini kesampingkan keeogisan anda, demi kesembuhan Nona Bella."
Aditya menghembuskan napas panjangnya, dengan dua mata yang dia tatap dalam pada wajah Bella, dan Sella yang tengah menatapnya dengan penuh harap.
"Daddy... Aku ingin bertemu Mommy.." pinta Sella lagi.
Senyuman dia lukis di wajah. Melihat tatapan penuh harap kedua buahatinya, membuat ice di hati Aditya, akhirnya mencair juga. Membelai lembut pucuk kepala Sella, yang tengah bersandar manja padanya.
"Baiklah. Kita akan meminta Mommy kalian untuk datang sekarang."
" Apakah Daddy serius??" tanya Bella dengan bola mata lebih membulat penuh.
"Iya." Dan arah pandang itu dia alihkan pada Simon, yang berdiri di depan pintu. "Simon..." panggil Aditya tiba-tiba.
"Iya Tuan.."
"Kau jemput Aisyah sekarang! Bilang padanya, kalau aku menginginkan dia tinggal di rumah ini."
"Baik Tuan! Saya akan menjemput Nona Aisyah sekarang," jawab Simon, dengan segera berlalu dari dalam kamar.
__ADS_1