
Wajah cantik, Sarah! Seketika bersemuh merah, karena kedapatan oleh seorang Aditya, saat dia menatap pria itu dengan tatapan mata tak berkedip sedikit-pun.
"Malam..." jawabnya tersenyum kikuk, berusaha menutupi rasa malu itu.
"Duduklah,"pinta Aditya kemudian, yang juga mendaratkan tubuhnya pada sebuah kursi tunggal.
"Terima kasih," Bibirnya mengulum senyum, dengan kembali mendaratkan bokongnya di kursi.
Hening melanda, saat belum ada yang berbicara antara keduanya. Sarah menampilkan senyuman manisnya, kala Aditya menatapnya dengan tatapan intensnya. Dengan sengaja gadis manis itu menautkan kakinya, agar dapat menampilkan paha mulusnya di depan lelaki kaya itu.
Aditya menyeringai rendah, dengan bersandar pada sandaran kursi- saat iris mata itu- dia tajamkan pada saudara perempuan dari Aisyah.
"Wanita ini, bukan hanya ingin menyampaikan informasi tentang Kakaknya. Tapi juga ingin menggodaku, tapi sayangnya! Aku sama sekali tidak tertarik padanya." bathin Aditya.
"Katakan. Informasi apa yang kau punya, tentang Kakakmu, Aisyah." Aditya berucap tiba-tiba, yang seketika memudarkan senyuman menggoda di wajah Sarah, dengan pertanyaan tuntutan dari pengusah kaya itu.
Sarah menegakkan posisi duduknya, menarik ujung dres yang tadi sedikit tersingkap, yang kembali menutupi paha mulusnya yang tadi sempat ter,ekspos. Ada rasa kecewa dalam diri gadis itu, susah payah dia berdandan, dan juga sampai membunuh rasa malunya agar Aditya tergoda dengannya-tapi malah yang dia dapati sebaliknya. Pria itu, sama sekali tidak tertarik padanya, bahkan tidak menunjukkan rasa sedikit-pun.
"Apakah jika aku menyampaikan informasi ini, kau akan membayarku, Tuan?"
Aditya terkekeh pelan. Dan dia sangat sudah sangat memahami, kalau adik dari Aisyah ini- pasti tidak akan memberikan informasi dengan cuma-cuma. Dan tentu saja, harus ada uang di dalamnya-agar informasi itu, bisa ke luar dari mulut gadis itu.
"Tentu saja aku akan membayar setiap informasi apa saja, yang kau berikan tentang Kakakmu. Jadi kau tidak perlu khawatirkan, akan hal itu, Nona Sarah!"
"Semalam tanpa sengaja aku mendengar, Kakakku Aisyah menelpone. Dia menghubungi Ibuku, mengatakan kalau sekarang dia berada di Jakarta."
Wajah yang tadi nampak biasa seketika berubah tegang, dengan sorot mata lebih penuh pada Sarah, akibat kagetnya ketika mendengar ucapan Sarah-kalau wanita yang dia cari selama ini, sedang berada di kota yang sama dengannya, yaitu Jakarta.
"Apakah kau tidak salah memberiku informasi padaku, Nona! Kalau Kakakmu Aisyah, sedang berada di Jakarta."
"Aku sangat yakin. Bahkan sangat-sangat yakin, dengan informasi yang kukatakan ini. Kakakku Aisyah, saat ini benar-benar berada di Jakarta." jawab Sarah, yang berusaha meyakinkan Aditya dengan kata-katanya.
Aditya menghembuskan napas panjangnya. Hembusan napasnya terdengar berat, seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadanya. Jemarinya memainkan pelipisnya, mengurut pelan di sana, yang tiba-tiba serasa berdenyut. Pria itu menggerutu dalam hati, bagaimana bisa selama ini dia sama sekali tidak bisa menemukan keberdaan Aisyah, padahal wanita itu berada di kota yang sama denganya.
"Ini sungguh di luar dugaanku. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa aku sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Aisyah? Padahal selama ini dia berada di satu kota yang sama denganku." bathin Aditya.
__ADS_1
"Aku sangat mengucapkan terima kasih, karena kau sudah memberitahukan informasi tentang Kakakmu. Dan aku punya keyakinan, kalau sebentar lagi aku pasti akan menemukan keberadaan Kakakmu. Dan sebagai rasa terima kasihku ini- aku akan membayarmu dengan sangat mahal."
Rona bahagia menyelimuti wajah Sarah, mendengar apa yang baru saja dikatakan Aditya padanya. Dan dia yakin, Aditya pasti akan memberinya uang yang banyak.
"Kau serius, Tuan?" tanyanya memastikan, ucapan pria itu.
"Tentu, Nona! Buat apa aku berbohong. Dan jika kau mendapatkan informasi lagi tentang Kakakmu, hubungi sekretarisku. Karena aku akan memberi uang yang jauh lebih banyak, dari yang kuberikan hari ini padamu."
"Tentu Tuan... Aku sangat mau. Dan jika aku mendapati informasi tentang Kakakku lagi, aku akan segera menghubungi Sekretaris anda. Karena aku sangat yakin, kalau Kakakku Aisyah-pasti akan kembali menghubungi Ibuku."
"Baiklah, Nona! Kalau begitu aku tunggu, informasi selanjutnya darimu." Dan tatapan mata itu beralih pada Simon, yang berdiri tepat di sampingnya. "Simon.." panggilnya kemudian.
"Baik Tuan..." Simon yang sudah sangat mengerti apa yang dimaksud oleh Tuannya, seketika langsung memberikan sebuah cek pada Sarah, yang bertuliskan lima puluh juta dalam lembaran itu.
" Ini bayaran anda, Nona! Dan disitu ada nomor ponselku. Hubungi aku, jika kau mendapatkan informasi lagi tentang Kakakmu, Aisyah."
Sepasang mata Sarah lebih membulat penuh, menatap tak percaya pada cek, yang bertuliskan lima puluh juta dengan wajah berseri-seri. Sebab dia bisa mendapatkan uang dengan nilai yang banyak, hanya dengan memberi informasi tentang Kakak perempuannya.
"Terima kasih, Tuan.. Dan jIka aku mendapatkan informasi lagi tentang Kakakku, aku akan segera menghubungimu."
****
Arah pandangan itu dia palingkan kembali, menatap Simon yang sedang fokus menyetir.
"Simon..." panggil Aditya tiba-tiba, yang membela seketika suasana tenang dalam kendaraan roda empat itu.
"Ada apa Tuan?" Iris mata Simon, sekilas menatap Tuan-nya lewat kaca spion mobil.
"Kau perintahkan anak buah kita yang berada di Surabaya, agar segera melakukan pencarian di kota Jakarta. Karena aku sangat yakin, kalau sebentar lagi kita pasti akan menemukan keberadaan Aisyah, dan anakku."
"Baik Tuan.."
****
Gelapnya malam telah kembali menghilang, kala matahari kembali memberi senyumnya-menyapa pada hari yang baru. Kicauan burung kembali terdengar, ketika dia memberi nyanyian yang merdu untuk menyapa hari yang indah, dipagi ini.
__ADS_1
Ceria pagi ini, seceriah wajah cantik Aisyah. Dengan senyuman yang terus dia ukir di wajah, Aisyah mengayunkan kedua kakinya, menuju arah lift yang akan membawanya pada ruangan Presdir.
Bersandar malas pada dinding lift, seraya melabuhkan jari telunjuknya pada angka dua puluh, yang akan membawanya pada lantai dua puluh.
"Apakah Pak Aditya, dan Sekretarisnya masih berada di jalan? Atau-kah sudah berada di ruangan mereka? Karena biasanya, aku selalu berpapasan dengan mereka, jIka sudah berada di dalam lift."
Tatapan mata itu kembali terfokus pada angka-angka yang terus berganti, yang semakin mendekatkan dia pada lantai dua puluh.
"TING!" Pintu lift terbuka lebar.Tangannya kembali menggapai alat-alat bersih, yang Aisyah biarkan tergeletak di lantai lift.
Dua kaki itu mengambil langkah panjangnya, menuju pada ruangan yang akan membuatnya akan memulai aktifitas seperti biasanya.
Ayunan kaki itu yang semakin membawanya pada ruang Presdir-dari jauh sepasang pupil mata Aisyah - tak mendapati keberadaan Simon di meja kerjanya. Hingga membuat raut wajah Aisyah, seketika di landa rasa penasaran, ke mana-kah pria itu?
"Mungkinkah sekretaris Simon belum datang? Atau-kah dia tidak masuk kerja!" Aisyah bergumam pelan.
Beberapa menit berlalu, Aisyah masih membiarkan dua kakinya berpijak di depan meja kerja Simon, dan kembali melanjutkan langkah kakinya menuju ruang kerja Aditya, setelah merasa sudah terlalu lama di sana.
Jemarinya menggapai gagang pintu, dan melebarkannnya. Lagi- lagi Aisyah mendapati suasana sepi, ketika dia tidak mendapati sosok Aditya Wirawan di dalam ruang kerjanya.
"Bahkan Pak Aditya-pun, tIdak ada. Dan ke mana sebenarnya mereka? Karena tidak biasanya, Pak Aditya-dan sekretaris Simon datang lebih telat." Penasaran kian melanda diri Aisyah, setelah keberadaan pengusha kaya itu tidak dia dapati.
Hening, saat diri itu tenggelam dengan apa tengah dia pikirkan. Beberapa dia biarkan menit berlalu, dan kembali melakukan tanggung jawabnya membersikan ruangan Presdir.
Ketidak beradaannya Aditya, membuat aktifitas kerja Aisyah serasa lebih cepat- karena seperti hari-hari sebelumnya Aisyah akan selalu terkena amukan Aditya- yang tentu saja memperlambat aktifitas kerjanya.
Dua kaki itu kembali Aisyah ayunkan pada arah lift, setelah selesai dengan kegiatan bersih-bersihnya. Saat jemari itu akan dia labuhkan pada sebuah tombol, tiba-tiba saja arah pandang itu mendapati salah satu karyawan wanita- yang melintas disampingnya.
"Mba..." panggil Aisyah tIba-tiba, yang menghentikan seketika ayunan kaki wanita itu.
"Ada apa, Mba?"
"Maaf, karena sudah mengganggu waktunya. Dari tadi saya tidak mendapati keberadaan Pak Aditya, dan Sekretarisnya. Sebenarnya mereka ke mana, Mba?"
"Oh.. Pak Aditya, dan Sekretaris Simon sedang pergi ke luar kota."
__ADS_1
"Ke luar kota?" Memicingkan dua matanya, dengan mata semakin Aisyah intenskan pada karyawan wanita itu.
"Iya, Mba! Pak Aditya, dan Sekretaris Simon sedang pergi ke Surabaya. Makanya! Saya diminta oleh Sekretaris Simon, untuk mengatasi hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya. Dan kemungkinan besar, mereka sudah kembali masuk kantor esok hari."