
********
“Shien.” Shien yang tengah bermalas-malasan di atas tempat tidur membuka matanya dengan malas. Suara Shanna yang cempreng benar-benar menyakiti telinganya.
“Shi, cepetan siap-siap. Kata Mama, tamunya bentar lagi datang.” Shanna berusaha menarik lengan sang adik agar gadis itu beranjak dari pembaringannya. Namun, Shien enggan untuk melakukannya.
“Harus banget ikut, ya?” Tanya Shien tanpa berniat beranjak dari tempat tidurnya. Gadis itu kini malah memeluk erat boneka pisangnya seolah tak peduli sama sekali dengan jamuan makan malam itu.
“Kan ini makan malam keluarga. Ya harus ikut, lah.” Shanna merebut paksa boneka pisang yang tengah dipeluk Shien. “Tck, lagian biasanya aku gak dilibatin.” Shien tersenyum kecut, lantas ia menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.
Benar. Sejak kapan keberadaan Shien dianggap penting di keluarga ini? Bukannya dulu ia yang selalu tertinggal? Saking tertinggalnya, bahkan banyak teman orang tuanya yang tidak tahu bahwa mereka memiliki anak kembar. Yaa, mungkin mereka malu memiliki anak seperti Shien. Anak yang penyakitan, merepotkan, dan bahkan pembawa sial yang sudah menyebabkan saudaranya sendiri meninggal. Begitu pikir Shien.
Menghela napas berat, Shanna menatap sang adik yang tenggelam di bawah selimutnya itu dengan tatapan sendu. Ia sangat mengerti perasaan Shien. Akan sulit baginya untuk menerima kedua orang tuanya kembali. Tapi, bukankah seharusnya Shien mencoba memaafkan dan menerima mereka kembali agar semua rasa sakit yang membelenggu di hatinya hilang? Ia tahu Shien sangat marah. Tapi menyimpan dendam terlalu lama juga tidak baik, bukan? Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan, termasuk kedua orang tuanya. Dan Shien harus memberi mereka kesempatan kedua.
Ingin sekali Shanna menasehati adiknya seperti itu, tapi saatnya tidak tepat. Gadis itu harus bersiap-siap untuk menyambut tamu yang akan makan malam bersama keluarga mereka sekarang.
“Shi. . . .” Shanna mengguncang tubuh Shien, tapi gadis itu tetap bergeming.
“Bangun, Shi.” Shanna tak ingin menyerah. “Shieeen.” Shanna berteriak tepat di dekat telinga Shien hingga membuat sang adik menggeram kesal di bawah selimutnya. Namun, ia masih enggan untuk bangun.
“Shienna Rahmadiaaaan.” Shanna terus berteriak sambil mengguncang tubuh Shien dengan keras.
Mendengus kesal, Shien lantas menyentak bangkit dari pembaringannya dengan wajah ditekuk masam. “Okay.” Serunya disertai delikkan sebal pada kakaknya.
Shanna tersenyum penuh kemenangan. Jelas saja, Shien mau tak mau tetap harus bersiap-siap untuk ikut jamuan makan malam, karena jika gadis itu tidak bangun, maka Shanna akan terus mengganggunya. Tidak ada pilihan lain. Shien pasti tidak akan membiarkan telinganya terkena gangguan karena suara Shanna yang terus meneriakinya.
Shien beranjak dari tempat tidur dengan sangat terpaksa. Ia menghentakkan kakinya kesal begitu menapaki lantai untuk kemudian masuk ke kamar mandi.
********
Mama dan Papa yang tengah menunggu di ruang tamu seketika tersenyum saat mendapati kedua anak gadisnya menuruni tangga bersamaan. Mereka benar-berna seperti putri. Keduanya sangat cantik.
Hanya saja, Mama benar-benar risih melihat warna rambut Shanna yang warna-warni. Beliau hanya bisa menghembuskan napas lemah sambil geleng-geleng kepala. Kapan Shanna bisa berpenampilan normal? Anak gadis itu selalu saja mencoba gaya baru yang terkadang melampaui batas normal. Saat remaja, bahkan Shanna pernah mewarnai rambutnya dengan warna kuning terang layaknya buah lemon yang mengambang di permukaan air.
“Tamunya belum datang, Ma?” Tanya Shanna sesaat setelah dirinya dan Shien menghampiri kedua orang tuanya.
“Sebentar lagi datang kayaknya.” Jawab Mama menerka-nerka sembari melirik jam tanpa bingkai yang menempel pada dinding ruang tamu megah itu.
Tak lama setelah Mama berucap seperti itu, bel tiba-tiba berbunyi. “Nah, itu udah datang. Ayo.” Seru Papa sambil berjalan menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan tamu tersebut. Lantas Mama dan kedua gadis kembarnya itu membuntuti Papa di belakangnya.
“Selamat datang. . . .” Sendyna Rahmadian, ayah dari si kembar itu menyambut tamu yang sudah ditunggu-tunggunya dengan senyum lebar begitu beliau membuka pintu, lalu disusul oleh Mama yang berdiri di sampingnya.
Terlihat lelaki paruh baya yang merupakan tamu mereka membalas sambutan itu dengan senyuman yang tak kalah hangat. Papa dan lelaki paruh baya itu saling berpelukan, sementara Mama henya menyalaminya.
“Apa kabar, Wijaya?” Sapa Papa pada lelaki paruh baya bernama Wijaya itu sembari mempersilahkan masuk dan menuntun pundaknya untuk melangkah menuju ruang tamu.
“Baik. Kamu sendiri gimana? Bahagia selalu kayaknya kalau dikelilingi tiga bidadari cantik kayak gini setiap hari.” Balas lelaki paruh baya itu seraya melirik ke arah Mama, Shanna, dan Shien sekilas secara bergantian.
“Haha, bisa aja.” Papa tergelak renyah sesaat setelah dirinya berhasil mendudukkan dirinya di sofa.
“Ohh, iya. Kenalin gadis kecil kami, Shanna dan Shien.” Ujar Papa yang hampir lupa memperkenalkan dua gadis kembarnya. Shanna dan Shien kemudian menyalami Om Wijaya dengan sopan bergantian.
“Terakhir kali lihat mereka waktu masih bayi. Sekarang udah sebesar ini aja.” Ujar Om Wijaya.
“Yaa, mereka sudah besar dan kita semakin tua.” Sahut Papa seolah menyayangkan anak-anaknya tumbuh besar.
“Belum bisa dibilang tua kalau belum punya cucu.” Om Wijaya tergelak pelan.
“Duhh, yang udah punya cucu lagi nyindir kayaknya.” Gurau Papa yang pura-pura merasa tersindir karena dirinya belum memiliki cucu. Om Wijaya hanya membalasnya dengan kekehan.
“Ohh, iya. Ngomong-ngomong, anak kamu dimana? Bukannya kemarin bilang dia mau diajak?” Kali ini Mama ikut nimbrung dalam obrolan diantara kedua lelaki yang sama-sama beranjak menua itu.
“Ohh, dia? Dia masih di luar, tadi kembali lagi buat ngambil barang yang ketinggalan di mobil.” Jawab Om Wijaya seraya menolehkan kepalanya ke arah pintu utama, mencari-cari sosok anaknya yang tak kunjung masuk.
“Aku penasaran gimana dia sekarang. Waktu kecil dia mirip banget sama Rosa, pasti besarnya ganteng banget.” Seru Mama sedikit heboh membayangkan wajah anak dari temannya itu. Shanna yang mendengar kata ganteng langsung berbinar. Sebelumnya ia mengira teman orang tuanya itu hanya berkunjung sendiri. Duhh, Shanna sekarang jadi tak sabar untuk melihatnya.
“Jadi kalau mirip aku dia gak bakalan ganteng, gitu?” Om Wijaya berpura-pura protes tak terima. “Perlu aku bawakan cermin?” Kelakar Mama yang sontak mengundang gelak tawa Papa dan Om Wijaya, sehingga ruang tamu yang tadinya sangat sepi itu mendadak ramai.
Shien sudah tidak memperhatikan percakapan penuh basa-basi itu lagi tatkala matanya menangkap sosok laki-laki yang begitu tak asing di matanya sedang berjalan ke arah mereka. Laki-laki itu tampil dengan gaya monokrom, memadukan celana hitam dengan t-shirt hitam dan blazer bermotif kotak-kotak hitam putih. Sederhana, namun berkelas. Terlihat sangat berkilauan bagi siapapun yang melihatnya.
Tak bisa dipungkiri, laki-laki itu memang mempesona. Tapi, meskipun begitu, dia adalah sosok yang tak ingin ditemui Shien saat ini. Kenapa bisa dia ada di rumahnya? Ohh, jangan bilang kalau dia adalah anak dari kerabat orang tuanya.
“Maaf atas keterlambatannya.” Ujar laki-laki itu dengan sedikit penyesalan sesaat setelah berhasil mencapai ruang tamu.
Selama beberapa detik, ruangan yang tadi menggema dengan gelak tawa seketika menjadi senyap. Semua orang tak ada yang bergerak. Semua orang terdiam menatap sosok laki-laki yang kedatangannya cukup mengejutkan. Garis bawahi, terkecuali Shien. Gadis itu enggan melihatnya bahkan disaat laki-laki itu menyunggingkan senyum bak pangeran padanya.
“Dokter Langit.”
__ADS_1
“Langit.”
Seruan Mama dan Shanna nyaris bersamaan hingga membuat Papa dan Om Wijaya meoleh ke arah mereka dengan tatapan penuh tanya.
“Lho, kalian sudah saling kenal?” Sambar Om Wijaya penasaran.
“Jadi. . . . , dokter, maksudku, Langit itu beneran anak kamu?” Mama balik bertanya seolah tak percaya.
Om Wijaya yang mendengarnya mendengus geli. “Orang lain gak akan punya anak seganteng ini.” Jawabnya dengan percaya diri.
“Langit itu temannya anak-anak. Wahh, dunia benar-benar sempit.” Sahut Mama, masih tak percaya dengan kebetulan yang cukup menyenangkan ini.
“Ini kebetulan yang menyenangkan.” Ujar Om Wijaya, Papa Langit. Beliau lantas meminta Langit untuk menyalami orang tua si kembar sekaligus memperkenalkan diri.
“Kaget, ya?” Setelah menyalami kedua orang tua itu, Langit kini beralih pada Shanna yang masih melongo tak percaya. Gadis itu senangnya bukan main. Orang yang disukainya kini ada di rumahnya untuk makan malam bersama. Kalau tahu begini, ia akan pergi ke salon untuk berdandan secantik mungkin.
“You have no idea.” Shanna tampak protes karena Langit sepertinya sudah tahu kalau kerabat ayahnya itu adalah orang tua Shanna dan Shien. “Aku juga baru tahu tadi.” Sahut Langit seraya menyunggingkan seulas senyum simpul.
Setelah itu, Langit lalu beralih pada Shien yang masih bergeming di tempatnya.
Shien sendiri hanya menatap Langit tanpa ekspresi. Hatinya terasa geram. Masih bisa muncul di hadapannya seriang itu setelah apa yang dilakukannya tadi pagi?
“Halo, Shi.” Sapa Langit, berharap gadis itu membalas senyumannya. Tapi, gadis itu hanya menatapnya tanpa ekspresi.
“Hai.” Shien membalasnya sedingin es hingga membuat semua orang yang sedari tadi memperhatikannya menatap Shien bingung, namun itu tak berlangsung lama karena Mama tiba-tiba berseru untuk mengajak mereka agar segera melakukan makan malam.
“Berhubung semuanya sudah ada, sepertinya kita langsung makan saja.” Suara Mama mengakhiri perbincangan kedua keluarga di ruang tamu itu. “Ayo Langit.”
“Ehh, iya, Tante.” Jawab Langit sedikit gelagapan. Pandangannya tak lepas dari Shien yang kini sudah berjalan mendahuluinya menuju ruang makan.
“Ayo.” Shanna dengan agresif merangkul lengan Langit untuk membawanya menuju ruang makan. “Sikap Shien jangan diambil hati, kalau sama orang yang belum kenal dekat emang suka gitu.” Imbuh Shanna yang mengira bahwa Langit tersinggung dengan sikap Shien barusan. Laki-laki itu hanya mengangguk kecil, tapi matanya terus terpancang ke arah Shien yang sudah berjalan jauh di depannya.
********
“Kamu gak ada niatan buat ikutin jejak Papamu jadi pebisnis yang sukses, Lang?” Tanya Papa Sendy mencoba membuka percakapan di tengah kegiatan makan malam itu.
“Ehh? Oh, enggak, Om. Aku gak tertarik di bidang itu.” Jawab Langit, ia tak bisa konsentrasi. Matanya masih terpaku pada Shien yang tengah mengaduk-ngaduk wonton soupnya dengan malas. Sepertinya Shien sengaja menghindari agar tidak bertemu pandang dengannya.
“Wahh, sayang sekali. Padahal, perusahaan properti Papamu udah melebar dan masuk top ten di Asia. Kalau anak muda seperti kamu ikut andil, mungkin perusahaan Papamu bisa jadi yang terbesar di dunia.” Ujar Papa Sendy. Beliau selalu bersemangat jika membahas mengenai bisnis.
Sementara Shanna dibuat takjub. Ia tak percaya bahwa ayah Langit adalah Om Wijaya yang termasuk salah satu dari seratus developer properti terkaya di dunia. Pantas saja penampilan Langit dari atas sampai bawah dan embel-embelnya terlihat berkilauan. Sebelumnya Shanna heran bagaimana bisa Langit bergonta-ganti mobil, sementara laki-laki itu hanya seorang dokter spesialis yang menjabat sebagai kepala bagian. Walaupun gajinya besar, tapi tidak mungkin cukup untuk bisa menunjang penampilannya yang berlebihan itu.
“Aku juga berharapnya kayak gitu. Tapi, itu gak mungkin terjadi. Mana mau dia bantu Papanya di perusahaan. Langit ini bisanya cuma menghambur-hamburkan uang saja.” Papa Wijaya menimpali, kata-katanya penuh sindiran dan ledekan untuk sang anak.
“Pa. . . .” Langit menatap Papanya penuh protes dan langsung mengundang gelak tawa para orang tua.
“Tapi Langit sepertinya lebih suka mengikuti jejak Rosa. Dia memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi.” Timpal Mama, mengingat pekerjaan Langit sebagai dokter spesialis bedah anak.
Mendengar nama Rosa, Shien menebak bahwa itu Mama dari Langit. Terbersit rasa penasaran kenapa beliau tidak ikut bersama mereka saat ini.
“Karena itu dia lebih memilih jadi dokter, sama kayak Mamanya.” Sahut Papa Wijaya.
“Tapi bukan cuma itu, Langit mirip Rosa dalam segala aspek. Kecuali kelakuan buruknya meghambur-hamburkan uang.” Tambah Papa dengan kerlingan mata meledek. Langit kembali mendengus mendengar itu.
“Haha, sejak dia bayi. Aku udah bisa lihat kalau Langit itu fotokopian Rosa. Gak ada mirip-miripnya sama kamu, Mas.” Seru Mama diiringi dengan ledekan.
“Tante kenal sama Mama?” Tanya Langit penasaran karena sepertinya Tante Risa ini begitu mengenal Mamanya.
“Gak mungkin gak kenal. Mama kamu itu teman baik Tante. Kami berteman sejak SMP.” Jelas Mama mengingat persahabatannya dengann ibu Langit yang terjalin hingga maut memisahkan.
“Tapi sayang sekarang Mama udah gak ada.” Cicit Langit yang tiba-tiba berubah muram. Jika sekarang Mamanya masih ada, mungkin saat ini beliau sedang bercengkrama dengan heboh bersama Tante Risa.
Shien yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk makanan miliknya seketika gerakannya terhenti. Kepalanya refleks mendongak, ia bisa melihat kesedihan di mata Langit. Ahh, ternyata ini alasan kenapa Mamanya tidak ikut.
Shien buru-buru menundukkan kepalanya tatkala Langit menangkap basah dirinya yang sedang memperhatikannya. Lelaki itu tampak tersenyum tipis ke arahnya.
“Ohh, iya. Shanna dan Shien udah punya pacar?” Tanya Om Wijaya mengalihkan topik pembicaraan.
“Aku belum, Om. Nungguin Langit. Dia belum punya pacar, kan, Om?” Celetuk Shanna, membuat Mama yang duduk di sebelahnya terpaksa harus memberikan cubitan di pinggang putri sulungnya itu.
“Ahh, aduh. Mas, maaf, ya. Anak ini emang suka begini. Agak kurang beres.” Ucap Mama. Shanna yang mendengar itu lantas mengerucutkan bibirnya lucu. Sementara Papa Wijaya tergelak pelan.
“Haha. Langit jombo, kok, Sha. Deketin aja kalau kamu mau.” Balas Om Wijaya.
“Wahh, siap kalau gitu, Om. Dukung aku, ya.” Sahut Shanna dengan riang. Kedua orang tuanya yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Pasti.” Om Wijaya mengacungkan jempolnya. “Kalau Shien gimana?”
__ADS_1
Shien terperanjat saat Om Wijaya bertanya padanya. Lantas dengan buru-buru ia menelan habis potongan cumi yang belum selesai ia kunyah ke dalam kerongkongannya.
“Belum, Om.” Shien menyunggingkan senyum tipis.
“Wahh, dua gadis cantik belum punya pacar. Kamu pilih, tuh, Lang, maunnya yang mana.” Kelakar Om Wijaya.
“Papa apaan, sih?” Ucap Langit sambil terus mengawasi Shien yang duduk berhadapan denngannya. Namun, gadis itu sama sekali tidak bereaksi.
“Wahh, Om gimana, sih? Tadi katanya mau dukung aku?” Shanna memasang raut wajah pura-pura kecewa. “Shanna.” Tegur Mama yang sudah merasa kehilangan muka di hadapan Papa Langit. Namun, Shanna sama sekali tak mengindahkannya.
“Om dukung dua-duanya aja, deh.” Balas Om Wijaya seraya terkekeh geli.
“Ahh, sssh. . . .”
Shanna baru saja hendak membuka mulutnya untuk menyahuti Om Wijaya. Namun terurungkan begitu suara pekikan Langit terdengar.
Lelaki itu sepertinya tidak hati-hati dan membuat soup miliknya tumpah hingga mengenai sebagian pakaian yang dikenakannya.
“Ya ampun, itu panas.” Mama sontak beranjak dari duduknya dan menyerahkan kotak tissue pada Langit. “Gak terlalu panas, kok, Tan.” Langit mengibas-ngibaskan bajunya.
“Duhh, maaf, ya, Tan. Jadi bikin keributan kayak gini.” Ujar Langit kemudian, ia merasa tidak enak hati.
“Kamu ngomong apaan, sih? Udah, sekarang mending bersih-bersih, terus ganti baju.” Sahut Mama.
“Iya, itu pasti gak nyaman. Kamu bisa pake baju punya Om dulu, Lang.” Timpal Papa Sendy.
“Kamu bisa pake kamar mandi di kamar Shanna atau Shien, soalnya kamar mandi lainnya belum selesai di renovasi.” Ucap Mama, mengingat semua kamar mandi di rumahnya masih dalam proses renovasi, kecuali di kamarnya dan kamar kedua gadisnya.
“Di kamar Shien aja, Ma.” Seru Shanna tiba-tiba hingga membuat sang adik langsung melotot tak setuju padanya. Shien paling tidak suka orang asing masuk ke kamarnya. Termasuk Fina sekali pun.
“Kok kamar aku?” Shien protes tak setuju.
“Shi, kamar aku terlalu bersih.” Bisik Shanna. Shien mendengus. Ia tahu betul keadaan kamar sang kakak. Alih-alih disebut kamar, itu lebih pantas dijuluki kandang domba. Kamar Shanna tidak pernah rapi barang satu hari pun. Pasti banyak bungkus camilan dan baju kotor berserakkan di sana. Kamar Shanna benar-benar tak secantik orangnya.
“Ohh, iya. Tante lupa, saluran air di kamar mandi Shanna rusak. Kamu bisa ganti baju di kamar Shien.” Dalih Mama. Ia baru disadarkan, kamar Shanna bukanlah ruangan yang tepat untuk dimasuki manusia. Itu sarangnya serangga.
Shien yang mendengar itu lantas terbelalak. Tidak. Shien tidak mau laki-laki mesum itu masuk ke kamarnya.
Sementara Langit, lelaki itu kegirangan dalam hati. Ini adalah kecelakaan kecil yang membawa berkah. Kalau tidak ada kejadian soup tumpah itu, mana mungkin ia memiliki kesempatan untuk melihat kamar Shien.
“Kamu bisa pergi ke kamar Shien dulu, Lang. Nanti Shanna nyusul buat anterin bajunya.” Ujar Mama, lalau beliau meminta asisten rumah tangga untuk mengantar Langit ke kamar Shien.
Langit menghembuskan napas lemah. Padahal, tadi ia mengira Shienlah yang akan pergi bersamanya. Duhh, ia mendadak jadi tidak bersemangat.
“Ini kamarnya, Den.” Langit tersentak kaget mendengar suara Bi Sumi. Mungkin karena dirinya sibuk melamun, ia tidak sadar jika dirinya sudah sampai di depan pintu kamar Shien.
Langit tersenyum geli saat membaca tulisan “Do Not Enter!” yang tergantung manis di pintu kamar Shien, lalu membuka pintu kamar itu dengan hati-hati.
********
Sementara itu di ruang makan, Shien menyantap makan malamnya dengan bosan, berulang kali pula ia menghembuskan napas bosan. Ia juga tak terlalu memperhatikan obrolan Papa dan Om Wijaya.
Sebenarnya, ia ingin sekali mencari alasan untuk bisa pergi dari meja makan ini sekarang juga. Kemana saja, asalkan ia tidak melihat wajah Langit. Andai saja sebelumnya ia mengetahui kalau ia akan malam dengan keluarga Langit, Shien tidak akan pulang.
Awalnya ia pulang lebih cepat dari kantor untuk menghindari kemungkinan bertemu Langit. Ehh, malah berakhir bertemu dengan sangat mudahnya. Menyebalkan. Benar-benar menyebalkan. Ahh, Shien ingin pulang ke rumah Tante Hilda sekarang juga.
“Shi. . . .” Mama yang tadi berpamitan sejenak untuk mengambil baju, kini kembali ke ruang makan dengan langkah tergopoh-gopoh.
Shien menatapnya dengan heran, namun tak menghilangkan raut wajah dinginnya. Kenapa Mama malah membawa bajunya ke sini?
“Kamu anterin bajunya, gih.” Mama menyerahkan baju dari tangannya pada Shien. Gadis itu mengerutkan keningnya dalam. “Lho, Shanna kemana, Ma?” Dan Papa mewakili apa yang ingin Shien tanyakan.
“Tadi Shanna ada telepon, masalah kerjaan. Sekarang dia masih teleponan di gazebo.” Jawab Mama menjelaskan.
“Anak itu. Udah di kasih tahu buat ninggalin pekerjaannnya sebentar, malah gak didengerin.” Papa Sendy menggerutu.
“Maklum, anak muda masih semangat-semangatnya, Sen. Langit juga kayak gitu. Dia sibuk setiap hari di rumah sakit sampai lupa buat pulang ke rumah.” Timpal Om Wijaya, sama-sama mengeluhkan putranya yang lebih mementingkan pekerjaan di atas segalanya.
“Ya udah, pokoknya sekarang Shien anterin bajunya buat Langit.” Seru Mama.
Shien menghembuskan napas kasar seraya memandangi satu set baju di hadapannya. Kenapa harus dia, sih? Kenapa bukan Mama aja, coba? Ingin sekali Shien protes seperti itu. Namun, lidahnya masih terasa kelu untuk berbicara banyak dengan orang tuanya.
“Kamu gak apa-apa, kan, Shi? Maaf ngerepotin.” Shien terperanjat dari lamunannya saat suara Om Wijaya terdengar jelas di ruang makan itu.
“Ahh, gak ngerepotin sama sekali, kok, Om.” Ucap Shien gugup seraya menyunggingkan senyumnya tipis. Lalu, dengan segera ia menyambar pakaian yang disiapkan Mama untuk Langit sebelum kemudian berlalu pergi dari ruang makan itu.
********
__ADS_1
To be continued . . . .