So In Love

So In Love
EP. 70. I Hate How Much I Love You


__ADS_3

********


Tidak ada yang berubah dari tempat itu setelah enam belas tahun berlalu. Villa mewah yang berada di daerah Lembang itu masih tampak sama. Hamparan rumput hijau yang terawat membentang di sepanjang halaman. Pepohonan rindang semakin meneduhkan suasana sekitar yang berudara dingin itu. Ditambah lagi dengan berbagai tanaman hias yang sengaja ditata sedemikian rupa untuk mengisi teras, semakin menambah nilai estetika villa tersebut.


Menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang terasa kering. Shien berjalan menuju danau buatan yang ada di belakang villa dengan tubuh sedikit gemetar. Perasaannya berkecamuk hingga tidak bisa ia kenali. Kecuali sedih yang kembali mencuat ke permukaan.


Dengan hati-hati, Shien meletakkan bunga tulip putih yang tadi dibelinya saat di perjalanan ke atas permukaan air danau buatan yang tampak tenang itu. Danau buatan yang menjadi tempat di mana nyawa kakaknya diambil paksa, Shawn. Kaki Shien yang gemetar membuatnya sedikit limbung hingga ia memilih posisi berjongkok.


“Gimana keadaan kakak waktu itu?” Shien menatap nanar air danau yang bersih terawat itu, hanya ada sedikit serasah dedaunan dan ranting pohon yang tidak sengaja terbawa angin dan jatuh di sana. Tapi tidak sampai mengotori atau mengurangi keindahannya. “Pasti dia kedinginan banget, ya, Mang?”


“Hmm. . . .” Mang Ujang yang menemani Shien sejak awal kedatangannya beberapa saat yang lalu bergumam, bingung harus menjawab apa. “Tubuhnya biru semua.”


“Ehem.” Shien berdehem tak nyaman seraya membawa tubuhnya untuk berdiri, lalu duduk di kursi panjang yang terbuat dari besi bercat putih yang ada di sisi danau buatan itu. Shien memejamkan matanya untuk menepis bayangan yang ditimbulkan dari kata-kata Mang Ujang tadi. Shien tidak ingin hal itu menjadikan dirinya kembali ketakutan karena memikirkan hal-hal yang tidak bisa kembali.


“Bisa tinggalin aku sendiri?” Pinta Shien yang lebih terdegar seperti perintah.


Mang Ujang terdiam sambil menatap Shien ragu. Pasalnya, ia diwanti-wanti untuk mengawasi Shien, takut-takut gadis itu mungkin kembali paranoid atau melakukan hal-hal di luar dugaan karena teringat masa lalunya.


“Tapi. . . .”


“Jangan khawatir, aku gak bisa minum racun yang enak buat bunuh diri daripada nyebur ke dalam air dingin.” Sela Shien berceletuk asal, seolah mampu membaca kegamangan di kepala Mang Ujang.


Mang Ujang menelan ludahnya susah payah saat pandangannya beradu dengan tatapan dingin Shien yang menyiratkan ketidaksukaannya karena Mang Ujang masih bergeming di tempatnya. Lantas tanpa bisa melawan, Mang Ujang berpamitan dan beranjak meninggalkan Shien sendiri di sana, menikmati suasana sore yang mulai berkabut dan suhu semakin turun hingga hawa dingin menyelimuti objek apa saja yang ada di liar sana.


“Hai, Kak. . . .” Ucap Shien dengan kerongongan sedikit tercekat. Sepertinya, ia tidak akan sanggup berbicara lagi.


Untuk pertama kalinya Shien kembali ke tempat ini setelah kejadian itu. Shien tidak cukup berani sebelum tadi malam Shawn datang ke dalam mimpinya dan tersenyum menanyakan kabar.


Perasaan bersalah itu masih bercokol di hatinya, dan mungkin itu akan bertahan seumur hidup. Shien sadar bahwa dia masih terlalu rapuh untuk benar-benar berdamai dengan kenyataan.


“Maafin aku, Kak.” Shien mengatakan itu dalam hati. Tangisnya pecah dalam sesenggukkan tanpa bersuara.


“Kakak bohong, katanya tunggu sebentar. Tapi kamu nggak kembali.”


Semua kenangan terakhir bersama Shawn berputar di kepalnya seperti roll film. Sangat buruk. Lebih menyeramkan dari film horor yang pernah ia tonton hingga membuatnya tidak bisa tidur nyenyak jika mengingatnya.


“Kakak bohong. Katanya mau lihat aku sembuh dan ngajak aku keliling dunia. Tapi, sekarang kamu malah nggak ada. . . .”


Shien lantas bercerita, walaupun ia hanya berbicara dalam hatinya. Shien mengatakan bahwa sebentar lagi ia mungkin akan segera sembuh karena tepat dua hari yang lalu Nathan membawa kabar baik padanya bahwa rumah sakit sudah menemukan donor yang cocok untuk Shien. Tadi pagi Shien bahkan sudah melakukan medical check up untuk memastikan kondisinya benar-benar siap untuk melakukan operasi transplantasi yang dijadwalkan minggu depan.


Seolah Shawn benar-benar ada di hadapannya, Shien terus bercerita. Ia mengatakan kalau sekarang memiliki seorang pacar yang sangat tampan tapi cukup brengsek. Seandainya Shawn masih ada, pasti Shien akan meminta kakaknya itu untuk menghajar Langit sampai wajahnya menjadi jelek. Tidak lupa, ia juga mengadukan perilaku Shanna yang berubah padanya.


“Kalau kamu masih ada. Pasti kamu menengahi kami, kan, kak?”


Shien tersenyum getir. Hal baik dan kurang baik datang padanya nyaris bersamaan. Shien tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya. Tapi, Nathan mengatakan untuk fokus pada persiapan operasinya. Maka, Shien tidak ingin memikirkan hal lain yang membuat kepalanya pusing dan suasana hatinya buruk. Terutama Langit dan Shanna yang belakangan ini benar-benar mengganggu perasaannya. Masa bodoh dengan mereka. Untuk apa memikirkannya? Toh, mereka juga tidak peduli dengan perasaan Shien sama sekali.


“Non. . . .” Suara lembut seseorang membuat Shien menoleh sebentar. Tampak seorang wanita berusia setengah abad menghampiri, lalu menyampirkan selimut di sepanjang bahunya untuk menghalau udara dingin yang menusuk kulit seiring dengan langit yang mulai gelap karena hari sudah hampir menjelang malam.


“Sudah mau malam, Non. Ayo masuk.” Bi Entin meraih bahu Shien, bermaksud untuk membantu gadis itu beranjak dari duduknya.


Shien menuruti instruksi gerak tubuh Bi Entin. Hanya saja, ia memilih menunduk. Shien malu menunjukkan wajah sembabnya yang berantakan di hadapan Bi Entin. Tapi air mata itu masih saja mengalir, menetes jatuh ke tanah melewati dagunya yang sedikit lancip.


“Sebentar, Bi.” Ucapnya dengan suara parau. Ia lantas berbalik, memunggungi Bi Entin untuk kemudian meredakan tangis dan membersihkan air matanya menggunakan lengan baju karena Shien tidak memiliki tissue.


Sementara Bi Entin dengan sabar menunggunya, seakan ia sedang berhadapan dengan anak kecil yang sedang merajuk enggan diajak pulang dari taman bermain.


Setelah Shien berhasil membuat dirinya benar-benar tenang, ia lalu berjalan bersisian dengan Bi Entin untuk masuk ke dalam villa. Shien berencana untuk menginap satu malam dan menghabiskan waktunya seharian di sana untuk menenangkan diri sebelum operasi, karena setelah ini ia harus mulai tinggal di rumah sakit.


Walaupun Shien sudah terbiasa dengan itu, tapi tidak bisa dipungkiri jika ia cukup cemas untuk operasi besar yang satu ini.


Tidak banyak percakapan yang terjadi di antara Shien dan Bi Entin sepanjang perjalanan memasuki villa. Shien yang begitu pendiam membuat Bi Entin merasa canggung untuk mencoba membuka percakapan atau mengobrol dengan Shien. Berbeda sekali saat ia berhadapan dengan Shanna yang banyak bicara dan nyambung dengan obrolan apapun. Bi Entin tidak pernah kehabisan topik pembicaraan saat bersama dengan Shanna. Tapi dengan Shien, untuk memulai pembicaraan saja ia bingung. Bi Entin hanya mengatakan bahwa ia sudah menyiapkan makan malam untuknya, dan Shien hanya menanggapi itu dengan anggukkan. Tidak ada percakapan lagi setelah itu.


********


Langit malam selalu memiliki keindahan tak terduga yang akan membuat siapa saja takjub akan besarnya alam semesta.


Setelah makan malam, Shien duduk termenung di kursi yang ada di rooftop villa tersebut dengan teleskop reflector di hadapannya. Tempat itu cukup nyaman baginya untuk menenangkan diri, Shien suka mengamati benda-benda langit bersama Shawn ketika mereka berlibur ke sini. Entah itu bulan, bintang, atau meteor, semua objek langit itu membuat siapa saja terpana akan keindahannya.


Shien tidak terlalu pandai menggunakan teleskop dengan baik sehingga objek yang ia lihat nampak kabur. Ia tidak sepandai Shawn yang masih kecil saja sudah sangat paham menggunakan teropong bintang dan membidik objek langit yang ingin mereka lihat dengan tepat.


Seketika Shien merindukan Planetarium yang pernah ia kunjungi saat masih sekolah menengah di Amerika dulu.


Pertunjukan teater bintang yang memperlihatkan simulasi luar angkasa, susunan bintang, dan segala macam benda langit, Shien ingin melihatnya lagi. Ahh, sepertinya ia harus mengajak Fina pergi ke Planetarium setelah operasinya nanti.


Menghembuskan napas kasar, Shien putus asa. Benar-benar gagap teknologi. Ia lantas memilih untuk mengabaikan teleskopnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan kepala menengadah.


Di langit ada satu bintang yang bersinar sangat terang. Shawn pernah mengatakan padanya jika itu adalah Dhruva, yang menurut legenda, bintang tersebut di India dipercaya sebagai simbol keinginan yang kuat. Keinginan seorang anak bernama Dhruva yang ingin bertemu dewa Wishnu dan dikabulkan oleh Dewa.

__ADS_1


Tapi, kalaupun iya itu adalah Dhruva dan bisa mengabulkan keinginan memangnya kenapa? Apakah Shien harus percaya dengan legenda yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya itu? Shien bergidik acuh. Ia masih percaya dan memiliki Tuhan yang maha segalanya.


“Shien. . . .” Suara dan sentuhan tangan seseorang di bahunya membuat Shien sedikit tersentak dan otomatis mengubah posisi duduknya menjadi tegap.


Shien langsung membuang pandangannya saat ia mengetahui siapa orang yang kini berdiri tepat di hadapannya, Langit.


Entah bagaimana laki-laki itu bisa sampai ke sini, Shien tidak terlalu penasaran dan tidak ingin mencari tahu juga. Yang jelas, Shien benar-benar malas melihat wajah Langit yang tampan itu.


Shien bersiap untuk beranjak, namun Langit dengan cepat menahannya. Langit berlutut dengan satu kaki di depan Shien, lalu meraih tangan gadis itu untuk digenggamnya.


“Jangan hukum aku lagi, Shi.” Ucap Langit lirih. “Aku mohon.” Lanjutnya yang sama sekali tidak mendapat sahutan dari Shien.


“Maafin aku, Shi. Aku salah. . . .” Ujar Langit terdengar parau, ia benar-benar merasa buruk, terlebih setelah melihat ekspresi Shien yang sendu. “Maaf karena udah buat kamu sedih sampai seperti ini. Maaf udah ngecewain kamu. Maaf untuk semua kebodohan aku yang nggak bisa menjaga perasaan kamu.” Mohonnya lagi, lalu mengecup kedua tangan Shien secara bergantian. Namun, Shien masih betah dengan keterdiamannya.


“Kamu bener. . . .” Langit menunduk seraya menggenggam tangan Shien semakin erat. “Kamu bener, aku gak tahu batasan, aku egois, aku bahkan udah mengabaikan kamu di Dufan dan mengatakan sesuatu yang menyakiti hati kamu, sesuatu yang seharusnya aku hindari. Dan yang di toko waktu itu. . . .” Ungkapnya tak bisa melanjutkan sambil meremas punggung tangan Shien, ia benar-benar menyesal.


“Aku bener-bener nyesel. Maaf, Shi.” Langit meletakkan kedua tanga Shien di sisi wajahhnya. “Jangan menghindari aku lagi. Jangan pernah berpikir buat ninggalin aku.”


Shien mengangkat wajahnya, ia bisa melihat ekspresi teramat menyesal di wajah Langit. Hatinya merasa iba melihat itu, tapi lidahnya masih terasa kelu untuk membuka suara.


“Aku bodoh banget, kan, Shi?” Langit menatap mata jernih Shien yang terlihat sendu itu lekat-lekat.


“Kamu juga brengsek.” Sahut Shien yang balas menarap Langit dengan tatapan kesal. Sementara Langit yang mendengar Shien akhirnya membuka suara tersenyum lega.


Shien lantas menarik kedua tangannya dari wajah Langit, lalu ia gunakan satu tangan untuk meninju-ninju pelan bahu kekar milik laki-laki itu. Laki-laki yang sudah membuatnya kecewa, tapi Shien tidak bisa membencinya lama-lama.


“Aku gak suka lihat kamu jalan sama cewek lain, tertawa sama cewek lain, terlalu baik sama cewek lain, aku gak suka. Kamu itu. . . .” Shien menghentikan tinjuannya sebentar, tangannya melayang sebelum kemudian kembali mendaratkan tinjunya dengan sedikit tekanan hingga membuat Langit merasakan sedikit sakit di bahunya. “Brengsek. Kamu orang jahat.”


Langit memejamkan matanya sejenak, membiarkan Shien meluapkan segala perasaan yang mengganggunya. Termasuk meluapkan semua kekesalan Shien padanya melalui pukulan. Tidak apa-apa. Sakit di hati Shien tidak sebanding dengan sakit di bahunya akibat pukulan tangan kecil gadis itu.


“Aku benci sama kamu. Pergi sana. . . .” Shien mendorong bahu Langit dengan kedua tangannya, namun Langit bergeming karena tenaga Shien yang kecil sama sekali tak mampu membuat tubuh Langit bergerak dari posisinya.


“Pergi. . . .” Usir Shien, dan sekali lagi ia mendaratan pukulan keras di bahu Langit.


“Aku tahu. . . .” Langit menahan kedua tangan Shien yang hendak memukulnya lagi. “Aku minta maaf. Aku akan memperbaiki semuanya. Kamu mau, kan, maafin si brengsek ini?”


Shien terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Perasaan kesal dan kecewa itu masih bercokol di hatinya. Ia mungkin bisa memaafkan Langit, tapi untuk melupakan semua kelakuan Langit kemarin, rasanya tidak semudah itu.


“Maafin aku, Shi. . . .” Ucap Langit, lalu berhambur memeluk tubuh Shien.


Gadis itu bergeming. Tidak menolak, tidak pula membalas pelukan Langit. Tapi Langit senang karena Shien tidak bersikap defensif lagi padanya.


“Iya, aku tahu kamu cinta banget sama aku.” Langit tersenyum geli, semakin mengeratkan pelukannya.


Shien mendengus kesal, berani-beraninya Langit menggodanya di saat dirinya masih marah dan kesal seperti inu. Cih. Ia lantas mendaratkan pukulan keras di punggung laki-laki yang sedang memeluknya itu dengan keras hingga membuat Langit sedikit meringis tertahan.


“Kamu mau maafin aku, kan?” Tanya Langit memelas karena Shien tak kunjung menjawabnya. “Give me a chance to make it right and to prove myself.” Pintanya terdengar sungguh-sungguh. Begitu pun dengan raut wajahnya yang menampilkan keseriusan.


“Aku harap itu gak mengecewakan.” Sahut Shien ragu, namun terselip harapan yang besar dalam kalimat yang diucapkannya.


“I’ll do my best.” Balas Langit yakin.


Menarik diri untuk mempertemukan pandangannya dengan Shien sejenak, lalu memberi satu kecupan di atas bibir Shien, kemudian beralih mengecup keningnya sedikit lebih lama. “Jangan pernah berpikir untuk ninggalin aku, Shi.”


Shien mendengus seraya menarik salah satu sudut bibirnya sedikit membentuk sebuah senyuman jengkel. “Kamu udah terlalu banyak mendapatkan keuntungan selama berpacaran sama aku. Aku gak akan melepaskan kamu gitu aja.”


Langit meringis. “Jadi kamu merasa dirugikan?”


Shien mengedik dengan wajah juteknya. “Kamu udah nyuri hati aku, nyuri pelukan pertama aku, nyuri ciuman pertama aku, nyentuh tubuh aku, dan masih banyak lagi.” Tutur Shien seraya melipat jarinya satu per satu. “Kamu harus bertanggung jawab untuk itu. Pencuri.” Sambungnya kemudian, membuat Langit tersenyum geli dan gemas sekaligus hingga ia tidak tahan untuk tidak menyambar bibir Shien sekali lagi.


“Akan aku lakukan.” Langit lalu mengangkat satu tangannya seperti saat ia melakukan sumpah dokter dulu. “Aku Langit, berjanji akan bertanggung jawab atas seluruh hidup Shien.”


Shien mencebik, ia merasa geli, sama sekali tidak tersentuh dengan kata-kata yang terucap dari mulut manis Langit itu.


“Kok bibirnya kayak gitu?” Protes Langit sambil menepuk bibir Shien pelan.


“Udah gombalnya, kan? Sana pergi.” Usir Shien, membuat Langit merengut dengan bibir mengerucut lucu.


“Udah malem, lho, Shi. Masa iya kamu tega ngusir aku?” Langit pura-pura memasang ekspresi minta dikasihani.


“Di daerah sini banyak hotel.” Balas Shien, masih dengan raut wajah tak ramahnya.


“Tante Risa izinin aku nginap di sini, kok, buat nemenin kamu.” Sahut Langit mengeluarkan kartu ASnya, sehingga membuatnya merasa berada di atas angin karena Shien tidak bisa melawannya.


********


Shien duduk berselonjor seraya menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang. Rasa kantuk itu tak kunjung muncul meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Sejak tadi ia hanya berguling-guling di kasur. Maka dari itu, ia memilih untuk duduk dan membaca buku elektronik di ponselnya.

__ADS_1


Perasaan Shien tiba-tiba gelisah tak karuan, mungkin itu yang membuatnya kesulitan untuk tidur. Entah kenapa hatinya gelisah seperti itu, padahal seharusnya berbunga-bunga karena ia sudah berbaikan dengan Langit.


Ini seperti hari tenang sebelum badai terjadi. Shien merasa seperti itu. Namun dengan segera ia menepis pikiran anehnya.


Shien menoleh saat mendengar seseorang menarik handle pintu kamar yang ditempatinya. Didapatinya wajah Langit begitu pintu terbuka.


“Shi, kamu belum tidur?” Tanya Langit dengan melongokkan kepalanya ke dalam kamar.


“Udah mau tidur. Kamu ngapain ke sini?” Sahut Shien. Gadis itu masih saja ketus.


“Aku masuk, ya?” Langit tak mengindahkan ekspresi penolakan Shien.


Laki-laki itu dengan santainya berjalan mendekati Shien, lalu melemparkan tubuhnya ke atas kasur dengan posisi tengkurap, dan membenamkan wajahnya di atas paha Shien yang tertutup selimut.


“Kamu apa-apaan?” Shien yang sedikit terkejut bersaha memindahkan kepala Langit dari pahanya. Tapi laki-laki itu malah melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang ramping Shien, hingga membuat gadis itu semakin kesulitan untuk menjauhkan tubuh Langit darinya.


“Aku tidur di sini, ya?” Pinta Langit tak masuk akal.


“Ya udah, kalau gitu aku tidur di kamar kamu. Awas. . . .” Shien menggerakkan kakinya, berharap agar Langit menyingkir. Namun dia sama sekali tak bergerak dari posisinya.


“Maksudnya tidur berdua gitu lho, Shi.” Langit merubah posisi tidurnya menjadi miring dengan kepala menghadap perut Shien.


“Jangan ngaco kamu.” Ucap Shien geram sendiri.


“Tidur doang, aku janji gak ngaapa-ngapain. Aku cuma mau tidur sambil peluk kamu. Udah itu aja.” Sahut Langit meyakinkan seraya mengacungkan dua jarinya membentuk tanda V.


Shien memutar bola matanya jengah. Ia merutuki dirinya yang lupa mengunci pintu kamar. Kalau setan kecil berwujud tampan seperti Langit ini sudah masuk, jelas ia akan kesulitan mengusirnya.


“No skinship.” Pada akhirnya, Shien hanya bisa bernegosiasi.


“Cuma peluk.” Ujar Langit.


“Gak ada peluk. Ini penawaran terakhir.” Balas Shien tak ingin dibantah. Langit hanya bisa mendengus dengan wajah merengut.


Setelah itu, Shien meminta Langit untuk menyingkir. Mengambil guling dan meletakkannya tepat di tengah tempat tidur untuk membuat batas wilayah antara dirinya dan Langit. Shien mengatakan pada Langit kalau mereka tidak boleh melewati batas itu selama tidur berdua nanti.


“Kalau gak sadar gimana?” Tanya Langit.


“Gak boleh gak sadar, gak boleh khilaf.” Sahut Shien cepat. Langit kembali mendengus mendengarnya.


“Kalau kamu sendiri yang melewati batasan gimana?” Tanya Langit lagi.


“Aku kalau tidur diem, kok.” Jawab Shien penuh keyakinan. Langit terdiam tidak ingin membahasnya lagi ataupun protes. Dalam hatinya ia tertawa licik. Toh, ia bisa pura-pura khilaf dan memeluk Shien nanti saat gadis itu sudah terlelap.


Tidak butuh waktu lama, mereka lantas membaringkan tubuhnya di batas masing-masing yang sudah Shien buat. Shien membiarkan lampunya menyala, walaupun sebenarnya ia tidak terbiasa tidur dalam suasana terang. Hanya saja, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, Shien lebih baik tidur dalam kondisi terang.


“Shi. . . .” Panggil Langit, membuat Shien kembali membuka matanya, lalu menoleh dan mengubah posisi tidurnya menghadap ke arah Langit dengan tatapan penuh tanya.


“Boleh pegang tangan kamu?” Pinta Langit penuh harap.


Shien menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, membuat Langit langsung memasang wajah cemberut.


“Shi. . . .” Panggil Langit lagi. Shien hanya mengangkat sebelah alisnya.


“Kamu jauh-jauh ke sini sengaja buat menghindari aku, kan?” Tanya Langit kemudian.


Shien mendengus. “Geer banget kamu.”


Shien lantas mengatakan kalau ia datang ke sini untuk mengunjungi kakaknya yang sudah meninggal karena ia merindukannya. Hanya itu. Shien tidak menceritakan detail kakaknya meninggal. Shien tidak sanggup atau ia akan menangis dan sulit untuk tidur. Mungkin suatu saat nanti Shien akan menceritakan semuanya pada Langit.


Merasa belum cukup mengantuk, keduanya lalu sama-sama menceritakan apa yang mereka lakukan selama empat hari belakangan ini. Lebih tepatnya selama mereka tidak bertemu. Langit mengeluh kalau ia sangat sedih dan tidak makan dengan baik karena terlalu merindukan Shien. Shien hanya mencebik mendengar itu. Gadis itu lalu menceritakan tentang kabar baik yang dibawa Nathan untuknya. Langit yang mendengarnya jelas saja tersenyum senang dan sangat bersyukur untuk itu.


Cukup lama mereka bercerita ngalor-ngidul, hingga akhirnya keduanya terlelap, tenggelam dalam mimpi masing-masing.


Mereka benar-benar hanya tidur berdua malam itu, tanpa melakukan apapun.


********


Pagi harinya, Shien yang terganggu dengan dering notifikasi pesan chat pada ponselnya terbangun. Ia merasakan sepasang tangan kekar melingkar di perutnya. Tentu saja itu milik Langit.


Ternyata, mereka tidur dalam posisi back hug. Guling yang membatasi mereka pun sudah tergeletak jauh di lantai.


Shien mendengus seraya menghempaskan tangan Langit dari perutnya. Ia merasa jika Langit sudah melanggar kesepakatan. Sudah jelas karena tubuh Langit yang masuk ke wilayahnya.


Tidak ingin protes atau membengunkan Langit lebih dulu. Shien memilih untuk meraih ponselnya yang ia tergeletak di atas nakas untuk melihat siapa yang sudah mengirimnya pesan pagi-pagi begini, mengingat waktu masih menunjukkan pukul delapan pagi.


Setelah membuka layar ponsel menggunakan sidik jarinya, Shien kemudian membaca nama si pengirim pesan. Dr. Nathan.

__ADS_1


********


To be continued. . . . .


__ADS_2