
Tangannya yang ditarik tiba-tiba, membuat Aisyah sedikit terkejut. Tubuh yang berada dalam tak siap, membuat dia kehilangan keseimbangan- hingga alhasil diri itu menghantam pada tubuh Aditya, dan terbenam seketika dalam pelukan pria itu.
Tentu keduanya sama-sama kaget-dengan posisi yang tak tercela sama sekali. Netra mata keduanya saling beradu, menenggelamkan rasa yang sulit diungkapkan. Sensasi baru semakin mempermainkan diri itu. Detakan jantung yang normal, kini semakin tidak terkontol.
"Ada apa denganku? Kenapa aku jadi deg-degan begini?!" gumam Aditya dalam hati.
Saling menatap. Dan ntah apa yang dipikirkan keduanya, saat ini? Hingga keduanya, terus membiarkan posisi mereka terus seperti itu, tanpa untuk memberi jarak.
Gelora yang sudah lama padam, kembali membakar diri Aditya. Hingga tanpa dia sadari, wajah itu kini semakin mendekat pada Aisyah. Tak ada penolakan dari wanita itu-membuat Aditya kian berani, apa lagi Aisyah sudah terlihat pasrah dengan apa yang akan dilakukan Aditya padanya. Bibir yang sudah akan berlabuh, kembali gagal saat kedatangan Simon tiba-tiba.
"Tuan Aditya..." panggil Simon tiba-tiba. Dan melihat apa yang terjadi di depan matanya, membuat pria itu langsung membalikkan badannya, karena memergoki Tuannya akan berciuman.
"Ma..maaf, saya tidak sengaja."
Aisyah langsumg mendorong tubuh Aditya, agar pria itu menjauh darinya-setelah Simon memergoki apa yang akan mereka lakukan.
Beda dengan Aditya yang nampak biasa saja, dan tak menunjukkan rasa malunya sama sekali-Aisyah justru sebaliknya, wanita itu nampak sangat malu. Wajahnya memucat, dan begitu memerah-hingga mau menatap Simon saja, dia tak berani. Dia nampak kebingungan, dan konyol dengan tingkahnya.
"Se..sendalku mana yaa?" tanya Aisyah dengan berputar kesana-kemar.
"Itu Nona Aisyah! Di bawa kolong kursi," seru Simon tersenyum. Dan pria itu sangat tahu, kalau Aisyah kini menahan malu padanya.
Aditya mengusap kasar wajahnya. Netra matanya dia arahkan pada Simon dengan tatapan tidak sukanya, yang menampilkan senyum tanpa dosanya.
Usai menjangkau satu sendal miliknya, Aisyah langgsung bergegas meninggalkan tempat itu.
"Mas Aditya...Sekretaris Simon...A...Aku permisi dulu," pamit Aisyah tanpa menatap wajah kedua pria itu, dengan alunan langkah yang cepat.
Langkah kaki yang yang Aisyah ayunkan, begitu tergesa-gesa. Rasa malu yang teramat sangat yang dia rasakan saat ini, membuat diri itu rasanya ingin menghilang saja untuk selamanya.
Mulut itu terus saja berkomat-kamit-merutuki diri sendiri, yang menurutnya sangatlah bodoh.
"Kenapa aku begitu bodoh?! Bahkan tadi?! Aku membiarkan dia akan menciumku. Dan kenapa sekretaris Simon melihatnya?! Aduh Tuhan..Asal kau tidak tahu? Kalau hambamu saat ini sangat malu setengah mati," rutuk Aisyah pada diri sendiri.
Memastikan Aisyah sudah berlalu jauh dari tempat ity, Aditya langsung bersuara meluapkan semua kesalnya pada Simon, saat sedari tadi bibir itu membungkam.
"Apakah kau tidak bisa?! Memberitahukan kedatanganmu, Simon!" serunya kesal.
__ADS_1
"Memberitahukan bagaimana Tuan?! Bukankah Tuan, dan Nona Aisyah berada di luar rumah? Lagi pula saya sama sekali tidak tahu, kalau anda dan Nona Aisyah hampir..." seru Simon dengan mengulum senyum di wajah, dengan tak melanjutkan kata-katanya, sebab Aditya menatapnya dengan tajam.
"Yang kau pikirkan itu sama sekali tidak benar. Ingat Simon! Aku hanya menginginkan anakku. Hanya anakku!" seru Aditya tegas, dan dengan mengambil langkah panjangnya, meninggalkan Simon seorang diri.
Aditya melangkahkan kakinya-dengan ayunan langkah yang cepat. Adanya amarah, yang bercampur dengan rasa malu-sebab dia bagai maling yang tertangkap tangan saat akan mencuri sesuatu, dan Aditya meyakini kalau Simon tengah menertawakan dirinya.
"Ini sangat memalukan. Pasti sekarang, dia sedang menertawakanku," umpat Aditya.
Simon mengulum senyum. Lemparan pandangan matanya, itu terus dia alihkan pada Aditya, yang perlahan menghilang dari pandangannya. Wajah itu dia geleng-gelengkan, mendengar ucapan Tuan-nya tadi, yang masih saja menyangkal setelah apa yang dia lihat.
"Anda sudah jatuh cinta pada Nona Aisyah, tapi masih saja menyangkalnya. Dan aku rasa, aku harus melakukan sesuatu, agar Tuan segera menikah dengan Nona Aisyah."
****
Mentari pagi telah bersinar terang, menyapa pada keindahan bumi yang begitu indah, dengan hari baru yang telah menyambut.
Rona bahagia terlihat jelas di wajahnya. Raut wajah yang biasa terlihat angkuh, dan tak pernah menampilkan senyuman, kini terus tampil di wajah tampan itu.
Kaca jendela yang menutup sempurna, Aditya turunkan sedikit, membiarkan cahaya matahari pagi, menyapa padanya. Terus tersenyum, dan hanya dia saja yang tahu, apa arti senyuman itu.
"Uhuuk...Uhuuk...." Batuk pura-pura Simon, yang membuat senyuman itu memudar seketika.
"Jadi kau lebih suka melihat Bos-mu ini bersedih, Simon?!"
"Tidak Tuan! Saya justru senang kalau melihat anda bahagia."
****
Pintu lift terbuka lebar, saat sudah mencapai pada lantai dua puluh. Aditya, dan Sekretarisnya segera mengambil langkah panjang, menuju ruangan mereka yang berjarak beberapa meter, dari lift. Ayunan kaki yang tengah mereka ayunkan, tiba-tiba saja terhenti saat salah satu karyawan, menyeruhkan nama Aditya.
"Pak Aditya..."
Membalikkan tubunya pada asal suara, dan mendapati salah satu karyawan pria, yang sedamg melangkahkan kaki mendekat padanya.
"Pagi Pak.."
"Pagi. Ada apa?"
__ADS_1
"Maaf Pak...Di dalam sudah ada Tuan besar, yang menunggu anda."
Menautkan kedua alisnya, dengan tatapan penuh seketika, setelah mendengar apa yang baru saja karyawan wanita itu katakan.
"Papaku?"
"Iya Pak, beliau sudah menunggu anda dari tadi."
Sesak menyerang dada itu, setelah mengetahi kalau sang Ayah,sedang berada di ruang kerjanya saat ini. Seperti keadaan sebelumnya pasangan Ayah, dan anak itu pasti akan selalu terlibat pertengkaran, jika Ayahnya sampai mengunjungi perusahaannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemuinya," seru Aditya dengan kembali melanjutkan langkahnya.
"Mungkinkah Tuan besar sudah mengetahui tentang keberadaan Nona Aisyah, Nona Bella, dan Sella, di rumah anda Tuan?!" tebak Simon, saat ayunan kaki itu beriringan bersama Bosnya.
"Kita lihat saja. Karena si Tua itu kalau datang menemuiku? Pasti untuk memenuhi ambisinya."
Pintu ruangan terbuka lebar. Terlihat sosok paruh baya, dengan stelan jas hitam dan duduk santai sambil membaca surat kabar.
Melihat kedatangan putra-nya, Andi langsung menghentikan kegiatan bacanya, dengan meletakkan kembali koran itudi atas meja.
"Selamat pagi!"
"Pagi. Papa sudah menunggumu dari tadi."
"Apa yang ingin Papa bicarakan denganku?"
"Katakan pada Papa. Apakah benar?! Wanita itu, dan anakmu sudah tinggal di rumah mu."
Aditya tersentak kaget, dengan pertanyaan yang baru saja terlontar dari bibir Ayahnya. Bagaimana bisa Ayahnya mengetahui? Kalau Aisyah, dan kedua anaknya sudah tinggal di kediamannya. Lemparan mata sekilas dia arahkan pada Simon, yang juga balik menatapnya.
"Ya. Ibu dari anakku, dan juga anakku sekarang tinggal bersamaku. Dan apakah Papa keberatan, jadi itu yang membuat Papa menemuiku?" Dengan menyeringai di wajahnya.
Wajah Andi begitu memerah, dengan jawaban yang baru saja terlontar dari bibir putranya. Yang nampak enteng, dan tanpa beban saat menjawab apa yang dia tanyakan.
"Ingat Aditya! Kamu akan bertunangan dengan Jeni. Apakah kamu sudah melupakan hal itu?! Dan ingat sampai kapan pun! Papa tidak akan mengakui anakmu, sebagai cucuku. Karena Papa tidak sudi, memiliki cucu dari wanita berkasta rendah. Jadi Papa minta, usir wanita itu ke luar dari rumahmu! Sebelum Tuan Gery mengetahui."
Aditya terkekeh pelan, dengan menghunuskan matanya pada Ayahnya, yang sedang dipenuhi amarah.
__ADS_1
"Tidak ada siapa pun di dunia ini, bisa mengatur hidupku. Sekali pun dia, adalah Ayahku sendiri!" seru Aditya.
"Aditya!!" Teriak Andi dengan lantang, akan api amarah yang sudah membakar dirinya.