
********
Keesokan harinya, Shien sudah bersiap-siap untuk pulang dari rumah sakit. Kondisi tubuhnya sudah cukup membaik, dengan demikian ia diizinkan pulang hari itu juga. Di ruang rawatnya masih ada Shanna dan Mama yang sejak kemarin menemaninya bersama Tante Hilda.
“Shi, sementara kamu tinggal di rumah orang tua kamu, ya?” Tutur Tante Hilda hati-hati. Penuturannya sontak membuat Shien mengernyitkan keningnya tak mengerti. Apa maksud Tante Hilda? Apa dia mau mengusirnya secara halus atau membantu Mama membujuknya? Pasalnya, sejak tadi Mama terus meminta Shien untuk ikut pulang bersamanya. Begitupula dengan Shanna yang mengeluarkan segala jurus rayuannya untuk membujuk sang adik. Tapi Shien hanya menanggapinya dengan dingin dan sekali ucap ia menolaknya mentah-mentah.
“Tante ngusir aku?” Tanya Shien seraya tersenyum kecut.
“Mana ada Tante ngusir kamu.” Sambar Tante Hilda cepat. “Tante harus pergi ke Amerika selama sepuluh hari, Tante gak bisa ninggalin kamu sendirian di rumah tanpa pengawasan. Apalagi kaki kamu sakit.” Lanjutnya menjelaskan, berharap keponakannya itu bisa mengerti.
“Di rumah, kan, ada bibi.” Sahut Shien, masih tak bisa menerima jika ia harus tinggal di rumah orang tuanya walaupun itu hanya sementara.
“Dia orang baru, Tante belum bisa percaya sama dia.” Ujar Tante Hilda sembari memasang wajah memelas agar Shien menurutinya.
“Kalau gitu Fina bisa jagain aku kayak biasa.” Shien masih keukeuh.
“Akhir-akhir ini kamu kan tahu kalau kantor lagi sibuk, Fina juga harus kerja, Shi.”
“Tante gak usah khawatir, aku bisa jaga diri sendiri, kok.” Shien berujar dingin, ia lalu membuang muka seolah meminta Tante Hilda untuk tidak membahas lagi perihal ia yang harus tinggal di rumah orang tuanya sementara.
“Apa susahnya, sih, Shi, ikut kita pulang?” Sambar Shanna sedikit kesal karena sang adik sulit sekali dibujuk. Padahal, ia dan Mama hanya akan membawa Shien pulang ke rumah, bukan ke hutan belantara.
“Maaf, aku gak nyaman kalau gak tinggal di rumah sendiri.” Sahut Shien penuh penekanan.
“Emang kita pulang kemana? Jelas rumah Mama sama Papa itu rumah kita. Rumah kamu juga.” Ucap Shanna dengan sengit, namun ia masih menjaga nada bicaranya agar tidak membentak sang adik.
“Rumah kita? Rumah aku? Kamu kayaknya salah bicara, kak.” Balas Shien diiringi salah satu sudut bibirnya yang tersunging membentuk senyuman sinis. Ia lantas menatap Shanna dengan tatapan dinginnya seolah siap membekukan Shanna.
Ucapan Shanna jelas membuat hati Mama mencelos sakit. Dan sekali lagi, ia hanya bisa menghembuskan napas berat.
“Ha-ha. Lucu.” Lanjut Shien, ia kemudian turun dari ranjang pasiennya, lalu berjalan tertatih karena sebelah kakinya masih sakit. Shien berniat pergi dari ruang rawatnya. Ya, ia lebih baik pulang sendiri naik taksi daripada harus mendengar Tante Hilda berbicara untuk membujuknya.
“Kamu nurut sama Tante atau . . . .” Seruan Tante Hilda berhasil menghentikan tangan Shien yang hendak membuka pintu. Gadis itu kembali berbalik melihat sang Tante dengan tatapan penuh tanya.
“Atau kamu gak bisa jadi bagian dari Snow Candy lagi.” Ancam Tante Hilda membuat Shien mendengus. Sejenak ia terdiam seraya menatap Tante Hilda dengan tatapan memelas, namun wanita paruh baya itu membalasnya dengan tatapan menantang.
Shien masih bergeming, lantas ia mendesis sebal seraya meremas jemari tangannya. Sial, Tante Hilda menemukan celah untuk mengancamnya.
“30% saham milik kamu di Snow Candy Tante ambil kembali dan kamu bisa Tante blacklist dari dunia penulis. Kamu tahu, kan, tante mampu melakukan it . . . .”
“Sepuluh hari.” Shien menyela kalimat yang hendak diucapkan Tante Hilda.
Semua orang yang mendengarnya otomatis tersenyum senang, terutama Mama. Perasaan bahagia seketika menyeruak dalam hatinya. Setelah sekian lama, akhirnya ia bisa membawa pulang putri bungsunya. Putri yang sudah diabaikannya selama bertahun-tahun, ia berjanji akan mengganti semua waktu yang hilang selama Shien diabaikannya dulu. Ia sadar, tidak akan mudah mendapatkan kepercayaan Shien kembali, tapi ia akan berusaha.
“Tante jangan pergi lebih dari sepuluh hari.” Imbuh Shien dengan berat hati. Mau tidak mau, ia harus menuruti apa kata Tante Hilda. Snow Candy dan menulis adalah hidupnya dan masa depannya, mana bisa ia didepak begitu saja.
“Emm, gak janji.” Tante Hilda menyahutinya dengan kerlingan dan seringai jahil.
“Tante . . . .” Shien sedikit merengek dengan wajah yang ditekuk masam. Tante Hilda yang melihatnya hanya terkekeh geli.
“As you wish, little girl.” Ujar Tante Hilda, menenangkan sang keponakan yang terlihat gelisah. Jelas saja, Shien takut jika Tantenya itu kembali lebih lama. Baginya, hanya Tante Hilda yang ia miliki, ia tidak mau Tante Hilda jauh dari jangkauannya terlalu lama.
*******
BMW Series 7 milik Tante Hilda berhenti di depan rumah berpagar besi yang menjulang tinggi.
Pagar tinggi yang menjulang di bagian depan rumah itu terbuka otomatis tatkala Tante Hilda membunyikan klakson mobilnya.
Mendadak telapak tangan Shien berkeringat dingin saat mobil Tante Hilda mulai memasuki pekarangan rumah mewah berlantai dua dengan tema monokrom itu.
“Sampai.” Seru Tante Hilda sesaat setelah berhasil memarkirkan mobilnya.
Shien bergeming, pandangannya menyusuri setiap sudut pekarangan rumah. Masih terlihat asri dan indah seperti dulu. Tidak ada perubahan yang signifikan dari rumah itu.
“Ayo turun.” Ajak Tante Hilda, menyadarkan Shien yang tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri. Tak langsung turun, sejenak Shien tampak berpikir. Ia ragu harus turun atau tidak. Ahh, ia benar-benar tidak ingin masuk ke rumah itu. Di sana terlalu banyak kenangan buruk.
“Malah bengong, cepetan turun.” Shien sedikit terkejut karena Tante Hilda tahu-tahu sudah membukakan pintu untuknya. Ia bahkan tak menyadari kapan wanita paruh baya itu keluar lebih dulu dari mobil.
“Tan . . . .” Shien memasang wajah memelas seolah meminta Tante Hilda kembali mengantarnya pulang.
“Cuma sepuluh hari.” Tante Hilda menekankan seraya menyunggingkan senyum simpul.
“Hiish.” Dengus Shien sembari mengerucutkan bibirnya. Ia lalu dengan ogah-ogahan turun dari mobil.
Sejenak ia kembali mengamati pekarangan rumahnya yang tampak sepi seperti tak berpenghuni. Padahal, hari masih siang. Dulu pekarangan rumahnya selalu hidup dengan tawa Shanna dan Shawn yang bermain kejar-kejaran, atau keributan kecil diantara mereka bertiga saat berebut ingin memangku kelinci yang jadi peliharaan mereka. Shien tersenyum kecut megingat itu, mendadak hatinya jadi berkabut.
Shien masih bergeming di tempatnya, lantas kepalanya mendongak, menatap ke arah balkon kamarnya yang tampak tenang. Ia melihat gorden kamarnya berkibar, sepertinya pintunya sengaja dibuka untuk membiarkan udara segar dan cahaya matahari masuk ke dalam kamar.
Matanya lantas menyipit, menghindari cahaya tipis matahari. Namun, Shien tak bisa menghindar dari ingatan yang mendadak bermunculan di kepalanya.
Sejak dulu, Shien sudah menerima kenyataan mengenai orang tua yang mengabaikannya. Meski tak sekali dua kali hatinya terasa perih setiap menerima kilatan kenangan tidak menyenangkan mengenai orang tuanya itu.
__ADS_1
Sekarang, ia kembali ke rumah yang sudah lama ditinggalkannya. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa nantinya. Mungkin seperti seorang tamu? Ya, seperti itu saja. Lagipula, ia dan orang tuanya sudah seperti orang asing sejak mereka mengabaikannya.
Entah kali ini perlakuan seperti apa yang akan ia dapatkan dari orang tuanya. Meski Shien melihat sang ibu dua hari ini terlihat baik, tapi tidak tahu dengan sang ayah. Mungkin laki-laki itu masih akan bersikap dingin dan sinis padanya. Ya, pasti seperti itu karena keberadaan Shien mungkin tidak begitu penting. Ia bahkan tidak melihat Papa datang bersama Mama saat menemuinya di rumah Tante Hilda waktu itu.
Diam-diam Shien tersenyum miris. Ternyata setelah sekian lama dirinya mencoba menghapus semua harapan terhadap kedua orang tuanya, tapi tetap saja nalurinya sebagai seorang anak yang rindu perhatian mendadak muncul begitu saja.
“Bodoh.” Batin Shien, merutuki dirinya sendiri.
Menghela napas berat, Shien lalu mulai melangkahkan kakinya mengekori Tante Hilda yang sudah berjalan terlebih dulu bersama Mama dan Shien.
“Welcome home . . . .” Seru Shanna begitu ia membuka pintu rumah seraya melebarkan tangannya, menyambut kedatangan Shien dengan hati bahagia. Sementara yang disambut hanya menanggapinya dengan ekspresi datar. Pikir Shien, toh ia hanya bertamu.
Sejenak Shien mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang masih mampu dijangkaunya, tak ada yang berubah dari interior rumah itu. Hanya sofa dan beberapa vas besar porselen penghias rumah yang terlihat baru.
Hingga pandangannya berakhir pada foto keluarga yang terpajang di dinding. Sudut matanya terlihat turun, tak bisa lepas dari foto yang menggambarkan keluarga kecil yang bahagia. Di sana, terlihat Shawn yang duduk diantara Mama dan Papa, sementara Shanna dan Shien duduk di pangkuan kedua orang tua itu. Shanna di pangkuan Mama dan Shien duduk di pangkuan Papa. Semuanya tersenyum bahagia di sana.
Ngomong-ngomong tentang Papa, dimana dia sekarang? Tanpa sadar, bola matan Shien kembali mengedar, mencari-cari keberadaan sosok itu.
“Papa udah seminggu dinas ke luar negeri. Nanti malam atau besok pagi dia baru pulang.” Tutur Mama seolah mengerti, sehingga membuat gadis itu sedikit tersentak, namun buru-buru kembali memasang ekspresi tenang dan datarnya.
“Gak nanya juga.” Gumam Shien pelan, namun Mama masih bisa mendengarnya. Ia tersenyum tipis karena Shien menanggapi ucapannya.
“Ya udah kalau gitu Tante pergi sekarang, ya.” Ucap Tante Hilda seraya mengelus lembut rambut Shien.
“Lho, kok cepat banget?” Tanya Shien tak terima. “Iya, kenapa buru-buru? Kita minum teh sebentar.” Sambung Mama pada adik iparnya itu.
Tante Hilda memasang raut wajah menyesal, lantas dilihatnya jam tangan mewah buatan Swiss yang melingkar di pergelangan tangannya sebelum kemudian ia berujar. “Penerbangannya sebentar lagi, aku gak ada waktu, Mbak.” Shien menghembuskan napas berat mendengarnya.
“Tante pergi sekarang, ya. Barang-barang kamu nanti Fina yang anterin.” Ujar Tante Hilda. Shien hanya mengangguk tidak ikhlas. Ia seperti anak kecil yang tidak terima dititipkan ibunya di tempat penitipan anak.
“Mbak, aku titip Shien, ya.” Ucap Tante Hilda kemudian yang seketika membuat raut wajah Mama sedikit berubah masam. Ada perasaan tak terima saat Tante Hilda mengatakan itu.
“Jangan bicara kayak gitu, Shien anakku.” Ujar Mama penuh penekanan pada kata terakhirnya. “Hehe, aku kebiasaan kayak gini, Mbak, kalau mau nitipin Shien pas mau aku tinggal.” Tante Hilda terkekeh yang dibalas dengusan geli oleh Mama.
Tak lama setelah itu, Tante Hilda berlalu pergi keluar dari rumah. Shien melihat kepergian Tantenya itu dengan tatapan tak rela.
********
“Kamu ke kamar gih, istirahat dulu. Nanti Mama panggil kalau udah mau makan siang.” Mama mengelus pundak Shien, namun dengan segera gadis itu menjauhkan diri. Mama hanya tersenyum getir melihat penolakan anaknya untuk yang kesekian kali.
Tak ingin berlama-lama berada di dekat Mama, Shien lantas beranjak menapaki satu per satu anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya berada. Tapi, kaki Shien seperti berat untuk diseret. Rasanya, beberapa anak tagga yang ada menjadi berlipat-lipat. Tangga itu seakan mengantarkannya pada kenangan buruk di rumah ini. Padahal, banyak juga kenangan indah di sini, tapi seolah kenangan buruk itu menutupinya begitu saja. Masuk ke rumah ini benar-benar membuka luka lama.
Tiba di depan pintu kamarnya, dengan tangan gemetar ia meraih handle pintu lalu membukanya. Aroma jeruk yang disukainya menyambut Shien begitu ia masuk ke dalam kamar.
Pandangannya lantas berhenti pada sebuah buku diary anak-anak yang tergeletak di atas meja belajar. Buku diary miliknya.
Shien mengambil buku diary itu, lalu membuka dan membacanya secara random.
“Aku mau Papa dengerin hasil bacaan aku.”
“Aku mau dibacain dongeng sebelum tidur sama Mama.”
“Aku mau pergi ke Dufan sama Mama dan Papa.”
“Aku mau pergi ke kebun binatang sama Mama dan Papa.”
“Aku mau disayang sama Mama dan Papa lagi.”
“Aku mau . . . .”
Shien menutup bukunya, banyak sekali harapan bodoh terhadap orang tuanya yang ia tulis di sana.
Shien tersenyum kecut, kemudian meghela napas dalam-dalam, menahan segala keinginannya untuk menangis.
“Sialan.” Umpatnya sambil melempar buku diary itu ke sudut ruangan yang tepat masuk ke dalam tong sampah.
Tak ingin berlama-lama berkutat dengan kenangan tidak menyenangkan, Shien memilih untuk mengistirahatkan tubuhnya. Ia lantas berjalan menuju tempat tidur dan melempatkan tasnya begitu saja ke atas kasur.
Namun, Shien kembali meraih tasnya tatkala ia mendengar ponsel miliknya bergetar. “Dia ngapain?” Shien bergumam sambil mengernyitkan keningnya saat ia membaca nama yang tertera di layar ponselnya. Ada sekitar tiga puluh panggilan tak terjawab dan sepuluh pesan dari orang yang sama “Pangeranku”. sepertinya Langit menghubungi ponsel Shien saat dirinya sedang dalam perjalanan dan Shien tidak menyadarinya.
“Dia semacam psycho atau apa?” Shien berdecih geli karena mendapati begitu banyaknya panggilan dari Langit.
Pikirnya, tidak apa-apa jika itu dari Fina atau Tante Hilda, tapi Langit, kan, orang yang baru dikenalnya.
Mencari posisi nyaman dengan duduk berselonjor sambil bersandar pada headbord ranjang, Shien mulai membaca satu per satu pesan yang dikirimkan Langit.
“Kenapa teleponku gak diangkat?”
“Wooii, ponsel kamu rusak?” Shien mendengus membaca pesan yang satu ini, lalu telunjuknya kembali menggulir touch screen ponselnya untuk melanjutkan membaca pesan dari orang yang sangat percaya diri menyebut dirinya adalah pangeran.
“Aku dengar dari Shanna kamu udah pulang?” Shien mencebik, apa urusannya dengan dia?
__ADS_1
“Aku mau nagih bayaran. Jangan coba-coba menghindar.” Mulut Shien sedikit menganga, ia tak percaya laki-laki ini benar-benar meminta bayaran. Lagipula siapa yang minta dia mengobatinya saat itu? “Dasar perhitungan.” Gerutu Shien.
“Kalau kamu menghindar, sekarang aku tahu kemana harus cari kamu.” Gadis itu mendengus. Tidak perlu bertanya lagi, pasti kakaknya Shanna sudah menceritakan segalanya tentang Shien.
“Traktir aku makan siang dan makan malam tiga kali.”
“Ini namanya pemerasan.” Shien mendelik sebal. Ia lantas melirik luka di kakinya. Langit hanya mengoleskan salep dan membalut lututnya dengan perban, tapi minta bayarannya sungguh berlebihan. Lagipula, siapa juga yang meminta dia untuk mengobatinya?
“Besok, aku tunggu kamu buat makan siang di restoran western yang ada di dekat rumah sakit.”
“Kalau gak datang, aku bakalan jemput kamu ke kantor.”
“Benar-benar.” Shien menggeram kesal sembari meremas ponsel yang digenggamnya.
“Fokus banget, lagi ngapain, sih?” Shien salah tingkah ketika melihat Shanna masuk ke kamar dan kini menghampirinya. Tampak gadis itu membawa satu bungkus besar keripik kentang di tangannya.
“Lagi bahas kerjaan.” Jawab Shien berusaha memasang ekspresi setenang mungkin. Ia kemudian menyimpan ponselnya di bawah bantal, tanpa berniat membaca pesan terakhir yang dikirimkan Langit.
“Ohh.” Shanna hanya ber-ohh ria seraya memasukkan tiga potong keripik ke dalam mulutnya. Ia lantas merangkak naik ke tempat tidur, lalu merebahkan diri dengan paha Shien sebagai bantalan.
“Kaaak.” Sungut Shien dengan tatapan protes. “Ngapain, sih?” Shien menggerak-gerakkan kakinya agar Shanna menyingkir.
Shanna mengernyit. “Jutek banget, sih. Gak asyik kamu jadi orang. ” Ia kemudian melanjutkan kegiatannya memakan keripik, menyebabkan remahan keripiknya mengotori tempat tidur. Shien yang menyukai kebersihan lebih dari apapun langsung menghujami kakaknya dengan tatapan kesal.
“Pake bantal, dong. Lagian, kalau naik ke tempat tidur jangan bawa makanan. Kotor tuh, kan, aah.” Shien berujar dengan wajah sebal. Sementara Shanna hanya tersenyum penuh kemenangan karena berhasil membuat sang adik kesal dan berbicara banyak padanya.
“Enakan kayak gini.” Balas Shien yang mencobba menyamankan posisi kepalanya.
“Udah lama kita gak kayak gini, Shi.” Lanjut Shanna, ingatannya seketika menerawang ke waktu ia dan Shien masih kecil. Dulu ia juga sering tiduran di pangkuan Shien seperti ini.
“Jangan pergi lagi.” Shanna menatap Shien dengan tatapan sedih, tersirat kerinduan yang mendalam di balik sorot mata jernih itu. Sejenak pandangan mereka beradu, namun Shien segera mengakhirinya. Shien tak bisa berlama-lama menatap mata itu, karena takut tangisnya pecah. Ia sangat merindukan Shanna, sangat besar.
“Hmm.” Sahut Shien kemudian sambil mengangguk pelan. Ia lantas merampas camilan yang dari tangan sang kakak, lalu memasukkan beberapa potong keripik kentang itu ke dalam mulutnya untuk menyembunyikan wajah sedihnya.
“Shi . . . .” Panggil Shanna.
“Hmm.” Sahut Shanna singkat, selain itu mulutnya masih penuh dengan keripik kentang.
“Nanti jangan terlalu dingin sama Mama dan Papa, mereka udah sadar dari dulu. Aku harap, kamu bisa maafin mereka.”
Seketika kunyahan Shien terhenti. Tenggorokannya kesulitan menelan makanan. Ada yang tersangkut di sana, kesedihan. Kalau mereka sudah sadar sejak dulu, kenapa tidak berusaha membawanya pulang sejak dulu? Kenapa tidak pernah mengubunginya? Kenapa mereka tidak meminta maaf? Ck, ia tak percaya.
Entah benar sudah sadar atau tidak, yang jelas Shien pasti akan sulit menerima mereka kembali di hatinya.
“Tolong jangan bahas sesuatu yang konyol, kak.” Shien tersenyum kecut.
“I’m serious about this.”
“Kalau masih mau bahas mereka, pergi sana.” Sambar Shien sambil memalingkan wajahnya.
Shanna menghela napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan cepat. “Okay, kita gak bahas itu lagi.” Shanna merebut kembali camilan miliknya dari tangan Shien.
“Eung . . , gimana kalau kita bahas . . . .” Shanna mengerlingkan matanya untuk berpikir.
“Si dokter ganteng itu . . . .” Serunya kemudian. Shien mengernyitkan keningnya. Dokter mana yang Shanna maksud?
“Menurut kamu dia gimana?” Tanya Shanna dengan senyum mengembang.
“Cerewet. Dokter Nathan terlalu cerewet dan berhati lemah.” Sahut Shien yang sontak membuat senyum Shanna perlahan menyurut. Ia tahu dokter Nathan juga ganteng, tapi bukan dia yang Shanna maksud.
“Bukan dia . . . .” Shanna melempar beberapa keripik kentang ke wajah Shien yang langsung berhasil ditepisnya.
“SHANNA.” Teriak Shien kesal karena Shanna semakin mengotori tempat tidurnya. Tapi Shanna hanya menganggapinya dengan kedikkan bahu tak peduli.
“Sekali lagi kamu manggil namaku, aku bakalan tumpahin semua keripik ini sekarang juga.” Ancam Shanna, membuat Shien mendelik sebal.
“Bukan dokter Nathan.” Ujar Shanna kembali pada topik pembicaraan.
“Tapi Langit.” Lanjutnya dengan senyum yang kembali mengembang. Ahh, Shanna selalu bersemangat jika mengingat Langit.
“Menurut kamu dia gimana?”
“Mana aku tahu, kenal aja enggak.” Jawab Shien dengan tampang tak peduli.
“Hiish.” Shanna merengut, adiknya ini benar-benar tidak memiliki sisi menyenangkan. Benar-benar kaku.
“Tapi ganteng, kan?” Shanna kembali bertanya sambil menaik turunkan alisnya.
“Semua orang akan terlihat ganteng dan cantik di mata orang yang tepat.” Komentar Shien realistis. Hal ini sontak membuat Shanna kembali mendengus. Mau disanggah, tapi jawaban Shien terlalu masuk akal.
“Di mata kamu dia gimana? Apa kamu tertarik sama dia?” Sejenak Shien tertegun mendengar pertanyaan Shanna yang satu ini.
__ADS_1
********
To be continued . . . .