So In Love

So In Love
EP. 25. Notice Me


__ADS_3

********


Shien keluar dari rumah dengan langkah tergesa-gesa. Hari ini dia harus berangkat sepagi mungkin karena Shien paling malas jika harus terjebak macet.


Setelah apa yang sudah terjadi pada mereka, sepertinya Langit tidak mungkin akan menjemputnya lagi.


Ehh, tunggu.


Kenapa Shien peduli dengan hal itu? Ia ingin Langit menyerah dan menjauhinya, tapi masih mencari-carinya. Ahh, memang gila.


Shien melempar kunci mobil miliknya pada laki-laki tampan yang terlihat lebih muda darinya. Reno. Laki-laki muda dengan postur tubuh tinggi dan berkulit putih dengan double eyed yang membuatnya terlihat seperti flower boy. Sopir pribadi yang Papa rekrut untuk Shien.


Shien sampai heran kenapa Papanya mempekerjakan Reno sebagai sopir, dia bahkan terlihat seperti anak kuliahan. Shien tebak jika usianya masih sembilan belas atau dua puluh tahunan.


Sangat sulit untuk menemukan sopir yang dapat dipercaya dan cocok dengan Shien serta mobilnya. Dari sekian banyak pelamar, Reno lah yang paling menarik perhatian Papa. Beliau berpikir, selain menjadi sopir, Reno juga bisa menjadi teman yang menyenangkan untuk Shien. Dan wajah tampannya itu akan membuat putri bungsunya tidak akan merasa seperti sedang pergi dengan sopir.


“Udah mau berangkat, Mbak?” Tanya Reno dengan suara yang nyaris mencicit karena takut. Jelas saja, Shien itu jutek. Settingan wajahnya pun seperti es batu, untuk orang yang baru mengenalnya seperti Reno, dia harus berhati-hati.


Shien menoleh jutek. Apa Reno harus bertanya lagi? Sudah jelas Shien berpakaian rapi dan melempar kunci padanya. Tanpa menjawab, gadis itu berlalu begitu saja meninggalkan Reno untuk menunggunya di depan gerbang rumah.


Langkahnya terhenti begitu Shien melihat BMW i8 Coupe hitam terparkir di depan gerbang rumahnya. Mobil itu sudah tak asing lagi di mata Shien. Dan benar saja. Begitu pemiliknya keluar, Shien langsung terkejut.


Langit berdiri di sana.


Shien tertegun begitu Langit melambaikan tangan dengan seulas senyum simpul tersungging dari kedua sudut bibirnya.


“Langit. . . .” Shien mengalihkan atensinya tatkala mendengar seruan riang Shanna di belakangnya.


Shien tersadar, ternyata Langit datang bukan untuk menjemputnya, tapi untuk menjemput Shanna. Ck, bodoh. Kenapa hatinya berharap demikian? Shien merasa sudah menjadi orang yang paling munafik di muka bumi ini.


“Kamu bareng sama kita aja, Shi.” Tawar Shanna seraya merangkul pundak sang adik dan berjalan beriringan menuju pintu gerbang.


“Aku udah ada sopir.” Balas Shien tersenyum kaku. “Tumben gak bawa mobil sendiri?” Dan Shien tidak tahan untuk bertaya kenapa Langit bisa menjemput Shanna. Katakanlah ia sedang cemburu. Ya, Shien cemburu. Tapi ia hanya bisa menerimanya karena sudah melepaskan laki-laki itu.


“Ohh, lagi males. Kebetulan Langit gak nolak pas aku minta jemput. Sekalian pedekate.” Shanna sedikit berbisik saat ia mengatakan kalimat terakhirnya.


Shien menanggapinya dengan senyuman tipis. Gadis itu merasa sedikit lega mendengar bahwa Shanna yang meminta Langit menjemputnya. Itu artinya, bukan Langit yang berinisiatif.


Shien menggelengkan kepalanya, lalu mendengus. Untuk apa dia peduli dengan itu? Hatinya benar-benar menyebalkan. Apa tidak bisa sekali saja bekerja sesuai dengan keinginannya? Otaknya sudah memerintahkan untuk melupakan Langit, tapi hatinya tak mendengar.


Dan Langit. Apa dia tidak bisa berhenti menatapnya seperti itu? Shien jadi merasa terintimidasi, juga tergugah untuk membalas tatapan itu. Namun, sebisa mungkin ia menahannya.


Suasananya sangat aneh. Tolong, keluarkan Shien dari situasi seperti ini. Shien tidak bisa berlama-lama berada di dekat Langit, atau pertahanan yang baru saja dibangunnya akan hancur.


Dan sejurus kemudian, penyelamat datang. Terlihat Reno yang baru saja keluar membawa mobil Shien dari garasi rumah, membunyikan klakson begitu berhasil menghampiri Shien.


“Ayo, Mbak.” Seru Reno begitu menurunkan kaca mobil. Kacamata hitam yang bertengger di matanya membuat laki-laki itu terlihat lebih keren. Bahkan Shanna terperangah dibuatnya.


“Wahh, dia Kim Tae Hyung atau siapa?” Shanna mengagumi makhluk tampan di hadapannya. Mulutnya menganga, matanya tak berkedip. Ia seperti melihat idola K-Pop KW. Tapi jika yang KW saja sudah setampan ini, bagaimana dengan yang asli?


“Duluan, kak.” Shanna hanya mengangguk, membiarkan adiknya berlalu dari hadapannya tanpa berniat mengalihkan perhatiannya dari Reno.


Duhh, kenapa Papa tidak memberikan sopir yang seperti ini juga untuknya, sih? Shanna tidak keberatan untuk memilikinya satu.


“Kami duluan, Mbak.” Pamit Reno dengan senyum ramahnya sebelum kemudian menaikkan kaca mobil dan mulai menjalankannya.


Dan lagi-lagi Shanna hanya mengangguk, matanya tak lepas mengawasi mobil Shien yang semakin hilang dari pandangannya.


Sementara Langit, laki-laki itu menatap kepergian mereka tak suka. Kedua tangannya terlihat mengepal dengan rahang yang mengetat. Rasanya, ingin sekali Langit menarik Shien dan membawa masuk ke mobilnya.


Baru saja Langit mengabaikan gadis itu dan tak menemuinya selama satu minggu untuk membiarkannya berpikir akan kesalahannya. Shien malah pergi bersama laki-laki lain. Siapa bocah kecil itu? Berani sekali dia berada dalam satu mobil dengan gadisnya.


“Shien bareng siapa, Sha?” Tanya Langit sesaat setelah dirinya dan Shanna masuk mobil. Wajahnya yang ditekuk masam sangat kentara.


“Ohh. Reno, sopirnya. Ganteng, kan? Masih fresh gitu.” Jawab Shanna yang membuat Langit semakin dongkol. Cih, fresh apanya? Bocah ingusan begitu.


“Sopir?” Tanya Langit tak percaya. Mana ada sopir bentukannya seperti itu.


“Sopir gak harus bapak-bapak tua, kali, Lang.” Sahut Shanna seolah bisa menebak keheranan Langit. “Lagian yang dibawa mobil sport, biar nyeni aja gitu kalau sopirnya Reno.” Langit mendelik sebal mendengarnya.


Ahh, Langit merasa posisinya terancam. Takut-takut kalau saja Shien menyukai laki-laki itu atau sebaliknya. Terselip rasa insecure karena usianya kalah telak dari bocah kecil itu, ditambah wajah Reno yang jauh dari kata jelek.


Sialan. Sepertinya hari ini Langit akan uring-uringan seharian karena memikirkan itu.


********


“Umur kamu berapa?”


Reno yang sedang fokus menyetir dikagetkan saat tiba-tiba Shien melemparkan pertanyaan seperti itu. Ahh, bukan karena itu. Reno terkejut karena ini pertama kalinya mendengar Shien berbicara padanya.


“Dua puluh satu, Mbak.”


Ohh, suasananya canggung sekali. Ia tak menyangka anak majikannya ternyata patung es. Bahkan suasana di dalam mobil ini terasa jauh lebih dingin dari udara pagi.


“Masih muda, gak kuliah?” Shien kembali bertanya seraya menoleh ke arah Reno sekilas, lalu kembali melempar pandangannya lurus ke depan, mengamati jalanan yang penuh diisi kendaraan.


“Masih kuliah, bentar lagi nyusun. Gue nyambi jadi sopir buat nyari biaya tambahan.” Jelas Reno jujur.


Sebelumnya, Papa sempat ragu untuk menerima Reno karena statusnya yang masih mahasiswa. Tapi, karena tidak ada pelamar lain yang membuat hatinya sreg, Papa akhirnya menerima Reno untuk sementara, sampai beliau benar-benar menemukan sopir yang cocok nanti.


“Tapi, tenang aja. Kuliah gue gak akan ganggu kerjaan.” Imbuhnya kemudian, takut-takut Shien berpikir jika dirinya tidak bisa profesional dan tidak akan ada saat dibutuhkan karena mengurus urusan kampus.


“Jurusana apa?” Shien tak mengindahkan penuturan Reno.


“Bahasa dan sastra.” Shien tertegun. Sungguh kebetulan, Reno memiliki latar belakang pendidikan yang sama dengannya.


“Kebetulan banget, kan, Mbak? Sebelumnya gue juga gak nyangka kalau bakal jadi sopir lo.” Shien menoleh dengan kening mengernyit. Seperti Reno mengenal dirinya saja.


“Lo itu banyak dijadiin role modelnya anak sastra. Penulis cerita sastra anak-anak terkenal kayak lo, siapa yang gak kenal?” Seru Reno seolah mengetahui apa yang tengah dipikirkan Shien.


“Tapi, walaupun latar belakang pendidikan kita sama, kelas kita beda jauh.” Tambah Reno. Shien masih anteng mengernyitkan keningnya, gagal mencerna maksud dari ucapan Reno.

__ADS_1


“Udah jelas lo lulusan Ivy. Gue cuma kuliah di Universitas swasta yang biasa aja.” Terang Reno, mengingat Shien adalah alumni Universitas Harvard.


Shien berdecak kecil. “Sama-sama sekolah, apa bedanya?”


“Beda, lah. Kita bisa lebih percaya diri kalau lulus dari Univ yang bonafide.” Sambar Reno.


“Yang penting itu kualitas diri. Karena berlian, walaupun ada di selokan tetap akan terlihat berkilau.” Sahut Shien layaknya seorang motivator.


Reno bergeming, ia cukup terkesan dengan perkataan Shien. Selama ini, Reno selalu insecure karena tidak bisa melanjutkan pendidikannya di tempat yang bonafide karena keterbatasan biaya, walaupun otaknya sangat mampu. Reno pernah nyaris masuk PTN, tapi karena pihak tak bertanggung jawab, ada yang membeli kursi miliknya hingga ia terdepak begitu saja.


********


Shien bergegas menuju kantornya begitu Reno menghentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk utama.


Sudah banyak dokumen yang menunggunya untuk ia periksa dari beberapa departemen. Sebenarnya Tante Hilda sudah meminta Shien untuk mundur dari posisinya dan fokus menulis saja karena alasan kesehatan Shien.


Tapi bukan Shien namanya jika tidak keras kepala, gadis itu protes dan meyakinkan Tantenya bahwa ia akan baik-baik saja. Shien terlanjur menyukai pekerjaannya, akan bosan jika ia hanya menulis. Lagipula, ada Fina yang selalu membantunya, jadi tugas Shien sebagai Wakil Direktur tidak terlalu berat.


“Tuh cogan di luar siapa? Selera kamu, Shi. Yang bener aja, masa iya sama bocil.” Cerocos Fina begitu memasuki ruangan Shien dan langsung duduk tepat di hadapannya tanpa permisi.


Shien mendengus. Tak perah sehari saja Shien melihat mulut Fina diam dengan tenang.


Fina yang tak sengaja melihat Shien turun dari mobil bersama anak laki-laki tampan saat dirinya berada di lobby tadi, membuat mulutnya gatal untuk segera bertanya.


“Sopir.” Jawab Shien malas tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen yang sedang ia baca.


“Hey, jangan bohong.” Fina tak percaya. Shien mendelik keki dibuatnya.


“Kalau gak percaya, terserah. Rapat evaluasi jam berapa?” Fina mendengus sebal karena Shien tak mengindahkannya dan malah mengalihkan topik pembicaraan.


“Sembilan.” Jawab Fina ketus yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Shien. “Ya udah, sana siapin dokumennya.” Titah Shien tak kalah ketus.


“Iya, baik, Bu.” Sahut Fina, lantas ia beranjak dari duduknya dengan gerakan menyentak. Tapi baru saja Fina bergerak beberapa langkah, gadis itu kembali menoleh.


“Beneran dia sopir kamu?” Dan sepertinya Fina masih penasaran mengenai Reno. Shien memutar bola matanya malas sebelum kemudian berujar. “Terserah mau mikirnya kayak gimana.” Shien membuat gerakan mengusir dengan tangannya.


Mendengar itu, Fina langsung senyum-senyum tak jelas. “Kalau gitu, kamu boleh kenalin dia sama aku?”


“Kenalan aja sana sendiri.” Sahut Shien yang tak berminat untuk menjadi cupid.


“Dasar cewek buta memberi pertolongan.” Cebik Fina. Shien hanya mengedik tak peduli.


Fina kemudian membalikkan badan dan kembali melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Shien.


“Dasar gila.” Cibir Shien saat samar-samar ia mendengar suara Fina yang berseru senang dari balik pintu. “Berondong, datanglah pada Tante.”


Shien keluar dari ruang rapat pada pukul tiga sore. Rapat kali ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Jelas saja, karena itu adalah rapat evaluasi kinerja karyawan yang biasa dilakukan satu bulan sekali.


Shien merasa tubuhnya sangat lelah karena tadi hanya istirahat sebentar di jam makan siang, dan rapat kembali berlanjut.


Sekarang ia sudah kembali duduk di ruangannya, dan hatinya kembali dihinggapi kekosongan setelah seharian begitu sibuk. Ternyata semua kesibukan itu hanya mengalihkan perhatiannya akan Langit sementara saja.


Menghembuskan napas gusar, Shien mengingat sikap Langit tadi pagi yang terlihat lebih diam. Bahkan laki-laki itu tidak menyapanya sama sekali barang seulas senyum pun.


Arghh, kenapa, sih, Shien terus plin plan begini? Kenapa hatinya tidak menerima Langit menjauhinya, padahal ia sendiri yang meminta laki-laki itu untuk jangan menemuinya lagi? Kenapa Shien malah terus merindukannya sebanyak ia berusaha melupakannya?


“Nongkrong bentaran, yuk, Shi.” Shien tersentak saat Fina kembali masuk ke ruangannya tanpa aba-aba.


“Ada cafe yang cozy gak jauh dari sini. Sekalian ajak tuh bocil.” Sambung Fina.


Sejenak Shien berpikir, mempertimbangkan ajakan Fina yang sebenarnya boleh juga. Mungkin nongkrong bisa mengalihkan perhatian hati dan pikirannya yang terus dipenuhi bayang-bayang Langit.


“Abis nongkrong, kita lihat apartemen kamu.” Imbuh Fina, namun Shien masih bergeming. “Ihh, ngelamunin apaan, sih?” Fina mendengus kesal karena Shien tak kunjung menggubrisnya.


“Ya udah, ayo.” Tanpa banyak berbicara lagi, Shien beranjak dari duduknya. Fina melongo. Tumben sekali si patung es setuju begitu saja? Ia tak menyangka jika Shien akan menerima ajakannya semudah ini.


********


“Cheers.”


Seru sekawanan dokter yang terdiri dari Albi, Bian, Biru, Bisma, dan yang termuda Langit begitu mengacungkan gelas masing-masing yang berisi soda untuk bersulang.


Karena masih ada jadwal operasi, membuat sekawanan dokter ini memilih soda alih-alih bir.


“Akhirnya nih kunyuk mesum dapet jodoh juga.” Komentar Albi seraya mengacak-acak rambut Bian, lalu menenggak sodanya dalam sekali tegukkan.


“Tapi, gue heran. Kok, tuh cewek mau sama elo? Pake jampi-jampi apaan?” Sambar Bisma hingga membuat Bian mendengus sebal. Alih-alih ucapan selamat yang romantis ala bromance karena tiga hari lagi ia akan bertunangan, teman-temannya ini malah mengolok-oloknya habis-habisan. Sialan memang.


“Bukan pake jampi-jampi. Paling tuh cewek kasihan lihat muka Bian, makannya terpaksa nerima ajakan nih kunyuk.” Albi menambahi seraya menunjuk Bian dengan satu stick chicken fingers di tangannya.


“Terserah. Apa aja, deh, komentar kalian semua. Bacot banget emang.” Bian menggerutu kesal.


“Pokoknya, selamat bergabung di dunia baru, dimana suami sebagai pemimpin tapi istri yang memimpin.” Ujar Biru seolah sedang meratapi nasibnya sendiri. Bisma yang merasa senasib pura-pura meringis.


Di sini, hanya Langit yang terlihat lebih diam dari biasanya. Sebenarnya, ia benar-benar tak berminat melakukan apapun hari ini. Ia merasa lelah, Shien terus memenuhi pikirannya. Tapi, hatinya begitu gamang dan kecewa terhadap gadis itu.


Mengabaikan Shien, apakah hal yang benar? Arrghhhh, tamperamen Langit sangat buruk hari ini. Apa, sih, yang harus dilakukannya agar Shien melihat ke arahnya? Apa yang kurang darinya, coba? Shien malah menolaknya lebih dulu tanpa memberikan Langit kesempatan.


Dan sialnya, ia melihat Shien duduk tak jauh dari mejanya bersama bocah kecil yang tadi pagi ia lihat. Langit tersenyum kecut. Ck, bagus sekali. Bahkan ia harus memaksa Shien agar mau berjalan dengannya, tapi dengan mudahnya Shien duduk bersama dengan laki-laki lain.


Walaupun Shien terlihat hanya duduk berhadapan tanpa ada kontak fisik atau mengobrol, tetap saja Langit tak suka melihatnya. Ahh, rasanya Langit ingin menyingkirkan bocah itu sekarang juga.


“Dihh, amit-amit. Gak bakalan gue jadi suami takut istri kayak kalian, yang kalau telat pulang dikit, langsung diteleponin terus ketakutan dan minta ampun.” Cibir Bian yang jelas diarahkan pada Biru dan Bisma.


“Ehh, ini kambing, sialan.” Biru menoyor kepala Bian pelan.


“Ck, bacot. Kemakan omongan sendiri lo nanti.” Cebik Bisma menambahi. Namun, Bian hanya mengedik tak peduli sembari menenggak sodanya.


“Ngomong-ngomong, nih bocah kenapa? Diem mulu dari tadi kayak sapi mau dikurbanin.” Bisma mengalihkan perhatiannya pada Langit yang terus bengong sambil meremas kuat gelas berisi sodanya.


“Lang. . . .” Biru menyenggol lengan Langit, tapi tetap bergeming.

__ADS_1


“Ya elah, nih bocah tengik kesurupan apaan, dah?” Albi menimpali.


“Wooy, Wijaya.” Dan bukan teman namanya jika belum pernah memanggil dengan nama Ayah. “Wijaya, hei.” Bisma melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Langit.


“Ohh? Ehh, kenapa?” Langit gelagapan seperti orang linglung.


“Ngelamunin apaan, sih, lo? Gak rela si Bian udah mau nikah?” Tanya Albi. Sepertinya kegiatan cibir-mencibir masih berlanjut.


“Sialan.” Dengus Langit dengan delikan kekinya setelah ia berhasil menguasai diri. Tapi pandangannya tak lantas melepaskan Shien. Dan Gadis itu sepertinya belum menyadari jika Langit juga ada di sana.


Langit sedikit merasa lega saat ia melihat Fina duduk bergabung bersama mereka. Yang artinya, Shien tidak datang berdua dengan si bocah kecil sialan itu.


“Ini anak, malah ngelamun lagi.” Bian menoyor kepala Langit hingga tubuh laki-laki itu nyaris terhuyung ke samping.


“Beraninya lo nyentuh kepala gue pake tuh tangan laknat.” Sungut Langit kesal sambil mengusap-usap kepalanya.


“Laknat-laknat, ini tangan udah nyelamatin banyak pasien tiap hari.” Sahut Bian tak terima.


“Ya laknat, lah, orang tuh tangan tiap hari dipake main solo.” Seru Albi yang disusul derai tawa setelah kalimat itu berakhir. Rasanya, Bian ingin sekali menyumpali mulut semua temannya ini dengan piring. Tidak ada akhlak memang teman-temannya ini.


“Kambing jantan, onta Arab, kampret emang kalian semua.” Bian mengumpat kesal. Lalu menjejalkan kentang goreng ke mulutnya sendiri dan mengunyahnya dengan buas.


“Ehh, ngomong-ngomong lo gak lupa, kan, Lang?” Tanya Bisma tiba-tiba.


Langit yang bingung hanya mengernyitkan keningnya sembari mencocol chicken fingers ke dalam saus, lalu melahapnya malas.


“Dulu lo pernah bilang mau nyanyi dangdut di live music kalau si kunyuk ini nikah duluan.” Lanjut Bisma mengingatkan. Langit seketika menghentikan kunyahannya. Sialan. Kenapa dulu ia bisa asal ucap, sih?


“Mampus, lo.” Cibir Albi puas. “Dan lo bilang rela pake rok kalau gue lebih dulu nikah dari lo.” Sambung Bian menunjuk Albi yang sontak mengundang gelak tawa teman-temannya.


“Double kill.” Kali ini giliran Langit memberi cibiran dengan senyuman puas dan penuh meledek. “Minjem tuh rok si Jingga.” Lanjut Langit puas.


“Dihh, enak aja.” Sambar Biru tak terima. Sementara Langit hanya mengedik tak peduli.


“Mana ada gue pernah ngomong kayak gitu.” Sergah Albi mengelak.


“Hilih, mau ngelak. Lupa ingatan beneran bau tahu rasa, lo.” Bian melempar kentang goreng dan tepat mengenai wajah Albi.


“Dihh, nikahnya aja belum. Kalau udah nikah, baru gue pake rok. Baru juga mau tunangan, bisa aja nikahnya batal. Kayak nih anak dulu.” Celetuk Albi nyeleneh sambil menunjuk ke arah Biru.


“Mulut lo, Al. Kumur-kumur sana pake air zam-zam biar ada akhlaknya dikit.” Sahut Bian bersungut-sungut.


“Pokoknya gue gak mau tahu. Besok lo pake rok, foto, terus share di grup chat pria mabar idaman.” Titah Bian selanjutnya.


“Haha, mampus lo. Pake make up sekalian biar cantik.” Langit ikut menimpali. Albi mendelik kesal ke arahnya.


Dan suasana sore di dalam cafe yang tak terlalu ramai itu mendadak heboh dengan celotehan sekawanan dokter itu, tidak lupa gelak tawa mereka juga berhasil menjadikan pusat perhatian beberapa pengunjung cafe yang ada di sana.


“Lo nyanyi sekarang sana. Goyang itik sekalian.” Seru Bian, membuat tawa Langit perlahan menyurut. Ohh, sekarang Bian seperti sedang di atas angin. Keadaan berbalik dalam sekejap. Tadi ia yang habis diolok-olok, sekarang sebaliknya. Rasanya senang sekali.


“Mana ada? Ogah gue.” Sahut Langit penuh penolakan. Namun, dasar teman-temannya yang sialan. Bisma dengan jahilnya langsung berbicara pada MC yang bertugas bahwa dirinya akan menyumbang lagu.


“Bisma sialan.” Langit menggeram kesal saat MC memanggil bahkan menarik dirinya ke atas stage. Sementara teman-temannya tertawa puas.


Dan di sinilah Langit sekarang. Duduk di atas kursi bar, di atas stage dengan perhatian semua orang terpusat padanya. Kecuali Shien, gadis itu sejak tadi anteng dengan tabletnya. Langit bisa melihat itu dari sana.


Yang paling menyebalkan adalah teman-temannya yang begitu heboh menyemangati dan bertepuk tangan, Padahal, sebenarnya Langit tahu betul mereka sedang meledeknya puas. Benar-benar sialan. Terkutuklah mereka semua.


Menghembuskan napasnya kasar, sudah terlanjur berada di atas panggung. Langit tak mungkin mempermalukan dirinya dengan turun begitu saja.


Sudahlah, ia terpaksa menuruti apa kata Bian. Tapi, jelas bukan lagu dangdut yang akan ia bawakan.


Langit lantas memberi kode pada pemain piano untuk mulai mengiringi lagu yang akan ia bawakan.


Semua orang terpaku begitu tuts piano dimainkan dan Langit mulai melantunkan lagu Notice Me milik David Archuleta.


Seketika lantunan lagu yang dibawakan Langit menjadi penguasa percakapan semua pengunjung cafe. Teman-temannya bahkan terperangah tak percaya karena suara Langit tidak bisa dikatakan jelek.


. . . . . . . .


*I’d give anything to catch your eye


So you could see me in a different light


Tell me what’s it gonna take


Cause i wish you would notice me


Langit menatap Shien lurus-lurus sepanjang menyanyikan lagu itu. Shien ikut menatap ke arahnya. Tatapan mereka terkunci seperti medan magnet yang saling tarik menarik.


Suara Langit mengalun begitu merdu. Dan lagu ini adalah lagu untuk Shien yang mewakili perasaannya.


Langit ingin Shien memperhatikannya, Langit ingin Shien memberinya kesempatan, Langit ingin Shien menjadi miliknya. Langit sangat berharap gadis itu melihat ketulusannya.


*If you’d only give me just one chance


I could be the one, here i am


What’s it gonna take to understand


I wish you would notice me


Notice, notice, notice me


Notice, notice, notice me


Langit menyudahi lagunya. Semua orang bertepuk tangan begitu ia selesai membawakan lagunya. Langit lalu sedikit menunduk memberi penghormatan atas apresiasi penonton, kemudian turun dari stage dan berderap mengikuti Shien yang beberapa detik lalu beranjak meninggalkan tempat duduknya.


********


To be continued. . . .

__ADS_1


__ADS_2