SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MEMANASI


__ADS_3

Kaget! Bahkan sangat-sangat kaget, mendengar apa yang baru saja Jeni katakan, kalau ternyata di luar sana, sudah beredar gosip yang tidak sedap tentang dirinya, kalau dia penyuka sesama jenis.


Mengusap kasar wajah itu, dengan bersandar pada sandaran kursi.


"Anda baik-baik saja Tuan?" tanya Simon, yang memastikan keadaan Tuannya saat ini.


Netra mata itu Aditya arahkan pada Simon, yang tengah menatap pada Tuannya dengan raut wajah sedikit khawatir.


"Siapa yang menyebabkan berita gila ini! Kalau aku penyuka sesama jenis. Hanya untuk saat ini, aku masih tidak ingin memulai suatu hubungan! Tapi bukan berart, i aku bukan pria normal? Tapi hanya tidak mau salah memilih lagi."


"Saya juga tidak tahu, siapa yang menyebarkan berita ini Tuan! Mungkin bisa saja orang-orang yang tidak menyukai anda."


Hening... Kala Aditya tenggelam dalam dunianya sendiri, memikirkan hal gosip yang beredar tentang dirinya. Bahkan dia saja tidak mengetahuinya!


Dua mata yang menerawang, Aditya alihkan kembali pada Simon, yang masih setia di tempatnya.


"Menurutmu, apa yang harus aku lakukan?"


"Anda meminta pendapat saya, Tuan?" tanya Simon balik.


"Tentu saja Simon! Kenapa kau begitu bodoh?! Jadi apa yang harus aku lakukan?" tanya-nya kembali.


Simon melukis senyum tipisnya, dengan memberi tatapan pada Tuannya yang tengah menatapnya, dengan raut wajah penasaran.


"Kenapa kau tersenyum, Simon?! Aku minta kau menjawab apa yang kau tanyakan, bukan tersenyum padaku."


"Maafkan saya Tuan!" jawab Simon dengan seketika menampilkan wajah seriusnya.


"Ya. Tapi apa yang harus aku lakukan?"


"Menikahi seorang wanita, dengan begitunya gosip itu akan hilang dengan sendirinya."


"Apa kau sudah gila?! Meminta aku menikah!" hardik Aditya, dengan nada yang terdengar kesal.


"Memang hanya itu jalan satu-satu-nya, Tuan! Kalau anda ingin gosip itu bisa menghilang dengan sendirinya."


"Menikah.. Tapi wanita siapa yang harus aku nikahi?"


Simon terkekeh pelan, dengan pertanyaan yang terlontar dari bibir Tuannya.


"Apakah anda lupa? Kalau di rumah ada Nona Aisyah."


Dua mata Aditya lebih membulat, begitu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Sekretarisnya yang membuatnya tersentak keget.


"Menikah dengan Aisyah?"


"Iya Tuan...Bukankah dia juga adalah Ibu dari kedua anak anda? Jadi saya rasa wanita yang tepat anda nikahi, hanya Nona Aisyah."

__ADS_1


"Ingat Simon! Sampai kapan pun, aku tidak akan menikahi wanita itu!" Aditya berucap dengan nada tegas.


"Jadi apa yang akan anda lakukan Tuan?!"


Aditya memijat pelan pelipisnya, yang serasa berdenyut memikirkan gosip yang menerpanya saat ini.


"Ntahlah Simon, aku tidak perduli. Karena jika aku menikahinya, mau taruh di mana mukaku."


"Kalau begitu nikahi saja, wanita lain."


"Kalau aku menikahi wanita lain, aku yakin kedua putriku pasti akan membenciku. Memang suatu saat aku akan menikah. Tapi tidak untuk saat ini, lambat laun aku akan menjelaskan pada Bella, dan Sella tentang keadaan aku, dan Aisyah sebenarnya."


****


Udaran pegunungan begitu menyejukkan. Berdiri di pingiran balkon kamar, dengan memandang jauh pohon-pohon yang yang tengah melambai-lambai mengikuti tiupan angin.


Menghirup napas panjangnya, merasakan udara sekitarnya yang begitu menyejukkan, yang sanggup menembus pori-pori itu.


Sorot mata yang tengah memandang lurus, seketika menoleh kala tiba-tiba terdengar suara telepone, pada ponsel miliknya yang Karla letakkan di dalam kamar.


Tubuh yang sudah berbalik, segera mengayunkan langkah kakinya guna menyambangi gawai miliknya.


Karla menaikkan satu alisnya, dengan rasa penasaran yang seketika menyelimuti diri itu, ketika mendapati nama Sisi pada layar ponselnya. Dan dia sangat meyakini, kalau Sisi akan menyampaikan berita tentang Aditya.


"Pasti ada informasi tentang Aditya, yang ingin Sisi sampaikan padaku," gumam Karla, dengan langsung melabuhkan jemarinya, pada icon hijau.


"Hallo Nyonya! Dari tadi aku menelpone, kenapa anda baru mengangkatnya?"


"Maaf, dari tadi aku sedang sibuk-dan ponselku aku letakkan di kamar. Dan apakah ada informasi tentang Aditya, anakku?" tanya Karla yang mencoba untuk menebak.


"Tepat sekali Nyonya! Dan kali ini aku menyampaikan berita gembira, dan aku sangat yakin kalau anda sebagai Ibu dari Tuan Aditya, pasti akan sangat bahagia."


"Jangan buat aku penasaran. Katakan berita bahagia, apa itu?"


"Kedua anak Tuan Aditya, dan juga Ibu nya sekarang sudah tinggal di rumah ini, Nyonya!"


"DUARR!!" Bak disambar petir disiang bolong, Karla begitu kaget hingga wajah itu nampak sangat frustasi setelah mendengar apa yang baru saja Sisi katakan.


"Hallo Nyonya..Apakah anda masih mendengar saya?" tanya Sisi diseberang sana, saat tak lagi mendengar suara Karla pada ponselnya.


"I...Iya, aku masih di sini," jawab Karla gelagapan.


"Dan katakan padaku, apakah wanita itu cantik?"


"Cantik Nyonya...Bahkan sangat-sangat cantik. Walau pun penampilannya sangat natural."


"Cantikan dia? Atau mantan tunangannya? Citra."

__ADS_1


"Yang kali ini, jauh lebih cantik Nyonya! Dan aku rasa karena mungkin kepolosan wanita itu, dan sikapnya yang baik membuat Tuan Aditya jatuh hati padanya. Dan aku sangat yakin, kalau sebentar lagi Tuan Aditya akan menikahinya."


"Apakah kamu yakin?!" tanya Karla yang kian merasa sesak di dada, dan tentu saja itu akibat rasa cemburu-nya.


"Sangat yakin."


Karla menghembuskan napas tegasnya. Saat sesak di dada, semakin saja menghimpit jantungnya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan tutup teleponenya," ucap Karla dengan langsung mematikan sambungan telepone itu.


Karla terlihat resah, dan begitu gelisah. Wajah yang tadi tenang bak sungai yang mengalir, seketika bag badai yang siap menerjang.


"Cantik! Pasti wanita itu lebih cantik dariku," gumam Karla cemas.


"Dan sampai kapan pun, aku tidak akan membiarkan wanita mana pun memiliki Aditya. Tidak akan pernah!" Dengan nada penuh penekanan.


Mengetahui kalau Aditya saat ini-sudah ada wanita lain dalam hidup anak tirinya, membuat Karla sang Ibu tiri sangat tidak tenang. Sebab sudah bertahun-tahun lamanya, wanita itu menaruh perasaan pada anak dari suaminya.


Langkah kaki yang melangkah ke sana kemari, seketika Karla hentikan, saat muncul sebuah ide cemerlang, yaitu menelpone suaminya.


"Ya! Aku harus menelpone Mas Andi. Harus. Dan aku sangat yakin, kalau Mas Andi pasti akan sangat murka, begitu dia mengetahui kalau Aditya telah membawa anaknya, dan juga wanita itu ke rumahnya. Bukankah dia sangat menginginkan, kalau Aditya menikah dengan Jeni?" gumam Karla dengan seringai jahat di wajahnya, dan langsung menghubungi suaminya, Andi Wirawan.


"Hallo Karla..." Terdengar suara Andi di sana, saat panggilan telepone telah tersambung.


"Hallo Mas... Bagaimana kabarmu?"


"Baik! Dan kapan kau pulang?"


"Setelah urusanku selesai, aku pasti akan segera pulang. Oh..Iya Mas! Aku punya berita yang kurang enak untukmu."


"Berita apa, Karla? Katakan padaku."


"Ini mengenai anak kita Aditya, Mas!"


"Aditya? Memangnya ada apa dengan dia?"


"Aditya telah membawa kedua anaknya, dan juga wanita itu untuk tinggal di rumahnya. Jujur Mas! Aku sangat tidak setuju, bukankah dia akan bertunangan dengan Jeni?"


"Kau serius dengan apa yang kau katakan Karla?"


"Aku sangat serius Mas! Buat apa aku berbohong. Sisi yang memberitahukan padaku. Dan aku rasa kau harus menemuinya Mas! Sebelum Tuan Gery, mengetahuinya."


"Anak itu sudah sangat keterlaluan! Besok aku akan mendatangi perusahaannya."


"Tentu Mas, dan itu harus! Karena aku juga tidak mau, wanita yang tidak jelas asal-usulnya itu-menjadi menantu kita," ucap Karla, lalu mematikan ponselnya.


Seringai licik terbit di wajah cantiknya, dengan sorot membunuhnya.

__ADS_1


"Aku sangat yakin, besok pasti akan ada pertengkaran hebat antara Mas Andi, dan anaknya itu," gumam Karla.


__ADS_2