
********
Langit memarkirkan mobilnya di halaman rumah berukuran luas yang tampak asri karena pepohonan khas pekarangan rumah yang tumbuh di sana. Rumah Biru dan Jingga.
Ini bukan kali pertamanya mereka datang ke rumah baru itu, keduanya cukup sering berkunjung menghabiskan waktu bersama setelah Biru dan Jingga pindah ke sana.
Lokasi rumah Biru masih satu kompleks dengan rumah milik Langit yang masih dalam proses renovasi, begitu pun dengan rumah Senja. Sepertinya orang tua mereka sengaja menempatkan rumah anak-anaknya berdekatan agar lebih mudah saat berkunjung. Tidak hanya itu, dengan lokasi rumah yang berada dalam satu kompleks akan semakin mendekatkan tali persaudaraan mereka.
Shien sedikit menyayangkan karena keinginannya untuk pergi menggunakan motor harus batal karena cuaca yang mendung. Padahal, ia sangat ingin jalan-jalan naik motor. Itu mengingatkannya saat masa-masa mereka pacaran dulu. Romantis dan bisa mesra-mesraan secara tidak langsung. Duhh, hanya dengan membayangkannya saja Shien sudah berbunga-bunga.
“Ayo!” Seru Langit yang tahu-tahu sudah membukakan pintu untuknya.
“Hampersnya?” Tanya Shien mengingatkan tentang hadiah untuk anak kedua Biru dan Jingga yang disimpan di bagasi mobil.
“Udah aku ambil.” Langit mengacungkan goodie bag berukuran besar berisi hampers bayi. Shien tersenyum tipis, kemudian turun dari mobil dan berjalan beriringan bersama Langit untuk masuk ke rumah berkonsep tropis modern itu.
“Lho, Bunda?” Shien sedikit terkejut dan senang sekaligus kala melihat Bunda berdiri di hadapan mereka. Wanita paruh baya itu pula yang membukakan pintu rumah.
“Iya Bunda di sini temenin Jingga untuk sementara. Ada Ayah juga di dalam.”
Masih di ambang pintu, Shien dan Bunda lantas saling berpelukan dan bertukar kabar. Bunda yang paling heboh karena sudah cukup lama tidak bertemu Shien setelah gadis itu tidak lagi datang ke rumahnya untuk belajar memasak.
“Ya udah ayo masuk, Biru sama Jingga udah nunggu kalian dari tadi. Katanya mau datang pagi, tapi siang banget.” Ajak Bunda merangkul lengan Shien untuk membawanya masuk ke rumah. Sementara Langit sedikit mendengus karena Bunda seperti menganggap dirinya tidak ada.
“Tadi nunggu hujan reda, Bun.” Jawab Shien memberi alasan. Memang benar mereka menunggu hujan reda, tapi sembari melakukan sesuatu yang menggairahkan hingga lupa waktu.
Bunda hanya mengangguk-angguk tak mempermasalahkan. Cuaca hari ini memang sangat berawan walaupun hujan sudah reda sejak beberapa jam yang lalu.
“Ohh iya, Bun. Winter sama siapa?” Tanya Langit begitu mereka menaiki tangga menuju kamar Biru dan Jingga yang berada di lantai dua. Mengingat Winter yang masih sangat kecil, anak itu bahkan baru belajar berjalan dan sudah memiliki seorang adik. Biru dan Jingga pasti akan sangat kerepotan di awal-awal.
“Sama kakek-neneknya yang satu lagi. Biru sama Jingga masih harus beradaptasi, jadi Winter dititipin dulu.” Jelas Bunda.
“Nanti kalau kalian punya anak, jaraknya jangan terlalu dekat kayak mereka. Repot sendiri kalian nantinya.” Ujar Bunda. Wanita itu menghembuskan napas berat, antara capek menaiki anak tangga dan memikirkan nasib anak serta menantunya yang akan sedikit kesulitan mengurus anak mereka yang masih kecil-kecil, ditambah kesibukan mereka yang sama-sama bekerja sebagai Dokter.
“Padahal aku niatnya mau produksi setahun satu, Bun.” Celetuk Langit asal hingga membuat Shien menyikut perutnya dan melayangkan tatapan kesal.
“Produksi-produksi, kamu pikir pabrik?” Cibir Bunda, sementara Langit hanya nyengir lebar.
Bunda berpamitan pada mereka untuk menyiapkan makan siang setelah membukakan pintu kamar Biru dan Jingga.
Di sana, Biru dan Jingga tersenyum hangat menyambut kedatangan Langit dan Shien. Orang tua muda itu tampaknya baru saja menidurkan anak mereka. Bayi laki-laki mungil yang diberi nama Rayi itu terlihat anteng di ranjang bayinya.
“Selamat ya, Ji.” Ucap Shien tulus seraya saling memeluk dan menautkan pipinya dengan Jingga.
“Oke, makasih. Kamu cepetan nyusul dong biar Winter sama Ray ada temannya.” Ucap Jingga setelah mengurai pelukannya. Sedangkan Shien yang mendengar itu hanya tersenyum. Merasa miris pada dirinya sendiri karena masih dirundung kegamangan hebat untuk siap memiliki anak.
“Ngomong-ngomong, kalian masih berencana mau punya anak tujuh?” Tanya Langit mengalihkan pembicaraan, ia tahu betul Shien cukup terganggu dengan itu.
Laki-laki itu sejak kedatangannya langsung berhambur menghampiri tempat tidur bayi. Tangannya tidak diam terus menowel-nowel pipi bayi Ray dengan gemas.
Biru mendesah pelan. Laki-laki itu lantas menarik sofa lipat mini dan duduk di sebelah Langit. Ia ikut memandangi wajah tidur putranya. “Nyerah deh gue. Kayaknya udah ini yang terakhir. Kalau tujuh, bisa-bisa ingusan semua anak gue karena gak keurus.” Biru baru disadarkan, ternyata memiliki anak itu tidak semudah membuatnya. Anak-anak harus dirawat dengan baik dan perlu diperhatikan secara ekstra di setiap pertumbuhan dan perkembangannya, dan orang tua tentu saja harus bertanggung jawab atas hidup mereka karena sudah membawanya ke dunia ini. Bukannya tidak ingin memiliki banyak anak, hanya saja Biru takut jika dirinya tidak mampu bertanggung jawab atas kehidupan mereka. Bukan materi yang menjadi masalah, tapi waktu untuk merawat dan mendidik anak-anaknya. Biru dan Jingga sama-sama takut jika mereka tidak bisa bertanggung jawab untuk itu.
“Tapi kalau Tuhan masih mau ngasih kami kepercayaan ya gak apa-apa. Ya, kan, sayang?” Sambung Biru sambil melirik Jingga yang tengah duduk di tepian tempat tidur bersama Shien, sedang mengagumi isi hampers pemberian Langit dan Shien. Gadis yang sudah tidak lagi gadis itu mengangguk tersenyum. Walau bagaimanapun, anak adalah anugerah yang diberikan Tuhan kepada setiap orang tua.
“Eh, gue boleh gendong Ray, gak?” Tanya Langit yang tangannya sudah gatal sejak tadi ingin membawa bayi mungil itu ke dalam pangkuannya.
“Ya gendong aja kali, Lang. Tapi awas nangis, lama nenanginnya nanti. Beda banget sama Winter dia.” Sahut Jingga sedikit mengeluh.
“Tiap anak pasti beda-beda sifatnya, Ji.” Ujar Langit yang mulai mengangkat tubuh bayi mungil itu dengan hati-hati.
__ADS_1
Shien yang sedang duduk tidak jauh dari tempat tidur bayi memperhatikan Langit. Laki-laki itu sangat cekatan menggendong bayi seperti itu. Ia tersenyum tipis. Tiba-tiba Shien membayangkan Langit menggendong anaknya sendiri. Ahh, mendadak jantungnya berdebar kencang seperti sedang jatuh cinta hanya dengan membayangkannya.
“Coba gendong.”
“Eh?” Shien sedikit tersentak karena tahu-tahu Langit sudah duduk di sebelahnya saja. Ia mengerjap, menatap bingung bayi yang disodorkan Langit padanya.
“Gendong, Shi.” Ucap Langit sekali lagi sambil mencoba menyarahkan bayinya pada Shien, namun Shien malah beringsut mundur.
“Enggak, ihh. Apa-apaan, sih? Aku gak bisa.” Ucap Shien penuh penolakan.
“Coba aja dulu, itung-itung belajar. Ayo angkat tangan kamu.” Pinta Langit, tapi Shien malah terdiam merengut.
“Takut jatuh ihh, Lang.” Keluh Shien.
“Dicoba aja, Shi. Nanti Langit bantu. Siapa tahu aja abis gendong Ray kamu jadi kepengin punya baby juga.” Tutur Jingga yang mengetahui Shien menunda kehamilannya. Padahal, Jingga sangat tahu Langit sangat menginginkan seorang anak.
Shien terdiam sejenak seraya menatap bimbang bayi yang tidur tenang di pangkuan suaminnya itu.
“Ayo. . . .” Bujuk Langit lagi.
Shien mendengus kecil. Lantas dengan gerakkan ragu dan gemetaran ia mengangkat tangannya. Jelas karena ini kali pertamanya menggendong seorang bayi. Bayi, bukan boneka atau kelinci. Tentu saja Shien takut sehingga ia merasakan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Langit tersenyum senang. Sedikit memperbaiki posisi tangan Shien, ia lalu menyerahkan bayi tersebut pada sang istri. “Gak susah, kan, Shi?”
Shien hanya terdiam dengan tubuh menegang kaku. Lantas ia perhatikan bayi mungil dalam pangkuannya itu. Bibir kemerahan, hidung mancung, serta wajahnya yang begitu polos, membuat tenang hati setiap orang yang memandangnya. Termasuk Shien sendiri. Ada perasaan senang dan haru sekaligus saat memandangi Ray dalam dekapannya.
“Udah kelihatan cocok banget, Shi, gendong bayi kayak gitu.” Kali ini Biru angkat suara. Tapi Shien hanya menanggapinya dengan senyuman kaku.
“Aku titip Ray sama kalian sebentar, ya? Aku sama kak Biru mau video call Winter dulu. Kangen banget sama dia.” Ucap Jingga. Langit mengangguk tidak keberatan. Justru ia malah senang. Ia selalu menyukai anak kecil.
Sejurus kemudian, Biru dan Jingga beranjak ke ruang kerja Biru yang berada tepat di sebelah kamar mereka untuk melakukan panggilan video dengan putri sulungnya.
“Lucu gak, Shi?” Tanya Langit sambil mengendus-endus gemas kepala Ray yang beraroma wangi khas bayi, sesekali menciuminya.
“Ihh. . . .” Dan yang bisa Langit lakukan hanya mencubit gemas pipi Shien yang sekarang terlihat lebih berisi setelah Langit perhatikan. Seketika ia membenarkan apa yang Nathan katakan bahwa istrinya itu sedikit gendutan. Ahh, bukan. Kata gendut itu sedikit meyeramkan. Lebih tepatnya, tubuh Shien sedikit lebih berisi. Tapi Langit senang, itu artinya nafsu makan Shien sangat baik. Langit tidak peduli dengan bentuk atau ukuran tubuh Shien. Karena yang paling penting untuknya adalah Shien tetap sehat. Langit akan tetap mencintai Shien sepenuh hati meski tubuh gadis itu dipenuhi lemak sekali pun.
“Emang bener, kan? Ngaca deh sana, bagian mana dari kamu yang kelihatan lucu?” Ujar Shien sedikit meledek hingga membuat suaminya mendengus sebal. Ia lantas kembali memandangi bayi mungil itu, sesekali ia usap kepalanya lembut. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatinya, perasaan seperti ingin melindungi. Shien tebak itu mungkin naluri seorang wanita.
“Aku mau punya yang kaya gini, Shi.” Ucap Langit seraya menyandarkan dagunya di pundak Shien, sementara sebelah tangannya terus mengelus-elus pipi Ray yang halus seperti salju. “Gak masalah yang kayak Winter atau Ray.” Sambungnya.
Shien menghela napas panjang, lalu menghembuskannya. Ia sadar sudah begitu egois karena hanya memikirkan dirinya sendiri yang tak kunjung bisa melawan ketakutannya. Padahal, Langit sudah sangat berharap padanya. Tidak hanya Langit, tapi juga orang tuanya. Tidak jarang mereka menanyakan padanya apakah sudah ada tanda-tanda atau belum, dan Shien hanya bisa menggelengkan kepala tanpa bisa menjelaskan keadaan yang sebenarnya.
“Tunggu sebentar lagi, ya.” Ucap Shien seraya membenamkan ciuman tepat di dahi Langit. Sementara laki-laki itu hanya mendesah pelan sambil mengangguk lemah. Bagaimanapun, ia tidak boleh terlalu mendesak Shien. “Aku pasti lepas pil kontrasepsinya. Tapi tunggu sebentar lagi aja.” Shien meyakinkan.
Langit mengangkat kepalanya yang semula bersandar pada pundak Shien. Ia kemudian menatap bimbang sang istri. Ragu apakah ia harus mengatakannya atau tidak.
“Shi. . . .” Panggil Langit ragu.
“Hum?” Sahut Shien tanpa melepaskan pandangannya dari bayi Ray.
“Itu, soal pil kontrasepsi. . . .”
“Ray masih tidur? Lho Biru sama Jingganya mana.”
Kalimat Langit tergantung begitu saja saat tiba-tiba Bunda masuk ke kamar. Langit dan Shien lantas menoleh ke arah Bunda yang kini bergerak semakin mendekat ke arah mereka.
“Masih tidur, Bun. Biru sama Jingga di ruang kerja, lagi video call Winter katanya.” Langit menyahuti.
Bunda membulatkan mulutnya dengan kepala mengangguk-angguk, kemudian duduk di samping Shien dan meminta untuk menyerahkan Ray padanya. “Bunda udah siapin makan siang di bawah. Kalian makan dulu, gih. Sekalian panggil Biru sama Jingga buat makan bareng. Mumpung Ray lagi tidur.”
__ADS_1
“Tapi sebelum ke sini kami udah makan, Bun. Aku panggil Biru sama Jingga aja buat nyuruh mereka makan, ya?” Ujar Langit yang merasa perutnya masih penuh, dan ia yakin Shien juga merasakan hal yang sama. Terlihat dari caranya mengangguk setuju saat ia mengatakan hal itu pada Bunda.
“Ya makan lagi aja. Bunda udah masak makanan kesukaan kalian masa gak dicobain.” Ujar Bunda sedikit kecewa. “Bunda gak mau tahu. Kalian harus makan dulu sebelum pulang.” Tegas Bunda tak ingin dibantah.
Pada akhirnya, mau tidak mau Langit dan Shien harus makan siang di sana. Setidaknya memakannya sedikit untuk menghargai Bunda yang sudah menyiapkan makanan untuk mereka dengan setulus hati.
********
“Yakin kita pergi ke Dufan hari ini?” Tanya Shien menatap ragu sang suami yang sedang fokus menyetir di sebelahnya.
Rencananya memang seperti itu. Setelah berkunjung ke rumah Biru dan Jingga, Langit ingin mengajak Shien ke Dufan untuk mengganti kesalahannya di masa lalu yang sudah mengacaukan pengalaman pertama Shien di sana.
“Yakin, sayaaang.” Jawab Langit seraya membelai rambut Shien dengan sebelah tangannya yang bebas.
“Tapi perut kamu?” Tanya Shien khawatir. Pasalnya, beberapa saat yang lalu saat mereka datang ke ruang makan di rumah Biru untuk makan siang, Langit kembali mengalami mual dan muntah-muntah parah kala melihat hampir semua makanan yang tersaji di atas meja adalah olahan daging dan ikan. Langit kembali memuntahkan semua isi perutnya, termasuk apa yang dimakannya saat sarapan di rumah.
Biru memberinya obat pereda mual, tapi Langit tidak memakan apapun setelah itu. Langit hanya mengemut permen untuk meredakan rasa pahit di mulutnya akibat muntah-muntah.
“Udah baikan, kok. Kamu gak usah khawatir, kan aku udah minum obat yang dikasih Biru.” Ujar Langit menenangkan sembari mengusap-usal lembut pipi Shien.
“Ya udah, tapi kita mampir dulu di restoran. Perut kamu kosong soalnya. Kita bisa pesen salad buah atau sayur kalau kamu belum bisa makan daging sama ikan.” Ujar Shien seraya membuka ponselnya untuk mencari lokasi restoran terdekat.
“Gak, deh. Kita beli itu aja, Shi. Kayaknya seger banget.” Langit menunjuk penjaja makanan keliling saat mereka melewati taman kota.
“Rujak?” Tanya Shien memastikan, keningnya terlipat dalam. Yang benar saja mau makan rujak, perut Langit masih kosong ditambah cuaca Bandung yang tidak ada panas-panasnya. Paling tidak beli batagor atau seblak karena udara yang cukup dingin.. Ck, ada-ada saja.
“Yep.” Langit mengangguk yakin tanpa mengalihkan perhatiannya dari kaca spion, ia bersiap-siap untuk menepi tepat di depan gerobak penjual rujak yang diinginkannya.
Tidak sampai sepuluh menit, hanya dengan melongokkan kepalanya dari kaca mobil, pesanan rujak Langit sudah jadi dan ia kembali melajukan mobilnya setelah sebelumya ia menyerahkan plastik berisi rujak pada Shien dan meminta untuk menyuapinya.
“Lang, yang bener aja kamu makan ini. Asam semua lho?” Mulut Shien rasanya ngilu sendiri begitu membuka bungkusan rujak tersebut. Dari dua porsi rujak yang dibeli Langit, yang satu berisi potongan mangga muda, dan yang satunya lagi adalah potongan nanas. Shien langsung merinding bahkan hanya dengan membayangkan untuk memakannya.
“Aku pengen yang seger-seger. Udah suapin aja cepetan.” Ucap Langit tidak ingin mendengar Shien protes lagi.
Sedikit bergidik ngilu, Shien lantas mulai menusuk potongan buah tersebut dan menyuapi suami kolokannya itu. Sedikit rasa khawatir masih becokol di hatinya, teringat perut Langit yang kosong tapi malah memakan makanan asam seperti ini.
“Kamu kayak ibu hamil lagi ngidam tahu gak, sih, Lang?” Komentar Shien.
“Kayaknya sih iya. Kamu yang hamil, terus aku yang ngidam.” Sahut Langit asal.
“Ish, aku hamil dari mana?” Shien sontak mendaratkan cubitan pelan di perut Langit yang berotot.
Langit mendengus jengkel. “Ya dari aku lah, Shi. Kan aku suami kamu. Lagian gak aneh juga kalau kamu hamil. Kalau gak punya suami hamil, baru aneh namanya.”
“Iya, maksud aku. . . , aku kan masih minum pil kontrasepsi, Lang. Jadi gak mungkin lah.” Terang Shien mengingatkan.
“Tapi pil kontrasepsi itu. . . .”
Kalimat Langit langsung terhenti saat dering ponsel tanda pesan masuk terdengar dari ponsel milik Shien.
“Siapa?” Tanya Langit penasaran.
“Kak Senja.” Jawab Shien seraya mengacungkan ponselnya.
“Kak Senja sama kak Bintang sekarang di rumah. Nanyain kita lagi di mana. Mereka mau ngajakin barbequean.” Ujar Shien menjelaskan pesan yang dikirim kakak iparnya.
“Bilangin besok aja taau gak usah nunggu kita. Soalnya nanti kita pasti pulangnya malem.”
“Oke siap, Boss.”
__ADS_1
********
To be continued. . . .