So In Love

So In Love
EP. 54. Memaksa


__ADS_3

Berikan komentar terbaik kalian untuk cerita ini. Boleh juga kritik dan saran. 😊


********


Langit dan Shien berjalan bersisian dengan langkah perlahan, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar halaman rumah yang terbilang sangat luas itu, sementara para orang tua asyik mengobrol membahas masa muda dan keluhan-keluhan mereka selama menjadi orang tua saat ini di ruang keluarga setelah makan malam selesai. Pembahasan yang cukup membosankan bagi anak muda seperti Langit dan Shien.


Dan ikut bergabung di sana, mereka hanya terus mendapat ledekan atau desakan nyeleneh untuk segera menikah dari para orang tua itu. Mereka bahkan sudah meminta jumlah cucu yang harus Langit dan Shien berikan setelah menikah. Ck, ada-ada saja. Belum tentu juga mereka berjodoh.


Tidak ada percakapan di antara mereka hingga suasana hening tercipta, hanya terdengar derap langkah yang ditimbulkan dari sepatu yang mereka kenakan, serta suara binatang malam yang bersembunyi di balik pepohonan, semak-semak, atau bebatuan.


Malam itu langit penuh bintang. Rasanya, tidak ada satu pun bintang yang ingin bersembunyi di balik persembunyiannya. Bulan juga terlihat lebih terang dari biasanya, mirip dengan lampu neon berdaya tinggi yang tertempel di langit.


Shien melirik Langit. Tangan laki-laki itu besar dan bergoyang kosong di samping celana chino warna khakinya.


Diam-diam, Shien mengulurkan tangannya untuk meraih dan menggenggam tangan besar itu. Namun, gerakannya terhenti saat Langit malah memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.


“Ohh, iya, Shi. . . .”


Shien terperanjat. Lantas buru-buru ia kembali memasang ekspresi tenangnya.


“Ehh, ohh. Iya, kenapa?” Gadis itu gelagapan. Langit tersenyum melihatnya.


“Tadi sore kamu bilang gak bisa datang. Ketemu sama Penulisnya kamu cancel atau diundur?” Tanya Langit.


“Eung. . . , diundur.” Jawab Shien terdengar ragu. “Kenapa? Bukannya kamu seneng aku datang?” Lanjut gadis itu, karena melihat reaksi Langit yang terlihat biasa saja sejak awal kedatangannya.


“Seneng banget, lah. Shiennya aku datang ke rumah, mana mungkin aku gak seneng.” Jawab Langit penuh penekanan saat menyebut Shien sebagai miliknya.


Sementara Shien yang mendengarnya hanya mengulum senyum simpul, tidak menyahutinya.


“Duduk di sana, yuk, Shi.” Langit menunjuk teras belakang rumah yang dilengkapi kursi dan bantal sehingga nyaman untuk dijadikan tempat bersantai.


Gadis itu hanya mengangguk dan mengikuti langkah Langit menuju teras belakang, kemudian duduk berdampingan di sana sambil menatap pemandangan langit yang dipernuhi hamparan bintang berkerlap-kerlip, yang tentunya sangat jarang muncul, mengingat Bandung yang mereka tempati adalah daerah perkotaan.


“Mereka cantik.” Gumam Shien, wajahnya nampak kagum melihat benda langit yang memancarkan cahaya itu.


“Itu karena kita melihatnya dari kejauhan.” Ujar Langit, tanpa mengalihkan pandangannya dari objek astronomi yang tengah ditatapnya.


Menghela napas sejenak, Langit kemudian menoleh pada makhuk cantik yang ada di sampingnya itu. “Shien. . . .”


“Ya?” Gadis itu ikut menoleh begitu namanya dipanggil hingga kini pandangannya beradu dengan mata Langit yang teduh.


“Shien, kamu orang yang seperti apa? Apa kamu orang yang terlihat cantik dari kejauhan atau dari dekat?” Tanya Langit sambil menatap gadis itu lekat-lekat. Tatapannya hangat, namun tajam.


Shien terdiam sejenak dengan wajah tersipu-sipu.”Aku gak tahu karena aku gak bisa melihat diri aku sendiri.” Lalu mengambil napas untuk kemudian ia bertanya. “Langit, kalau kamu melihat pemandangan, kamu lebih suka melihatnya dari jauh atau dari dekat?”


“Emm, aku pikir, aku akan menyukai sesuatu yang terlihat indah dari kejauhan. Tapi kalau dilihat dari dekatpun sama indahnya, itu pasti akan lebih baik.” Jawab Langit. “Begitu juga saat kita menilai seseorang.” Sambungnya kemudian, membuat Shien tertegun setelah mendengarnya.


“Tapi, Shienku akan selalu terlihat cantik baik dilihat dari jauh ataupun dari dekat.” Ujar Langit seraya menyunggingkan senyum hangatnya. Shien yang mendengar itu hanya mendengus geli.


Dua puluh menit pun berlalu. Selama itu mereka hanya terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Langit melirik jam bertali kulit yang melingkar di pergelangan tangannya. “Udah malem. Mereka bilang kita harus kembali jam sembilan. Ayo.” Ajaknya kemudian.


“Belum jam sembilan, kok.” Sambar Shien. “Aku masih mau di sini. Sebentar lagi.”


Langit terkesiap tatkala Shien tiba-tiba memeluk lengannya, lalu dia menyandarkan kepala di bahunya.


Gadis itu sedikit menarik diri, menatap wajah Langit dari bawah yang memasang ekspresi seperti tidak nyaman. “Sebentar lagi.” Lalu kembali menyandarkan kepalanya.


Langit terlihat ragu, namun sejurus kemudian ia tetap menurutinya, dan kembali menikmati suasana malam penuh bintang itu berdua, sesuai permintaan Shien.

__ADS_1


“Langit.” Panggil Shien tanpa melihat wajah Langit.


“Hmm.” Sahut laki-laki itu singkat.


“Boleh aku tanya sesuatu?” Shien mengangkat wajahnya untuk menjangkau pandangannya dengan laki-laki itu yang saat ini juga tengah menatapnya.


Langit terdiam, sebelah alisnya yang terangkat seolah menunggu Shien untuk melanjutkan kalimat atas pertanyaan yang ingin ditanyakannya.


“Kenapa kamu bisa suka sama aku?”


Langit mengerjap, keningnya semakin terlipat dalam. “Aku pikir kamu udah tahu jawabannya, Shi.”


“Emm, maksud aku. . . .” Pandangan Shien mencuat ke bawah, satu tangannya terulur memainkan pinggiran kaus milik Langit. “Kenapa bukan kak Shanna? Wajah kami sama, tapi kenapa kamu lebih memilih aku ketimbang dia?”


Raut wajah Langit seketika berubah datar. Ia benar-benar tidak suka mendengar pertanyaan itu.


Langit menghela napas dalam-dalam, lalu membuangnya dengan kasar sebelum kemudian ia berujar. “Cinta itu bukan sesuatu yang bisa kita pilih. Cinta itu urusan hati dan perasaan, seseorang tidak bisa campur tangan untuk itu.”


“T-tapi. . . .”


“Udah mau jam sembilan.” Langit menarik diri. Dengan perlahan, dia melepaskan tangan Shien yang masih memeluk lengannya.


“Ayo. Aku gak boleh terlambat bawa kamu kembali ke orang tua kamu. Bisa-bisa, restu mereka buat aku jadi suaminya Tuan Putri Shien diambil lagi.” Ujar Langit dengan sedikit gurauan seraya beranjak dari duduknya.


Shien yang mendengar itu lantas tersenyum tipis. Walaupun terlihat belum puas dengan jawaban Langit, gadis itu kemudian ikut beranjak dan mengekori Langit berjalan untuk kembali masuk ke rumah.


********


Salah satu hal yang jarang Langit lakukan setelah Jingga menikah dengan Biru adalah menonton film di Bioskop. Biasanya, Jingga yang paling rajin mengajak Langit mampir ke studio yang satu itu.


Namun, setelah Shien hadir ke dalam hidupnya, Langit tidak perlu khawatir tidak memiliki teman menonton atau tidak harus menonton sendirian lagi.


Seperti halnya hari ini, mereka sekarang sudah duduk bersebelahan di deretan kursi paling tengah, yang katanya itu adalah tempat duduk terbaik. Tadi malam, gadis itu menghubungi dan mengajak Langit untuk pergi menonton setelah pulang bekerja. Shien terlihat sangat bersemangat, gadis itu bahkan datang menemuinya di rumah sakit lebih awal sebelum mereka pergi ke bioskop.


Shien memang sangat menyukai film, apapun jenis filmnya seolah menjadi hiburan tersendiri bagi gadis itu. Dan kalau Shien sudah berhadapan dengan layar lebar itu, matanya hanya akan fokus ke sana. Bahkan, terkadang Langit diacuhkan. Apapun komentar Langit, pasti hanya dianggap angin lalu atau Shien hanya menanggapinya dengan sebatas anggukan atau gelengan kepala. Tidak hanya itu, bahkan popcorn dan cola berukuran besar yang Langit beli, nyaris tidak pernah Shien sentuh.


Jika memang jenis penonton itu terbagi atas beberapa tipe, maka Shien adalah tipe penonton serius layaknya pengamat politik.


Berbanding terbalik dengan dirinya, Langit adalah tipe penonton yang memang suka bersenang-senang dan mengabaikan kualitas serta esensi dari sebuah film.


Biasanya, kalau ia sedang menonton bersama Jingga atau teman empat sekawannya kecuali Biru yang sebelas dua belas kakunya dengan Shien, bersama mereka Langit bisa sangat seru memperdebatkan apa yang sedang mereka tonton.


Namun, ada yang berbeda dengan gadis itu hari ini. Tidak biasanya Shien berkomentar di tengah-tengah film yang sedang mereka tonton. Dia bahkan meminta Langit menjelaskan saat ada part dalam film yang tidak dimengertinya. Dan sebelumnya Shien tidak pernah melakukan itu, justru Langitlah yang biasanya banyak bertanya.


“Kamu nggak berasa kalau cewek yang duduk di sebelah kamu lagi flirting sama kamu? Dasar centil, padahal dia lagi nonton bareng cowoknya.” Tanya Shien menggerutu begitu mereka keluar dari gedung bioskop bersama beberapa penonton lainnya. Bukannya film yang ia bahas, tapi justru kelakuan penonton lain yang menarik perhatian. Sementara Langit hanya menggeleng polos sebagai jawaban.


“Dia, tuh, jelas-jelas lagi tebar pesona dan narik perhatian kamu. Ck, dasar gila.” Umpat Shien, membuat Langit melihatnya heran, kemudian mengerjap, dan kembali memasang wajah biasa.


“Tapi, aku tahu dia seksi, Shi. Beberapa kali aku ngelirik dia, dan dia selalu nyilangin kaki mulusnya.” Ujar Langit santai, membuat Shien terperangah tak percaya dan langsung melayangkan sling bagnya hingga mendarat tepat di kepala Langit cukup keras.


“Mata keranjang.”


Langit hanya terkekeh pelan sambil mengusap-usap kepalanya yang cukup sakit akibat pukulan sling bag milik Shien.


Tidak. Langit tidak serius mengatakan soal melirik gadis itu. Tapi, kaki jenjang yang seksi itu memang tak sengaja dilihatnya begitu si gadis centil dengan sengaja menyilangkan kaki untuk menarik perhatiannya tadi.


Sejurus kemudian, perhatian keduanya langsung teralihkan begitu bunyi langkah sepatu bergerak cepat. Rupanya, gadis seksi dengan hot pants dan sweater putih oversize tadi sedang berusaha mengejar si laki-laki yang berjalan lebih cepat. Wajah laki-laki itu berlipat-lipat penuh kekesalan. Sementara si gadis centil yang sedang berusaha membujuk laki-laki itu dengan ekspresi imut dan manja, matanya bahkan masih sempat melirik Langit dengan centil. Lalu, keduanya hilang lebih dulu di anak tangga eskalator.


Langit tertawa geli melihatnya.


Sementara Shien mendengus kesal dan kembali melayangkan umpatan untuk gadis centil itu. “Dasar. Udah punya cowok, masih terang-terangan godain cowok orang.”

__ADS_1


“Tapi, kalau dilihat-lihat lagi, cewek itu mirip sama Terry , ya?” Ujar Langit. Shien langsung mendelik sebal begitu nama jelangkung genit itu terucap dari bibir Langit.


“Terry?”


Mendadak perasaan Shien menjadi tidak tenang. Lebih baik Langit membicarakan gadis centil tadi daripda harus membawa nama Terry ke dalam topik pembicaraan mereka.


“Iya. Ehh, dia juga ada hubungin aku, gak tahu dapat kontak aku dari mana. Beberapa kali dia nelepon atau chat-chat ngajak ngobrol yang nggak penting.” Terang Langit, membuat Shien menggeram kesal. Berani-beraninya dia sok akrab menghubungi Langit.


“Terus, kamu nanggepin dia?” Tanya Shien dengan tatapan kesal.


“Ya enggak, lah. Aku gak bakalan nanggepin cewek mana pun kecuali Shien.” Sahut Langit seraya merangkul pundak gadis itu.


Keduanya lantas berjalan menuju food court yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung bioskop.


“Banyak banget cewek yang godain kamu.” Shien mengeluh diiringi dengusan kecil.


“Tenang aja, walaupun banyak cewek yang godain atau berusaha merebut aku dari kamu. Aku gak akan tertarik sama sekali dengan mereka.” Ujar Langit, seolah mencoba menenangkan Shien. Sementara gadis itu hanya terdiam dengan wajah merengut.


“Menurut kamu, orang kayak mereka itu bagaimana?” Tanya Langit, melanjutkan pembahasan sebelumnya saat mereka berjalan ke area food court mengenai gadis penggoda sesaat setelah mereka mendudukkan diri di salah satu tempat duduk paling pojok.


“Orang kayak mereka?” Shien mengulang pertanyaan diiringi dengan kening yang berkerut bingung, gagal mencerna maksud dari pertanyaan Langit.


“Orang yang suka godain atau berusaha merebut pasangan orang lain, apalagi dengan cara licik.” Jelas Langit santai.


Gadis itu tampak terkesiap, namun buru-buru menyembunyikan wajah terkejutnya.


“So, menurut kamu gimana?” Agaknya Langit masih menunggu gadis yang duduk di hadapannya itu mengemukakan pendapatnya. Namun, gadis itu malah terdiam hingga membuat Langit harus melambaikan tangan di depan wajahnya, dan barulah Shien tersadar.


“Orang kayak gitu keterlaluan. Tapi, bisa jadi mereka melakukan itu sebagai bentuk usaha untuk membuat orang yang dicintainya bisa bersama dengannya.” Jawab Shien diiringi senyuman kaku yang sangat tipis.


Salah satu sudut bibir Langit tersungging sedikit hingga nyaris tak terlihat. “Sejak kapan kamu bersikap Netral, Shien?”


Langit menyoroti wajah Shien yang terlihat panik dan berusaha melarikan diri dari pandangannya. Namun, detik berikutnya pandangan Langit teralihkan karena kedatangan waiter yang membawa makanan yang mereka pesan sebelumnya.


“Aku gak setuju sama pendapat kamu yang kedua.” Langit kembali melanjutkan pembahasan mereka setelah kepergian waiter, seolah enggan beralih pada topik lain.


“Kenapa?” Tanya Shien seraya mengaduk-aduk jus jeruknya dengan sedotan, terlihat malas.


“Karena itu namanya obsesi, bukan bentuk usaha.” Langit menyesap jus jeruk miliknya sejenak. “Mereka gak bisa nerima kenyataan kalau orang yang dicintainya itu nggak punya perasaan yang sama. Mereka nggak bisa menerima penolakan.”


Shien hanya bergeming, mendengarkan Langit berbicara sambil menggigiti sedotannya.


“Kita gak bisa memaksa seseorang agar memiliki perasaan yang sama. Orang yang terlalu memaksakan kehendak gak akan bisa berhasil, sehebat apapun cara licik yang mereka gunakan.”


Shien menghembuskan napas kasar. Laki-laki di hadapannya ini sepertinya masih belum ingin berhenti bicara. Dia mulai menggeram tertahan. Lantas digenggamnya sumpit yang masih terbungkus plastik untuk memakan ramen itu erat-erat.


“Memang gak salah kalau kita mencintai seseorang. Tapi, kita gak boleh memaksakan kehendak untuk mendapatkan cinta yang kita inginkan.” Langit meringis untuk kemudian kembali berujar. “Dan kamu tahu apa yang mungkin terjadi kalau tetap memaksakan kehendak?”


Shien tetap bergeming, menatap lurus pada mata Langit yang juga tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Kemungkinan kehilangan apa yang sudah dimiliki saat ini dan juga penyesalan.” Tandas Langit, lalu kembali menyesap jus jeruknya.


“Aku kebanyakan ngomong ya, Shi?” Langit nyengir lebar, sementara Shien hanya mengulum senyumnya tipis.


“Duhh, maaf deh. Aku kalau bahas sesuatu kadang suka kelewat semangat.” Laki-laki itu terkekeh ringan.


“So, apa kita bisa makan sekarang?” Kali ini Shien yang angkat bicara, ramennya sudah mulai dingin, terlihat dari asapnya yang sudah tidak mengepul lagi.


********


To be continued. . . .

__ADS_1


__ADS_2