
Kerutan sedikit menumpuk di dahi Aisyah. Bagaimana dia mendengar apa yang baru Simon katakan, dan tentu saja itu di luar pikiran-nya. Bagaimana mungkin? Seorang Ibu tiri bisa menaruh hati, kembali pada anak dari Suami-nya.
"Apakah kau serius dengan apa yang kau katakan, Sekretaris Simon?!" Aisyah kembali memastikan apa yang Simon katakan, dengan sebuah pertanyaan.
"Tentu saja, buat apa aku berbohong."
"Dan apakah Mas Aditya, tahu?"
Sudut bibir Simon mencetak senyuman, setelah mendengar pertanyaan yang baru saja Aisyah lontarkan padanya.
"Tentu saja dia tahu, bahkan Nyonya Karla mengatakan dengan terang-terangan pada Tuan Aditya, kalau dia menyukai-nya."
"Dan, apa tanggapan Mas Aditya? Dan apakah Papa-nya Mas Aditya, mengetahui hal ini?" Aisyah masih terlihat penasaran, hingga lagi-lagi Wanita itu mengajukan pertanyaan pada Simon.
"Tentu saja, dia menolak. Dan Tuan Besar tidak mungkin percaya, sebab cintanya yang begitu besar pada Nyonya Karla, sudah membutakan matanya. Maka dia tidak bisa membedakan mana cinta yang sesungguhnya, dan mana cinta yang semu."
Aisyah mendesahkan berat napasnya, sesak begitu menghimpit di dada, dengan kenyataan yang baru saja dia tahu, tentang kehidupan calon Suaminya.
"Aku tidak menyangkah di balik kehidupannya yang terlihat sempurna, ternyata banyak hal yang dia tutupi."
Simon mengukir kecil senyum di wajah, usai mendengar apa yang baru Aisyah katakan. "Dia di dunia ini, tidak ada kehidupan yang berjalan dengan sempurna, seperti apa yang kita inginkan, sekali pun itu, datang dari golongan atas. Di balik hidup mereka yang bergelimang harta, pasti ada saja badai yang menerpa. Dan contoh yang paling nyata, adalah kehidupan Tuan Aditya, yang terlihat begitu sempurna di mata orang-orang. Dia tinggalkan tunangan-nya saat mereka akan menikah, dan Ibu nya meninggal, dan jenazahnya sampai sekarang belum juga ditemukan. Juga hubungan-nya yang tidak baik, dengan Ayah kandungnya sendiri. Jadi aku minta, tetap lah bersama Tuan Aditya, karena aku yakin, kau wanita yang bisa menyembukan luka di hatinya."
Dua alis Aisyah bertaut, menatap dengan intens pada Simon, setelah mendengar ucapan pria itu, yang tidak dia mengerti.
"Maksud mu??"
"Belajar-lah untuk mencintainya, karena dia telah jatuh cinta padamu."
Tawa kecil menyimuti wajah Aisyah, yang merasa lucu dengan ucapan Simon, kalau Aditya TELAH JATUH CINTA PADA-NYA.
"Jangan ngacoh, deh! Sekretaris Simon, mana mungkin dia bisa jatuh hati pada ku secepat itu?"
Simon pun turut mengukir senyuman di sana, saat Aisyah merasa ucapannya, hanya sebuah lelucoan untuk-nya.
"Aku bekerja pada Tuan Aditya sudah sangat lama, dan aku sangat mengenal bagaimana dia. Tanpa dia katakan pun aku sudah tahu."
"Terserah kau saja! Tapi aku tidak yakin, akan hal itu."
"Tapi apa kau akan belajar mencintainya?"
"Kami akan menikah, seiring berjalan-nya waktu cinta itu pasti akan tumbuh."
"UHUUK...UHUUK..." Suara batuk yang terdengar seketika mengalihkan pandangan Aisyah, dan juga Simon yang berada di taman itu.
"Mas Aditya..."
__ADS_1
"Tuan..."
Aditya menampilkan smirk iblisnya, dengan dua kaki yang membawa tubuh itu pada Simon, dan Aisyah yang duduk berdampingan di sebush kursi panjang.
"Bagaimana aku bisa tidak tahu, kalau kalian berdua berada di sini? Disaat semua orang sudah tidur." Walau pun nada suara itu terdengar biasa, tapi secara tidak langsung Aditya sudah menunjukkan rasa cemburunya.
"Aku sedang menikmati udara malam ini, dan tiba-tiba saja Nona Aisyah datang."
"Aku tidak bisa tidur, Mas! Jadi aku memutuskan untuk datang kemari."
"Apa ucapan kalian bisa dipercaya? Bukankah sekarang sudah ada HP? Jadi bisa saja, kalian berdua berkirim pesan, dan ketemu di taman ini disaat semua penghuni rumah ini sudah tidur."
"Ayo lah Mas...Aku benar-benar tidak bisa tidur.." ucap Aisyah, dengan nada yang sedikit merajuk.
"Memang apa yang membuatmu, tidak dapat tidur?!" tanya Aditya dengan nada yang tegas.
"Tadi pagi setelah keberangkatanmu ke kantor, Mama tirimu kemari."
Mengangkat satu alisnya, dengan sorot mata yang lebih fokus pada Aisyah, setelah mendengar kata-kata wanita itu.
"Benarkah??"
"Heemmm...." jawab Aisyah dengan sebuah anggukan kecil.
"Saya sudah yakin, kalau Nyonya Karla pasti akan datang menemui Nona Aisyah, begitu dia mengetahui kalau anda, dan Nona Aisyah akan menikah, Tuan!"
"Wanita itu benar-benar gila! Aku tidak tahu, kenapa Papa ku bisa mencintai, WANITA ULAR seperti itu! Dan aku rasa aku harus mengundang mereka, untuk datang besok ke pernikahanku."
"Apakah kau yakin, Mas?"
"Ya. Aku sangat yakin."
****
KEDIAMAN ANDI WIJAYA
Duduk bersandar pada kepala ranjang, dengan tatapan mata yang pria paruh baya itu-fokuskan pada sebuah majalah, yang berada di dalam genggaman. Sesekali arah pandang itu-Papa Andi lemparkan pada arah kamar mandi, di mana sang Istri masih berada di sana.
Berselang beberapa menit, Karla pun ke luar dari kamar mandi dengan berbalut pyama bermotif, bunga matahari. Beradu pandang dengan Suami-nya, Karla melukis senyuman manisnya di wajah. Tapi karena Papa Andi hanya menampilkan wajah seriusnya, membuat senyuman di wajah pudar seketika.
"Apakah ada masalah Sayang??"
"Ya!" jawab nya tegas.
Raut wajah Karla seketika berubah serius, dan langsung melabuhkan tubuh itu disamping Suami-nya, yang sudah meletakkan majalah yang dia baca, di atas meja.
__ADS_1
"Katakan padaku, ada apa?"
"Aku tidak tahu, apakah aku harus percaya dengan ucapan sahabatku, atau tidak. Karena selama ini sekali pun Aditya berbicara buruk tentang mu, aku memilih untuk tidak mempercayai-nya."
"Aku tidak mengerti, apa yang kau katakan?" Karla menampilkan mimik penasarannya, setelah mendengar ucapan Suami-nya, yang sangat tidak dia mengerti.
"Rekan bisnisku, Pak Aryo memiliki vila di daerah Jawa Tengah. Dan dia mengatakan, kalau dia pernah melihat mu beberapa kali di daerah sana."
Wajah Karla pucat pasih seketika, setelah mendengar apa yang baru saja dikatakan Suami-nya. Hingga ketakutan pun mulai menjalar dalam diri-nya, jika saja sang Suami, mengetahui semua kebusukan yang dia simpan selama ini.
"Kenapa kau diam saja Karla?! Katakan padaku, hal apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?!" tanya Papa Andi, dengan nada suara yang tegas.
"A...Aku tidak menyembunyikan apa-apa Sayang.."
"Terus apa yang kau lakukan di puncak sana?! Karena aku sama sekali tidak memiliki vila di sana."
"Aku pergi mengunjungi sahabatku!" jawab Karla cepat.
"Kau sedang tidak berbohong padaku, kan Karla??"
"Tentu saja, aku tidak berbohong pada mu Sayang, bukankah tidak ada gunanya juga."
"Aku hanya memperingatkan padamu, jangan melakukan kebohongan padaku, jika tidak! Aku pastikan, kau tidak akan mendapatkan sepeser pun dariku. Kau mengertikan maksudku?"
"Tentu saja Sayang, mana mungkin juga aku melakukan kebohongan di belakangmu," jawab Karla dengan membentuk senyuman di wajah, berusaha menutupi wajah gugup itu.
Nada panjang menggema dalam kamar itu, yang mengalihkan tatapan pasangan Suami-Istri itu pada gawai milik Papa Andi. Satu tangan Papa Andi mengulur panjang, menggapai gawai milik nya yang berada di atas meja, samping kanan ranjang.
Keningnya mengkerut, degan sorot mata jauh lebih intens, setelah dia mendapati nama putranya-Aditya, di layar HP miliknya.
"Siapa yang menelponemu, Sayang?"
"Aditya."
"Besarkan spekernya, sebab aku juga ingin mendengar apa yang dia bicarakan."
"Baiklah,"
&&&
"Hallo, buat apa kau menelpon Papa?!" tanya Papa Andi, dengan nada yang terdengar kesal.
"Karena aku tahu, kalau aku masih memiliki Ayah. Aku hanya ingin mengatakan, kalau besok aku akan menikah. Dan sekali pun Papa tidak menyetujuinya, pernikahan ini akan tetap berlangsung."
"Terus apa yang kau inginkan?!"
__ADS_1
"Aku hanya minta, Papa datang bersama Istrimu itu." Dan langsung memutuskan sambungan telepone-nya, begitu saja.