
********
Shien mengurungkan niatnya membelikan sepatu untuk Langit. Bukan karena model sepatunya tidak bagus atau Shien tidak memiliki uang. Tapi, itu karena Shien belum mengetahui ukuran sepatu Langit saat ini. Shien akan memeriksanya dulu, barulah ia membelikannya.
Alhasil, ia memilih untuk kembali dan menghampiri Shanna apakah kakaknya itu sudah selesai memilih sepatu yang diinginkannya atau belum.
“Kak, udah selesai belum?” Shien langsung tertegun begitu ia menghampiri Shanna. Pandangannya memusat pada sosok gadis yang berpenampilan modis bak seorang model, sedang saling melemparkan tatapan sengit dengan sang kakak.
Yang jelas, Shien tidak suka gadis itu.
Mendengar suara Shien, gadis itu lantas mendongak. Sorot matanya nampak terkejut, nyaris tak percaya dengan siapa yang dilihatnya. Namun sejurus kemudian, senyum menyeringai tersungging di kedua sudut bibirnya.
“Long time no see, Shienna.” Gadis itu menatap Shien dalam-dalam.
“Kayaknya baru kemarin lo pergi setelah bunuh Shawn. Ehh, sekarang udah pulang lagi aja. Masih sanggup hidup ternyata.” Tuding gadis itu kemudian.
Shien merasa jantungnya dihantam sebuah batu yang sangat besar. Ia memandang gadis itu dengan tatapan marah, tangannya mengepal erat di kedua sisi pahanya. Shien tidak pernah mengusik gadis itu, tapi kenapa menyerangnya seperti ini?
“Ehh, udah bisa ngomong juga, ya? Gue kira, lo gak bakalan bisa ngomong selamanya.” Gadis itu tersenyum mengejek.
“Cukup, Terry. . . .” Teriak Shanna yang kegeramannya sudah mencapai titik puncak. Beruntung toko sepatu tersebut sedang sepi dan tidak ada pelanggan lain, sehingga teriakannya tidak terlalu menarik perhatian.
Terry.
Sepupu tiri Shanna dan Shien dari pihak Mama yang sejak kecil sering merundung mereka jika bertemu. Gadis itu begitu sombong dan kurang sopan. Shien tidak menyangka, ternyata sifat buruk itu melekat erat hingga Terry dewasa. Terlebih, Shien mendengar cerita Shanna jika Terry selalu mengganggu dan mengatai Shanna bodoh selama meraka berada di satu sekolah yang sama, tepatnya hingga Shanna SMP. Hingga akhirnya, Shanna memilih masuk SMA yang berbeda dengan Terry agar gadis itu tidak mengganggunya lagi. Bahkan Shanna terpaksa harus merelakan untuk tidak sekolah di SMA impiannya hanya untuk menghindari Terry.
Bukannya Shanna tidak bisa melawan, hanya saja ia sudah terlalu malas jika harus meladeni Terry terus-menerus.
Entah apa yang membuat gadis itu senang menindas mereka. Baik Shanna atau Shien, mereka sama-sama tidak mengerti.
Terry mengamati Shanna dan Shien bergantian, lalu berujar dengan tatapan menantang. “Kenapa? Itu kenyataannya. Kenapa lo belain dia segala?”
Shanna menggenggam sebelah sepatu dengan erat. Ingin rasanya ia menancapkan heels 12 cm dari stiletto yang dipegangnya itu ke kepala Terry. Ahh, bukan. Menjejalkan sepatu ke mulut gadis itu sepertinya lebih baik untuk membuatnya berhenti bicara.
“Ups, gue lupa kalau kalian itu si kembar yang selalu saling melindungi.” Lanjutnya dengan senyuman mengejek yang sejak tadi tak menyurut. “Kalian emang pasangan kembar yang cocok.”
“Yang satu. . . .” Terry berjalan perlahan mendekati Shien. “Sangat pintar. Tapi sayang sekali penyakitan. Seumur hidupnya cuma bisa nyusahin orang, bahkan sampai membuat kakaknya sendiri kehilangan nyawanya.”
Shien memejamkan mata seraya menghela napas dalam-dalam, guna mencari kesabaran di sana. Ia benar-benar tidak ingin meladeni Terry, Shien hanya ingin segera pergi dari sana dan pulang.
“Diam, Terry. . . .” Ucap Shanna geram. Tidak apa-apa jika Terry menindasnya, tapi Shanna tidak akan membiarkan gadis itu menindas adik kesayangannya.
Namun, gadis itu sepertinya memang sangat ingin menindas dan membuat kesal keduanya. Tak mengindahkan peringatan Shanna, Terry lantas berbisik di telinga Shien. “Om sama Tante pasti udah capek ngurusin dan malu punya anak penyakitan kayak elo. Makannya selama ini lo diasingkan ke Amerika.”
Lalu senyum licik tersungging dari kedua sudut bibirnya yang dipoles lipstick merah terang itu.
Ucapan Terry seketika membuat semua kenangan buruk yang sedang berusaha Shien lepaskan itu kembali mencuat ke permukaan. Tapi, Shien tidak ingin terpengaruh. Gadis itu segera menetralkan emosinya dan tetap bersikap tenang.
“Terry. . . .” Shanna samakin geram, kilatan matanya penuh kemarahan. Namun, Terry seolah tuli, seperti tak ingin menghentikannya. Gadis itu kini malah menoleh dan tersenyum penuh cibiran ke arahnya.
“Dan yang satu lagi. . . .” Terry memperhatikan penampilan Shanna dari atas ke bawah dengan pandangan aneh. Terlebih saat melihat rambut warna-warninya. “Sangat bodoh, sampai kuliah PTN pun gak bisa, apalagi di luar negeri. Ck, banyak uang juga gak ada gunanya kalau bodoh.”
Dada Shanna rasanya seperti dihantam sesuatu. Rasa gondok sudah tak tahu mencapai titik mana, yang jelas, Shanna sudah kesal setengah jiwa. Tapi bibirnya masih bungkam. Ingin tahu, sampai dimana gadis itu bisa menindasnya.
“Ahh, iya gue lupa. Harusnya lo juga ada di Melbourne dan merasakan serunya kuliah jurusan Ilmu Komunikasi yang lo mau, kan? Gue pasti seneng banget waktu itu kalau bisa kuliah bareng sepupu gue di sana.” Senyum Terry semakin berkilat-kilat.
Ekspresi Shanna tegang sesaat. Masa-masa itu bukan masa yang Shanna sukai. Bagaimana tidak, jika kemampuannya menjadi penghalang utama dalam meraih impian. Shanna memang pandai meguasai berbagai bahasa dan juga olahraga. Tapi, kemampuan Shanna sangat rendah di bidang akademik lain, sehingga impiannya untuk belajar Ilmu Komunikasi di Melbourne hanyalah impian semata.
Karena sebanyak apapun Shanna berusaha, ia tetap tidak bisa memenuhi syarat untuk bisa belajar di sana.
Shanna sempat terpuruk satu tahun dan gara-gara itu. Hingga suatu saat, Papa dan Mama berhasil membuatnya bangkit kembali. Kemampuan komunikasi dan berbahasa Shanna sangat baik, orang tuanya menyarankan agar Shien kembali kuliah dan mengambil jurusan Hubungan Internasional di salah satu Perguruan Tinggi Swasta dalam negeri yang ada di bilangan Jakarta. Walaupun dengan susah payah, akhirnya Shanna bisa berkuliah di sana dan berakhir menjadi pemilik tempat les dan guru sekaligus setelah lulus.
Tapi walaupun begitu, tempat les milik Shanna masuk ke dalam 10 jajaran tempat les yang bonafide dan sangat direkomendasikan di Bandung, sehingga banyak orang tua yang mempercayakan anak-anaknya untuk belajar di sana.
Shanna menahan kegondokannya. Tidak ingin terpancing dan mempermalukan diri sendiri di tempat umum seperti ini. Pelan-pelan, Shanna mengubah kekesalannya menjadi tawa.
__ADS_1
“Harusnya, sih, gitu.” Shanna sedikit meringis.
“Tapi, gue gak nyesel sama sekali gak kuliah di sana.” Shanna lantas menyunggingkan senyumnya. “Nyatanya, yang kuliah di Melbourne gak menjamin kualitas dirinya lebih baik ketimbang di sini.”
Senyum penuh kesombongan yang tersungging dari kedua sudut bibir Terry perlahan menyurut. Ucapan Shanna cukup membuat gadis itu jengah.
“Oyy, jebolan Ivy.” Shanna lantas melemparkan pandangannya pada Shien, lalu meletakkan kembali sepatu di tangannya ke tempat semula dengan perlahan.
“Kakakmu ini benar, kan?” Sambung Shanna setelah meletakkan kembali sepatu itu.
Shien meghembuskan napasnya kasar, sebenarnya malas sekali meladeni Terry. Tapi sang kakak malah menyeretnya. Padahal, Shien ingin membiarkan gadis itu terus berbicara sampai mulutnya berbusa.
“I think so.” Sahut Shien dengan sikap dinginnya. “Mungkin dia lulusan yang gagal. Atau mungkin juga gak lulus sama sekali.”
Terry menggeram. Tangannya terlihat mengepal. Bisa-bisanya anak pendiam dan kurang pergaulan seperti Shien menindasnya seperti ini.
“Karena kalau gak gitu, gak mungkin dia jadi cewek bitchy, menyebalkan, dan kemampuan berkomunikasinya lebih dari buruk. Kalau bukan lulusan gagal atau gak lulus, ada satu kemungkinan lagi. Terry gak pernah sekolah di sana sama sekali.” Shien memandang Terry dengan tatapan mencemooh luar biasa.
Sementara Shanna tersenyum puas. Sengaja ia melemparkan pertanyaan pada adiknya. Mulut pedas Shien benar-benar membuat Terry kelabakan. Ck, siapa suruh Terry mengusik mereka?
“Pantesan aja, lo cuma jadi presenter acara variety show yang isinya nyinyir semua. Ck, percuma sekolah jauh-jauh kalau ujung-ujungnya profesi lo kayak gitu.” Timpal Shanna kemudian, membuat wajah Terry semakin memerah padam karena menahan kesal. Dia tidak menyangka, kedua gadis kembar itu bisa memojokannya seperti ini.
“Kalian. . . .” Terry menggeram kesal, tangannya terkepal hingga buku-buku jarinya terlihat, seolah siap melayangkan tinju pada kedua gadis yang ada di hadapannya itu.
“Kenapa? Kami gak salah, kan?” Sambar Shanna, benar-benar puas bisa memutar balikan keadaan hingga Terry kehabisan kata-kata untuk membalasnya.
“Udah yuk, Shi, kita pulang. Besok-besok aja kembali lagi ke sini.” Shanna lantas menarik tangan Shien untuk membawanya pergi dari hadapan Terry.
Namun, gadis itu menghentikan langkahnya sejenak saat ada sesuatu yang lupa ia katakan. “Soalnya kalau terus ngeladenin dia, mungkin besok kita bisa masuk headline news yang judulnya Tukang Nyinyir Terry Terlibat Cekcok dengan Sepupu Tirinya. Kan lucu, Shi. Nanti wajah cantik kita terekspose. Bisa lebih terkenal dari dia nanti kita.”
“Stop talking to her!” Shien berujar dingin dengan tatapan merendahkan ke arah Terry. Ucapannya itu seolah mengandung makna lain yang mengartikan bahwa Shanna hanya buang-buang waktu saja jika terus berbicara dengan Terry. Keduanya lantas memutar tubuhnya untuk meninggalkan Terry yang nyaris keluar tanduk dari kepala serta asap dari telinganya.
Tidak. Terry tidak akan membiarkan kedua gadis itu meninggalkannya dengan perasaan puas. Lantas Terry meraih stiletto yang tergeletak di etalase sebelum Shanna dan Shien benar-benar melangkah pergi meninggalkannya.
“Shien, Shanna.” Panggil seseorang, senyum semringah tersungging dari kedua sudut bibirnya, menandakan jika orang tersebut sangat senang dengan pertemuan tak sengaja mereka. “Kalian di sini juga?”
Shanna dan Shien cukup terkejut melihat dua orang laki-laki di hadapan mereka, namun hanya satu yang mencolok perhatian mereka. Sementara gerakan tangan Terry berhenti, melupakan niat untuk melemparkan sepatu.
Seorang laki-laki berkemeja putih yang dipadukan dengan outerwear. Terlihat jelas jika laki-laki itu hangout selepas bekerja. Dia tinggi, tubuhnya proporsional, dan rambut model commanya masih tertata rapi hingga sedikit menampilkan dahi paripurnanya yang lebar. Senyumnya manis. Dan wajahnya, bisa masuk kategori sangat tampan. Saat bicara, suaranya terdengar begitu dalam di telinga, seakan-akan satu kata yang diucapkannya bagaikan lullaby.
“Kak Langit, kak Albi. . . .”
Semua orang menoleh ke arah sumber suara, menatap Terry bingung. Begitu juga dengan Shanna dan Shien yang keheranan dengan Terry yang terlihat sok akrab dengan Langit dan Albi.
“Ini kalian. Bener, kan?” Tanya Terry heboh, seolah ingin memastikan penglihatannya tidak salah. Gadis itu kemudian meletakkan kembali sepatunya ke etalase.
Mengelus sejenak rambutnya untuk memastikan mahkota kebanggannya itu masih dalam kondisi rapi, Terry lantas menghampiri kedua laki-laki tampan itu, bahkan sampai menubruk tubuh Shien karena menghalangi jalannya.
Shien mendengus kesal seraya mengusap-usap bahunya, seolah tubuh Terry yang mengenainya meninggalkan kotoran.
“Hai, apa kabar, kak? Gak nyangka bisa ketemu kalian lagi.” Terry menyodorkan tangannya, membuat Shanna dan Shien melongo parah. Namun, baik Albi maupun Langit tak lantas menyambutnya. Merasa tidak mengenali gadis itu. Terry perlahan menurunkan tangannya.
“Kamu kenal sama dia, Lang?” Tanya Shanna penasaran.
“Eung. . . .” Langit menyentuh tengkuknya, lalu menggeleng ragu. Shanna yang melihat reaksi Langit langsung melemparkan tatapan mengejek pada Terry.
“Dia sering muncul di TV, lho. Jadi tukang nyinyir, ehh Host.” Imbuh Shanna, tapi Langit kembali menggeleng.
Sumpah demi apapun, Shanna ingin tertawa terbahak-bahak saat ini juga. Apalagi saat melihat wajah Terry yang tampak jengkel.
Seandainya Shien menjadi Terry, pasti ia sudah malu sampai ubun-ubun. Bahkan sering muncul di televisi pun, tak membuat Terry dikenal semua orang.
“Aku Terry, junior kalian di SMA.” Terry seolah ingin mengingatkan.
“Kita pernah pentas drama bareng.” Pandangan Terry mengarah pada Albi.
__ADS_1
Laki-laki itu menerawang. Sudah terlalu lama. Dan jika diingat lagi pun, itu tidak terlalu penting. Albi memang pernah mengikuti pentas drama di SMA dulu, tapi mana bisa ia megingat semua pemain dalam pementasan itu.
“Ohh, yang jadi penyihir?” Celetuk Albi asal, mengingat pentas drama yang dimainkan adalah kisah Putri Tidur dan Penyihir Jahat.
“Pfft. . . .” Shanna menahan tawanya. Memang sangat cocok. Sementara Terry hanya mendelikinya.
“Kayaknya kak Albi lupa.” Ujar Terry diiringi senyum yang dipaksakan.
Albi terkekeh pelan. “Mungkin emang lupa. But, nice to meet you. Senang bisa ketemu teman satu almamater.”
“Dan kak Langit. Dulu kita pernah satu tim di lomba debat bahasa inggris antar sekolah. Sama kak Jingga juga.” Pandangan Terry beralih pada Langit. Dan ini cukup menarik perhatian Shien. Gadis itu menyoroti Langit dengan tatapan penuh tanya. Langit yang mengerti langsung menggelengkan kepalanya, menandakan bahwa laki-laki itu memang merasa tidak mengenal Terry.
“Begitu, ya?” Sahut Langit ragu. Terlalu banyak lomba yang pernah ia ikuti, dan tentu saja dengan tim yang berbeda-beda pula di setiap bidang lomba. Jadi, mana mungkin Langit mengingat semua orang yang pernah satu tim dengannya. Terkecuali orang itu dekat dengannya, Langit pasti ingat.
“Ahh, kayaknya cuma aku yang ingat.” Ujar Terry, terlihat kikuk.
“Walaupun gak ingat, tapi bener kata Albi. Senang bisa ketemu teman yang satu almamater.” Sambut Langit, di luar dugaan. “Terlebih orangnya cantik kayak kamu. Makasih udah ingat sama kami.”
Shien yang mendengar itu membelalakkan matanya, nyaris tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.
“Are you serious?” Geram Shien dalam hati seraya menoleh ke arah Langit dengan tatapan tak percaya dan kesal sekaligus.
Sementara Terry yang dipuji seperti itu jelas senang bukan kepalang. Shanna bergidik dan mencebik sekaligus melihatnya. Dasar jelangkung genit.
“Yang satu F4nya SMA Genius, dan satunya lagi wajah SMA Genius. Semua orang gak bakalan lupa kali, kak.” Ujar Terry seraya menyelipkan rambut ke belakang telinganya dengan gerakan seanggun mungkin.
“Haha, bisa aja. Ohh, iya Terry. Kamu temannya Shanna sama Shien?” Tanya Langit penasaran.
“Bukan. Kami sepupuan. Ini lagi belanja bareng.”
Shanna dan Shien melongo.
Belanja bareng? Sejak kapan mereka sedekat itu.
“Ohh, iya. Lain kali boleh dong kita jalan bareng? Aku dengar, kalian kerja di rumah sakit yang sama.” Terry mengeluarkan kartu nama dari dompetnya, lalu menyerahkannya pada Albi dan Langit.
Kedua mata Shien masih anteng menyoroti Langit dengan tatapan tajam, berharap dia tidak menerima kartu nama itu. Dan sial sekali. Langit malah menerimanya.
“Wahh, berita orang ganteng emang mudah tersebar luas, ya?” Ujar Albi, seolah ada rasa kagum terhadap dirinya sendiri. Laki-laki itu kemudian membaca kartu nama Terry.
“Dan gak nyangka juga ternyata ketemu Professional Host di sini. Terkenal, dong? Maaf gak tahu sebelumnya.” Imbuh Albi setelah membaca kartu nama Terry.
“Bisa dibilang begitu.” Jawab Terry tampak malu-malu. Hal ini membuat Shanna yang meihatnya ingin mencakar wajahnya.
“Tukang nyinyir juga.” Shien yang terlanjur kesal dengan Langit, lantas merampas kartu nama itu dari tangan Langit dan Albi, lalu diremasnya hingga tak berbentuk dan diinjaknya tanpa ampun.
Ekspresi dan tingkah Shien yang demikian menarik perhatian Shanna yang langsung mengernyitkan dahinya heran. Merasa reaksi Shien terlalu berlebihan. Tapi Shanna berpikir mungkin karena Shien sudah terlanjur gondok pada Terry, sama seperti dirinya, maka Shien melakukan itu.
Terry hanya mengangakan mulutnya tak percaya. Seandainya ia sedang tidak menjaga image, Terry yakin seyakin-yakinnya pasti sudah menjambak rambut dan meneriaki gadis itu sekarang juga.
Tak lama setelah itu, Shien kemudian beranjak pergi. Tidak lupa, ia menginjak kaki Langit terlebih dahulu hingga membuat laki-laki itu mengaduh kesakitan.
“Ups, sorry. I didn’t mean it.” Ucap Shien tanpa rasa bersalah dan berlalu begitu saja, diikuti Shanna yang mengekor di belakangnya.
Langit yang melihat sikap aneh Shien dan mendapat perlakuan seperti itu hanya memandang punggung gadisnya itu dengan tatapan bingung.
********
Shanna memutar bola matanya malas sambil geleng-geleng kepala begitu ia melihat sosok Reno yang malah tertidur di sofa. Pantas saja anak itu tadi tidak menghampirinya dan Shien. Padahal, keributan tadi cukup menarik perhatian penjaga toko. Ahh, mungkin kalau terjadi perang pun, Reno tidak akan sadar dan asyik-asyikan bermain di alam mimpi. Atau mungkin terbunuh saat tidur pun, Reno tetap tidak akan sadar.
“Reno, bangun! Ayo pulang.”
********
To be continued. . . . .
__ADS_1