So In Love

So In Love
EP. 100. Bohong


__ADS_3

********


Dua bulan setelah pernikahan, Langit menjalani hidupnya seperti biasa, setiap hari pergi bekerja ke rumah sakit dan selalu sibuk tentunya, namun yang membedakan adalah ia tidak pulang ke apartemennya lagi, melainkan ke rumah Papa Wijaya dan ada sang istri yang menyambutnya di sana. Rumah yang akan mereka tempati belum selesai direnovasi dan diperkirakan akan selesai sekitar satu bulan lagi. Sedangkan Shien terkadang mengeluh karena Langit terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Tiga hari belakangan bahkan suaminya itu tidak pulang. Atau seandainya Langit pulang pun, itu saat Shien sudah tertidur. Mereka hanya memiliki waktu untuk bersama sebentar setelah bangun dan saat sarapan. Hal itu juga berpengaruh pada kegiatan ranjang mereka sehingga membuat Shien terkadang uring-uringan. Bagaimanapun juga, perempuan tetap membutuhkan itu, bukan?


Berhenti bekerja di perusahaan tidak membuat Shien bosan karena selama dua bulan ini ia disibukkan dengan kegiatan belajar memasaknya. Shien tidak mengambil kelas memasak, melainkan setiap hari ia belajar bersama Bunda, terkadang juga bersama Mama. Mereka mengajarinya dengan penuh kesabaran meski di awal-awal terkadang Shien mengeluh bahkan menggerutu kesal karena terus gagal, namun sekarang kemampuan memasaknya sudah jauh lebih baik. Sekarang Shien bahkan bisa mengembangkan resep masakan sendiri di rumah.


Namun di samping keberhasilannya, Langit tidak ada di sana karena sibuk dengan pekerjaannya di rumah sakit. Padahal, Shien ingin sekali suaminya itu mencoba hasil masakannya dan menilainya. Langit tidak selalu bisa melakukan itu karena terkadang dia pulang larut malam atau tidak pulang sama sekali. Demi hasil masakannya dicicipi Langit, Shien terkadang datang menghampirinya ke rumah sakit membawakan makan siang. Tapi tetap saja, Langit tidak bisa berkomentar banyak karena diburu-buru pekerjaan. Hal itu tentu saja membuat Shien sedikit sedih.


Meskipun demikian, Shien tetap menyemangati dirinya dan terus berusaha untuk menjadi istri yang baik. Ia bahkan membeli buku panduan untuk itu dan membacanya di saat senggang di tengah-tengah kesibukannya yang juga sedang menggarap buku baru.


Terbersit kekhawatiran di hatinya karena akhir-akhir ini Langit terlalu sibuk, Shien takut suami tampannya itu digoda atau tergoda perempuan lain di luar sana, tapi buru-buru ia menepis pikiran buruk itu. Shien teringat dengan Mama yang sering ditinggal Papa ke luar negeri, tapi wanita itu baik-baik saja karena percaya pada Papa.


Malam ini Shien sudah berdandan cantik, bermaksud untuk memberi kejutan pada Langit di rumah sakit nanti sekalian membawakannya makan malam dan beberapa camilan kesukaan Langit. Shien sengaja tidak memberitahu laki-laki itu bahwa dirinya akan datang ke sana.


Melangkahkan kakinya keluar dari rumah mewah itu, Shien lantas menaiki mobil yang sudah disiapkan Pak Bayu, sopir pribadi Papa Wijaya. Sengaja Shien berangkat menggunakan sopir karena ia berencana untuk pulang bersama Langit nanti. Tidak hanya itu, Shien bahkan berniat untuk mengajak suaminya itu jalan-jalan terlebih dahulu karena belakangan ini ia tidak banyak mendapatkan waktu berdua dengan Langit, sekalian Shien juga akan mengajaknya menginap di hotel. Heran saja, saat masih pacaran mereka bisa menghabiskan banyak waktu berdua, kenapa setelah menikah Langit jadi terlalu sibuk begini? Huuh.


Sesampainya di rumah sakit, Shien yang baru saja turun dari mobil dan hendak melangkahkan kakinya untuk masuk ke bangunan besar dan menjulang tinggi itu, seketika menghentikan langkahnya saat melihat mobil yang sangat familier di matanya berhenti tepat di depan teras utama rumah sakit. Jelas Shien sangat mengenalnya karena mobil tersebut adalah milik suaminya.


Shien mengernyitkan keningnya heran. Pasalnya, tadi siang saat Langit melakukan panggilan video dengannya, dia mengatakan akan pulang larut dan meminta Shien untuk tidak perlu memasak karena Langit akan makan malam di rumah sakit. Tapi kenapa laki-laki itu sudah keluar dari tempat kerjanya?


Dan yang lebih mengejutkan hingga membuat jantung Shien mendadak berdetak lebih cepat adalah saat melihat seorang gadis yang kalau Shien tidak salah ingat adalah Mia. Gadis itu tiba-tiba datang dan masuk ke dalam mobil Langit.


Lantas buru-buru Shien bersembunyi di balik tanaman semak begitu melihat mobil Langit mulai melaju dan perlahan keluar dari pelataran rumah sakit. Ia lalu mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Langit.


“Iya, sayang?”


Shien mencebik, tidak tersentuh sama sekali dengan panggilan itu. “Kamu di mana?” Sambarnya langsung.


“Aku lagi di luar, lagi di perjalanan ke restoran.” Jawab Langit, setidaknya membuat hati Shien sedikit lega karena laki-laki itu tidak berbohong dengan mengatakan masih di rumah sakit. Tapi tetap saja Shien tidak menyukai itu. Pasalnya, Langit sedang bersama gadis lain. Pikirannya mulai menerka-nerka, mengira Langit akan melakukan makan malam romantis dengan gadis bernama Mia itu.


Ahh, Shien lupa. Seharusnya ia lebih waspada karena banyak gadis-gadis cantik di lingkungan kerja Langit.


Seketika ia menyesali sesuatu, kenapa dulu tidak mengambil sekolah kedokteran coba kalau tahu akan berjodoh dengan Langit? Setidaknya kalau Shien menjadi Dokter, intensitasnya untuk bertemu laki-laki itu pasti menjadi lebih banyak karena mereka bekerja di tempat yang sama. Sama halnya seperti Biru dan Jingga. Shien sedikit iri pada mereka.


Tapi kalau di pikir-pikir lagi, itu juga tidak akan mungkin karena Shien masih menderita sakit jantung saat itu.


“Sayang, ada apa?” Tanya Langit heran karena tidak ada sahutan dari sang istri.


“Oh, eung. . . , kamu mau ngapain ke restoran? Kalau udah pulang kenapa gak makan malam di rumah aja?” Sahut Shien bersungut-sungut.


“Iya kerjaan aku emang udah selesai. Tapi maaf, aku udah janji sama teman kerja aku buat traktir makan malam. Besok janji deh aku makan malam di rumah.” Ujar Langit sabar. Sementara Shien hanya mencebik tak percaya.


“Terus istrinya dibiarin makan malam sendirian? Hampir tiap hari lagi.” Sindir Shien. Tidak tahukah Langit bahwa ia sangat merindukannya?


“Iya maaf, sayang. Soalnya aku udah janji.”


“Terus kamu makan malam sama teman yang mana? Cewek apa cowok?” Tanya Shien memancing.


“Aku makan malam sama tim aku, ada cewek sama cowok juga.” Jawab Langit yang sontak membuat hati Shien seperti dihantam benda keras. Tangannya tiba-tiba bergetar seiring dengan suhu dingin yang mulai menjalar di ujung-ujung jarinya.

__ADS_1


Langit berbohong. Jelas-jelas tadi Shien melihatnya pergi berdua dengan Mia. Tidak ada perempuan atau laki-laki bersamanya. Kenapa Langit mengatakan makan malam tim?


“Shi, udah dulu ya, aku lagi nyetir soalnya. Sampai ketemu di rumah, sayang. Love you.”


Shien tidak lagi menyahuti ucapan Langit, ia masih terdiam dalam keterkejutannya sehingga tidak menyadari jika Langit sudah memutus panggilan mereka.


Satu-satunya hal yang menyadarkan Shien adalah tepukan tangan seseorang di pundaknya.


“Bengong aja. Ngapain, sih? Mana di balik semak-semak lagi kayak orang mau berbuat mesum.”


“Hantu.” Shien tersentak kaget sambil mengelus dadanya. Ia lantas menoleh dan mendapati Nathan yang ternyata adalah orang yang berbicara dan menepuk pundaknya.


“Mana ada hantu bentukannya super ganteng begini? Enak banget kalau ngomong.” Nathan mendumel tak terima.


“Ya kamunya ngagetin, Kak.” Sahut Shien tak mau kalah.


“Terus, kamu lagi ngapain di sini?” Nathan memilih untuk tidak berdebat dengan Shien. Ia yang baru saja keluar dari parkiran basement tidak sengaja melihat seseorang yang mirip dengan Shien dari kejauhan. Maka dari itu, ia memutuskan untuk menghampiri dan memastikannya, tapi tidak disangka ternyata orang itu benar-benar Shien.


“Mau nemuin Langit.” Jawab Shien malas dengan wajah merengut sebal.


“Langit ada di bangsal anak kalau kamu lupa. Ngapain berdiri di sini? Sampai Raja Firaun jadi tukang ojol juga kamu gak bakalan nemuin Langit di sini, Shi.” Cerocos Nathan.


“Tapi aku baru aja mergokin Langit jalan sama cewek lain. Dia selingkuh, Kak. Pantesan akhir-akhir ini dia jarang pulang.” Adu Shien penuh kekhawatiran, tidak mengindahkan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Nathan.


“Masa, sih? Paling itu Dokter Jingga kali, Shi.” Sahut Nathan setengah percaya dan tidak percaya.


“Mata aku masih normal, Kak. Tadi ada cewek Perawat, Langit jemput dia di sana, terus mereka pergi berdua.” Ujar Shien seraya menunjuk tempat di mana Langit menjemput Mia tadi.


“Iya tapi itu cewek, aku gak suka. Terus pas aku telepon, dia bilang mau makan malam bareng tim ada cewek sama cowok juga. Tapi jelas-jelas aku lihat dia cuma berdua.” Shien menghentakkan kakinya kesal hingga membuat Nathan sedikit keheranan dengan sikap Shien yang menurutnya tidak biasa. Gadis itu menjadi lebih cerewet sekarang.


“Ya siapa tahu yang lainnya udah nunggu di restoran, Shi.” Ucap Nathan menenangkan, namun apa yang diucapkannya itu malah membuat hati Shien yang sedang kalap malah semakin kalap.


“Pokoknya aku curiga Langit tuh bohong. Makan malam tim pasti cuma alasan dia aja.” Sambar Shien sewot.


“Terus kamu maunya gimana?” Tanya Nathan yang merasa tidak ada gunanya dan mungkin tidak akan menang juga jika terus mendebat Shien.


“Ya buntutin dia biar langsung bisa aku gep.” Jawab Shien dengan tangan mengepal, meremas kuat-kuat tas berisi kotak bekal yang ditentengnya.


“Ya udah sana.” Ucap Nathan dengan nada santainya. Ia masih sangsi jika Langit selingkuh. Tapi seandainya itu benar, maka Nathan pastikan laki-laki itu tidak akan hidup lagi.


“Sama kamu lah, Kak. Aku, kan, gak bawa mobil.” Sentak Shien, membuat Nathan sedikit berjengit kaget.


“Ya udah sih gak usah sewot sama aku juga. PMS kamu?” Protes Nathan kesal karena merasa dirinya sudah dijadikan pelampiasan kemarahan Shien.


“Suami aku selingkuh mana bisa aku tetap tenang? Siapapun itu, gak lagi PMS juga pasti bakalan kesel.” Sahut Shien tak kalah kesal.


Menghembuskan napasnya kasar, Nathan lantas berseru. “Ayo.” Lalu berjalan menuju mobilnya yang terparkir sembarang di pelataran rumah sakit sambil terus menggerutu di dalam hati, mengucapkan kata-kata ancaman untuk Langit jika dia benar-benar selingkuh.


“Langit makan malam di mana?” Tanya Nathan setelah mereka masuk mobil.

__ADS_1


“Restoran.” Jawab Shien singkat.


“Maksud aku tuh restoran mana?” Tanya Nathan lagi, merasa gregetan sendiri karena jawaban Shien tidak jelas.


“Gak tahu, Langit gak bilang. Lagian orang yang mau selingkuh mana mungkin ngasih tahu tempat perselingkuhannya.” Shien kembali bersungut-sungut.


Nathan mendengus jengkel. Bagaimana mereka bisa membuntuti orang tanpa tujuan yang jelas coba? Shien ini benar-benar aneh. Apa akal sehatnya sudah hilang?


“Terus sekarang gimana?” Tanya Nathan setelah beberapa saat terdiam.


“Jangan kayak orang primitif, itu gampang.” Jawab Shien yang kini tiba-tiba sudah kembali ke mode tenangnya.


Nathan memperhatikan gadis yang duduk di sebelahnya itu merogoh sesuatu dari dalam tas selempang yang dikenakannya.


“Pake ini.”


Dan beberapa detik kemudian Shien menunjukkan sebuah aplikasi pelacak di ponsel pintarnya. Lantas gadis itu mengotak-atik aplikasi tersebut selama beberapa menit dan titik keberadaan Langit langsung ditemukan. Langit berada di salah satu restoran western yang ada di bilangan Bandung.


“Kenapa gak bilang dari tadi?” Nathan menjitak kepala Shien gemas. Kalau caranya mudah seperti ini, kan, mereka tidak perlu adu mulut dulu.


“Ya aku juga baru kepikiran. Udah ahh ayo berangkat.” Sahut Shien tidak ingin berdebat lagi.


“Kamu kayak ibu-ibu hamil lagi mood swing tahu, gak?” Gerutu Nathan yang mulai melajukan mobilnya. Ia merasa heran karena Shien yang biasanya dingin dan tidak banyak bicara, sekarang jadi cerewet dan ketusnya tidak ketulungan, tapi dia tiba-tiba bisa tenang kembali dalam beberapa saat.


“Ck, ibu hamil apanya? Impossible.” Shien merasa geli dengan ucapan Nathan barusan, karena itu adalah sesuatu yang tidak mungkin baginya untuk sekarang.


“Ya wajar aja sih kalau cewek udah nikah hamil. Aku lihat kamu juga agak gendutan.” Ujar Nathan. Shien sontak langsung melemparinya tatapan tajam begitu mendengar kalimat terakhir.


“Ya kamu ngaca aja.” Ucap Nathan yang melihat tatapan tidak suka Shien.


Shien mendengus sebal, lalu menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Perasaannya semakin semrawut ditambah Nathan yang mengatainya gendut. Tidak tahukah Nathan bahwa bobot tubuh itu masalah sensitif bagi perempuan? Huuh.


Tapi jika benar kalau dirinya gendut, itu pasti karena Shien jarang olahraga akhir-akhir ini dan banyak makan hasil masakannya sendiri, bukan karena hamil.


Tidak ada percakapan lagi di antara keduanya setelah itu. Shien tenggelam dalam pikirannya sendiri, sementara Nathan fokus menyetir, berusaha mencari jalur tercepat di tengah-tengah kemacetan lalu lintas.


********


Sesampainya di restoran berkonsep private itu, Shien dan Nathan langsung bergegas masuk ke dalam. Sudah dipastikan Langit berada di sana karena Shien dan Nathan melihat mobil Langit yang terparkir di parkiran restoran tersebut.


Bernegosiasi dengan resepsionis restoran disertai iming-iming beberapa lembar uang seratus ribuan, Shien akhirnya berhasil mendapatkan informasi mengenai ruangan di mana Langit berada. Untuk pertama kalinya ia melakukan cara licik seperti ini hanya untuk memergoki suaminya yang sedang berselingkuh.


“Nomor 12. Ini, Shi.” Ucap Nathan saat menemukan nomor pintu ruangan di mana Langit berada.


“Kamu yang buka, Kak. Langsung pukulin aja dia.” Titah Shien.


Tanpa berkomentar, Nathan langsung membuka pintu geser di depannya.


“Lang. . . . .”

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2