
********
“Kok gak dibuka?” Tanya Shien sambil berjalan menghampiri Langit yang masih berdiri mematung menatap layar intercom, alih-alih langsung membuka pintu. Padahal bel terus berbunyi. Shien yang melihatnya dibuat penasaran dan memilih untuk meneghampiri Langit, sekalian melihat siapa yang datang sampai-sampai mmembuat Langit terus bergeming seperti itu. Sepertinya bukan petugas laundry yang Langit kira tadi.
“Lang. . . .”
“Ehh. . . .” Langit tersentak saat merasakan Shien menyentuh lengannya.
“Kenapa gak dibuka?” Tanya Shien sekali lagi. Pandangannya lantas beralih pada layar LCD yang menampilkan wanita paruh baya dengan menenteng dua goodie bag berukuran besar di kedua tangannya. Wanita itu terlihat anggun dan bersahaja, Shien bisa menilai itu.
Alis Shien terangkat sebelah dengan pikiran penuh tanya. Siapa wanita paruh baya itu hingga membuat Langit terlihat ragu untuk membuka pintunya? Sebersit pikiran konyol kemudian muncul di kepalanya. Lantas ia melirik Langit dan menatapnya ragu. Mungkinkah Langit jadi simpanan tante-tante?
Tapi buru-buru Shien menepis pikiran anehnya itu dengan menggelengkan kepala. Langit banyak uang, untuk apa jadi simpanan? Tapi wanita paruh baya itu siapa? Spengetahuan Shien, Mama Langit sudah meninggal dan dia juga tidak memiliki ibu tiri.
“Kamu mikirin apaan?” Langit mengusap penuh wajah Shien, membuat gadis itu mengerjap dan tersadar.
“Gak ada mikirin apa-apa.” Sahut Shien, lalu mengedikkan dagunya pada layar.
“Siapa?” Tanyanya kemudian.
Langit nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu dengan ragu ia menjawab. “Itu. . . , Bunda.”
“Hah?” Shien dibuat bingung. Raut wajahnya seperti membutuhkan penjelasan. Tapi baru saja Langit hendak menjawabnya, ponsel milik Langit di saku celananya berdering hingga perhatiannya teralihkan pada benda pipih yang kini menampilkan nama Bunda di layarnya.
Lantas Langit menjawab sambungan teleponnya sambil bergerak-gerak gelisah. Shien yang melihat tingkah aneh Langit hanya bisa mengernyitkan keningnya.
“Iya, Bunda?”
Dan ternyata yang menelepon adalah Bunda Mona, Bunda Jingga yang sudah seperti ibunya sendiri.
“Ada.”
“Iya sebentar, Bun. Aku baru bangun tidur. Aku buka pintunya sekarang.”
Kening Shien semakin terlipat dalam begitu mendengar penuturan bohong Langit. Ekspresi laki-laki itu campur aduk, antara bingung dan panik menjadi satu.
“Shi, kamu keberatan gak kalau nunggu dulu di kamar aku?” Tanya Langit, guratan rasa bersalah terlihat jelas di wajahnya.
Bukannya Langit tidak ingin mengenalkan Shien pada Bunda, hanya saja waktunya tidak tepat. Apa yang akan dipikirkan Bunda nanti jika beliau mendapati ia dan Shien berdua di sini?
“Nanti aku jelasin.” Lanjut Langit sambil tersenyum kaku, sorot matanya nampak penuh permohonan.
Shien menyetujuinya dengan anggukkan kepala. Kemudian, buru-buru Langit bergerak cepat mengambil tas Shien yang tergeletak di bawah sofa, lalu membimbing gadis itu menuju kamarnya.
“Sebentar.” Langit mengusap puncak kepala Shien sebelum gadis itu benar-benar masuk ke kamarnya.
Setelah melihat Shien menghilang di balik kamarnya, lantas Langit bergegas untuk membuka pintu.
“Putraku. . . .” Wanita paruh baya berpenampilan kasual dengan kecantikan alami yang masih terpancar di wajahnya itu langsung berhambur memeluk Langit begitu pintu terbuka.
“Apa kabar, Nak? Lho, kok kamu kurusan? Selama di Madrid kamu puasa?” Dan pertanyaan bertubi-tubi langsung terlontar setelah Bunda melepas pelukannya. Wanita paruh baya itu lantas mengamati tubuh Langit seperti sedang memeriksa sebuah paket apa barangnnya lecet atau tidak.
“Aku baik-baik aja, Bunda. Dan aku gak kurusan. Ini namanya bentuk tubuh ideal.” Sahut Langit yang tak terima tubuhnya disebut kurus. Susah payah ia mendapatkan waktu untuk berolahraga demi mendapatkan bentuk tubuh idealnya.
“Ideal-ideal, tinggal tulang begitu, kok.” Gerutu Bunda seraya nyelonong masuk. Langit membuntuti langkah wanita itu yang berjalan ke arah dapur.
“Bunda kok tahu kalau aku udah datang?” Tanya Langit heran.
“Kan tadi pagi kamu kasih tahu Bunda, terus minta dimasakin. Kamu juga bilang mau ke rumah, tapi Bunda tunggu gak ada. Jadi bunda ke sini, deh. Sekalian isi lemari es kamu, pasti kosong karena kelamaan ditinggal.” Ujar Bunda panjang lebar tanpa menoleh ke arah Langit.
Langit merasa bersyukur dan beruntung sekaligus, selama memiliki Bunda di sisinya, ia tidak perlu khawatir akan kekurangan makanan atau kelaparan. Wanita paruh baya itu mengawasinya seperti anaknya sendiri, termasuk menjamin perut Langit selalu terisi dengan makanan penuh nutrisi.
Tidak hanya itu, Bunda juga selalu menghubunginya baik via chat atau telepon di setiap jam makan untuk memastikan Langit tidak menyela jatah makannya. Langit benar-benar bersyukur akan hal itu. Ia jadi tidak kehilangan figur seorang ibu dalam hidupnya.
Satu hal lagi yang membuat Langit benar-benar menganggap Bunda seperti ibunya sendiri adalah karena beliau tidak segan-segan memarahinya jika Langit berbuat kesalahan. Orang lain akan memakluminya karena ia anak piatu yang tidak memiliki ibu, dan itu membuatnya merasa seperti dikasihani. Tapi tidak dengan Bunda. Bunda tidak pernah memandang Langit seperti itu.
“Ohh, iya. Aku lupa, Bun. Maaf.” Langit nyengir lebar sambil menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Saking rindunya pada Shien, ia sampai melupakan hal itu.
__ADS_1
“Ya gak apa-apa, sih. Bunda ngerti, pasti kamu capek, terus ketiduran. Iya, kan?” Tebak Bunda memaklumi, yang sebenarnya adalah salah. Langit tidak ketiduran sama sekali. Namun laki-laki itu mengiyakannya saja.
“Banyak banget.” Protes Langit saat melihat Bunda mengeluarkan kotak makan bermerk Tupperwarenya dengan jumlah yang tidak sedikit. Tepatnya, itu terlalu banyak untuk Langit yang tinggal sendirian.
“Ini semua makanan kesukaan kamu. Kamu hampir sebelas hari di luar negeri, pasti udah kangen sama makanan rumahan.”
“Ya tapi ini kebanyakan, Bun.” Sahut Langit seraya mendudukkan dirinya di kursi, lalu membuka salah satu kotak makan berisi dendeng balado.
“Pake garpu, jangan jorok.” Bunda memukul tangan Langit yang hendak mencomot makanan menggunakan tangannya secara langsung. Wanita paruh baya itu lantas mengambilkan garpu dan menyerahkannya pada Langit.
Langit terkekeh, lalu mulai mencomot dendeng tersebut dan memakannya. Enak, seperti biasanya. Walaupun sudah biasa, tapi Langit selalu terharu setiap kali Bunda membuatkan dan menyiapkan makanan untuknya.
“Habisin semua ini dalam dua hari. Bunda simpan di lemari es, kamu tinggal panasin aja di microwave kalau mau makan.” Ujar Bunda, lalu berjalan ke arah lemari es dan mulai memasukkan semua makanan yang dibawanya ke dalam sana satu per satu.
“Kamu denger gak, Lang?” Tanya Bunda tanpa menoleh dengan kedua tangan sibuk menata isi lemari es milik Langit.
“Iya, Bunda. . . .” Jawab Langit malas, mulutnya yang penuh terlihat mengembung lucu, pipinya naik turun seiring dengan kerjaan gigi mencacah makanan.
“Terus, kalau di luar jangan kebanyakan makan fast food. Gak sehat.” Selayaknya orang tua yang khawatir, Bunda menasihati anaknya untuk tidak jajan sembarangan ketika sedang di luar.
“Jarang, kok.” Sahut Langit sebelum kemudian meneguk air putih yang tadi disiapkan Bunda.
“Jarang, tapi hampir tiap hari.” Cebik Bunda, wanita berpenampialn anggun itu kini sibuk mencuci tangannya di wastafel, lalu berjalan ke meja makan dan duduk di hadapan Langit.
“Kan enak, Bun.” Jawab Langit sekenanya. Bunda mendengus sambil geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan anak muda jaman sekarang yang lebih berpikir asalkan enak di lidah ketimbang memikirkan dampak terhadap kesehatan mereka.
“Kamu makannya pake nasi, dong, Lang.” Tegur Bunda yang melihat Langit asyik memakan lauknya saja.
“Aku belum sempat masak nasi, Bun.” Sahut Langit, tetap mengembangkan senyum walau mulutnya penuh makanan.
Bunda mendesah, lalu menyodorkan tissue saat dilihatnya bibir Langit yang belepotan. “Tahu gitu tadi Bunda bawa. Jangan-jangan kamu belum makan dari tadi pagi?” Omelnya kemudian.
“Aku makan oats tadi pagi, terus ini juga lagi makan.” Langit menunjuk olahan daging yang tengah dimakannya itu menggunakan garpu.
“Maksud Bunda tuh makan nasi. Kita itu orang Indonesia. Kalau belum makan nasi, walaupun udah makan apapun, tetap aja namanya belum makan.” Tutur Bunda mengingatkan akan kebiasaaan orang Indonesia kebanyakan.
“Kamu ini kalau dibilangin ngejawab terus kayak Jingga.” Gerutu wanita paruh baya itu.
“Ahh, Bunda lupa. Selain gender, kalian emang sama dalam segala hal. Apalagi membantah, kalian ahlinya.” Tandas Bunda kemudian.
“Udah ahh, Bunda mau pulang.” Bunda lalu beranjak dari duduknya.
“Lusa, Bunda ke sini lagi antar makanan.” Imbuh Bunda kemudian. Langit hanya menghembuskan napas pasrah. Makanan yang ini saja belum ia makan semua. Sudah berpikir untuk mengirimnya makanan lagi.
Langit lantas kembali mengekori wanita paruh baya itu untuk mengantarnya sampai ke lobby.
“Kamu gak usah antar Bunda sampai bawah. Kayak Bunda ini udah tua aja.” Ujar Bunda seolah bisa membaca niat Langit begitu mereka mencapai pintu.
“Tapi gak apa-apa, nih?” Tanya Langit tidak enak hati. Bunda hanya mengangguk, menenangkannya.
Saat tangannya nyaris meraih handle pintu, Bunda kembali memutar tubuhnya begitu ia teringat akan sesuatu yang cukup mengganggu pikirannya.
“Kenapa, Bun?” Tanya Langit heran. Tapi Bunda tak mengindahkannya.
Pandangan wanita paruh baya itu lalu mengarah pada tempat sepatu untuk memastikan. Benar, ada sepasang strap heels di sana.
“Ini sandal cewek, kan?” Matanya memicing ke arah Langit penuh curiga.
“Kamu nyembunyiin cewek di sini?”
“Itu. . . .” Langit menelan salivanya susah payah. Bingung untuk mencari alasan karena ini terlalu tiba-tiba.
“Ya ampun Langit. Kamu kalau udah punya cewek tuh ya dikenalin, bukan disembunyiin.” Omel Bunda, beliau membuka sandalnya lagi, membuat Langit melebarkan indra penglihatannya waspada. Seandainya benar-benar ketahuan, maka matilah dia.
“Atau yang kamu sembunyiin cewek gak bener? Kamu jajan kayak gituan, ya? Pantesan tadi lama banget bukain pintunya, mana penampilan kamu awut-awutan.” Bunda kembali menyoroti penampilan Langit. Rambut berantakan layaknya orang kesetrum, dua kancing bagian atas dari kemeja bergaris yang dikenakannya terbuka, dan satu lagi yang paling menarik perhatian Bunda, tanda kemerahan di leher Langit.
“Dimana dia? Pasti masih di kamar kamu, kan? Papa kamu kalau tahu kamu kayak gini bisa marah.”
__ADS_1
“Eh?”
Langit seketika kelabakan, ia memandang gugup tubuh Bunda yang mulai melangkah menuju kamarnya. Ahh, tidak. Itu tidak boleh terjadi. Bunda tidak boleh ke kamarnya. Memang benar ia menyembunyikan seorang gadis, tapi bukan gadis liar seperti yang Bunda pikirkan.
“Itu punya kak Senja. . . .” Langit mencegat lengan Bunda. Tapi wanita paruh baya itu masih menatapnya tak percaya. “Sandal itu dari dulu juga ada di sana. Bunda jangan nethink gitu, doong. Gak mungkin lah aku kayak gitu.”
“Terus ini apa?” Bunda menunjuk tanda kemerahan yang ada pada leher Langit.
Laki-laki itu mengerjap, lalu mengeluarkan ponselnya untuk berkaca. “Ehh, kok merah-merah gini?” Langit memasang tampang bodohnya.
“Kayaknya digigit serangga, Bun. Pasti gara-gara tempat tidurnya gak aku bersihin dulu tadi.” Lalu pura-pura meringis seraya mengusap-usap bagian yang memerah itu.
“Kamu gak lagi bohong sama Bunda, kan?” Dan sepertinya wanita paruh baya itu tidak bisa percaya begitu saja.
“Ya enggak lah, Bun. Kalau gak percaya, Bunda boleh bawa sandalnya dan tanya kak Senja.” Langit melemparkan pandangannya ke sembarang arah untuk menghindari kontak mata dengan Bunda.
“Ya udah kalau gitu bersihin kamar kamu, jangan tidur lagi abis ini. Bisa-bisa semua bagian tubuh kamu merah-merah.” Langit mendesah lega karena sebenarnya tidak mudah untuk membohongi orang tua.
“Kalau gitu, Bunda pulang dulu.” Langit mengangguk, kemudian kembali mengekori wanita itu untuk mengantarnya sampai ke depan pintu.
********
Shien duduk di tepian tempat tidur seraya menggoyang-goyangkan kakinya pelan. Matanya menggerayangi seluruh ruangan kamar. Tidak ada yang bisa Shien lakukan selain itu selama menunggu Langit.
Hingga pandangannya berhenti tepat pada sebuah frame foto yang tergeletak di atas meja nakas.
Foto wisuda Langit bersama Jingga saat di Amerika.
Tangan Shien terulur untuk mengambil frame foto tersebut. Shien merasakan sesuatu menusuk hatinya begitu ia melihat foto itu. Selembar gambar yang menampilkan Langit sedang mencium pipi seorang gadis cantik, terlihat sangat dekat. Sebenarnya apa hubungan Langit dengan gadis itu? Sepertinya masih sangat berarti di hatinya karena foto itu masih terpajang di kamar Langit, dan hanya satu-satunya, tidak ada foto lain.
Shien menunduk sedih. Berarti, Shien tidak sespesial yang dikiranya.
Mungkinkah dirinya hanya pelarian karena Langit baru saja patah hati? Langit sedang berusaha untuk move on, dalam artian dia masih menyisakan perasaannya pada gadis di dalam foto itu? Pantas saja Langit sangat terburu-buru meminta Shien untuk bersamanya. Ternyata, Langit ingin menjadikannya pengganti, dia hanya ingin menjadikan Shien tempat pelariannya.
Dan bodohnya, Shien dengan mudahnya jatuh cinta pada Langit.
Pertanyaan dan dugaan seperti itu lantas bermunculan di dalam benak Shien.
Pintu terbuka dari luar dan kemudian tertutup kembali. Shien yang terkejut membuatnya tidak sengaja menjatuhkan frame foto tersebut hingga kacanya retak, sebagian pecahannya berceceran.
Langit terkejut dengan suara benda terjatuh itu, langsung saja ia melompat menghampiri Shien yang kini sedang memungut pecahan kaca.
“Ya ampun, Shi. Kamu ngapain, sih, sampai bisa jatuh kayak gini?” Langit membantu Shien yang semakin menundukkan wajahnya sedih.
Langit yang sebenarnya sedang mengkhawatirkan Shien, tapi gadis itu malah salah menanggapi ucapannya. Shien mengira jika Langit marah karena ia sudah merusak barang berharganya.
“Maaf, aku gak sengaja.” Cicit Shien, ia merasa tenggorokannya seolah tercekat. Gadis di dalam foto itu sangat cantik. Sangat jauh, bila dibandingkan dengan Shien. Pantas saja jika foto itu masih terpajang di kamar Langit. Bahkan siapapun tidak akan mudah melupakan gadis secantik itu, walaupun statusnya sudah menjadi mantan pacar. Begitulah pikir Shien yang menjadi rendah diri.
“Biar aku ganti framenya nanti.” Imbuhnya kemudian, terdengar dingin, hingga membuat Langit keheranan mendengarnya. Pasalnya, beberapa saat yang lalu Shien masih bersikap dan berbicara manis. Tapi ya sudahlah, pada dasarnya Shien memang dingin, Langit tidak ingin terlalu memikirkannya.
“Gak apa-apa, Shi. Aku gak suka nyimpan barang rusak, ini biar aku buang nanti. Lagian gak terlalu penting ju. . . .” Langit menggantungkan kalimatnya begitu ia membalik frame foto yang sudah rusak itu. Dan detik itu juga, Langit tersadar akan sesuatu. Jelas ini akan membuat Shien salah paham.
Pandangannya lantas mengarah pada Shien yang masih bergeming dengan wajah menunduk.
“Shien, ini. . . .”
Shien mendongak, menatap Langit dengan sorot tak terbaca. Tapi kentara sekali jika gadis itu butuh penjelasan.
“Ini gak seperti yang kamu pikirin.” Langit mencoba menjelaskan, namun Shien dengan cepat menyambar ucapannya.
“Aku gak mikir apa-apa.” Shien menyunggingkan senyum kecut.
“Aku mau pulang.” Gadis itu lantas beranjak untuk berdiri.
********
To be continued. . . . .
__ADS_1