
"Ya." jawabnya tegas.
Aisyah masih nampak berat. Susah payah dirinya bersembunyi pria itu, kini takdir membuat keduanya semakin dekat, dan akan selalu melewati hari bersama. Dan tentu saja, yang membuat Aisyah takut- jika kebersaan mereka setiap hari, lambat laun membuat Aditya akan mengetahui siapa dia.
"Tapi, kenapa harus saya Pak? Saya..." Belum mulut itu mengeluarkan keberatannya, Aditya sudah menyela ucapannya.
"Saya adalah Bos kamu. Dan saya mempunyai hak, untuk memutuskan. Bukan malah kamu, yang balik mengatur saya." Aditya menekan kata-katanya, yang membuat bibir wanita di depanya, seketika terkatup.
Nada datar, dan tatapan tajam dari seorang Aditya- mampu membuat nyali Aisyah menciut. Hingga yang dilakukan wanita muda itu, hanya bisa pasrah, membiarkan apa yang akan terjadi, sebab dia tidak mempunyai kuasa untuk membantah titah-dari seorang Aitya Wirawan.
"Baiklah, Pak.. Saya mau. Saya mau menggantikan Pak Hasan." jawabnya pasrah.
Menyeringai di wajah tampannya, menatap tajam pada Aisyah- yang hanya bisa memelaskan wajahnya, saat tak kausa menolak titah darinya .
"Bagus. Karena memang, kamu harus mematuhinya. Dan sekarang juga, kamu segera bersikan ruangan saya-jangan sampai debu, ada yang tertinggal. Sebab saya sangat tidak menyukai, kalau ruangan saya ini kotor."
"Baik Pak... Saya akan membersikan ruangan Bapak-sekarang." jawab Aisyah pelan, dan mulai melakukan tugasnya sebagai Office gril di perusahaan itu.
Posisi sapu yang tertidur di lanta bawah- segera Aisyah gapai, dan mulai membersikan ruangan itu. Mendapati Aisyah yang sudah mulai melakukan tugasnya, membuat Aditya mau-tidak mau, harus beranjak dari duduknya-agar terhindar dari serpihan debu. Ayunan kaki itu dia ayunkan pada sudut ruangan-yang berdinding kaca, dengan melemparkan pandangannya sejauh mungkin, menatap pada keindahan kota Jakarta, dari laintai dua puluh, Company Group. Arah pandang itu kembali berpindah pada Aisyah, yang masih dengan kegiatan sapunya.
"Setelah itu, bersikan meja kerja saya."
"Baik Pak... Setelah selesai menyapu, saya akan membersikan meja kerja Bapak." Arah pandangnya kembali berpindah pada tumpukan debu, setelah tadi mengarah pada Aditya yang tiba-tib berbicara padanya.
"Bersikan yang benar! Apakah kamu tidak melihat, didekat kaki meja itu masih ada sedikit debu?!" Suara Adityam yang begitu tinggi, tentu saja mampu membuat nyali dari Ibu, dari anaknya menciut seketika.
"Ma..Maafkan saya Pak... Maaf." Denganm mengarahkan sapu itu, pada sedikt debu yang terdapat di dekat kaki meja sofa set.
"Kamu kalau bersikan ruangan saya, harus benar-benar bersih. Karena saya sama sekali tidak menyukai, kalau ruangan saya-masih ada debu." Dengan menekan kata-katanya, yang membuat Aisyah hanya bisa menghembuskan napas panjang- akibat menahan kesal, pada pria yang selama ini dia hindari.
__ADS_1
"Baik Pak..."
Tubuh yang tadi berdiri tegak- Aditya sandarkan pada dinding kaca. Dua tangannya bertaut, dengan melemparkan pandangannya, pada Aisyah yang masih sibuk dengan kegiatannya bersih-bersihnya.
Dua tangannya bergerak monar-mandir, kala membawa debu dengan bulu-bulu kasar itu. Rasa takut kembali menyelimutinya, saat dia menyadari kalau Aditya tengah memperhatikan dirinya. Dan tentu saja yang membuat dia takut, jika pria itu, sampai mengetahui siapa dia.
"Ya Tuhan... Aku mohon.. Aku mohon.. Jangan biarkan dia mengetahui siapa aku ini?" bathin Aisyah penuh harap.
"Kenapa wajahmu, pucat begitu?! Apakah kamu takut, saya melakukan sesuatu yang buruk padamu?" Memicingkan dua matanya, menatap intens pada Aisyah.
"Ti.. Tidak Pak! Saya tidak berpikr seperti itu. Saya memang lagi, sedikit gak enak badan, jadi wajah saya sedikit pucat." jawab Aisyah terbata, kala kebohongan yang dia ucapkan.
"Dan sampai kapanpun, itu memang tidak akan pernah terjadi. Karena mana mungkin, saya tertarik pada wanita gelap gulIta kaya kamu." Menyeringai rendah, dan membingkan senyuman mencemoohnya pada Aisyah.
"Ha.. Ha... Ha... Benar sekali Pak! Mana mungkin, anda akan tertarik pada saya. Karena saya begitu hitam." jawabnya tsesenyum.
"I...Iya Pak!" jawabnya mengukir senyum palsunya, saat kesal itu berusaha dia sembunyikan dari Aditya.
Tumpukan debu, dan terdapat beberapa sampah kini Aisyah telah pindakan pada sebuah kotak sampah. Kembali memasuki ruangan itu, dan mendapati Aditya -yang masih setia berdiri di sudut ruangan. Tatapan mata yang tadi menatap keindahan kota Jakarta- dari gedung pencakar langit miliknya, seketika berpaling-dan mendapati Aisyah, yang tengah menatapnya dari jauh. Sorot matanya lebih tajam, mendapati Aisyah yang terus memperhatikan dirinya.
"Apakah saya menugaskan kamu, untuk menatap saya?!" Nada datar dari Aditya, yang mampu membuat Aisyah dilanda ketakukan, dan segera menyambar serpihan kain kecil, dan permbersih.
"Maafkan saya, Pak... Dan sekarang, saya akan membersikan meja kerja Bapak."
"Silahkan.."
Aisyah sudah menyemprotkan sedikit pembersih, saat wanita itu- akan mulai membersikan meja kerja. Gerakan tangan wanita itu, terlihat lincah- saat mondar-mandir di atas meja itu. Gerakan tangan yang tadi cepat, seketika melambat-saat sepasang mata itu, tak sengaja menatap sebuah lembaran foto, yang berada di atas tumpukan kertas yang sedikit menyusun tinggi di atas meja. Dan itu adalah gambar dirinya.
"Ya Tuhan... Ini kan fotoku? Jadi sampai sekarang, mereka masih mencariku?" Aisyah bergumam dalam hati. Wajah wanita itu-memucat seketika, ludah yang tertelanpun, serasa tercekat di tenggorokannya. tanya Aditya tiba-tiba, kala dua mata itu mendapati Aisyah tengah menatap intens pada sesuatu.
__ADS_1
"Apakah saya ada memintamu, untuk memperhatikan barang-barang saya di atas meja?" tanya Aditya tiba-tiba, kala dua mata itu- mendapati Aisyah, tengah menatap intens pada sesuatu.
Arah pandang Aisyah seketika berpaling pada Aditya, saat pria itu ber,ucap tiba-tiba.
"Ha...Ha...Ha... Maafkan saya, Pak! Tapi wanita ini sangat cantik. Apakah dia pcar Bapak?" tanya Aisyah, yang berpura-pura bertanya, untuk mengoreksi informasi dari pria itu.
"Dan apakah saya menugaskan kamu, untuk bertanya tentang siapa wanita dalam foto itu?!" Nada tegas, dan tatapan tajamnya-membuat nyali seorang Aisyah Maharani menciut seketika.
"Sekali lagi, maafkan saya Pak! Maafkan saya," Aisyah tersenyum kikuk, dengan membungkukkan sedikit badannya, saat meminta maaf paa lelaki tampan itu.
Tangannya kembali bermain lincah, di atas dataran meja itu, untuk kembali melanjutkan kegiatannya. Saat sudah sudah meyakini, kalau meja kerja itu sudah bersih- Aisyah seketika bersuara pada Aditya, memberitahukan kegiatannya yang sudah selesai.
"Maaf, Pak... Sudah selesai." ucap Aisyah tiba-tiba, yang mengalihkan tatapan sepasang mata lelaki tampan itu.
"Benarkah?" Dua kakinya mulai melangkah, menghampiri pada meja kerjanya- memastikan meja itu, sudah betul-betul bersih atau belum.
Saat Aditya berdiri disampingnya-Aisyah sedikit menjaga jarakl dari pria itu. Berada dengan jarak yang begitu dekat, dengan Ayah biologis dari kedua putrinya-serasa ada yang aneh buat wanita itu. Dan hanya Aisyah, yang mampu menjabarkan bagaimana hatinya saat ini, berdu dalam satu ruangan dengan pria ittu.
Telapak tangannya melebar, menyapu di atas meja kerjanya. Wajahnya seketika nampak menegang, yang terselimuti rasa kesal di sana.
"Masih ada debu. Dan apakah kaca mata yang kamu pakai-kurang besar?! Hingga debu-debu ini, hingga debu ini tidak dapat kamu lihat dengan dua matamu itu."
"Tapi Pak... Menurut saya, ini sudah bersih.." Aisyah memelaskan wajahnya, akibat rasa kesal yang berusaha dia sembunyikan dari pria itu.
"Dan saya menanyakan pada kamu. Siapa Bos di sini?"
Sekali lagi, keadaan membuat dia tak berdaya menolak keinginan Aditya. Posisi laki-laki itu sebagai pimpinan, dan atasannya, membuat mau tidak mau, kembali mematuhi permintaan pria itu.
"Baik Pak... Saya akan kembali membersikannya." jawabnya pasrah, dan kembali melanjutkan kegiatan itu- walaupun dia sangat enggan.
__ADS_1