SIBURUK RUPA AISYAH

SIBURUK RUPA AISYAH
MENAMPAR MELINDA


__ADS_3

Apakah menurutmu? Aisyah sudah benar-benar memutuskan komunikasi dengan keluarganya di Surabaya? Sebab aku sangat ragu, akan hal itu, Simon!"


"Kalau untuk itu, kita tidak dapat menyimpulkan sendiri Tuan.. Bisa saja mereka berbohong, atau-pun jujur karena Nona Aisyah sama sekali tidak pernah mendatangi, orang tuanya."


Raut wajah itu seketika berubah tenang, dan larut dalam dunianya sendiri- menimang apa yang baru saja dikatakan oleh sekretarisnya itu. Membiarkan beberapa menit berlalu, dan kembali bertanya, akan sesuatu yang mungkin bisa saja Aisyah lakukan, hingga keberadaan wanita itu sampai saat ini, tidak mereka ketahui.


"Simon..." panggilnya tiba-tiba, yang memecahkan suasana hening, dalam ruangan itu.


"Ada apa Tuan?"


"Apakah menurutmu? Aisyah mengetahui, kalau selama ini aku mencarinya- hanya untuk menginginkan anakku. Karena sampai sekarang kebedaannya saja, belum kita ketahui. Padahal sudah memakan waktu yang sangat lama, untuk kita mencarinya wanita itu."


"Kalau untuk itu, saya tidak bisa memastikan. Tapi dilihat dari lamanya waktu, untuk kita mencari Nona Aisyah, saya sangat yakin-kalau dia sudah mengetahui-kalau anda sedang mencarinya selama ini."


"Begitu..." Menimang apa yang yang baru saja dikatakan Simon, sebelum mulut itu kembali bersura.


"Dan kalau memang ia.. Apakah menurutmu dia kabur ke luar negeri? Atau apapun itu?"


"Maksud Tuan?" Sorot mata Simon seketika menatap penuh pada Tuannya, mendengar ucapan akhir kalimat pria itu- yang sama sekali tidak dia pahami.


Menegakkan posisi duduknya, dengan kilatan mata begitu fokus pada Simon- yang intens menatap padanya.


"Maksudku, begini Simon.. Mungkinkan dia hidup sebagai orang lain, atau-kah melakukan penyamaran, hingga membuat kita sulit menemukan dia."


Ucapan Tuan mudanya, seketika membungkam bibir pria itu. Kala baru menyadari kemungkinan hal itu- bisa saja terjadi. Bisa saja Aisyah hidup sebagai orang lain, hingga keberadaan wanita itu sampai sekarang belum diketahui mereka, sampai saat ini.


"Kabur ke luar negeri, atau bisa saja Aisyah hidup sebagai orang lain, itu tidak menutup kemungkinan Tuan.. Hingga membuat kita sulit menemukannya."


"Kalau memang iya, tetap lakukan pencarian pada wanita itu! Bila perlu, perbanyak anak buah kita agar lebih cepat menemukan keberadaannya. Sebab aku sudah tidak sabar, ingin bertemu dengan anakku."

__ADS_1


"Baik Tuan..."


****


Dedaunan berjatuhan dari ranting pohon, saat angin berhembus dengan sedikit kencang yang terbawa ke vila mewah itu. Dedaunan kering perlahan tersapu, dan terkumpul tersendiri mengikuti tiupan angin, hingga terbawa kesekitar area vila, yang masih nampak berkabut.


Tanpa alas kaki, tubuh ramping itu melangkahkan kakinya menuju balkon kamar. Mengukir senyum di wajah, seraya mengedarkan pandangannya kesegalah arah, menikmati keindahan vila, dengan sejuknya udara dipagi hari yang begitu mempesona.


Arah pandang itu-seketika Karla hentikan, saat sepasang bola matanya, menangkap sosok yang sangat tidak asing baginya. siapa lagi kalau buka Kalau bukan?! Ibu kandung dari Aditya Wirawan, Melinda.


Karla menyeringai jahat, melihat penderitaan Melinda-serasa kepuasan tersendiri, bagi wanita muda itu. Yang dulu berpakaian mewah, kini layaknya seoang pelayan dengan berpakian lusuh, dan beralaskan sendal jepit yang sangat jauh dari kata glamor.


"Bahkan anak, dan suaminya sama sekali tidak mengetahui, kalau wanita tua ini, aku sekap dan jadikan pelayan pribadiku. Tapi sepertinya nasipnya lebih buruk dari seorang pelayan. Kalau pelayan masih aku beri gaji, kalau ini sama sekali tIdak, aku beri sepeserpun. Dan aku rasa, dia lebih pantas disebut budak. Ya budak."


Walaupun berpakian lusuh, Melinda masih terlihat cantik-dan sama sekali tidak mengurangi sisi keanggunan, seorang Melinda Wirawan- istri dari pengusaha kaya Andi Wirawan, dan Ibu kandung dari pengusaha muda, Aditya Wirawan.


Berusaha ikhlas menerima kenyataan, akan takdir yang menimpahnya, apalagi dia sudah mengetahui, kalau sang suami, Andi Wirawan! Sudah menikah lagi dengan wanita yang sudah menghancurkan kebahagiannya.


Cucuran keringat membasahi dahinya, kala terik sinar matahari pagi mengenai wajah yang sudah terlihat lelah itu. Rumput-rumput yang sudah terpangkas, Melinda tumpukkan menjadi satu untuk membuangnya.


Dengan sedikit kesusahan, dua tangannya merangkul penuh tumpukan rumput itu, untuk membuangnya ke tempat pembakaran sampah. Baru saja sepasang kakinya mengayunkan tiga langkah, tiba-tiba saja ada salah satu pelayan wanita, yang mengambil alih rumput itu dari genggamannya.


"Biar aku saja, yang membuangnya Nyonya!" pinta Siti tiba-tiba, tanpa meminta persetujuan dari wanita tua itu.


Senyum kecil Melinda lukiskan di wajah tuanya, dengan apa yang apa yang dilakukan Siti, yang selalu begitu baik padanya, selama dia berada di vila itu.


"Terima kasih, Siti.."


Keduanya melangkah ber,iringan, seraya berbincang kecil di sana- saat dua kaki mereka, mereka ayunkan ke tempat pembakaran sampah.

__ADS_1


'Nyonya! Mau sampai kapan anda hidup di vila ini? Bukankah di sini, anda hanya dijadikan pelayan dari wanita licik itu? Dan kenapa anda tidak kabur saja? Agar kejahatan Nyonya Karla dapat terungkap."


Melinda tersenyum getir. Pertanyaan yang baru saja ditanyakan Siti, sedikit menggores hatinya yang selalu dirundung kesedihan. Dia sangat merindukan putranya. Ingin memeluknya, dan mengatakan- kalau Mama sangat merindukanmu Adit! Dan tentu saja, dia sangat menginginkan kebebasan.


"Aku begitu menginginkan kebebasan. Kau sangat tahu, bagaimana wanita itu-memperlakukan aku di sini. Dia merebut posisiku, dan menjadikanku pelayannya. Tapi bagaimana itu bisa terjadi? Dan bagaimana aku bisa bebas? Kalau penjagaan di sini begitu ketat. Karena sesungguhnya, aku sangat merindukan putraku, Siti! Sangat merindukan dia."


Siti melukis senyumnya, senyuman yang terlihat memaksa- saat senyuman itu bercampur dengan rasa iba pada Melinda.


"Maafkan saya, Nyonya! Karena tidak dapat membantu anda."


"Dengan apa yang kau lakukan padaku selama ini, itu sudah sangat membuatku bahagia. Dan aku berteria kasih untuk itu." Melukis senyum kecilnya, kala melemparkan senyuman hangat itu pada pelayan muda itu.


"Hallo Melinda..." Tiba-tiba saja terdengar suara seseorang yang menyapa padanya, hingga pandangan yang menatap lurus ke depan seketika berbalik pada asal suara.


Raut wajah kedua wanita itu-seketika berubah tegang, saat mendapati Karla, yang tengah melangkah menghampiri pada mereka.


"Lama kita tidak bertemu Melinda? Dan bagaiamana kabarmu?" Dengan menampilkan senyuman mencemoohnya pada Melinda, yang tengah menatapnya dengan penuh kebencian.


"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja, jadi menurutku-kau tidak perliu bertanya, Karla!"


Tawa keras seketika menyelimuti wajah cantik Karla, mendengar apa yang baru saja dikatakan Melinda, yang menurutnya sangat jauh dari kata baik.


"Benarkah? Tapi aku rasa kau berbohong. Karena yang kulihat ini sangat jauh dari kenyataan. Dengan melihat penampilanmu seperti sekarang saja, sudah dapat aku simpulkan-kalau keadaanmu, sangat jauh dari kata baik. Apakah kau tidak ingat? Kalau dulu aku yang bekerja padamu. Bahkan aku sering menemanimu berbelanja, diboutique-boutique mahal. Tapi sekarang! Justru aku yang menggantikan posisimu. Dan keadaanmu, jauh lebih buruk dari keadaanku dulu."


"Maaf, aku sama sekali tidak tertarik dengan apa yang kau katakan. Karena semua pelayan di vila ini mengetahui, kalau kau itu-wanita yang rella menjual diri pada suami orang, hanya untuk mendapatkan kemewahan."


Senyuman penuh kemenangan di wajah Karla, seketika tergantikan, dengan memerah yang sudah menyelimuti wajahnya- akan api amarah yang sudah membakar diri wanita itu, karena ucapan Melinda yang begitu merendahkan dirinya. Segera mengambil langkah panjangnya, dan saat sudah mendekat dengan Melinda, Karla segera melayangkan tamparan yang sangat keras, pada pipi istri tua suaminya.


"PLAAKK!"

__ADS_1


__ADS_2