
********
Minggu pagi, semua orang sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan. Shanna yang biasanya bangun siang di hari libur dan masih malas-malasan, juga sudah terlihat rapi dan wangi.
Shanna mengamati Shien yang entah sudah berapa kali terus menghela napas gusar dengan pandangan kosong ke sembarang arah. Shanna merasa jika sang adik tengah memikirkan sesuatu, tapi entah apa.
Ya, terhitung sudah satu minggu setelah keberangkatan Langit ke Spanyol dan laki-laki itu tidak pernah mengabari Shien sama sekali. Sebenarnya apa ynag dilakukan Langit di sana sampai-sampai menguras sebagian waktunya hingga tidak bisa menyempatkan diri untuk memberi Shien kabar?
Shien tidak bisa menyangkalnya lagi jika ia memang merasakan rindu yang teramat dalam, namun Shien juga tidak bisa menuntut apapun atau menghubunginya lebih dulu karena ia dan Langit tidak dalam hubungan apa-apa untuk bisa saling menuntut saat ini.
Ck, benar-benar gila. Kita, manusia tidak pernah bisa memilih untuk jatuh cinta kepada siapa. Mungkin memang sudah terlambat untuk Shien mencegah perasaannya pada Langit yang sudah terlanjur dalam.
Shien tidak ingin berbohong pada hatinya sendiri lagi, karena hatinya sudah lelah menghadapi dirinya yang terus menyimpan suaranya, padahal hatinya sudah berontak sangat ingin mendengar Shien menyampaikan kalimat cintanya pada Langit.
Tapi walaupun begitu, Shien masih belum memiliki keberanian untuk mengambil langkah. Terlebih dahulu, Shien harus menyingkirkan beberapa hal yang mengganjal di hati dan pikirannya.
Bolehkah? Bolehkah Shien mengambil resiko untuk kebahagiaannya sendiri? Tanpa memikirkan penyakitnya yang pasti akan memberi pengaruh pada kehidupan Langit, dan juga. . . . Shanna.
“Shien.”
Shien menghela napasnya panjang. Mungkin sekitar tiga atau empat hari lagi Langit kembali ke Indonesia, tapi Shien belum menyiapkan jawaban. Ahh, Shien seperti sedang dikejar rentenir yang akan menagih hutang padanya dan ia belum memiliki uang untuk membayar.
“Hallaw, Shien.” Shanna menjentikan jarinya di hadapan wajah Shien, namun gadis itu tetap bergeming.
Haruskah Shien meminta sedikit perpanjangan waktu? Tapi, sampai kapan? Shien tidak bisa menggantungkan perasaan Langit lebih lama. Beruntung jika Langit bersedia menunggu. Tapi jika dia menyerah dan mencari gadis lain, Shien tidak rela juga. Sangat tidak rela.
“Shien. Ya ampun, ini anak pagi-pagi udah bengong kayak kuda mau dijual.” Oceh Shanna yang heran sendiri dengan tingkah Shien pagi ini. Tampak Papa dan Mama juga sama herannya dengan Shanna.
“S.H.I.E.N. Shieeeen.” Shanna mengeja nama Shien dan berteriak kemudian sambil memukul-mukul sendoknya pada piring hingga menimbulkan suara dentingan riuh bak tukang bubur.
Mendengar suara ribut, Shien seketika tersentak dan langsung membuyarkan lamunannya. “Ehh, iya, apa kabar?”
Shanna mengerjap takjub dengan mulut menganga serta kening yang terlipat dalam, aneh sekali dengan Shien yang sudah kehilangan konsentrasi padahal hari masih pagi. Begitu pula Papa dan Mama yang malah tersenyum geli melihat tingkah gadis bungsunya itu.
“Kabar baik. Kamu minum dulu, deh.” Shanna yang duduk di sebelah Shien lantas menggeser gelas berisi air putih pada adik kembarnya itu.
“Ngelamunin apa sih kamu? Aku panggil gak nyahut-nyahut.” Gerutu Shanna.
Shien mengerjap-erjap, matanya menatap lurus gelas berisi air di hadapannya. Ekspresinya seperti orang linglung untuk sejenak, kemudian ia tersadar setelah beberapa saat.
“Tadi aku lagi mikirin kerjaan. Makannya gak fokus.” Ujar Shien dengan senyum kaku tersungging di kedua sudut bibirnya yang sedikit pucat, namun tak membuat kecantikannya berkurang.
“Kerjaan dipikirin, hari libur juga.” Komentar Shanna. Shien tak menanggapinya. Gadis itu memilih untuk menenggak air putihnya, berharap bisa menyegarkan pikirannya yang dipenuhi dengan Langit.
“Udah, ayo mulai makan.” Ucap Papa agar Shanna berhenti berceloteh, walaupun sebenarya beliau masih terheran-heran dengan ketidakfokusan Shien.
Mama lalu mulai melayani suami dan anak-anaknya dengan mengambilkan menu sarapan. Walaupun Shien selalu menolak dengan dingin, tapi Mama tetap melakukannya dengan harapan gadis kecilnya itu mau menerima makanan yang diambilkannya.
“Makasih, Ma.” Ucap Shanna ceria sesaat setelah Mama memenuhi piringnya dengan beberapa menu sarapan. Wanita paruh baya itu kemudian beralih pada Shien, memandangnya bimbang sesaat. Hatinya berdenyut nyeri setiap kali Shien menolaknya.
“Shi.” Mama menyodorkan satu centong penuh nasi goreng ke piring Shien.
Shien bengong sesaat, menimang-nimang apakah ia harus mengangkat piringnya atau tidak. Sejak satu minggu yang lalu Shanna menegurnya, Shien selalu berusaha mencoba untuk membuka dirinya. Tapi sampai saat ini belum berhasil, rasa takut itu terus menghalanginya. Bahkan untuk memanggil mereka dengan sebutan Papa dan Mama saja Shien masih kesulitan, sesulit ia mengucapkan dua kata pertama saat ia mulai sembuh dari aphasianya dulu “Mama dimana?”
Hanya untuk mengucapkan kata itu, seolah ada sebuah tangan sangat besar yang membungkamnya, sehingga Shien harus berusaha sekuat tenaga untuk berusaha menyingkirkan itu.
“Angkat piringnya.” Titah Shanna bergumam tanpa membuka mulutnya sambil menyikut keras lengan Shien. Kalau sampai sang adik menolaknya lagi, Shanna berjanji akan mengacak-acak kamar Shien sampai tak berbentuk.
“Ohh. i . . . iya.” Lantas dengan tangan gemetar, Shien perlahan mengangkat piringnya. Sontak saja hal ini membuat semua orang melongo tak percaya diiringi rasa haru yang tiba-tiba menyeruak di hati semua orang yang melihatnya. Terutama Mama, mata wanita itu bahkan terlihat berkilat-kilat. Hanya dengan melihat Shien mau mengangkat piringnya, hati Mama bahagia luar biasa.
“Bilang apa?” Shanna kembali memberi instruksi dengan menyenggol kaki Shien di bawah meja dengan kakinya.
“Mm. . . . makasih. . . ., Ma.” Gumam Shien setelah piringnya terisi, sangat pelan, namun masih terdengar di telinga semua orang.
Papa, Mama, serta Shanna berpandangan sebentar, lalu saling melempar senyuman penuh arti. Sementara Shien hanya menunduk mengamati nasi gorengnya. Hanya karena satu centong nasi goreng, perasaannya seketika menjadi mellow seperti ini. Rasanya campur aduk, Shien tidak bisa menggambarkannya.
Tangannya gemetaran, bahkan sampai berkeringat dingin. Ahh, reaksi tubuhnya benar-benar berlebihan.
“Mama mau ke mana?” Tanya Shanna sedikit berteriak begitu melihat Mama beranjak dari duduknya dan berjalan menuju dapur.
“Eung. . . , dapur. Ngecek sayur.” Sahut Mama tanpa menoleh.
Mama tidak mengecek sayur, Shanna tahu betul itu. Mama pasti sedang menangis lagi, tapi kali ini bukan karena hatinya sedih, tapi terharu.
********
“Yang tadi lucu, ya, Pa.” Ucap Shien saat menghampiri Papa yang sedang duduk sambil menikmati kopinya di depan halaman rumah seraya mengamati tukang kebun yang merapikan semua rumput dan tanaman agar tetap terlihat rapi setiap saat.
Tampak gadis dengan rambut warna-warni itu bergelayut manja di lengan sang Papa sambil menyandarkan kepalanya di pundak lelaki paruh baya itu.
“Emm.” Papa mengangguk sambil tersenyum simpul. Mengingat wajah Shien yang tampak luar biasa salah tingkah seperti orang yang sedang jatuh cinta saat sang istri menyendokkan nasi untuknya beberapa saat yang lalu, sangat membuat Papa geli dan terenyuh sekaligus. Terlebih saat mengingat wajah istrinya yang luar biasa penuh haru, Papa sangat bahagia.
“Papa rasa Shien udah mulai ngebuka hatinya.” Lanjut Papa, masih dengan senyum tersungging di wajah yang mulai sedikit mengeriput itu.
“Bener banget.” Shanna megangguk setuju.
Papa tersenyum, lalu menghela napas dalam dengan pandangan menerawang kosong. “Tapi. . . , kapan giliran Papa?” Lirihnya kemudian. Mengingat Shien sudah memanggil istrinya dengan sebutan Mama, ia juga ingin gadis itu memanggilnya Papa dengan mulut kecilnya itu.
Menarik diri, Shanna lantas mendongak untuk menjangkau pandangannya dengan Papa sebelum kemudian berujar. “Waktu Shien masih bayi, dia butuh waktu untuk mengucapkan kata Papa, kan?”
Papa terseyum geli. Putri sulungnya ini walaupun terlihat nakal dan kekanak-kanakkan, tapi sebenarnya sangat pandai menghibur dan berpikiran dewasa. Dia adalah mood booster terbaik.
“Jadi, Papa jangan khawatir. Aku yakin, Shien cuma butuh waktu. Sebentar lagi, Papa bakalan denger Shien manggil Papa sampai kuping Papa sakit.” Shanna kembali menenangkan. Papa terkekeh geli mendengar penuturan Shanna.
“Bisa aja nih, kakak.” Ledek Papa sembari mengacak-acak rambut Shanna yang dibalas tawa geli dari gadis itu.
“Dan aku rasa, di sini ada yang harus Papa sama Mama lakuin. Pedekate ulang.” Ujar Shanna yang menurutnya Papa dan Mama memang kurang tindakan, dalam artian hanya menunggu Shien membuka dirinya sendiri tanpa ada usaha untuk membuat gadis itu luluh dengan cepat.
Papa memandang Shanna sebentar dengan tatapan ragu. “Kamu tahu? Itu sulit buat Papa atau Mama. Kami terlalu malu. . . .”
__ADS_1
“Jangan bilang gitu dulu sebelum mencoba.” Sambar Shanna menyela ucapan Papa seraya menepuk pundaknya layaknya pada teman. “Just give it a shot.”
“Dalam artian sebenarnya, boleh juga.” Sahut Papa yang disambut gelak tawa Shanna.
“Tapi, Papa gak tahu caranya.” Keluh Papa sambil mendesah pelan. Beliau memang tidak tahu harus berbuat apa untuk menebus semua kesempatan yang pernah disia-siakannya untuk memberi Shien perhatian yang lebih. Gadis kecilnya sudah terlalu marah.
“Emm, gimana kalau kalian ngambil waktu buat liburan bertiga?” Saran Shanna sambil memainkan alisnya.
“Kalian, kan, gak pernah ngajakin Shien liburan keluarga.” Celetuk Shanna tanpa sadar. Raut wajah Papa seketika berubah sedih kala mendengar itu. Mengingat dirinya yang sudah tidak bijak menjadi seorang ayah, sehingga tega membiarkan salah satu anaknya tidak memiliki pengalaman bahagia di masa kecilnya.
“Apa ini gak terlalu terlambat?” Tanya Papa lirih, lalu mengalihkan pandangannya dari Shanna untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Gadis itu menatap Papa mengerti, lalu tersenyum meledek. “Ckckckck, aku heran kenapa Papa bisa jadi CEO dengan keberanian secuil itu.” Shanna berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Papa pernah denger kalimat ini, gak? Better late than never.” Imbuh Shanna yang seketika membuat hati Papa menghangat.
Ya, tidak ada kata terlambat selama kita memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik, tidak ada kata terlambat untuk memulai kembali, never too late.
“Pokoknya Papa dan Mama tenang aja. Biar aku yang siapin paket liburannya. Nanti aku kabarin kalau udah siap, oke.” Shanna mengedipkan sebelah matanya. Sementara Papa hanya mengangguk tanda mengerti.
********
Siang hari menjelang sore, Shien yang merasa bosan karena hari liburnya hanya digunakan dengan memelototi ponselnya memilih keluar dari kamar dan berjalan menuju kolam renang. Gadis itu tampil cukup sopan dengan baju renang model long sleeved yang memiliki potongan lengan panjang pada bagian atasannya, tidak lupa tangan kirinya menenteng bathrobe dan handuk untuk mengeringkan tubuhnya setelah berenang nanti.
Walaupun Shien memiliki jantung lemah, Shien tetap rutin berolahraga untuk membuat jantungnya tetap bekerja dengan baik. Tentunya, jenis olahraga yang dilakukan Shien sesuai saran dokter dan tidak memiliki intensitas yang tinggi. Salah satunya ya berenang ini, walaupun harus memperhatikan suhu dan tekanan di bawah air. Takut-takut malah membuat jantungnya bekerja semakin berat.
Melakukan pemanasan selama beberapa menit, Shien kemudian menceburkan dirinya perlahan ke dalam kolam renang yang didesain memanjang itu. Kolam renang yang sengaja dibuat dan cocok untuk orang yang memilliki masalah kesehatan seperti dirinya.
Shien menghela napas dalam-dalam, lalu membuangnya secara kasar begitu kepalanya kembali mundul ke permukann.
Jika diingat-ingat, sebenarnya Papa dan Mama sangat perhatian padanya. Bahkan rumah ini pun didesain dengan segala fasilitas yang bisa mempermudah Shien dalam melakukan kegiatan apapun.
Tapi namanya juga manusia. Terkadang seribu kebaikan dilupakan hanya karena satu keburukan atau kesalahan. Semua hal baik yang pernah dilakukan itu seolah tidak ada artinya. Seperti halnya Shien saat ini.
Tapi, ada masanya pula seseorang harus melupakan seribu keburukan dan mengingat satu kebaikan. Seperti yang sedang diusahakan Shien saat ini.
Shien memejamkan matanya, membiarkan semilir angin sore menerpa wajahnya yang berada di atas permukaan air. Sementara tangan dan kakinya secara dinamis mengayuh air dalam kolam untuk membuat tubuhnya bergerak.
Ahh, berenang dengan gaya punggug memang membuat tubuh dan pikiran Shien menjadi rileks. Ia bisa melupakan Langit untuk sejenak.
Namun, ditengah Shien menikmati kegiatan berenangnya. Tiba-tiba suara riuh beberapa orang terdengar menghampiri, hingga Shien merasa terganggu dengan itu dan terpaksa menghentikan kegiatannya, lalu bergerak menuju hand railing untuk memudahkannya keluar dari kolam renang.
Shien mengernyitkan alisnya saat melihat Shanna bersana Reno dan Fina yang mengekorinya. Begitu juga dengan beberapa orang pengurus rumah yang terlihat kerepotan membawa alat dan bahan untuk barbeque.
Apa ada pesta dadakan di sini? Uhh. Tolonglah, Shien hanya ingin menyendiri sekarang.
“Ngapain kalian ke sini?” Tanya Shien dengan nada ketus pada Fina dan Reno. Gadis itu lalu mendudukkan dirinya di kursi santai sambil meminum jus jeruk yang sudah disiapkan asisten rumah tangga untuknya.
Sementara Fina hanya mendengus. Walaupun sudah mengenal Shien lama, tapi tetap saja sikap dingin dan jutek Shien itu menyebalkan.
“Aku yang undang mereka. Bosan tahu, di rumah gak ada kegiatan. Kebetulan Fina santai dan Reno juga udah pulang ngampus.” Terang Shanna sambil merapikan rambutnya di hadapan layar ponsel. Kepalanya miring-miring, matanya berkedip-kedip. Shien tebak jika Shanna tengah membuat boomerang untuk diunggah di insta storiesnya.
Sebenarnya yang merusak suasana itu Shanna. Bukankah Shien yang lebih dulu berada di sini? Seenaknya saja tuh rambut warna-warni mengambil alih tempat dan mengusirnya.
Shanna lalu membuka bathrobenya, kemudian berlari dan melompat ke dalam kolam. Makan menu barbeque setelah berenang akan lebih memuaskan, begitulah pikir Shanna.
“Ngapain senyum-senyum?” Sambar Shien begitu melihat Fina dan Reno menahan tawanya karena mendengar penuturan Shanna. Mereka puas melihat wajah Shien yang tertindas.
“Ihh, siapa yang senyum-senyum. Orang cuma nahan tawa.” Sahut Fina sambil mencebik. Sementara Reno hanya mengerlingkan matanya seolah meledek.
“Ooy, kalian. Ngapain diem aja? Sini masuk. Biarin Bibi yang nyiapin barbequenya.” Seru Shanna sambil melambaikan tangan, memberi instruksi pada Fina dan Reno untuk ikut berenang.
“Gue gak mau ahh, Mbak. Lagian lo bilang cuma mau barbequean. Gue bantu Bibi aja.” Balas Reno yang memang tidak membawa baju ganti. Lagipula itu sedikit tidak nyaman karena dia laki-laki sendiri. Jelas saja Reno tidak akan rela tubuhnya dipertontonkan.
“Aku juga enggak, deh.” Timpal Fina.
“Kalau mau berenang bareng tuh ya booking kolam renang hotel, jangan di rumah.” Sahut Shien seraya berjalan ke arah kolam dan duduk di pinggirannya.
“Dihh, bilang aja kamu terganggu. Ya, kan?” Sergah Shanna.
“Yaaa, dikit.” Balas Shien jujur sambil tangannya bermain-main dengan air, lalu dengan jahil mencipratkannya pada Shanna hingga membuat sang kakak berteriak kesal. Kalau saja Shien tidak memiliki jantung yang lemah, Shanna tidak akan segan menarik atau mendorong Shien, lalu menceburkannya ke dalam kolam. Daya tahan tubuh Shien serapuh cangkang telur, membuat semua orang harus berhati-hati.
“Tapi aku setuju sama Shien. Kalau di luar bisa lebih leluasa, di sini aku gak enak sama Om dan Tante.” Ujar Fina jujur. Gadis itu lantas duduk di sebelah Shien, namun dengan arah berlawanan dimana Fina menghadap ke arah Reno.
“Gak asyik kalian. Pake ada acara gak enak segala.” Dengus Shanna sebelum kemudian dia kembali berenang.
“Ren, lihat sini. . . .” Pinta Fina setengah berteriak, dan ternyata dia sedang membuat video. Lantas Reno mengarahkan wajah tampannya ke arah kamera sambil mengangkat dua jarinya membentuk tanda V.
Fina tersenyum gemas melihat Reno yang tampak manis dengan apron yang menutupi tubuh bagian depannya serta penjepit makanan di tangan kanannya.
Laki-laki itu terlihat tertawa renyah bersama Bibi, sepertinya kegiatan bakar-bakaran itu cukup menyenangkan, atau memang Renonya yang menyenangkan karena yang Fina tahu anak itu paling jago untuk urusan mencairkan suasana.
“Shi. . . .”
“Awas kalau berani.” Shien menghalangi kamera ponsel Fina yang diarahkan padanya. Pasalnya, Shien memang kurang suka masuk kamera. Ia bukanlah jenis orang narsis yang sedikit-sedikit mengabadikan moment dengan kamera.
“Iya deh iya.” Ucap Fina mengalah, daripada harus ribut hanya gara-gara video. Lalu ia mengarahkan kamera ponselnya pada Shanna yang disambut baik oleh gadis yang masih asyik berenang itu.
Tak lama, Reno dan Bibi menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi beberapa menu barbeque seperti sosis, bakso, daging, dan sayur terhidang di sana. Aroma khas pembakaran yang menyeruak di indra penciuman, mampu menghipnotis setiap orang untuk memakannya.
“Makanannya udah jadi nona-nona.” Seru Reno sambil meletakkan salah satu nampan berisi sosis bakar di pinggir kolam.
Shanna yang masih berada di ujung kolam lantas ikut berseru senang dan buru-buru menepi.
“Wahh, enak nih. Udah lama gak bikin acara bakar-bakaran kayak gini.” Ujar Shanna sambil berusaha naik untuk duduk di pinggiran kolam dengan bantuan Reno.
“Jangan dimakan dulu.” Shanna memukul tangan Shien yang hendak mengambil veggie grilled. Shien yang mendapat perlakuan seperti itu langsung saja melayangkan tatapan protes pada Shanna.
“Kita foto dulu.” Ujar Shanna seraya beranjak ke arah kursi santai untuk mengambil ponselnya.
__ADS_1
Shien hanya bisa mendengus dengan kerempongan Shanna. Menurutnya, kalau mau makan ya langsung makan saja. Kebiasaan Shanna yang suka memotret makanan sebelum memakannya benar-benar buruk. Apa tujuannya coba? Untuk pamer di media sosial?
“Nah, done.” Seru Shanna sesaat setelah ia memotret makanan yang tersaji itu.
“Kita groofie dulu biar lebih perfect momentnya.” Shanna kemudian mengangkat ponselnya tinggi-tinggi agar semua orang masuk ke dalam frame.
“Shi, madep sini, doong.” Titah Shanna karena melihat Shien malah memalingkan wajahnya ke arah kolam.
“Gak mau. Sini biar aku yang fotoin kalian.” Tolak dan tawar Shien kemudian sambil menadahkan tangannya meminta ponsel.
“Please, deh. Jadi orang jangan kaku terus kayak kanebo kering. Gaul dikit napa.” Omel Shanna yang dibalas delikkan sewot oleh Shien.
“Ayo, sekali doang. Ren, pegangin dia.” Sambung Shien, lalu mengedikkan kepalanya tanpa kentara ke arah Shien.
“Maaf nih, Mbak.” Reno berujar takut-takut melihat tampang Shien yang masam.
Dan tak butuh waktu lama, Reno langsung memutar tubuh Shien agar menghadap kamera, lalu mengunci gadis itu dengan merangkul pundaknya.
“Reno, what are you doing?” Shien yang terkejut sekaligus kesal berusaha melepaskan tangan Reno dari pundaknya.
“Bisa diem gak sih, Shi? Aku udah lapar ini.” Omel Shanna dengan kesal.
“Ya kalau lapar makan.” Sahut Shien sengit sambil menghempaskan tangan Reno dari pundaknya.
“Udah cepetan.” Ujar Shien akhirnya, walaupun dengan wajah yang masih ditekuk.
“Gitu, dong. Dari tadi, kek.” Gerutu Shanna dan kembali mengatur pose serta mengarahkan subjek potret.
“Siap ya, one. . .two. . .three. . . .”
Dan pada hitungan ketiga dimana waktu kamera tepat membidik mereka, Shien dikejutkan dengan Reno yang tiba-tiba kembali merangkulnya. Dan Shien merasa tidak nyaman dengan itu. Berbeda sekali rasanya saat Langit yang melakukannya. Ahh, ia jadi kembali teringat Langit.
“Nah, ayo makaaaan.” Seru Shanna bersemangat dan langsung mencomot sayap ayam kesukaannya dengan sebelah tangan lagi sibuk mengotak-atik ponsel untuk mengupload foto yang tadi ia ambil ke media sosialnya.
“Fin, id name kamu apa?” Tanya Shanna tanpa menoleh karena tagannya masih sibuk mempercantik fotonya sebelum diupload.
“Sini.” Alih-alih menyebutkannya, Fina malah menawarkan diri untuk menulisnya sendiri. Shanna lalu menyerahkan ponselnya pada Fina, kemudian setelah itu bergantian diberikan pada Reno.
“Udah, Mbak. Harusnya gak usah tag-tag, nanti tambah banyak followers gue.” Ujar Reno dengan percaya dirinya seraya menyerahkan kembali ponsel pada pemiliknya. Shien yang mendengar itu berdecih geli tanpa mengalihkan fokusnya pada sayuran bakar yang tengah dimakannya.
“Shien. . . .”
“Gak usah ditanya, Sha.” Sambar Fina seolah mengetahui jika Shanna akan menanyakan akun media sosial berlogo warna pink milik Shien.
“Lho, kenapa?” Shanna menatap Fina penuh tanya.
“Jangan bilang kalau kamu. . . .” Shanna terdiam sebentar, ragu untuk melanjutkan kalimatnya. “Gak punya?”
“Gak ada yang salah juga.” Balas Shien cuek. Shanna melongo takjub, begitupula dengan Reno. Apa Shien itu orang primitif yang nyasar ke generasi milenial?
Fina lantas menceritakan pemikiran skeptis Shien yang tidak memiliki akun media sosial tersebut dengan alasan tidak terlalu berguna. Karena di dalamnya hanya berisi potret orang-orang yang suka pamer dan sok eksis yang igin disanjung.
“Pikiran lo kolot banget, Mbak.” Cibir Reno yang langsung disetujui Shien.
“Emang kenyataannya gak guna, kok. Tuh, contohnya.” Sahut Shien sambil mengedikkan dagunya ke arah Shanna. Mengingat Shanna yang selalu ingin terus eksis, terlalu senang jika mendapat komentar pujian, dan menggerutu tidak jelas saat mendapat komentar buruk.
Shanna mendelik sebal. Tidak menyahuti, gadis itu memilih untuk menulis caption.
“Harusnya kita ngajak Langit juga biar makin seru. Huuft.” Shanna menghembuskan napasnya. Kemudian terlintas pikiran untuk menandai laki-laki itu dalam postingannya.
“Kenapa gak diajak, Mbak?” Tanya Reno. Mendengar nama Langit disebut, mendadak nafsu makan Shien hilang. Menyebalkan sekali karena laki-laki itu tidak memberinya kabar sampai saat ini.
“Katanya dia lagi di luar negeri.” Jawab Shanna, lalu tersenyum saat membaca ulang caption yang sudah dirangkainya.
Kurang seru tanpa @prince_langit
Tidak lupa Shanna menyantumkan beberapa emoji tangan menutupi mulut dengan pipi kemerahan.
“Dia ada hubungin kamu, kak?” Tanya Shien tak sabaran. Bukan refleks, ia memang penasaran apa Langit ada meghubungi Shanna atau tidak selama dia berada di Spanyol. Tapi rupanya ekspresi Shien yang mendesak itu terlalu kentara hingga menarik perhatian Reno dan Fina yang langsung memicingkan matanya penuh tanda tanya.
Tapi beruntung, Shanna sepertinya tidak ambil pusing karena gadis itu langsung menjawab setelah meletakkan ponselnya.
“Gak ada. Aku udah hubungi dia, tapi gak bisa. Aku tahu itu dari Om Wijaya.” Shanna nyengir. Mengingat dirinya yang sampai nekad menghubungi Om Wijaya karena sudah seminggu Langit tidak bisa dihubungi.
“Ohh, gitu.” Gumam Shien, lalu menyesap jus untuk menyembunyikan ekspresi salah tingkahnya. Entah kenapa Shien merasa lega mendengar jawaban Shanna. Hanya memikirkan Langit menghubungi Shanna saja sudah membuat hatinya uring-uringan dan sedih.
********
Shien keluar dari kamar mandi selepas membersihkan dirinya setelah acara barbeque yang selesai hingga jam delapan malam karena dilanjut makan malam bersama dan bermain kembang api. Tentu saja itu ide kekanak-kanakannya Shanna. Tapi Shien tidak menyangkal kalau ia juga menikmati kebersamaan mereka. Untuk pertama kalinya setelah enam belas tahun berlalu, Shien kembali merasakan kehangatan di rumah.
Duduk di depan meja rias, Shien mengusap hidungnya yang berair. Sepertinya gadis itu terkena flu dan demam karena kepalanya juga terasa sangat berat, begitupula dengan suhu tubuhnya yang sangat panas kala Shien memegang dahi menggunakan telapak tangannya.
Mungkin itu karena Shien terlalu lama berada di luar, terlebih tidak segera mengeringkan tubuhnya setelah berenang.
Shien beranjak menuju tempat tidur setelah ia meminum obatnya.
Tiba-tiba, ponsel berdering saat Shien baru saja merebahkan tubuhnya. Lalu dengan malas, Shien meraih ponselnya dan melihat nama si pemanggil yang tertera di layar.
Matanya mengerjap-erjap saat ia membaca nama Langit di sana, lalu membacanya sekali lagi karena siapa tahu saja penglihatannya salah.
Menggigit bibir bawahnya, jantung Shien kembali berpacu cepat bahkan hanya dengan melihat nama Langit tertera di layar ponsel. Lalu, dengan sekali sapuan ibu jari, Shien mengangkat panggilan video tersebut.
“SHIEN KAMU APA-APAAN SAMA SI BOCIL?”
Terkejut mendengar suara teriakan yang cukup memekakan telinganya, Shien refleks melemparkan ponsel ke ujung ranjang.
********
To be continued. . . .
__ADS_1